Pada suatu hari ada tiga bersaudara yang bernama Jiro, Neza, dan Kio. Mereka ingin bercamping dan menguak misteri yang ada di suatu tempat yaitu Padang 12. Yang bertemtempatan di antara Kecamatan Kendawangan dan Pesaguan. Konon katanya, Padang 12 ini merupakan kota yang indah dan mewah serta memiliki penduduk yang sangat Sejahtera dan modern. Tentunya, hal tersebut hanya bisa disaksikan oleh mereka yang mampu melihat dengan mata batin.
Menurut warga lokal, Padang 12 hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhati bersih, suci, serta jauh dari kesombongan dan ketamakan. Namun, ada pula yang berpendapat sebaliknya. Jika seseorang melewati Padang 12 dengan sikap sombong atau hendak berbuat jahat di daerah tersebut, maka kemungkinan besar ia akan melihat pemandngan aneh dan menyeramkan.
Tak jarang, mereka juga akan diganggu oleh para penghuni Padang 12 yang tak terlihat. Dan kota ghaib ini sudah ada sejak nenek moyang. Bahkan, banyak cerita legenda tentang orang-orang yang melihat atau bertemu dengan penduduk Padang 12. Mereka menyebut penduduk kota Padang 12 sebagai orang ‘limun’ (halimunan) atau orang kebenaran.
Setelah tiba di tempat tujuan merekapun segera membangun tenda dan menghidupkan api unggun. Mereka tidak mencari kayu bakar lagi karena mereka sudah menyiapkan nya dari rumah. Setelah itu mereka memasak makanan dikarenakan lapar dan hari juga sudah larut malam. Seketika Jiro melihat jam yang menunjukkan pukul 21.30.
Sesudah makan mereka memutuskan untuk istirahat di karenakan perjalanan mereka yang jauh dan panjang. Saat hendak tidur, Kio kebelet ingin buang air kecil. “kak, Kio mau buang air dulu ya sebentar”. “iya, jangan lupa permisi dan berhati-hati ya”. Jiro berpesan agar tidak terjadi apa-apa kepada Kio jika ia salah tingkah dan perkataan. Tapi Kio menjawab, “yaelah kak, ngapain harus permisi?, kan tidak ada orang satupun disini”. Jawab Kio dengan nada sombong dan sedikit tertawa. “walaupun terlihat seperti tidak ada orang kita tetap harus sopa dimanapun kita berada”, Jiro menasehati kembali. “Iya deh kak, iya, Kio pergi dulu”. Kio pun pergi ke hutan untuk buang air.
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15, sudah setengah jam lebih Kio pergi buang air dan belum kembali hingga sekarang. Jiro dan Neza sangat khawatir, jadi mereka memutuskan untuk menyusul Kio. Saat sampai di hutan mereka masih belum menemukan Kio, hingga satu jam lebih, mereka mencari tapi masih belum ketemu. “kak Jiro, Kak Kio kemanaya?, kenapa belum kembali dari tadi?, Neza kan jadi takut”. Ucap Neza sambil berjongkok karena lelah. “mungkin Kak Kio kamu lagi cari kayu bakar untuk api unggun, sebentar lagi mungkin Kak Kio akan segera kembali”. Ucap Jiro untuk menenangkan Neza dengan mengusap kepala Neza lembut.
Tidak lama kemudian Neza melihat seseorang di balik pohon besar. “kak Jiro, itu siapa ya dibalik pohon?”. Tanya Neza sambil menunjuk ke arah pohon. “iya, ya ada orang, mungkin itu Kio, ayo kita samperin..”. Jiro memastikan dan pergi menuju ke arah pohon besar tersebut.
Neza yang takut, berlindung di balik tubuh Jiro. Jiro hendak menepuk bahu orang itu, tetapi tangannya dihentikan oleh Neza, dan Jiro pun memanggil orang tersebut, “Kio?, kamulah itu?”. Saat Jiro memanggil, orang tersebut berbalik badan, “Kio?”, “Kak Kio?”. Jiro dan Neza kaget bersamaan dan hendak memastikan apakah itu Kio atau bukan, “kakak?, kakak ngapain disini?”. Tanya Kio, ya itu Kio, tapi anehnya dia seperti sedang memakan sesuatu. “seharusnya kamu yang bertanya, apa yang kamu lakukan di tengah hutan dan tidak kembali ke tenda?, dan apa yang kamu sedang kamu makan?”, tanya Jiro. “Oh ini”, Kio menunjukkan makanan yang ia makan. “ini ayam bakar kak, tadi Kio di kasi sama nenek tua, omong-omong ayamnya enak loh kak”. Kio berbicara dengan mulut yang masih mengunyah. Jiro dan Neza menatap jijik dengan makanan yang Kio makan. “apakah Kak Kio yakin kalau itu adalah ayam?”. Neza bertanya kepada Kio untuk memastikan sambil menutup mulutnya. “iya, ini ayam lihatlah”. Saat Kio hendak memperlihatkannya kepada Jiro dan Neza, ia kaget duluan saat melihat benda yang ia makan bukanlah ayam bakar melainkan seekor kadal beracun.
Kio yang kaget seketika muntah darah, Jiro pun mundur kebelakang dan melindungi Neza. Kio semakin banyak muntah darah dan meronta kesakitan. Tak lama kemudian tubuh Kio terangkat ke udara dan melayang tinggi, seperti dikendalikan oleh makhluk ghaib. Tubuh Kio di arahkan ke jurang yang dalam dan curam.
Kio jatuh dari ketinggian lalu meninggal dunia. Jiro yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Jiro merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Jiro membenturkan kepalanya ke pohon hingga keluar darah. Jiro terduduk dan pingsan karena mengeluarkan banyak darah.
Saat Jiro sadar, perlahan ia membuka mata yang penglihatannya masih tidak terlalu jelas. Ia panik saat melihat sekitar tidak ada Neza Disana. Dengan penglihatan yang samar-samar, ia melihat bayangan Neza yang sedang berjalan bersama seseorang. “Neza!!, kamu mau kemana?!”. Jiro hendak berdiri tetapi kepalanya pusing karena keluar banyak darah. Jiro hanya bisa berteriak memanggil nama Neza yang hendak pergi ke tempat yang bercahaya terang bersama seseorang. Sebelum masuk ke tempat bercahaya itu, Neza mengatakan sesuatu. “Kak, Neza mau pergi kak sama ibu’”. Jiro sudah bisa melihat dengan jelas dan melihat orang yang bergandengan dengan Neza ialah ibunya yang telah lama meninggal beberapa tahun yang lalu. Arwah ibunya berkata “Hiduplah nak, berbahagialah”. Kata sang ibu dengan senyuman lalu membawa Neza masuk ke cahaya terang dan menghilang. “Neza!!, jangan pergi!!, kumohon jangan ambil keluarga ku lagi!!!, Neza kembalilah!!, ARGGHH!!!. Jiro menangis sambil berteriak hingga ia tertidur tergeletak di tanah. Jiro tak sadarkan diri hingga fajar tiba.
Saat Jiro terbangun, ia merasa aneh karena ia berada di sebuah gubuk tua yang berada di tengah hutan. Di sekitar gubuk itu sangat bersih dan di penuhi banyak tanaman-tanaman, dan sayuran. Jiro yang penasaran hendak melihat ke dalam gubuk tersebut, tetapi seketika ada seorang gadis cantik yang keluar dari dalam sambil membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman. “Eh?, kamu sudah bangun?”. Tanya gadis itu. “Ka-kamu siapa?”, tanya Jiro. “Aku penghuni disini”, jawab gadis itu. Jiro mengangguk, dan ia baru tersadar bahwa Neza tidak ada bersamanya. “Ne-neza?!, dimana NEZA?!”, tanya Jiro panik. “Neza?, siapa Neza?” tanya gadis cantik itu. “Neza, ia adalah adik perempuan ku yang bersamaku sejak semalam”, Jiro memastikan. “Saat aku menemukanmu, ku tidak melihat siapapun selain dirimu”, gadis itu menjelaskan.
Jiro diam sejenak dan mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Jiro sudah mengingat kembali dan ternyata selama ini Jiro hanya menghayal bahwa Neza selalu ada bersamanya. Jiro selalu mengingat Neza, agar Neza selalu ada disisinya, walaupun sesungguhnya Neza sudah lama meninggalkan dirinya. “oh,iya..., aku baru ingat, bahwa Neza telah tiada beberapa tahun dahulu”. Jiro menceritakan semuanya hingga meneteskan air mata, lalu diusap oleh gadis cantik itu. “sudahlah jangan terus-terusan menangis, itu tidak baik untuk kesehatanmu”, gadis cantik itu membujuk sambil tersenyum. Jiro membalas senyuman gadis itu dan berkata. “baiklah aku tidak akan menangis lagi, omong-omong nama kamu siapa wahai gadis cantik?”. Jiro bertanya sembari menatap wajah gadis itu. “Kana, namaku Kana”, ucap gadis itu dengan senyuman. “dan, siapa nama kamu?”. “Namaku Jiro, salam kenal ya, Kana”. Jiro membalasnya senyuman Kana. “oh iya, apa yang membuat kamu datang ke tengah hutan?”. Jiro pun menceritakan semua yang sudah ia alami selama dihutan dan kejadian yang telah terjadi. Dan disimak dengan baik oleh Kana. Kana pun sembari memberikan makanan dan minuman yang ia bawa kepada Jiro. “ini, makan dulu”. Kana menyodorkan piring yang berisikan nasi dan lauk-lauk yang enak. Jiro mengambil piring tersebut dan makan dengan lahap.
Satu tahun telah berlalu, Jiri tidak pernah ada pemikiran untuk kembali ke tempat asalnya. Melainkan ia dan Kana pindah ke kota yang sangat modern. Yang biasa orang sebut dengan kita ghaib atau Padang 12.
~Tamat~
• Di karang oleh Maudy Apriani
• Jumlah kata = 1251 kata
• Di ketik oleh Maudy Apriani
• Di tulis oleh Maudy
*Mengandung 30% cerita nyata, 10% terinsipirasi dari sebuah Anime, 60% imajinasi sendiri*