Bagian 1: Nota Kurang yang Menjerat Leher
Aroma minyak telon bercampur pembersih lantai beraroma lavender selalu sukses membuat kepala Heru berdenyut setiap kali sif malamnya berakhir. Jam digital di atas meja kasir menunjukkan pukul dua dini hari. Pintu kaca otomatis toko ritel dengan logo merah-biru menyala itu telah dikunci manual sejak satu jam lalu. Namun, tugas Heru belum selesai. Ia masih harus berdiri di depan layar monitor pos kasir, menatap lembaran-lembaran kertas struk pencocokan barang yang menjuntai seperti ekor ular.
Tangan Heru yang kasar dan pecah-pecah di bagian ibu jari akibat terlalu sering menyayat isolasi kardus, gemetar saat menghitung lembaran uang ratusan ribu dan lima puluh ribuan. Di sampingnya, Ningsih, rekan kerjanya yang baru berusia sembilan belas tahun, duduk bersimpuh di lantai keramik yang dingin. Matanya yang sembap menatap kosong ke deretan rak kosmetik.
"Minus berapa, Mas?" suara Ningsih nyaris tenggelam oleh dengung mesin pendingin minuman yang tak pernah mati.
Heru menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di dalam toko berukuran sepuluh kali lima belas meter itu mendadak habis. "Dua juta seratus lima puluh ribu, Ningsih."
Ningsih langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangisnya pecah tanpa suara, hanya bahunya yang naik-turun menahan guncangan yang hebat. Dua juta seratus lima puluh ribu rupiah. Bagi orang-orang kota yang kerap memarkir mobil mewah di depan toko mereka hanya untuk membeli sebotol kopi susu premium, uang sejumlah itu mungkin hanya setara dengan sekali makan malam di restoran estetis. Namun, bagi Heru dan Ningsih, dua perantau yang mengais rezeki dari upah minimum yang bahkan sering dipotong jatah ini-itu, angka tersebut adalah vonis mati bagi isi dompet mereka.
"Bulan ini sudah tiga kali, Mas Heru," ratap Ningsih di sela isaknya. "Gaji saya bulan lalu habis cuma buat bayar nota kurang (NK). Kalau bulan ini potong lagi, saya mau bayar kos pakai apa? Ibu di kampung juga nunggu kiriman buat berobat."
Heru tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap nanar ke arah rak susu formula bayi di pojok kanan toko. Di sana, tiga kotak susu bubuk ukuran terbesar telah lenyap dari tempatnya. Bukan dibeli, melainkan menguap begitu saja dari laporan inventaris fisik (stock opname). Dan sesuai peraturan perusahaan yang mengikat mereka seperti budak modern, setiap ada barang hilang yang tidak teridentifikasi pelakunya, seluruh karyawan toko yang bertugas harus menanggung kerugiannya secara tanggung renteng. Dibagi rata. Dipotong langsung dari slip gaji bulan berikutnya.
Heru mengusap wajahnya yang kuyu. Bayang-bayang wajah ibunya di sebuah desa terpencil di Gunungkidul mendadak melintas di benaknya. Ibunya yang sudah sepuh, dengan kaki yang mulai membengkak akibat asam urat, selalu tersenyum setiap kali Heru menelepon dan berbohong, "Heru sehat di perantauan, Bu. Kerjanya enak, adem pakai AC terus. Uangnya cukup buat makan dan ditabung."
Kebohongan yang kini terasa seperti duri yang menusuk ulu hatinya sendiri. Demi Tuhan, Heru banting tulang dari pagi bertemu pagi. Menjadi kasir, menjadi pramuniaga, menjadi kuli panggul kardus minyak goreng, bahkan menjadi tukang pel dan pembersih toilet. Semua ia lakukan tanpa mengeluh demi selembar slip gaji yang nilainya terus-menerus digerogoti oleh ulah tikus-tikus tak kasat mata yang gemar mencuri di toko mereka.
"Sudah, Ningsih. Jangan menangis lagi," kata Heru, berusaha membuat suaranya terdengar tegar meskipun hatinya sendiri hancur lebur. "Nanti kita bagi dua nilainya. Biar bagianmu saya yang tanggung sedikit lebih banyak. Yang penting kamu bisa bayar kos dulu."
"Tapi Mas Heru sendiri bagaimana?" Ningsih mendongak, matanya merah berair. "Mas Heru kan juga harus kirim uang ke kampung?"
Heru tersenyum kecut. Senyum yang lebih mirip sebuah ringisan menahan sakit. "Gampang. Saya masih bisa makan mie instan sisa pajangan yang kemasannya rusak. Yang penting kita selesaikan dulu laporan malam ini."
Malam itu, di dalam ruang istirahat karyawan yang sempit dan berbau apek, Heru merebahkan tubuhnya di atas selembar tikar plastik. Punggungnya menjerit kesakitan setelah seharian membongkar muatan truk logistik. Di sela-sela kantuknya yang berat, Heru berbisik dalam doa yang lirih, “Ya Allah, jika hamba-Mu ini kurang bersyukur, ampunilah hamba. Namun, jika ini adalah ujian-Mu, kuatkanlah pundak ini. Jangan biarkan air mata ibu di kampung tumpah karena kebodohan dan kemiskinan anak sulungnya ini.”
------------------------------
Bagian 2: Keringat di Bawah Lampu Neon
Kehidupan sebagai perantau di kota besar adalah tentang bagaimana caranya bertahan hidup dengan mengorbankan perasaan. Bagi Heru, setiap hari adalah pertempuran melawan rasa lelah yang konstan. Jam kerjanya terbagi dalam tiga sif, tetapi realitasnya, ia sering kali harus melakukan double shift karena toko kekurangan personel atau karena harus menunggui proses pembenahan pajangan hingga menjelang subuh.
Toko minimarket tempatnya bekerja terletak di pinggir jalan lintas provinsi yang strategis. Ramai, tetapi juga rawan. Dalam tiga bulan terakhir, toko mereka seolah menjadi sasaran empuk komplotan pencuri. Mulai dari cokelat batangan mahal, kosmetik, hingga minyak goreng berukuran dua liter sering kali raib dari rak tanpa pernah melewati meja kasir.
Sistem CCTV toko sebenarnya aktif, tetapi resolusinya yang rendah dan posisi penempatannya yang menyisakan banyak titik buta (blind spot) membuat rekaman yang dihasilkan sering kali tidak berguna. Ketika mereka melaporkan kehilangan kepada kepala toko atau supervisor area, jawaban yang mereka terima selalu sama dan dingin: "Kalian kurang waspada. Jaga toko dengan benar. Kalau hilang, ya risiko kalian sebagai kru."
Kata-kata itu seperti palu gada yang menghantam harga diri Heru. Kurang waspada apa lagi dirinya? Setiap kali ada pengunjung yang mengenakan jaket tebal atau membawa tas besar masuk ke toko, pandangan Heru tidak pernah lepas dari mereka. Ia rela berjalan mondar-mandir di antara lorong rak dengan dalih merapikan barang (facing out), hanya untuk memastikan tidak ada tangan-tangan jahil yang memasukkan barang ke dalam baju.
Namun, para pencuri itu rupanya lebih lihai. Mereka tahu kapan waktu-waktu kritis toko sedang sibuk-sibuknya—seperti saat jam pulang kantor ketika antrean di kasir mengular panjang dan konsentrasi kasir terpecah antara menghitung uang kembalian, menawarkan produk promosi, dan melayani transaksi pembayaran nontunai yang sering kali lemot jaringannya.
"Mas, beli rokoknya satu bungkus, sama pulsa lima puluh ribu," ucap seorang pelanggan dengan nada tidak sabar.
"Baik, Pak. Totalnya jadi tujuh puluh lima ribu lima ratus rupiah. Ada tambahan lain? Minyak gorengnya sedang promo tebus murah, Pak?" Heru berucap mekanis, bibirnya memaksakan senyum ramah standar operasional perusahaan yang sudah tertanam di luar kepala.
Sementara tangannya sibuk bertransaksi, sudut matanya menangkap dua orang pria paruh baya mengenakan helm dan jaket ojek daring masuk ke lorong belakang. Insting Heru langsung waspada. Ia mempercepat transaksinya. Namun, pelanggan di depannya mendadak mengeluh karena saldo dompet digitalnya tidak kunjung terpotong, menuntut Heru untuk memeriksa sistem berulang kali.
Ketika urusan kasir itu selesai dan Heru bergegas memeriksa lorong belakang, kedua pria berjaket ojek itu sudah berjalan menuju pintu keluar dengan terburu-buru. Mereka tidak membeli apa pun. Saat melintasi sensor pintu, alarm tidak berbunyi—karena barang-barang seperti susu formula atau parfum berharga mahal di toko itu memang belum dipasangi label sensor pengaman akibat anggaran toko yang terus dipangkas.
Malamnya, saat proses stock opname harian, kekhawatiran Heru terbukti. Tiga botol parfum pria bermerek terkenal hilang dari gantungan raksanya. Nilainya mencapai empat ratus ribu rupiah.
Ningsih kembali menangis di pojok gudang. Kali ini ditemani oleh piring plastik berisi nasi dingin dan sebutir telur dadar yang dibagi dua dengan Heru.
"Saya rasanya ingin keluar saja dari kerjaan ini, Mas Heru," kata Ningsih dengan suara serak. "Uang gaji kita habis bukan buat hidup, tapi buat nombokin barang yang dicuri orang kaya. Orang yang mencuri parfum itu penampilannya necis, Mas. Sepatunya bagus. Kenapa mereka tega merampok kita yang miskin begini?"
Heru mengunyah nasinya dengan perlahan. Rasanya hambar, seolah ia sedang mengunyah kertas basah. Kegetiran hidup telah merampas kelezatan dari makanan paling sederhana sekalipun.
"Dunia ini tidak selalu adil, Ningsih," jawab Heru dengan nada suara yang terdengar sangat tua, jauh melampaui usianya yang baru genap dua puluh lima tahun. "Ada orang yang mencuri karena hobi, ada yang karena tamak, dan ada yang karena mereka tahu tidak akan pernah dihukum. Sementara kita? Kita tidak punya pilihan selain bertahan. Kalau kita keluar sekarang tanpa menyelesaikan masa kontrak, kita kena penalti tiga bulan gaji. Dari mana kita dapat uang sebanyak itu?"
Heru bangkit dari duduknya, berjalan menuju cermin kecil yang tergantung di dekat loker karyawan. Di dalam cermin, ia melihat pantulan dirinya sendiri: seorang pemuda dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, pipi yang tirus karena jarang makan teratur, dan seragam merah-biru yang warnanya sudah mulai memudar akibat terlalu sering dicuci.
Ia mengingat janjinya pada diri sendiri saat pertama kali menginjakkan kaki di terminal bus kota ini dua tahun lalu. Ia berjanji akan mengubah nasib keluarganya. Ia ingin merenovasi rumah anyaman bambu ibunya yang selalu bocor setiap kali hujan deras turun. Ia ingin membelikan adiknya sebuah laptop bekas agar bisa mengerjakan tugas sekolah dengan layak tanpa harus menumpang di rumah tetangga.
Namun kini, jangankan merenovasi rumah, untuk sekadar membeli sepasang sepatu baru menggantikan sepatunya yang solnya sudah jebol dan diikat karet gelang saja, Heru harus berpikir seribu kali. Setiap tetes keringatnya telah berubah menjadi lembaran uang yang langsung masuk ke dalam mesin kasir untuk menutup lubang-lubang kehilangan yang diciptakan oleh orang lain.
------------------------------
Bagian 3: Detik-Detik yang Mengubah Takdir
Hari itu adalah hari Jumat yang teramat terik di pertengahan bulan Oktober. Udara di luar toko terasa seperti membakar kulit, sementara di dalam toko, mesin pengondisi udara (AC) berbunyi berderit-derit, berjuang keras melawan hawa panas yang dibawa oleh keluar-masuknya pelanggan.
Heru bertugas di sif siang bersama dengan seorang karyawan magang bernama Doni, seorang remaja laki-laki setempat yang masih polos dan belum banyak paham tentang dinamika "hilang barang" di toko tersebut. Ningsih sedang mengambil jatah libur mingguannya.
Toko sore itu mendadak sangat ramai. Sebuah bus pariwisata yang membawa rombongan anak sekolah baru saja parkir di seberang jalan, dan puluhan remaja langsung menyerbu masuk ke dalam toko untuk membeli camilan dan minuman dingin. Antrean di meja kasir mengular hingga ke lorong bagian tengah. Heru bekerja dengan kecepatan penuh; tangannya bergerak lincah memindai kode batang barang, sementara mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan kalimat sapaan wajib perusahaan.
Di tengah kegaduhan itu, insting yang telah terasah oleh penderitaan selama berbulan-bulan membuat mata Heru tiba-tiba terpaku pada seorang pria bertopi hitam yang berjalan di lorong paling ujung—lorong tempat produk perawatan tubuh dan obat-obatan diletakkan.
Pria itu mengenakan jaket jansport besar yang digantungkan di salah satu pundaknya, posisinya sangat tidak wajar untuk ukuran seseorang yang hanya berniat berbelanja santai. Gerak-geriknya gelisah, matanya terus melirik ke arah meja kasir tempat Heru berada, memastikan bahwa perhatian sang kasir sepenuhnya tersita oleh antrean pembeli yang mengular.
Heru memperlambat gerakan tangannya saat memindai barang seorang siswi di depannya. Matanya terus mengunci pergerakan pria bertopi itu melalui pantulan cermin cembung yang terpasang di langit-langit pojok toko.
Dan di sanalah, momen itu terjadi.
Pria itu dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, meraup lima buah botol minyak rambut premium dan tiga kotak suplemen kesehatan mahal dari rak, lalu memasukkannya langsung ke dalam lipatan jaket jansport yang ia dekap di dadanya. Setelah berhasil meraup barang-barang tersebut, ia melangkah dengan santai menuju pintu keluar, melewati antrean kasir tanpa menunjukkan gelagat ingin membayar.
Darah Heru mendadak berdesir hebat. Rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Bayangan slip gajinya yang terpotong berbulan-bulan, bayangan tangis Ningsih yang tersedu-sedu di lantai toko, dan bayangan wajah ibunya yang menanti kiriman uang obat di kampung, semuanya berputar di dalam kepalanya seperti pusaran badai yang mengerikan.
Cukup. Cukup sudah kami yang menjadi korban, batin Heru menjerit.
"Doni! Jaga kasir sebentar!" teriak Heru dengan suara yang menggelegar, membuat seluruh pelanggan di dalam toko terlonjak kaget.
Sebelum Doni sempat menjawab, Heru sudah melompati meja kasir dengan satu gerakan tangkas. Sepatu jebolnya mendarat dengan keras di lantai keramik, dan ia langsung berlari kencang mengejar pria bertopi hitam yang saat itu sudah melangkah keluar dari pintu kaca otomatis toko.
"Maling! Jangan lari kamu!" teriak Heru lantang, suaranya membelah kebisingan jalan raya sore itu.
Pria bertopi hitam itu terkejut. Ia menoleh ke belakang, melihat Heru yang berlari ke arahnya dengan mata yang menyala penuh amarah. Sadar aksi pencuriannya telah terbongkar, pria itu langsung mengambil langkah seribu, berlari kencang menuju sepeda motor matik miliknya yang diparkir agak jauh di ujung area parkir minimarket, dalam posisi mesin yang sengaja dibiarkan tetap menyala.
Namun, amarah dan penderitaan yang selama ini dipendam oleh Heru telah menjelma menjadi energi yang luar biasa. Heru tidak peduli dengan rasa sakit di kakinya, ia tidak peduli dengan keramaian jalan. Ia berlari seolah-olah seluruh sisa hidup dan masa depannya digantungkan pada langkah kakinya sore itu.
Tepat saat pria itu berhasil melompat ke atas jok motornya dan hendak menarik tuas gas, Heru berhasil mencapai bagian belakang motor tersebut. Tanpa ragu sedikit pun, Heru menerjang tubuh pria itu dari arah samping, membuat mereka berdua terjatuh secara dramatis ke atas aspal area parkir yang panas.
Brakk!
Motor matik itu ambruk, rodanya berputar bebas di udara menimbulkan suara raungan mesin yang bising. Botol-botol minyak rambut dan kotak suplemen kesehatan yang disembunyikan di dalam jaket pria itu terlempar keluar, berserakan di atas tanah, menjadi bukti nyata dari aksi kejahatannya yang tak terbantahkan lagi.
------------------------------
Bagian 4: Pengadilan Jalanan di Bawah Terik Matahari
"Mau lari ke mana kamu, hah?!" teriak Heru sambil mencengkeram kerah jaket pria itu dengan sangat kuat. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun dengan cepat akibat kelelahan dan adrenalin yang memuncak.
Pria bertopi hitam itu berusaha memberontak, ia melayangkan sebuah pukulan mentah yang mengenai rahang kiri Heru hingga membuat sudut bibir pemuda perantau itu pecah dan mengeluarkan darah segar. Namun, Heru sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya. Rasa sakit di rahangnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya setiap kali ia menerima slip gaji yang terpotong akibat ulah orang-orang seperti di depannya ini.
"Tolong! Maling! Ini orangnya yang sering maling di toko kami!" Heru kembali berteriak, suaranya serak namun penuh dengan ketegasan.
Teriakan Heru di tengah area parkir terbuka itu langsung memancing perhatian khalayak ramai. Dalam hitungan detik, orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian—para tukang ojek pangkalan yang sedang mangkal di bawah pohon, sopir angkot yang sedang berhenti menunggu penumpang, para pedagang kaki lima, hingga warga sekitar yang sedang melintas—langsung berlarian mengepung tempat kejadian perkara.
"Ada apa ini? Maling? Maling apa?" tanya seorang tukang ojek bertubuh gempal yang datang pertama kali sambil membawa sebuah balok kayu kecil.
"Ini, Pak! Dia mencuri minyak rambut sama suplemen di dalam toko! Dia sudah sering mencuri di sini, kami para karyawan yang dipaksa ganti ruginya sampai tidak bisa makan!" jawab Heru dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.
Mendengar kata-kata "karyawan yang dipaksa ganti rugi", sentimen massa yang berkumpul di sana langsung berubah menjadi sangat agresif. Di negeri ini, isu tentang ketidakadilan yang menimpa rakyat kecil, kaum pekerja bawah yang ditindas oleh sistem, selalu berhasil menyulut api amarah kolektif masyarakat jelata dengan sangat cepat. Mereka merasakan empati yang mendalam terhadap Heru, dan sebaliknya, kebencian yang luar biasa terhadap sang pelaku pencurian.
"Oalah, bajingan kamu ya! Badan sehat, motor punya, tapi tega-teganya merampok hak anak-anak kecil yang kerja banting tulang!" teriak seorang warga dari belakang kerumunan.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri sang pencuri dari arah samping.
"Ampun, Pak! Ampun! Saya khilaf, saya cuma buat dijual lagi!" ratap sang pencuri, wajahnya yang semula garang kini berubah menjadi pucat pasi ketakutan melihat puluhan pasang mata yang menatapnya dengan pandangan membunuh.
Namun, kata "ampun" sudah tidak ada gunanya lagi di hadapan massa yang telah tersulut emosi. Pengadilan jalanan, sebuah fenomena sosial yang mengerikan namun nyata di kota besar, mulai mengambil alih situasi secara brutal.
Bugh! Plak! Duakh!
Pukulan, tendangan, dan hantaman sandal serta helm mulai bertubi-tubi mendarat di tubuh pria bertopi hitam itu. Ia ditarik secara paksa ke tengah area parkir, dikerumuni oleh belasan orang yang meluapkan kekesalan mereka atas berbagai problem hidup mereka sendiri ke tubuh sang pelaku. Pria itu dipitil—dipukuli, ditendang, dan dihakimi secara massal tanpa ampun hingga wajahnya babak belur, mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.
"Jangan, Pak! Sudah, Pak! Tolong jangan dibunuh, bawa saja ke polisi!" teriak Heru, berusaha melerai massa yang semakin beringas.
Meskipun hatinya dipenuhi rasa sakit dan dendam akibat perbuatan pria itu, nurani Heru sebagai seorang manusia dan didikan luhur dari ibunya di desa tidak membiarkan dirinya membiarkan tindakan main hakim sendiri sampai merenggut nyawa seseorang di depan matanya. Ia mencoba merangsek masuk ke dalam kerumunan, melindungi tubuh sang pencuri yang sudah terkulai lemas di atas aspal dengan tubuhnya sendiri.
"Sudah, Pak! Cukup! Nanti dia mati!" teriak Doni yang baru keluar dari toko bersama beberapa pelanggan lain, mencoba membantu Heru menenangkan situasi yang kian tak terkendali.
Di tengah kegaduhan yang luar biasa itu, di antara debu area parkir yang beterbangan dan teriakan histeris warga, beberapa orang di dalam kerumunan tampak mengacungkan gawai pintar mereka tinggi-tinggi. Kamera-kamera ponsel itu merekam setiap jengkal kejadian secara mendetail: mulai dari wajah sang pencuri yang babak belur, botol-botol barang bukti yang berserakan, hingga sosok Heru yang berdiri di tengah kerumunan dengan seragam minimarketnya yang kotor terkena aspal dan sudut bibirnya yang berdarah, sedang menangis histeris meminta warga untuk menghentikan aksi pemukulan.
Mereka tidak sekadar merekam. Beberapa dari mereka langsung mengunggah video berdurasi pendek tersebut ke berbagai platform media sosial dengan judul-judul yang provokatif dan memancing empati khalayak luas: "Detik-detik Maling Minimarket Tertangkap Basah oleh Kasir, Kasihan Kasirnya Harus Nombokin Gara-gara Ini Maling!" atau "Keadilan untuk Rakyat Kecil: Pegawai Minimarket Banting Tulang Tangkap Pencuri Susu dan Parfum yang Sering Merugikan Karyawan."
Dalam hitungan menit, video tersebut mulai dibagikan ulang oleh ratusan, lalu ribuan pengguna internet. Tombol suka diklik berulang kali, kolom komentar dipenuhi oleh puluhan ribu ungkapan kemarahan netizen terhadap pelaku pencurian dan rasa simpati yang mendalam bagi sang karyawan toko. Tanpa disadari oleh siapa pun di area parkir itu, peristiwa sore itu telah resmi menjadi viral di seluruh penjuru negeri.
------------------------------
Bagian 5: Air Mata yang Larut dalam Kebisingan Jagat Maya
Malam harinya, suasana di dalam minimarket tersebut berubah drastis menjadi sangat sunyi setelah pihak kepolisian sektor setempat datang untuk mengamankan pelaku dan membawa barang bukti beserta Heru untuk dimintai keterangan sebagai saksi pelapor. Baru pada pukul sepuluh malam, Heru diperbolehkan kembali ke tokonya untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya yang tertunda.
Toko sudah tutup lebih awal atas perintah dari manajer area karena situasi yang dianggap belum sepenuhnya kondusif. Di dalam toko yang lampunya sengaja dinyalakan hanya sebagian, Heru duduk di lantai lorong tengah, bersandar pada rak display besi yang dingin.
Tubuhnya terasa sangat remuk. Efek dari adrenalin yang telah habis meninggalkan rasa nyeri yang luar biasa di sekujur otot-ototnya. Rahang kirinya membengkak kebiruan, dan setiap kali ia mencoba menggerakkan mulutnya untuk berbicara atau sekadar menelan ludah, rasa sakit yang menusuk langsung menjalar ke pelipisnya.
Ningsih, yang langsung datang ke toko begitu mendengar kabar kehebohan tersebut melalui grup pesan singkat karyawan, duduk di samping Heru sambil memegang sebotol air mineral hangat dan kapas pembersih.
"Mas Heru, minum dulu sedikit-sedikit," kata Ningsih dengan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis sejak sore tadi. "Ini... mukanya diobati dulu pakai alkohol, biar tidak infeksi."
Heru menerima botol air mineral itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia meminumnya perlahan, membiarkan air hangat itu membasahi tenggorokannya yang terasa sekering gurun pasir. "Doni mana, Ningsih?"
"Doni sedang di belakang, Mas. Sedang beres-beres gudang sama membuat laporan kronologi untuk manajemen pusat," jawab Ningsih sambil dengan lembut menepuk-nepuk kapas beralkohol ke sudut bibir Heru yang pecah.
Heru meringis pelan menahan perih. "Pencurinya... sudah ditahan di polsek. Tapi barang bukti yang tadi rusak karena jatuh dan terinjak warga di parkiran, tetap harus kita yang tanggung penyesuaian datanya di sistem toko, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, air mata Ningsih kembali meleleh membasahi pipinya. Ia menurunkan tangannya, menatap Heru dengan pandangan yang dipenuhi rasa bersalah dan kepedihan yang teramat sangat.
"Mas Heru belum buka HP ya?" tanya Ningsih dengan suara yang bergetar.
Heru menggelengkan kepalanya perlahan. Gawai pintarnya yang layarnya sudah retak sejak setahun lalu itu ia letakkan di dalam loker sejak sif siang dimulai dan belum sempat ia sentuh sama sekali.
Ningsih mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana kerja, lalu membukanya dan menyodorkannya ke hadapan wajah Heru. Di atas layar sentuh yang agak buram itu, video aksi pengejaran dan penangkapan pencuri sore tadi sedang berputar di sebuah akun media sosial berita viral terbesar di tanah air. Angka di bawah video itu menunjukkan statistik yang mencengangkan: lebih dari lima juta kali ditonton, tiga ratus ribu tanda suka, dan hampir lima puluh ribu komentar.
Heru membaca beberapa komentar teratas yang tertera di sana dengan mata yang menyipit karena pandangannya yang mulai kabur oleh kelelahan:
“Ya Allah, kasihan banget mas-mas kasirnya sampai berdarah-darah begitu mukanya. Kebayang beban mentalnya harus nombokin barang hilang tiap bulan padahal gajinya gak seberapa.”
“Perusahaan retail raksasa begini kok tega banget ya membebankan kehilangan barang ke karyawan? Padahal keuntungan mereka miliaran per tahun. Tolong pemerintah turun tangan periksa sistem kerjanya!”
“Ayo kita bikin gerakan donasi untuk mas kasir ini! Dia pahlawan sejati yang mempertahankan haknya dari ketidakadilan sistem!”
Heru terpaku menatap layar tersebut. Untuk beberapa jenjang waktu, ia tidak tahu harus merespons apa. Di dalam dunia modern yang serbadigital ini, nasib seseorang bisa berubah dalam sekejap mata hanya karena sebuah algoritma internet yang tak kasat mata.
Namun, alih-alih merasa senang atau lega karena mendapatkan simpati dari jutaan orang asing di internet, dada Heru justru terasa semakin sesak dan bergemuruh hebat. Rasa sedih yang teramat mendalam, rasa sedih ala adegan-adegan melankolis dalam film—di mana tokoh utamanya harus menerima kenyataan pahit di tengah takdir yang menjeratnya—mendadak menyergap seluruh kesadarannya.
Ia teringat ibunya. Ibunya di kampung tidak punya media sosial, tidak mengerti apa itu "viral" atau "netizen". Namun, tetangga-tetangga di desanya yang memegang ponsel pasti akan melihat video ini dalam waktu dekat. Mereka pasti akan mengenali wajah Heru. Mereka akan tahu bahwa anak sulung kebanggaan keluarga yang merantau ke kota besar ini ternyata hidup dalam penderitaan yang luar biasa; harus mengejar maling sampai babak belur, harus menahan lapar demi membayar ganti rugi barang hilang, dan harus bekerja seperti budak di bawah lampu neon toko yang dingin.
Rahasia yang selama dua tahun ini ia simpan rapat-rapat dengan bungkus kebohongan manis demi menjaga ketenangan hati ibunya, kini telah telanjang bulat di hadapan jutaan pasang mata di seluruh negeri.
"Mas Heru..." bisik Ningsih, melihat air mata mulai menetes dari sudut mata pemuda perantau itu, membasahi luka di pipinya.
Heru menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang ditekuk. Bahunya yang tegap kini berguncang hebat dalam tangis yang tak lagi mampu ia bendung. Suara tangisnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati, menggema di antara lorong-lorong sepi minimarket yang dipenuhi oleh deretan barang dagangan mewah milik perusahaan, yang tak satu pun dari barang-barang itu mampu memberikan kebahagiaan sejati bagi jiwa-jiwa miskin yang menjaganya.
"Kenapa harus begini, Ningsih?" ratap Heru di sela tangisnya yang sesak. "Saya cuma ingin kerja yang halal... saya cuma ingin kirim uang buat obat Ibu... saya tidak ingin jadi tontonan orang seluruh Indonesia... Saya malu kalau Ibu lihat saya dipukuli orang di parkiran..."
Ningsih tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa ikut bersimpuh di samping Heru, merangkul pundak rekan kerjanya itu dengan rasa persaudaraan sesama nasib kaum perantau jelata. Di luar sana, di dunia digital yang bising, nama Heru mungkin sedang dielu-elukan sebagai simbol perlawanan rakyat kecil, dan ribuan komentar terus mengalir tanpa henti. Namun di dalam ruang toko yang sunyi itu, yang ada hanyalah dua orang anak manusia yang remuk redam, yang keringat dan air matanya telah lama larut dalam kejamnya roda kehidupan kota besar yang tak pernah tidur.
Hujan mendadak turun dengan sangat deras di luar toko, membasahi aspal area parkir tempat darah dan keadilan jalanan sempat tumpah sore tadi, seolah ikut menangisi nasib sang perantau yang surganya di dunia ini terasa begitu jauh dan penuh dengan ketidakpastian.
------------------------------
SEKIAN