Di Kerajaan Astervale, manusia terbagi menjadi tiga golongan.
Alpha, Beta, dan Omega.
Alpha dikenal sebagai golongan yang memiliki fisik kuat, naluri dominan, serta kedudukan tinggi dalam masyarakat.Omega jauh lebih sedikit jumlahnya dan sering dianggap lemah karena memiliki naluri yang lebih sensitif terhadap Alpha.
Namun, status sosial tetap menjadi hal yang paling menentukan.
Dan di antara seluruh Alpha di Kerajaan Astervale, tidak ada yang kedudukannya lebih tinggi daripada Pangeran Kael Arvandor, putra mahkota kerajaan.
Kael adalah sosok yang disegani.
Tinggi, tegas, tampan, dan hampir selalu terlihat tenang.
Para bangsawan muda mengaguminya.
Para wanita bangsawan berharap menjadi istrinya.
Tetapi hati sang pangeran justru telah lama dimiliki oleh satu orang.
Lysandra Valerian.
Putri tunggal Menteri Valerian.
Seorang gadis cantik yang terkenal cerdas, anggun, tetapi cukup keras kepala.
Kael telah menyukainya sejak mereka masih kecil.
Sayangnya, semakin dewasa mereka, semakin jelas bahwa perasaan mereka tidak pernah berjalan ke arah yang sama.
Sebab hati Lysandra telah jatuh kepada seseorang yang sama sekali tidak diduga Kael.
Seorang Omega.
Namanya Elior Veyne.
Putra bungsu Menteri Veyne.
"Aku menyukainya."
Kael yang sedang berdiri di balkon istana langsung menoleh.
"Siapa?"
Lysandra tersenyum malu.
"Elior."
Kael terdiam.
Angin sore yang sebelumnya terasa sejuk tiba-tiba terasa dingin.
"Elior Veyne?"
Lysandra mengangguk.
"Dia sangat baik."
Kael menatap gadis di sampingnya.
"Baik?"
"Dia selalu mendengarkanku."
Lysandra tersenyum semakin lebar.
"Kalau aku sedang kesal, dia mendengarkan.Kalau aku lelah, dia menghiburku.Kalau aku membutuhkan sesuatu, dia selalu datang."
Kael mengepalkan tangan di balik jubahnya.
Ia telah melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun.
Tetapi Lysandra tidak pernah melihatnya.
"Jadi kau mencintainya?"
Lysandra menundukkan kepala.
"Aku rasa begitu."
Jawaban itu sederhana.
Namun bagi Kael, rasanya seperti menerima hukuman mati.
Kael mulai memperhatikan Elior.
Awalnya ia hanya ingin mengetahui seperti apa pria yang berhasil merebut hati Lysandra.
Dan ia segera menyadari sesuatu yang aneh.
Elior sama sekali tidak terlihat seperti Omega lemah yang sering dibicarakan orang.
Di depan Lysandra, ia bersikap gagah.
Ia membukakan pintu.
Menarik kursi.
Membawakan barang.
Bahkan ketika Lysandra berjalan bersamanya, Elior selalu berada sedikit di depan seolah memastikan tidak ada sesuatu yang membahayakan gadis itu.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku bisa pulang sendiri."
"Aku tahu."
Elior tersenyum.
"Tapi aku tetap ingin mengantarmu."
Lysandra tertawa kecil.
Kael yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menghela napas.
Dia benar-benar seperti seorang Alpha.
Suatu sore, Lysandra dan Elior berada di taman istana.
Lysandra sedang duduk membaca ketika angin tiba-tiba bertiup kencang.
"Kau kedinginan?"
Elior langsung melepaskan mantelnya.
"Tidak perlu."
"Pakai."
Ia menyampirkannya ke bahu Lysandra.
Wajah gadis itu memerah.
"Terima kasih."
Elior tersenyum.
"Untukmu, apa pun."
Saat itulah suara berat terdengar dari belakang.
"Sepertinya kalian bersenang-senang."
Kael.
Elior menoleh.
Dan sesuatu yang aneh terjadi.
Wajah gagahnya menghilang.
Bahu Elior turun.
Tangannya yang tadi santai mendadak menggenggam ujung bajunya.
"Se-selamat sore, Yang Mulia."
Kael mengangkat alis.
Lysandra mengerutkan kening.
"Elior?"
"Ya?"
"Kenapa kau..."
Lysandra tidak menyelesaikan kalimatnya.
Sebab Elior kini terlihat jauh berbeda.
Ia bahkan tidak berani menatap Kael terlalu lama.
Kael berjalan mendekat.
Aroma Alpha-nya perlahan memenuhi udara.
Elior mundur satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Sampai punggungnya menyentuh batang pohon.
"Yang Mulia..."
Suaranya bergetar.
Kael berhenti.
"Kenapa?"
Elior menelan ludah.
"Jangan terlalu dekat."
"Kenapa?"
Elior memalingkan wajah.
"Karena aku tidak bisa berpikir dengan baik."
Lysandra menatap keduanya dengan kebingungan.
Tadi Elior bertingkah seperti seorang pria yang sangat gagah.
Sekarang ia bahkan tampak kesulitan berdiri di hadapan Kael.
"Elior..."
Lysandra memicingkan mata.
"Kau takut padanya?"
Elior tidak menjawab.
Kael justru terlihat semakin penasaran.
Malam itu, Lysandra mendatangi Elior.
"Aku ingin bertanya."
"Tentu."
"Apakah kau benar-benar menyukaiku?"
Elior tersenyum.
"Tentu."
Jawaban itu membuat hati Lysandra lega.
Namun kemudian Elior berkata,
"Tapi ada seseorang yang juga kusukai."
Lysandra membeku.
"Siapa?"
Elior diam.
"Seorang bangsawan?"
Gelengan kepala.
"Seorang wanita?"
Elior semakin merah.
"Bukan."
"Jadi siapa?"
Elior menundukkan kepala.
"Seorang Alpha."
Lysandra membeku.
"Siapa?"
Elior memejamkan mata.
"Pangeran Kael."
Lysandra tidak tidur malam itu.
Bagaimana mungkin?
Elior mencintainya.
Tetapi Elior juga mencintai Kael.
Dan yang lebih mengerikan—
Kael mencintai dirinya.
Hubungan mereka bukan lagi segitiga.
Rasanya seperti lingkaran yang tidak memiliki jalan keluar.
Keesokan harinya mereka bertiga dipertemukan dalam jamuan keluarga bangsawan.
Lysandra duduk di antara Kael dan Elior.
Suasananya sangat canggung.
Kael mencoba berbicara.
"Lady Lysandra, apakah kau ingin—"
"Aku akan mengambilkannya."
Elior memotong.
Ia mengambilkan makanan untuk Lysandra.
Kael menatapnya.
"Terima kasih."
Lysandra mencoba tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian Kael sedikit mendekat.
Elior langsung menegang.
"Yang Mulia..."
Kael tersenyum tipis.
"Ada apa?"
"Jangan terlalu dekat."
Lysandra menutup wajahnya dengan tangan.
"Tadi kalian seperti hendak berkelahi."
Elior menunduk.
Kael justru tertawa kecil.
Kemudian ia bertanya,
"Elior."
"Ya?"
"Kalau kau mencintai Lysandra, mengapa kau selalu berubah ketika berada di dekatku?"
Elior membisu.
"Aku..."
"Jawab."
Elior menggigit bibir.
"Aku tidak tahu."
"Perasaanmu?"
Elior menutup wajah.
"Perasaanku berantakan."
Lysandra akhirnya berdiri.
"Berhenti."
Keduanya menoleh.
"Aku sudah tidak mengerti lagi."
Ia menatap Elior.
"Kau bilang mencintaiku."
Kemudian ia menatap Kael.
"Dan kau mencintaiku."
Terakhir ia menatap keduanya.
"Tapi kalian juga saling tertarik."
Tidak ada yang membantah.
Lysandra menghela napas.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini?"
Sejak hari itu, Lysandra mulai memperhatikan Elior lebih dekat.
Dan semakin ia memperhatikan—
semakin ia tidak menyukainya.
Bukan karena Elior seorang Omega.
Melainkan karena ada sisi lain dari dirinya yang mulai terlihat.
Elior pandai memainkan situasi.
Di depan Lysandra, ia selalu menjadi pria gagah yang melindunginya.
Tetapi ketika Kael muncul, ia sengaja memperlihatkan sisi lemahnya.
"Yang Mulia..."
Ia menggenggam lengan Kael.
"Aku tidak nyaman."
Kael melepaskan tangannya.
"Elior, berhenti."
Namun Elior justru menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan tinggalkan aku."
Lysandra melihat semuanya.
Dan sesuatu dalam dirinya runtuh.
Ia merasa telah dibohongi.
Suatu malam, ia akhirnya memergoki Elior dan Kael berdua di lorong istana.
Elior masih memegang lengan Kael.
Lysandra berhenti.
"Elior."
Omega itu langsung menoleh.
"Lady Lysandra."
"Jadi ini alasanmu selalu berubah ketika bertemu Kael?"
Elior terdiam.
Lysandra tertawa kecil.
"Aku pikir kau hanya bingung dengan perasaanmu."
Ia menggeleng.
"Ternyata kau memang ingin mendapatkan kami berdua."
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan."
"Benarkah?"
Lysandra mendekat.
"Kau bilang mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu."
"Dan dia?"
Elior tidak menjawab.
Lysandra menatapnya lama.
Kemudian perlahan berkata,
"Aku muak."
Wajah Elior langsung pucat.
Kalimat itu menghancurkannya.
"Aku tidak pernah meminta kau menjadi sempurna."
Lysandra menahan air mata.
"Aku hanya meminta kau jujur."
Ia melepaskan liontin pemberian Elior dari lehernya.
Lalu menyerahkannya kembali.
"Ambil."
Elior tidak bergerak.
"Lysandra..."
"Jangan panggil namaku lagi."
Lysandra pergi.
Dan untuk pertama kalinya, Elior tidak mengejarnya.
Tidak lama kemudian, keluarga Lysandra membuat keputusan.
Pernikahan antara Lysandra dan Pangeran Kael akan dilangsungkan.
Lysandra menolak.
"Aku tidak mencintainya."
Ayahnya menjawab tenang,
"Kael mencintaimu."
"Aku mencintai Elior."
Ayahnya terdiam sesaat.
"Dan dia mencintai Kael."
Lysandra terdiam.
"Kael tidak mempermainkanmu."
"Tapi aku tidak mencintainya."
"Perasaan bisa tumbuh."
Lysandra menangis.
"Aku tidak ingin menikah karena terpaksa."
Ayahnya hanya menjawab,
"Kadang seorang bangsawan tidak menikah berdasarkan apa yang ia inginkan."
Kalimat itu menjadi akhir dari perdebatan.
Kael mengetahui semuanya.
Ia mendatangi Lysandra malam itu.
"Aku bisa membatalkan pernikahan."
Lysandra menatapnya.
"Kau bisa?"
Kael tersenyum pahit.
"Tidak."
Mereka tertawa kecil.
Tawa yang menyedihkan.
"Kita sama-sama tidak punya pilihan."
Lysandra menundukkan kepala.
"Aku minta maaf."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena kau tidak pernah berjanji mencintaiku."
Lysandra menatapnya.
Kael melanjutkan,
"Aku yang memilih mencintaimu."
Ia berbalik.
"Aku tidak akan memaksamu membalasnya."
Hari pernikahan tiba.
Lysandra mengenakan gaun putih.
Kael mengenakan pakaian kerajaan.
Ribuan bangsawan hadir.
Ketika pendeta bertanya,
"Apakah Lady Lysandra Valerian bersedia menjadi pasangan Pangeran Kael Arvandor?"
Lysandra memandang Kael.
Ia melihat pria yang telah mencintainya selama bertahun-tahun.
Pria yang tidak pernah memaksanya.
Pria yang tetap tinggal ketika orang lain pergi.
Ia teringat Elior.
Dadanya sakit.
Namun akhirnya ia menjawab,
"Ya."
Satu kata.
Tetapi rasanya seperti mengubur bagian dirinya sendiri.
Pernikahan selesai.
Namun cinta tidak langsung tumbuh.
Hari-hari setelahnya justru dipenuhi frustrasi.
Kael mencoba membuat Lysandra nyaman.
Ia mengajaknya makan malam.
Membawakan bunga.
Menemaninya berjalan.
Namun Lysandra selalu terlihat jauh.
Suatu malam, Kael menemukan bunga yang diberikannya masih berada di atas meja.
Tidak disentuh.
"Kau tidak menyukainya?"
Lysandra menatap bunga itu.
"Indah."
"Tapi?"
Lysandra terdiam.
"Hatiku belum bisa berubah secepat itu."
Kael mengangguk.
"Aku tahu."
"Aku sedang berusaha."
"Aku juga tahu."
Lysandra menatapnya.
"Kenapa kau selalu sabar?"
Kael tersenyum pahit.
"Karena kalau aku marah, aku takut kau semakin jauh."
Lysandra menunduk.
Air matanya jatuh.
"Aku benci diriku sendiri."
"Jangan."
"Aku menikahimu tetapi masih memikirkan orang lain."
Kael terdiam.
"Aku tahu."
"Dan kau tetap di sini."
"Aku tahu."
Lysandra menangis semakin keras.
"Aku tidak tahu harus bagaimana."
Kael mendekat.
Namun Lysandra mundur.
"Jangan."
Kael langsung berhenti.
"Baik."
Tidak ada paksaan.
Tidak ada kemarahan.
Hanya jarak.
Jarak yang terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran.
Beberapa bulan berlalu.
Lysandra mulai terbiasa dengan Kael.
Ia mulai mengetahui kebiasaannya.
Kael selalu membaca laporan sampai larut malam.
Ia tidak suka makanan terlalu manis.
Ia selalu memeriksa pintu sebelum tidur.
Dan setiap kali Lysandra sakit, Kael akan menjadi orang pertama yang datang.
Perlahan-lahan kebenciannya berubah menjadi rasa nyaman.
Tetapi cinta?
Belum.
Suatu malam, Lysandra akhirnya berkata,
"Kael."
"Ya?"
"Aku mungkin tidak akan pernah mencintaimu seperti aku mencintai Elior."
Kael terdiam.
Namun Lysandra menggenggam tangannya.
"Tapi aku ingin mencoba."
Kael menatap tangan mereka.
"Kenapa?"
"Karena kau tidak pernah memintaku menjadi seseorang yang bukan diriku."
Kael tersenyum kecil.
"Jangan mencoba karena kasihan."
Lysandra menggeleng.
"Aku mencoba karena aku ingin."
Untuk pertama kalinya, Lysandra sendiri yang menggenggam tangan Kael lebih erat.
Kael tidak berkata apa-apa.
Ia hanya membalas genggaman itu.
Jauh dari istana, Elior berdiri di depan gerbang kerajaan.
Tidak ada lagi pakaian mewah.
Tidak ada pelayan.
Tidak ada Lysandra.
Tidak ada Kael.
Ia menatap istana untuk terakhir kalinya.
"Aku kehilangan mereka berdua."
Ia tersenyum getir.
"Mungkin karena sejak awal aku sendiri tidak tahu siapa yang benar-benar kuinginkan."
Kemudian Elior berbalik.
Dan pergi.
Tanpa menoleh lagi.
Di balkon istana, Lysandra berdiri di samping Kael.
"Aku masih takut."
"Takut apa?"
"Takut suatu hari aku kembali merindukannya."
Kael menatapnya.
"Kalau itu terjadi, katakan padaku."
Lysandra terkejut.
"Kau tidak marah?"
"Aku mungkin akan marah."
Kael tersenyum tipis.
"Tapi aku lebih takut kau berbohong kepadaku."
Lysandra terdiam.
Kemudian ia menyandarkan kepalanya perlahan di bahu Kael.
Tidak ada cinta yang besar.
Belum.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang menjalani pernikahan yang sepenuhnya dipaksakan.
Karena mungkin cinta tidak selalu datang sebagai perasaan yang menggelegar.
Kadang cinta datang perlahan.
Melalui seseorang yang tetap tinggal ketika kita sedang berantakan.
Dan malam itu, Lysandra akhirnya sadar—
ia mungkin belum mencintai Kael.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia ingin belajar mencintainya.
Tamat.