Detektif Aris selalu percaya bahwa kebenaran memiliki bunyinya sendiri. Baginya, kebenaran terdengar seperti detak jam dinding tua di ruang kerjanya yang sunyi: konstan, kaku, dan tidak bisa ditawar. Namun, segalanya berubah pada malam hujan bulan November, saat ia berdiri di depan meja autopsi Dokter Forensik Baskoro.
Di atas meja stainless steel yang dingin, terbujur kaku tubuh seorang miliarder filantropis bernama Januar. Di pergelangan tangan kiri mayat itu, melingkar sebuah jam tangan analog dengan strap kulit hitam yang tampak usang. Keunikannya bukan pada fisiknya yang antik, melainkan pada jarum-jarumnya yang bergerak berlawanan arah jarum jam, berputar mundur dengan kecepatan yang tidak wajar. Yang lebih mengerikan, alih-alih angka 1 sampai 12, jam itu menampilkan deretan angka digital kecil di bagian bawah dialnya yang terus menyusut 00:00:45:12. Empat puluh lima menit dan dua belas detik.
"Jam ini tidak bisa dilepas, Aris," kata Baskoro sambil menyeka keringat di dahinya. "Setiap kali aku mencoba memotong strapnya, pisau bedahku tumpul. Dan anehnya, angka digital itu... kurasa itu sisa waktu hidup seseorang. Tapi Januar sudah mati dua jam lalu akibat serangan jantung."
Aris mengerutkan kening. Ia mendekat, memberanikan diri menyentuh kaca safir jam tersebut. Detik itu juga, gelombang dingin menjalar ke lengan Aris. Angka digital di jam itu mendadak berubah drastis, berkedip merah sebelum memancarkan angka baru 438,300:00:00.
Aris menarik tangannya dengan terkejut. Logika detektifnya berputar cepat. Angka itu setara dengan tepat 50 tahun. Jam itu tidak lagi menghitung sisa hidup Januar. Jam itu sekarang telah mendeteksi pemilik barunya, Aris sendiri.
Tanpa memedulikan tatapan bingung Baskoro, Aris membawa jam misterius itu pulang ke apartemennya. Semalaman ia terjaga, menatap pergelangan tangannya sendiri tempat jam itu kini melingkar erat, seolah-olah kulitnya telah menelan strap hitam tersebut. Aris menyadari satu pola mengerikan keesokan paginya saat ia berbicara dengan pemilik kedai kopi di bawah apartemennya.
"Kopi yang enak, Pak Joko," puji Aris basa-basi. Padahal, kopi pagi itu terlalu pahit dan hangus.
Klik.
Suara mekanis tajam terdengar dari pergelangan tangannya. Aris tersentak dan melihat ke arah jam. Angka digital yang tadinya menunjukkan sisa waktu puluhan tahun, mendadak melompat mundur sebanyak tiga hari dalam sekejap mata. Jarum jam berputar sekilas seperti gasing sebelum kembali stabil.
Aris membeku di tempat. Keringat dingin mengucur. Jam ini memakan waktu hidupku setiap kali aku berbohong, batinnya bergidik. Kebohongan kecil yang tidak berbahaya saja telah memotong tiga hari dari usianya. Bagaimana jika ia melakukan kebohongan besar? Bagi seorang detektif kriminal yang hidup di dunia penuh tipu daya, manipulasi, dan diplomasi interogasi, ini adalah vonis mati yang berjalan.
Kasus kematian Januar ternyata tidak sesederhana serangan jantung biasa. Dua hari kemudian, Aris dipanggil oleh Kepala Komisaris Hendra ke ruang utamanya. Januar diketahui sempat menarik seluruh sahamnya dari proyek pembangunan panti asuhan megah sebelum ia tewas. Ada desas-desus tentang penggelapan dana.
"Aris, aku ingin kau menutup kasus Januar sebagai kematian alami," ujar Komisaris Hendra sambil mengembuskan asap cerutunya. "Keluarganya tidak ingin ada kegaduhan di media. Kita tidak butuh penyelidikan lebih lanjut."
Aris menatap atasannya. Ia tahu ada yang tidak beres. Komisaris Hendra tampak terlalu gugup untuk ukuran seorang pejabat tinggi kepolisian.
"Apakah Anda tahu sesuatu yang tidak saya ketahui, Komandan?" tanya Aris, mencoba menyelidiki dengan hati-hati.
"Tentu saja tidak, Aris. Aku hanya memikirkan reputasi institusi kita," jawab Hendra mantap.
Di pergelangan tangan Aris, jam tangan itu tetap sunyi. Hendra tidak berbohong tentang motif reputasi, atau setidaknya, jam itu tidak merespons kebohongan orang lain—ia hanya merespons kebohongan Aris sendiri.
"Baik, Komandan. Saya akan memproses penutupan berkasnya hari ini," kata Aris berbohong, berniat untuk tetap menyelidiki kasus ini secara rahasia.
KLIK-KLIK-KLIK!
Aris refleks mencengkeram pergelangan tangan kirinya. Rasa sakit seperti tersengat listrik menjalar hingga ke dadanya. Ia bergegas keluar dari ruangan Hendra dan bersembunyi di toilet. Ketika ia melihat layar jam, jantungnya nyaris berhenti berdetak. Angka tahun di jamnya telah lenyap. Sisa waktunya kini terpotong drastis menjadi 02:14:22:05.
Dua bulan, empat belas hari.
Satu kebohongan taktis dalam tugasnya telah merenggut hampir lima puluh tahun sisa hidupnya. Aris tersandar di dinding toilet yang dingin, napasnya memburu.
Jam tangan ini tidak memiliki toleransi terhadap strategi detektif. Ia dipaksa untuk menjadi manusia paling jujur di dunia jika ingin bertahan hidup, atau ia harus menyelesaikan kasus ini sebelum waktu di tangannya menyentuh angka nol.
Penyelidikan rahasia membawa Aris menemui Renata, istri muda Januar yang cantik namun dingin. Di ruang tamu kediamannya yang mewah, Aris duduk berhadapan dengan wanita itu. Aris meletakkan alat perekam di meja.
"Nyonya Renata, hasil autopsi tambahan menunjukkan ada jejak zat potasium klorida dosis tinggi dalam darah suami Anda sebelum serangan jantung terjadi," ujar Aris. Ini adalah gertakan, sebuah kebohongan detektif untuk memancing reaksi.
KLIK!
Aris meringis menahan sakit di pergelangan tangannya. Sisa waktunya berkurang lagi satu minggu. Namun, ia tidak peduli lagi. Matanya tetap tajam mengunci pandangan Renata.
Renata tampak terkejut, namun dengan cepat menguasai dirinya.
"Saya tidak tahu apa-apa tentang itu, Detektif. Malam itu saya sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis yayasan."
Aris memperhatikan gerak-gerik Renata. Wanita itu berbohong, namun jam di tangan Aris tidak bereaksi karena bukan Aris yang berbohong. Sial, batin Aris, instrumen mistis ini hanya menyiksa dirinya sendiri.
"Nyonya Renata, apakah Anda mencintai suami Anda?" tanya Aris tiba-tiba.
Renata tertegun dengan pertanyaan yang tidak biasa itu. "Tentu saja. Kami saling mendukung dalam setiap kegiatan amal."
Aris bangkit dari kursinya. Ia menyadari sesuatu yang krusial. Jika ia ingin membongkar kebenaran tanpa mengorbankan sisa hidupnya yang tinggal sedikit, ia tidak boleh lagi menggunakan metode interogasi konvensional yang penuh manipulasi kata. Ia harus menggunakan kebenaran mutlak sebagai senjatanya untuk memaksa lawan bicaranya terpojok.
Aris kembali ke kantornya dan memeriksa aliran dana panti asuhan Januar. Di sana ia menemukan dokumen mencengangkan yaitu sebuah rekening bayangan atas nama Hendra, Komisarisnya sendiri dan Renata. Mereka berdua telah bersekongkol menguras dana yayasan, dan Januar mengetahuinya tepat di malam ia dibunuh.
Malam itu, Aris menjebak Komisaris Hendra dan Renata untuk bertemu di ruang arsip kepolisian yang sepi dengan dalih menyerahkan dokumen asli penyitaan aset Januar. Begitu keduanya tiba dan menyadari mereka telah dijebak, Hendra langsung mencabut pistolnya dan mengarahkannya ke dada Aris.
"Kau terlalu mencampuri urusan yang bukan bagianmu, Aris," desis Hendra. "Serahkan dokumen itu, dan aku mungkin akan membuat kematianmu terlihat seperti kecelakaan tugas."
Renata berdiri di belakang Hendra, tersenyum sinis. "Detektif yang malang. Kejujuranmu akan membunuhmu malam ini."
Aris menatap moncong pistol di depannya.
Ia melirik jam tangannya. Tinggal dua hari sisa waktu yang dimilikinya akibat gertakan-gertakan sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam. Sambil mengangkat kedua tangannya, ia menekan tombol speaker pada ponsel di saku kemejanya yang terhubung langsung ke seluruh interkom gedung kepolisian yang saat itu sedang mengadakan rapat koordinasi wilayah.
"Kau akan menembakku, Hendra," kata Aris dengan suara tenang dan lurus. "Karena kau dan Renata telah meracuni Januar setelah dia mengancam akan melaporkan penggelapan dana yang kalian lakukan ke kejaksaan."
"Punya bukti apa kau, bajingan?!" bentak Hendra, wajahnya memerah karena amarah.
Aris tahu ini adalah momen pertaruhannya. Ia harus menyatakan kebenaran mutlak, tanpa keraguan, tanpa sedikit pun distorsi realitas. "Bukti itu ada di dalam server pusat yang sudah kukirimkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi satu jam yang lalu. Dan jika kau membunuhku sekarang, rekaman suara kalian di ruangan ini akan langsung mengunci hukuman mati untukmu."
Hendra tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya. "Kau menggertak! Kau belum mengirimkan apa pun!".
Aris menatap lurus ke mata Hendra. "Aku tidak sedang menggertak. Demi Tuhan, aku mengatakan yang sebenarnya."
Tiba-tiba, jam tangan di pergelangan tangan Aris mengeluarkan suara mendengung yang hangat, bukan klik tajam yang menyakitkan. Angka digital merah di layarnya berganti. Dari dua hari, angka itu berputar maju dengan kecepatan luar biasa, memulihkan waktu yang sempat hilang, satu bulan, satu tahun, sepuluh tahun, hingga kembali ke angka ratusan ribu jam. Jam itu memvalidasi kebenaran mutlak dari ucapan Aris.
Mendengar konfirmasi mistis yang dirasakannya dari kehangatan jam itu, Aris tersanam senyum penuh kemenangan. Pada saat yang sama, pintu ruang arsip didobrak paksa dari luar. Belasan anggota Provost dan tim khusus kepolisian masuk dengan senjata laras panjang terkokang, dipimpin oleh Wakil Komisaris yang telah mendengar seluruh percakapan mereka melalui interkom gedung.
Hendra dan Renata langsung menjatuhkan senjata mereka, menyadari bahwa permainan mereka telah berakhir sepenuhnya.
Beberapa minggu setelah kasus itu selesai dan namanya dibersihkan, Aris duduk di bangku taman kota yang tenang. Matahari sore bersinar hangat, menerpa permukaan safir jam tangan di pergelangan kirinya. Sisa waktu hidupnya kini terpampang jelas bahwa sebuah angka panjang yang damai, menandakan kehidupan yang panjang dan tenang.
Ia menyadari bahwa jam tangan ini bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah kompas moral yang absolut. Di dunia yang penuh dengan kepalsuan, topeng, dan kebohongan demi kenyamanan sesaat, Detektif Aris kini berjalan sebagai satu-satunya manusia yang memegang teguh kebenaran murni, karena baginya, setiap kata jujur yang diucapkannya bukan lagi sekadar integritas, melainkan detak jantung kehidupan itu sendiri.