Tunanganku sangat membenci kesia-siaan.
Karena ia selalu mengutamakan efisiensi dan mengabaikan emosi, aku selalu terpaksa bergerak diam-diam sendirian agar tidak memancing amarahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Aku menjatuhkan jepit rambut berharga peninggalan ibuku di pesta malam ini, jadi aku pergi mencarinya. Seseorang menyapaku saat aku sedang menelusuri kembali langkahku, menatap tanah dengan panik.
Pemuda itu tampak ramah, dengan sepasang mata sebiru langit yang cerah. Rambut cokelat mudanya sedikit ikal dan halus, suaranya berat dan menenangkan.
Itulah pertemuan pertamaku dengannya.
"Ah, bukan... bukan apa-apa. Maafkan saya jika tingkah saya terlihat aneh.... Saya hanya kehilangan sesuatu."
Kalau tunanganku sampai tahu aku menghilangkan barang, aku sudah bisa menebak apa yang akan ia katakan. Tidak, sebenarnya, ia memang pernah mengatakan hal ini saat aku melakukan kesalahan yang sama sebelumnya.
"Betapa bodohnya dirimu sampai tidak sadar barangmu jatuh. Kehilangan barang saja sudah bukan hal yang pantas dibanggakan, tapi aku benar-benar tidak paham dengan jalan pikiranmu yang malah repot-repot mencarinya sendiri.
Bukankah itu sangat tidak efisien? Suruh saja pelayan di sekitar sini untuk mencarinya. Lagipula kau tidak akan mati kalau barang itu tidak ketemu. Anggap saja itu takdir dan relakan. Tindakanmu itu selalu saja penuh kesia-siaan."
Ucapannya memang tidak salah, dan aku juga sadar kalau aku ini lamban.
Karena itulah aku keluar mencarinya sendiri tanpa memberitahunya. Justru karena benda itu adalah pemberian mendiang ibuku, rasa panik menguasaiku dan aku tidak bisa diam saja merelakannya.
Tentu saja aku sudah meminta bantuan para pelayan. Tapi bukan berarti barang itu pasti akan ditemukan, lagipula akulah yang paling tahu ke mana saja aku berjalan....
Sambil memikirkan hal itu, aku tersenyum kecil pada pemuda yang menyapaku tadi sebagai bentuk rasa terima kasih atas perhatiannya.
"Kehilangan barang? Itu sama sekali bukan 'bukan apa-apa', kan? Pasti barang itu sangat berharga. Saya akan bantu mencarinya. Seperti apa bentuknya?"
“Barang berharga.”
Kata-katanya membuatku tersentak.
Seseorang yang baru pertama kali kutemui bisa langsung memahamiku hanya dari tindakanku. Dan ia bersedia membantu mencari barang milik orang asing sepertiku. Hal sesederhana itu begitu menyentuh hatiku hingga rasanya aku ingin menangis.
"Tapi... sayang sekali kalau Anda harus melewatkan pesta malam ini...."
Saat aku menolaknya dengan suara bergetar, pemuda itu menatapku langsung dengan matanya yang cerah dan tersenyum menenangkan.
"Sebenarnya saya kurang suka pesta, makanya saya diam-diam kabur dari sana. Jadi, tolong beri saya alasan yang bagus untuk membolos. Barang apa yang hilang?"
Kebaikan hatinya yang merespons dengan riang agar aku tidak merasa sungkan membuat hatiku menghangat.
"Terima kasih banyak. Sebenarnya, saya menjatuhkan jepit rambut pemberian mendiang ibu saya.... Jepit rambut perak dengan permata biru...."
Mendengar penjelasanku, ia membantuku menelusuri kembali tempat-tempat yang kulewati. Dan di sudut taman di bawah aula pesta, ia berhasil menemukannya.
"Ini dia! Ah, terima kasih banyak!!"
Aku menahan sekuat tenaga agar air mataku tidak tumpah saat mengucapkan terima kasih. Melihatnya, ia tersenyum bahagia, seolah ia sendirilah yang baru saja menemukan barang berharganya.
"Syukurlah. Sepertinya tidak ada lecet sama sekali."
"Iya, tadi sebelum pesta dimulai, saya tanpa sadar berhenti untuk melihat bunga-bunga yang indah. Pasti saat itulah jepit rambut ini jatuh."
Aku menggenggam erat jepit rambut berharga itu dengan kedua tanganku, seolah sedang memeluknya.
"Pasti peri bunga sedang iseng menggodamu."
Ia tertawa jahil sambil menyipitkan matanya yang lembut. Saat itulah aku baru sadar kalau aku belum menanyakan namanya.
"Maafkan kelancangan saya. Nama saya Annette. Annette Fennel. Bolehkah saya tahu nama Anda? Saya benar-benar ingin membalas budi."
"Ah, maafkan saya juga. Saya Jeffrey Scott. Ternyata Anda putri dari keluarga Viscount Fennel. Ayah Anda banyak membantu saya."
Tuan Jeffrey Scott.... Jadi dia dari keluarga Earl Scott.
Aku pernah menyapa Tuan Ebert, putra sulung keluarga itu, tapi ini pertama kalinya aku bertemu dengan Tuan Jeffrey.
"Ehm...."
"Nona Annette, putra Earl Bernard sedang mencari Anda."
Tiba-tiba seorang pelayan memanggilku. Saat aku menoleh, aku melihat sosok tunanganku berdiri tidak jauh dari sana dengan raut wajah masam. Ia pasti marah karena aku diam-diam keluar dari aula.
Bahkan pada jarak sedekat ini pun, ia lebih memilih menyuruh pelayan daripada menghampiriku langsung—sifat yang sangat khas dirinya. Aku menghela napas pelan lalu menjawab pelayan itu.
"Itu Tuan Marc, sang Pejabat Eksekutif.... Ternyata Anda adalah tunangan beliau. Silakan, pergilah menemuinya."
Tuan Jeffrey tersenyum penuh pengertian dan mengangguk kecil. Aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi kepadanya, lalu mengikuti pelayan itu kembali ke sisi tunanganku.
"Tadi aku mencarimu untuk menyapa perwakilan dari Kadipaten Cologne yang hadir untuk urusan diplomatik, tapi kau malah tidak ada. Sangat merepotkan. Untung saja ada Catherine yang mendampingiku. Kau ini benar-benar kurang kesadaran diri sebagai tunanganku. Apa sih yang ada di pikiranmu sampai keluyuran keluar di tengah-tengah pesta?"
"Maafkan saya...."
"Aku tidak butuh permintaan maafmu. Aku hanya ingin kau berubah."
Setelah berkata demikian—padahal tadi ia bilang 'mencariku'—ia berjalan pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Aku terpaksa setengah berlari untuk menyusulnya.
"Saya sudah menitipkan pesan kalau saya keluar aula sebentar, apakah Anda tidak mendengarnya?"
Aku bertanya dengan napas sedikit terengah, namun tidak ada jawaban darinya.
Seperti biasa.
Ia hanya berbicara ketika ia mau, tetapi jika ia sedang tidak mood, ia tidak akan repot-repot membalas pertanyaanku.
Aku pernah sekali saja melakukan hal yang sama kepadanya. Sebenarnya saat itu aku hanya sedang melamun dan tidak sadar ia mengajakku bicara. Namun, ia menatapku dengan sorot mata merendahkan, seakan mengabaikan pertanyaan adalah tindakan paling tercela.
"Jangan pernah berpikir bahwa waktumu dan waktuku sebagai seorang Pejabat Eksekutif memiliki nilai yang sama."
Setelah ia mengatakan itu, ia menganggapku tidak ada selama beberapa waktu.
Marc Bernard. Putra sulung keluarga Earl Bernard ini adalah pria cerdas yang bekerja sebagai Pejabat Eksekutif di negara ini.
Alasan pria yang usianya enam tahun lebih tua dariku itu melamarku tidak lain karena mendiang ibuku adalah putri seorang Earl dari Kadipaten Cologne. Ayahku, yang dulunya putra seorang Viscount di negara ini, mengalami pertemuan takdirnya saat berkunjung ke Kadipaten Cologne di masa mudanya.
Ibuku yang cerdas mengajariku bahasa Cologne dengan sungguh-sungguh sejak aku kecil. Karena itu, aku bisa menuturkannya selancar bahasa ibu. Perusahaan dagang milik keluarga Viscount berurusan dengan barang-barang langka dari berbagai negara. Oleh sebab itu, aku dan adikku sudah sejak dini mempelajari bahasa, sejarah dari berbagai negara, serta seluk-beluk barang yang kami perdagangkan.
Konon, Tuan Marc sangat mengagumi Perdana Menteri Marquis Verdemond, sosok yang dijuluki sebagai otak negara ini. Ia belajar mati-matian agar bisa mendekati posisi sang Marquis. Diangkat menjadi Pejabat Eksekutif di usia muda membuatnya mendambakan istri yang luar biasa. Dan sosok itu... adalah aku.
Namun, saat kami resmi bertunangan, ia rupanya kecewa karena diriku ternyata jauh lebih "biasa" dari bayangannya.
Berkali-kali ia bilang realitanya berbeda dari rumor yang ia dengar. Fasih berbahasa Cologne, punya pengetahuan luas tentang negara asing, dan sangat kompeten. Memang rumor itu tidak salah, tapi semua itu semata-mata berkat ajaran ibuku demi kebutuhan bisnis keluarga. Pengetahuanku—yang tidak pernah ditujukan untuk dunia politik—tampaknya sama sekali tak bernilai di matanya.
"Kalau tahu begini, mending aku bertunangan dengan Catherine saja."
Itulah kalimat yang selalu kudengar selama dua tahun masa pertunangan kami.
Nona Catherine adalah putri keluarga Baron yang cemerlang; ia berhasil lulus ujian pegawai sipil yang terkenal sangat sulit dan kini menjabat sebagai asisten Tuan Marc. Ia bisa berbahasa Cologne, andal berdiskusi politik, dan merupakan sosok yang luar biasa cantik.
Rambut ikal emasnya yang diikat tinggi dan langkahnya yang tegap membuat semua orang memandangnya dengan kagum. Saat kami pernah bersapa, senyumannya yang tulus dan sepasang matanya yang memancarkan kecerdasan membuatku juga terkesan padanya.
Berusahalah seperti Catherine....
Perhatikan sekelilingmu seperti Catherine....
Bergeraklah dengan efisien seperti Catherine....
Setiap kali aku berbuat salah, setiap kali aku gagal memenuhi ekspektasinya, ia selalu membandingkanku dengannya. Sejujurnya, aku sudah sangat lelah.
Namun, aku tidak bisa sembarangan meminta pembatalan pertunangan pada pria yang status bangsawannya lebih tinggi. Ia selalu dengan kejam menunjukkan kekuranganku dan menuntutku memperbaikinya. Saat ditatap dengan mata oranyenya yang penuh ejekan, tubuhku selalu menyusut ketakutan.
Aku, yang sebelum bertunangan dengannya adalah gadis ceria dan periang, perlahan-lahan mulai kehilangan senyuman.
Keluarga Viscount akan diteruskan oleh adikku, jadi aku tak punya pilihan selain menikah ke keluarga lain. Ayah memang menyayangiku, tapi sebagai bangsawan, beliau takkan mungkin menerima alasan 'ketidakcocokan sifat' untuk membatalkan pertunangan. Tuan Marc setidaknya sudah menunaikan kewajiban sosial minimumnya sebagai tunangan.
Hanya saja... menghabiskan waktu bersamanya adalah sebuah siksaan.
Aku harus selalu membaca raut wajahnya, menebak suasana hatinya, menimbang apakah harus bicara atau diam. Sekalipun aku bicara, aku tak mengharapkan jawaban. Jika tak ada balasan, itu berarti topik pembicaraanku tidak berkenan di hatinya. Aku yang salah.... Selama ini aku selalu berpikir begitu.
Setelah pesta malam itu, aku mengirimkan surat ucapan terima kasih beserta sedikit bingkisan untuk Tuan Jeffrey. Tak lama kemudian, balasannya pun tiba.
Terima kasih atas surat Anda yang penuh kesopanan. Saya turut lega jepit rambut Anda bisa ditemukan dengan selamat. Dan terima kasih banyak atas hadiah Anda yang luar biasa. Ini adalah teh buah yang populer di kalangan nona bangsawan di Kadipaten Cologne, bukan? Jujur saja, akhir-akhir ini saya jadi sangat menantikan waktu minum teh. Baru kali ini saya meminum teh dengan sensasi yang begitu menyegarkan. Gara-gara terus-terusan beristirahat untuk meminumnya, saya sampai diomeli kakak saya.
Saya dengar Nona Annette sangat menyukai buku-buku dari Kadipaten Cologne. Karena saya baru saja kembali dari pertukaran pelajar di sana, saya membeli cukup banyak buku. Jika Anda berkenan, tolong bacalah buku ini dan beritahu saya pendapat Anda.
Bersama surat itu, beliau menyelipkan sebuah buku.
Dari mana beliau tahu? Sejak kecil, aku sangat menyukai novel petualangan, dan buku yang beliau kirimkan ini adalah karya terbaru dari penulis favoritku. Karena berasal dari luar negeri, biasanya butuh waktu lama untuk bisa sampai ke tanganku. Aku sangat senang bisa membacanya secepat ini.
Sejak bertunangan dengan Tuan Marc, novel petualangan diremehkan sebagai sesuatu yang tidak memberi tambahan ilmu, sehingga aku tak pernah lagi membahas buku di hadapannya. Barang-barang standar yang fungsional... hanya itu saja hadiah yang kuterima darinya.
Hari ini rencananya aku akan pergi ke kediaman keluarga Bernard untuk belajar tata krama dari ibunya. Aku meyakinkan diriku untuk bertahan dan menjadikan buku ini sebagai hadiah menanti di rumah nanti. Dengan hati yang lebih ringan, aku bangkit berdiri.
"Nona Annette?"
Hari itu aku sedang berbelanja di ibukota bersama pelayan dan pengawalku. Ulang tahun adikku sebentar lagi, jadi aku mencari hadiah yang bagus untuknya.
"...Tuan Jeffrey...?"
"Hai, kebetulan sekali, ya. Saya sedang mengambil buku pesanan kakek saya."
"Oh, begitu rupanya. Apakah Anda sendirian?"
"Iya. Walau sebenarnya saya ditemani pengawal juga, sih. Nona Annette sendiri?"
Sepasang matanya yang sewarna dengan langit cerah menatap lurus ke arahku, membuat jantungku berdegup. Pria ini benar-benar menatap lawan bicaranya dengan tulus.
"Saya sedang mencari hadiah ulang tahun untuk adik saya. Tapi belum ada yang pas di hati...."
"Kalau Nona tidak keberatan, bagaimana kalau saya temani mencari? Saya kenal sebuah toko yang menjual barang-barang menarik."
"Wah, benarkah? Tolong tunjukkan tempatnya."
Sebagai wanita yang sudah bertunangan, berjalan di ibukota bersama pria lain rasanya agak salah... tapi toh kami tidak berduaan, ada pengawal dan pelayan yang menemani. Ini hanya pertemuan tak disengaja. Dan di atas segalanya... aku masih ingin berbincang lebih lama dengannya.
Waktu yang kuhabiskan bersama Tuan Jeffrey jauh lebih menyenangkan dari bayanganku. Ia memperlambat langkahnya agar seirama denganku. Saat menyadari tatapanku berkeliling tertarik pada sesuatu, ia akan berhenti dan menemaniku masuk ke toko itu. Saat ia menemukan barang unik, ia akan bertanya, "Bagaimana kalau yang ini?"
Kami banyak mengobrol. Apa warna favoritku, bunga kesukaanku? Buah apa yang kusukai untuk diseduh menjadi teh. Pendapatku tentang buku yang ia berikan, hingga jenis buku apa lagi yang gemar kubaca.
Saat ia menyebutkan suka makanan manis, aku memberanikan diri mengajaknya mampir ke kafe yang kebetulan sudah kupesan sebelumnya. Ia tampak sangat bahagia. Dan sebagai balasannya—entah kapan ia membelinya—ia memberikanku bunga kesukaanku sesaat sebelum kami berpisah.
Satu bulan kemudian.
Tumben sekali Tuan Marc memintaku menemaninya ke pesta ulang tahun temannya. Saat ini, kami sedang menghadiri pesta tersebut di kediaman Marquis Hales.
"Padahal aku sudah repot-repot membelikannya, ternyata gaun itu tidak cocok sama sekali. Tubuhmu itu pendek, jadi kalau kau memakai gaun model pas badan, kau malah terlihat memprihatinkan. Model seperti ini memang hanya pantas dipakai oleh wanita dengan proporsi seindah Catherine. Padahal kalau kau sadar itu tidak cocok, kau bisa pakai gaun yang lain.... Benar-benar tidak peka."
Lantaran ia menyuruh bertemu langsung di lokasi sepulang kerja, aku datang mengenakan gaun pemberiannya. Kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya memaksaku menelan kembali helaan napasku. Kalau aku tidak memakai gaun ini, ia pasti akan mengamuk dan mengataiku tak tahu adat....
Nona Catherine, yang datang bersamanya dari tempat kerja, tampak anggun dan memukau dalam balutan gaun simpel berwarna biru tua. Namun, begitu mendengar ucapan tajam itu, Catherine menatap Tuan Marc dengan syok, lalu memandangku dengan sorot mata prihatin. Sayangnya, ia serba salah karena tidak berani menegur atasannya. Aku tersenyum tipis ke arahnya, mengisyaratkan bahwa tak apa-apa.
"Maafkan atas kekurangan saya...."
Setelah aku menundukkan kepala, rasa kesalnya tampaknya sedikit mereda. Ia menyodorkan lengannya untuk mengawalku masuk. Nona Catherine pamit dengan sopan dan menjauh dari kami. Melihat Tuan Marc yang terus menatap punggung Catherine dengan enggan, hatiku semakin membeku.
Hari ini, aku memakai gaun oranye sederhana. Warna ini persis seperti warna mata Tuan Marc, tetapi bagi gadis mungil berambut perak dan bermata abu-abu sepertiku, warna maupun potongannya sama sekali tidak cocok. Aku takkan sudi memilih gaun ini. Sepertinya, ia hanya mengikuti tradisi kuno "tunangan harus memakai warna dari pihak pria", tanpa peduli kecocokannya padaku.
Sebelum bertunangan, aku selalu memakai warna biru muda atau lavender. Tuan Marc tidak akan pernah repot-repot memilihkanku sesuatu yang cocok. Ia pasti selalu menjadikan Catherine sebagai patokan seleranya.
Memasuki aula, aku mengikutinya berkeliling menyapa orang-orang. Sambil menahan tatapan iba dari tamu lain yang melihat sosok kusamku di sampingnya, aku berusaha keras memaksakan sebuah senyuman. Perlahan-lahan, mungkin karena merasa dipermalukan oleh kehadiranku, suasana hati Tuan Marc memburuk.
"Gara-gara kau yang sama sekali tak pantas mendampingiku, aku jadi harus menanggung malu. Kau ini jenius dalam menghancurkan ekspektasiku, ya. Bersamamu hanya membuatku malu. Pertunangan ini adalah sebuah kesalahan."
"...Maafkan saya...."
"Sudah kubilang aku tak butuh permintaan maafmu. Ah, sudahlah. Mengisi waktu denganmu benar-benar percuma. Annette, maaf saja, aku ingin membatalkan pertunangan kita."
"……!!"
"Apa yang kau kagetkan? Ini wajar. Aku sudah berusaha sebagai tunanganmu, tapi kau tak pernah berusaha sedikit pun."
Ditatap dengan pandangan setajam es olehnya, aku menelan ludah pelan.
"...Maafkan saya... karena telah menjadi tunangan yang penuh kekurangan.... Pembatalan pertunangan ini, dengan kerendahan hati saya terima...."
Walau kami berbicara di sudut ruangan, tetap saja ada orang di sekitar kami. Orang-orang yang mendengarnya menatap kami terkejut.
Mendengar bisik-bisik, Tuan Marc mendecak kesal lalu melangkah pergi, meninggalkanku sendirian. Aku perlahan mengangkat wajahku. Tepat saat itu, mataku bersitatap dengan Tuan Jeffrey yang berjalan mendekat dengan raut penuh kekhawatiran.
"Tuan Jeffrey.... Anda datang, rupanya...."
Aku mencoba memberikan senyum padanya. Entah mengapa, ekspresinya tiba-tiba tampak terluka melihat reaksiku.
"Wajahmu pucat. Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu."
"...Terima kasih...."
Karena sudah menyuruh kereta kudaku pulang, akhirnya aku menaiki kereta keluarga Earl Scott.
"Aku tadi ada di dekat kalian... jadi aku mendengarnya. Kau... tidak baik-baik saja, kan?"
"Maaf Anda harus melihat pemandangan memalukan tadi.... Tapi sungguh, saya baik-baik saja. Saat Tuan Marc membatalkan pertunangan... jujur saja, saya merasa lega.... Akhirnya saya terbebas."
Dengan kedua tangan mengepal erat, aku merangkai kata dengan lirih.
"Di pesta saat kita pertama kali bertemu... ketika Anda menyadari perasaan saya dan membantu mencari jepit rambut itu... saat itulah saya tersadar. Bahwa selama ini Tuan Marc belum pernah sekalipun memikirkan perasaanku."
Aku mengangkat wajah, menatap Tuan Jeffrey dan mengulas senyum.
"Selama ini, saya menganggap diri saya penuh kekurangan. Saya merasa bersalah karena tak mampu memenuhi ekspektasi Tuan Marc yang selalu mengutamakan efisiensi.
Tapi ternyata saya keliru. Tuan Jeffrey membalas surat saya, bertanya pada orang lain apa yang saya sukai, dan mengirim buku yang sesuai selera saya. Saat kita tak sengaja bertemu, Anda menyelaraskan langkah dengan saya.
Anda tertawa bersamaku, memberikan bunga dengan warna yang paling saya sukai. Selama dua tahun bertunangan, Tuan Marc tak pernah sekalipun mencoba mengenalku. Ia pasti tak tahu apa warna atau bunga kesukaanku.
Ia memberikan gaun buruk rupa, lalu menyalahkanku karena tak pantas memakainya. Sejak lama saya ingin mundur, tapi status saya sebagai putri Viscount mencegahku. Makanya saya sangat lega. Akhirnya... saya bebas."
Mendengar penuturanku yang tenang, Tuan Jeffrey menatap tajam mataku seolah mencari kebenaran.
"Begitu ya.... Kau memang mengharapkan pembatalan itu, kan? Kalau begitu, aku akan menjadi saksimu. Malam ini juga aku akan berbicara dengan ayahmu. Sebelum pria berengsek itu berubah pikiran, mari kita selesaikan prosedurnya secepat mungkin."
Dan benar saja, malam itu ia langsung berbicara dengan Ayah. Dokumen pembatalan segera disusun dan dikirim ke kediaman Earl Bernard. Mengingat pemutusan itu diucapkan lisan di pesta ulang tahun keluarga bangsawan tinggi dan ada saksi mata, Earl Bernard menyadari hal itu tak bisa dianulir. Beliau pun menyetujuinya dengan tenang.
Pertunanganku akhirnya resmi batal.
"Maafkan Ayah, Annette," kata Ayah padaku. "Ayah sangat khawatir melihat senyummu memudar hari demi hari, tapi Ayah pikir akan sulit membatalkannya karena Tuan Marc tak pernah melakukan pelanggaran berat secara fisik. Untung ada Tuan Jeffrey."
Saat ini usiaku 18 tahun. Batalnya pertunangan dengan calon potensial sekelas Tuan Marc pasti akan membuat publik berspekulasi bahwa akulah yang bermasalah. Namun tak disangka, tak lama setelahnya, Tuan Jeffrey melamarku.
"Sebenarnya... selama program pertukaran di Kadipaten Cologne, keluarga yang mengurusku adalah keluarga Count Ginet—keluarga asal ibumu. Saat aku melihat lukisan potretmu di sana, aku berpikir, 'Betapa cantiknya gadis ini'. Waktu tahu kau cucu mereka, aku bertekad suatu saat nanti aku harus bertemu denganmu.
Makanya di pesta malam itu aku langsung mengenalimu. Walau nyatanya, kau jauh lebih cantik dari lukisan. Begitu aku melihat kalian berdua bersanding, aku tak bisa menerimanya. Kau tak dihargai sedikit pun. Melihat punggungnya yang terus berjalan meninggalkan kaki kecilmu... itu benar-benar membuatku marah."
Ah... ternyata ia mengkhawatirkan diriku... marah demi diriku.
"Jangan-jangan... yang memberitahu Anda soal novel petualangan itu..."
"Benar. Kakekmu. Katanya sejak kecil kau antusias membahas soal buku di suratmu kepadanya. Makanya aku bawakan volume terbarunya."
Tuan Jeffrey tersipu malu. Menatap matanya yang selembut langit biru, aku menyadari aku sangat mencintainya.
"Terima kasih banyak.... Tapi, apakah benar tak apa-apa jika itu saya?"
"Tentu saja. Kau sangat cantik, sopan, dan tahu betul cara menjaga hal berharga. Aku menyukai tulisan tanganmu, rambut perakmu, dan matamu yang mengingatkanku pada langit musim dingin.
Ketegaranmu yang selalu tersenyum meski batinmu terluka... aku sungguh ingin melindunginya. Nona Annette, aku bersumpah akan menyayangimu sepanjang hidupku. Maukah kau menikah denganku?"
"...Iya... dengan senang hati."
Belakangan ini, nasib Marc tak henti-hentinya sial.
Setelah membatalkan pertunangan dengan Annette, ia melamar Nona Catherine, wanita idamannya. Ia begitu yakin Catherine mencintainya karena wanita itu selalu mendukungnya di tempat kerja. Namun di luar dugaan, lamaran itu ditolak mentah-mentah.
"Mohon maaf, tetapi saya sudah memiliki kekasih seorang ksatria. Karena kami bukan pewaris keluarga, saya sengaja memilih jalur sipil untuk membantunya secara finansial. Syukurlah ia baru saja dianugerahi gelar kebangsawanan, dan kami telah menetapkan tanggal pernikahan. Saya tidak bisa menerima lamaran Pejabat Bernard."
Penolakan dari bawahannya yang "hanya" putri Baron itu mengoyak harga dirinya. Kalau tahu begini, mending ia mempertahankan Annette—si wanita penuh kekurangan yang setidaknya tahu diri—sebagai tunangan.
Dalam kapasitasnya sebagai Pejabat Eksekutif, hubungan dengan Kadipaten Cologne sangat krusial. Demi mimpinya bekerja di bawah Perdana Menteri Marquis Verdemond, istri yang fasih berbahasa Cologne adalah keharusan.
Annette—dengan darah keluarga Count Cologne dan bisnis perdagangannya—sebenarnya sangat berharga. Namun bagi Marc, tindakan gadis itu terlalu banyak yang "sia-sia".
Puncak kekesalannya meledak saat melihat Annette di balutan gaun norak itu. Marc mengucap pembatalan karena emosi sesaat. Siapa sangka gadis itu benar-benar memprosesnya secepat kilat.
Akhir-akhir ini pekerjaannya pun berantakan.
"Pejabat Bernard, untuk Pesta Besar kali ini, siapa yang akan Anda dampingi?" tanya bawahannya.
Bayangan Annette melintas, tapi Marc menepisnya. Ia harus menurunkan standarnya dan mencari gadis bangsawan lain yang lebih muda.
Namun di Pesta Besar—ajang berkumpulnya para bangsawan elit kerajaan—Marc membeku melihat pemandangan di hadapannya.
"Wah, serasi sekali pasangan itu.... Bukankah itu Tuan Jeffrey yang baru saja diadopsi masuk ke keluarga Marquis Verdemond dan tunangannya?"
Hah...? Apa maksudnya...?
"Istri Earl Scott kan memang putri keluarga Marquis Verdemond. Karena pewaris lamanya meninggal dalam kecelakaan, sang Marquis mengadopsi Tuan Jeffrey—cucunya yang sangat brilian itu—sebagai pewaris tunggal barunya."
"Dan nona manis di sebelahnya itu... bukankah dia Nona Annette? Lihat betapa bahagianya dia."
"Dia jauh lebih bercahaya dari sebelumnya. The power of love, ya...."
Marc terpaku.
Annette yang dulu selalu menunduk kusam, kini rambut peraknya ditata anggun dan dihiasi jepit bermata biru. Wajahnya terangkat memancarkan senyum paling indah, menatap pria di sampingnya dengan kehangatan luar biasa. Gaun sifon biru langit bersulam perak membalut tubuh mungilnya dengan sempurna.
Bukannya ini penipuan...? Kalau secantik itu, biar sebodoh apa pun dia, aku takkan melepaskannya!
Tak lama berselang, Marquis Verdemond, sang perdana menteri idola Marc, menghampiri pasangan itu dengan senyum ramah yang tak pernah ia perlihatkan pada publik. Annette tertawa renyah mengobrol dengannya. Mantan tunangannya itu... akan menjadi cucu menantu pahlawan pujaannya.
Kenapa... padahal gadis itu milikku....
"Pejabat Bernard."
Tiba-tiba, Catherine dengan rambut emasnya berdiri di hadapannya bersama sang tunangan.
Pria itu membungkuk sopan pada Marc, lalu secara tak sengaja keduanya mengikuti arah pandang Marc ke arah Annette.
"Wah... itu Nona Annette. Syukurlah beliau terlihat sangat bahagia bersanding dengan pewaris Marquis Verdemond," ucap Catherine lembut.
Terpancing emosi, kalimat ketus meluncur dari mulut Marc. "Kenapa saat bersamaku gadis bodoh itu tak mau berusaha sedikit pun? Padahal dia sangat beruntung dapat menjadi istri Earl sepertiku. Kalau baru habis dibuang ia memoles diri, harusnya dari dulu saja ia bersusah payah demi aku...."
Catherine tersenyum kecut, menatapnya dengan pandangan sedingin es.
"Itu mustahil. Selama dua tahun bekerja untuk Anda, tak pernah sekalipun saya melihat Anda menghargainya. Anda memperlakukannya seperti alat, melampiaskan amarah, memaksa tanpa peduli kesukaannya, dan membuangnya saat tak dibutuhkan. Bersama monster yang tak menganggapnya manusia, kewarasannya pasti hancur perlahan.
Memaksanya memakai gaun buruk lalu memakinya karena tak pantas—upaya bodoh macam apa yang Anda ekspektasikan? Nona Annette adalah sosok yang sangat dicintai oleh kami sesama wanita. Dada saya hancur melihatnya meredup dalam siksaan Anda. Saya sungguh bersyukur belenggu pertunangan kalian akhirnya putus."
Mata Marc membelalak marah. "Lancang sekali mulutmu...!"
Tunangan Catherine segera pasang badan menengahi.
"Dan sepertinya Anda tidak sadar," lanjut Catherine tajam, "tapi lihatlah gadis yang Anda gandeng hari ini. Wajahnya sepucat mayat hidup karena Anda tak repot-repot memperkenalkannya, lalu malah menyebut mantan tunangan Anda sebagai 'hanya wanita rendahan sekelas putri Viscount' di depannya.
Ini membuktikan seberapa parahnya pemahaman Anda menghargai wanita. Oh, saya lupa bilang, saya baru saja dimutasi ke kantor kementerian Perdana Menteri. Terima kasih atas bimbingannya."
Catherine berbalik dan pergi.
Marc ditinggalkan dalam bisu. Gadis yang menjadi partnernya malam itu pun akhirnya menunduk pamit ketakutan dan lari menjauh.
Kenapa semua yang kuinginkan lepas dari genggamanku?
Aku kan pria cerdas calon Earl....
Tahun-tahun berlalu. Annette yang menikah dengan Jeffrey menjadi istri ideal yang bahagia dan terus mendukung suaminya. Jeffrey yang cemerlang dengan cepat diangkat menjadi asisten perdana menteri. Sampai akhir hayat, mereka hidup sebagai pasangan paling serasi.
Di sisi lain, Marc yang kesulitan mendapat pasangan akhirnya menyunting gadis yang sangat muda, namun istri barunya itu melarikan diri hanya dalam kurun dua tahun.
Dianggap gagal mengurus rumah tangganya sendiri, selamanya ia tak pernah diundang ke kantor kementerian perdana menteri impiannya. Bahkan hingga napasnya berhenti, ia takkan pernah paham mengapa orang-orang terus-menerus meninggalkannya.