Bab 1: Sarapan yang Sempurna
Pagi hari di sebuah distrik perumahan elite di Seoul. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, menerangi dapur bernuansa putih bersih. Bau roti panggang dan kopi segar memenuhi ruangan.
"Papa! Lihat, aku menggambar kita bertiga di taman!"
Ji-ah, bocah perempuan berusia enam tahun, berlari kecil sambil membawa selembar kertas krayon.
Min-jun, seorang pria tampan berusia 35 tahun dengan setelan kemeja kerja yang sangat rapi, berlutut menyamakan tingginya. Ia tersenyum hangat, matanya menyipit membentuk bulan sabit. Sangat ramah dan penuh kasih.
"Wah, indahnya. Ji-ah pintar sekali menggambar Papa. Tapi... kenapa baju Papa di gambar ini warnanya merah?" tanya Min-jun lembut, jemarinya mengusap rambut putrinya.
"Karena Papa pahlawan! Seperti baju Iron Man!" seru Ji-ah polos.
Min-jun terkekeh pelan. "Ah, begitu ya. Papa suka sekali."Dari arah kompor, Seo-yeon berjalan mendekat sambil membawa sepiring telur mata sapi. Ia memandangi suami dan anaknya dengan tatapan penuh cinta. Di matanya, Min-jun adalah anugerah terbesar: seorang dokter spesialis anak yang dihormati, suami yang tidak pernah marah, dan ayah yang sempurna.
"Sayang, duduklah. Sarapannya sudah siap," kata Seo-yeon sambil menata piring. "Hari ini jadwalmu padat di rumah sakit?
"Min-jun berdiri, membetulkan letak kacamata berbingkai peraknya yang bersih tanpa noda. "Tidak terlalu. Hanya ada beberapa pemeriksaan rutin di pagi hari. Kenapa? Kamu butuh sesuatu?"
"Tidak, hanya bertanya," Seo-yeon tersenyum, lalu menyalakan televisi di dinding dapur untuk mendengar berita pagi.
“...Kembali bersama Berita Pagi Utama. Polisi Seoul masih melakukan penyelidikan intensif terkait hilangnya wanita keempat di kawasan Gangnam. Berdasarkan pola yang ditemukan, pelaku diduga memiliki pengetahuan medis yang sangat tinggi karena memotong korbannya dengan sangat rapi tanpa meninggalkan jejak darah di TKP...”
Seo-yeon menghela napas berat, wajahnya tampak ngeri. "Dunia sekarang makin gila. Dokter Park, apa menurutmu pelakunya benar-benar seorang psikopat? Di televisi mereka bilang orang itu mungkin hidup normal di antara kita."
Min-jun mengunyah roti panggangnya dengan sangat tenang. Tidak ada satu pun otot di wajahnya yang menegang. Ia menatap layar televisi, lalu beralih menatap istrinya dengan pandangan penuh empati yang tampak sangat tulus.
"Secara psikologis, orang-orang seperti itu biasanya sangat pandai meniru emosi manusia, Seo-yeon. Mereka memakai 'topeng' sosial agar terlihat biasa saja. Bisa jadi dia adalah tetangga kita, atau seseorang yang menyapamu dengan ramah di jalan," jawab Min-jun, suaranya terdengar berat dan menenangkan.
"Mengerikan sekali. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan istri atau keluarganya jika tahu pria itu adalah monster," gumam Seo-yeon sambil bergidik.
Min-jun tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat tipis hingga Seo-yeon tidak menyadari kilat dingin di matanya. "Ya. Sangat mengerikan.
"Pukul 07.45 KST. Min-jun bersiap berangkat. Ia mengecup kening Seo-yeon dan memeluk Ji-ah di pintu depan."
Aku berangkat dulu. Jangan lupa mengunci pintu belakang, Sayang," ucap Min-jun.
"Iya, hati-hati di jalan, Dokter Park," goda Seo-yeon sambil melambaikan tangan.
Min-jun berjalan ke arah garasi bawah tanah rumah mereka. Namun, alih-alih langsung masuk ke dalam mobil Sedan hitamnya yang mengkilap, ia berjalan ke sudut tergelap di garasi tersebut.
Ia mengeluarkan sebuah kunci perak kecil dari dompet kulitnya. Kunci itu dimasukkan ke dalam sebuah lubang tersembunyi di balik lemari perkakas. Sebuah pintu baja tebal bergeser terbuka tanpa suara—ruang bawah tanah yang kedap suara.
Min-jun melangkah masuk. Suasana berubah drastis. Bau antiseptik menyengat bercampur aroma anyir yang samar. Di dinding ruangan, berjejer rapi toples-toples kaca berisi air keras yang merendam benda-benda kecil: jam tangan, anting, dan jepit rambut dari para wanita yang diberitakan hilang di televisi.
Di sudut ruangan, di atas meja operasi stainless steel yang bersih, terdapat sebuah tas medis milik Min-jun. Di dalamnya ada satu set pisau bedah yang berkilau tajam.
Min-jun melepas kacamatanya. Senyum hangat, tatapan ramah, dan aura ayah penyayang yang tadi ia tunjukkan di atas, menguap begitu saja. Wajahnya berubah menjadi datar, dingin, dan benar-benar kosong tanpa emosi.
Ia mengambil sepotong kain flanel, lalu mulai mengelap pisau bedahnya satu per satu dengan gerakan yang sangat presisi.
"Baju merah..." bisik Min-jun sendirian, mengingat ucapan putrinya tadi pagi. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai dingin yang mengerikan. "Ji-ah benar. Merah memang warna yang bagus."