Aku Rania. Aku bekerja sebagai manager keuangan sebuah perusahaan di Bogor. Karena tempat kerjaku jauh dan untuk menghindari macet, aku harus berangkat bekerja selagi gelap. Seusai subuh, aku harus sudah berada di perjalanan. Butuh dua jam untuk aku sampai di kantor. Kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan lengang, hanya ada beberapa kendaraan.
Tepat pukul 6.30 pagi aku sudah berada di parkiran kantorku. Hari masih sangat pagi, kabut embun menyelimuti sekitar. Udara Bogor sangat dingin. Kulingkarkan syal panjang di leherku, untuk menghalau rasa dingin.
Seperti biasa, hanya baru aku yang datang. Kantor terlihat sepi. Sebelum menuju ruanganku, aku ke kantin terlebih dahulu membeli roti untuk sarapanku.
Setelah memberikan beberapa lembar uang pada pelayan kantin, aku pun bergegas ke ruanganku. Saat hendak memasuki ruangan, aku berpapasan dengan seorang office girl yang membawa kain lap dan kemoceng di tangannya. Ia menyapaku ramah dengan seutas senyum manis di bibirnya yg merah. Ia berjalan menuju pantry. Pekerja baru sepertinya, karena aku baru melihatnya.
Kubuka pintu ruanganku dan meletakan tas hitamku di atas meja kerjaku. Aku membawa kresek berisi roti dan kembali keluar menuju pantry untuk membuat kopi.
Setelah di dalam pantry, aku tidak menemukan gadis yang menyapaku tadi. "Ah, mungkin dia sedang membersihkan ruangan yang lain." gumamku sambil menunggu air panas yang mengucur dari dispenser mengisi penuh gelas berisi kopi. Setelah penuh, aku mengaduknya. Aku duduk di sudut pantry yang di sana ada sebuah kursi kosong. Aku menyesap kopi yang baru saja kubuat. Aku pun memakan roti yang aku beli di kantin.
Setelah kenyang, aku keluar pantry menuju ruanganku untuk menyiapkan file kerjaku. Ternyata sudah ada beberapa rekan kerjaku yang datang.
"Selamat pagi, teman-teman." Sapaku.
Seketika mereka pun menoleh ke arahku. Namun kuperhatikan mereka memandangku dengan ekspresi aneh.
"Rania, apa benar ini kamu?" tanya Rika heran. Matanya memindai wajahku.
"Iya ini aku, apa ada yang salah dengan wajahku?" jawabku yang diakhiri pertanyaan.
"Kamu cantik banget, Rania." kataToni yang terpesona melihatku.
Wajahku merona, mendengar pujian Toni. Toni adalah cowok keren incaranku.
Rika menarik tanganku menuju toilet. Dia menyuruhku untuk bercermin.
"Lihat dandanan kamu, apa tidak salah? Tidak biasanya kamu berdandan semenor ini."
Aku melihat wajahku di cermin. "Lipstik merah???" Aku meraba bibirku dengan jari-jari tanganku.
"Rika kenapa dengan bibirku? Mengapa bibirku merah. Aku tidak memakai lipstik warna seperti ini." Ada hal aneh yang menggangguku. Aku mencoba menghapus lipstik dengan tisu toilet, namun tidak berhasil. Akhirnya, aku pun putus asa dan membiarkan bibir merahku.
*******
Keesokan harinya, aku terlambat ke tempat kerjaku. Sengaja aku tidak ber-make up hari itu dan membiarkan bibirku pucat. Kulihat rekan kerjaku sudah duduk di kursi kerjanya masing-masing.
"Selamat pagi." Sapaku.
"Pagi, Rania." jawab mereka berbarengan.
"Hei, kamu sakit? Wajahmu pucat." Rika meraba dahiku. "Gak panas."
"Aku gak sempat make up. Jadi keliatan pucat." ujarku sambil berlalu menuju pantry. Rika mengikutiku.
Aku menyeduh kopi dengan gelas yang sama yang aku gunakan kemarin. Aku ingin membuktikan pemikiranku semalam. Kemarin aku menggunakan gelas ini, gelas yang bercap bibir merah di bibir gelas. Make up-ku terlihat berlebihan.
Rika pun tengah membuat minuman teh untuk dirinya.
Sebelum menyeduh kopi, aku mencoba menghapus bekas bibir merah yang ada di bibir gelas, namun ternyata itu tidak bisa dihapus. Mungkin ini memang cap bibir yang dibuat sebagai pemanis gelas. Hari ini aku sengaja tidak ber-make up. Kuberharap pikiranku salah.
Aku meneguk kopi hingga habis. Setelah kuletakan gelas yang kosong, Rika tampak memperhatikanku.
"Rania, wajahmu!"
"Kenapa dengan wajahku, Rika?" tanyaku panik. Benar dugaanku, setelah menggunakan gelas bergincu itu, akan ada perubahan di wajahku. Namun mengapa Rika tampak khawatir melihatku. Perubahan apa terjadi di wajahku?
"Sebentar" Rika menyuruhku menunggu. Ia meraih cermin yang menempel di dinding pantry.
"Lihatlah sendiri!" Rika memberikan sebuah cermin kepadaku.
Perlahan aku angkat cermin dan mengarahkannya ke wajahku. Aku tampak ragu. Hingga akhirnya aku melihat penampakan wajahku di cermin.
"Oh, tidak, wajahku... kenapa wajahku menjadi tua?"
Aku tersentak dan menjatuhkan cermin yang kupegang.
"Tidaaaak....."
Dan aku menua karena menggunakan gelas bergincu.