Aku baru sadar kakak iparku pergi ketika matahari hampir terbit.
Namanya Rena, istri dari kakakku, Ilham.
Malam sebelumnya kami mengadakan makan malam keluarga. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada masalah. Semua terlihat biasa saja.
Ibu memasak terlalu banyak makanan.
Ayah bercanda seperti biasa.
Kak Ilham bercerita tentang pekerjaannya.
Dan Rena lebih banyak tersenyum sambil membantu membereskan meja.
Namun pagi itu, kursi Rena kosong.
Tasnya tidak ada.
Sepatu yang biasanya diletakkan di depan pintu juga hilang.
Yang paling aneh, ponselnya tertinggal di atas meja.
Aku membangunkan Kak Ilham.
“Bang.”
“Hm?”
“Mbak Rena pergi.”
Ia langsung bangun.
“Maksudmu?”
“Tidak ada di kamar.”
Kak Ilham mencari ke seluruh rumah.
Tidak ada.
Ia menelepon beberapa kali menggunakan ponselku.
Tidak tersambung.
Wajahnya mulai berubah.
“Apa semalam kalian bertengkar?”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Ibu datang dengan wajah panik.
“Rena kenapa?”
Tidak ada yang tahu.
Kami kemudian menemukan secarik kertas di atas meja makan.
Tulisan tangan Rena.
Jangan cari aku. Aku hanya butuh waktu.
Kak Ilham meremas kertas itu.
“Ini tidak mungkin.”
Aku menatapnya.
“Bang, mungkin Mbak Rena memang ingin pergi sebentar.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena dia tidak pernah pergi tanpa memberi tahu.”
Hari itu kami mencari ke berbagai tempat.
Rumah teman.
Tempat kerjanya.
Rumah keluarganya.
Tidak ada.
Malam kedua pun berlalu tanpa kabar.
Kak Ilham mulai tidak tidur.
Ia duduk di ruang tamu sampai pagi sambil menatap ponsel.
Aku kasihan melihatnya.
Namun ada sesuatu yang menggangguku.
Malam sebelum Rena pergi, aku melihatnya berdiri sendirian di halaman.
Ia memegang sebuah amplop putih.
Saat melihatku, ia langsung memasukkannya ke dalam tas.
Aku tidak bertanya waktu itu.
Sekarang aku menyesal.
Aku membuka ponselnya yang tertinggal.
Bukan untuk membaca pesan pribadi, tetapi untuk mencari petunjuk.
Di galeri foto, aku menemukan gambar sebuah stasiun.
Foto itu diambil tiga hari sebelumnya.
Aku menunjukkan kepada Kak Ilham.
“Kemungkinan dia pergi naik kereta.”
Kami menuju stasiun pagi-pagi sekali.
Petugas tidak bisa memberikan informasi penumpang.
Namun setelah beberapa jam mencari, aku melihat seseorang yang kukenal.
Seorang perempuan tua duduk sendirian di ruang tunggu.
Aku mendekat.
“Bu, apakah Ibu mengenal Rena?”
Perempuan itu menatapku lama.
“Siapa kamu?”
“Adiknya suaminya.”
Ia terdiam.
Kemudian berkata,
“Rena sudah bilang kamu mungkin akan datang.”
Aku terkejut.
“Di mana dia?”
“Di rumah saya.”
Aku segera menelepon Kak Ilham.
Dua jam kemudian, kami tiba di sebuah rumah kecil di pinggir kota.
Rena sedang duduk di teras.
Ketika melihat kami, ia berdiri.
Kak Ilham berjalan cepat ke arahnya.
“Kenapa kamu pergi?”
Rena menangis.
“Maaf.”
“Kenapa?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
Rena tidak menjawab.
Perempuan tua tadi keluar membawa teh.
“Biarkan dia menjelaskan.”
Kami masuk ke rumah.
Rena duduk di depan kami.
“Aku pergi karena menemukan sesuatu tentang keluargaku.”
Kak Ilham mengerutkan kening.
“Apa?”
Rena membuka tasnya.
Ia mengeluarkan amplop putih yang kulihat malam itu.
Di dalamnya ada beberapa surat lama.
Surat-surat itu berasal dari seorang perempuan bernama Sari.
Rena mulai bercerita.
Ia ternyata dibesarkan oleh keluarga angkat.
Selama bertahun-tahun, ia percaya bahwa kedua orang tua yang membesarkannya adalah orang tua kandung.
Namun beberapa bulan sebelumnya, ia menemukan dokumen lama yang menunjukkan bahwa ia memiliki seorang ibu kandung yang masih hidup.
Perempuan itu tinggal di kota kecil tempat kami berada sekarang.
Perempuan tua yang kami temui di stasiun adalah orang tersebut.
Aku memandang perempuan itu.
Ia menunduk.
“Aku mencari Rena selama tiga puluh tahun,” katanya.
Kak Ilham menggenggam tangan istrinya.
“Kenapa tidak pernah cerita kepadaku?”
Rena menangis.
“Karena aku sendiri belum tahu harus bagaimana.”
Ia menatap suaminya.
“Aku takut kalau aku mencari ibu kandungku, keluarga kita akan berubah.”
Kak Ilham menggeleng.
“Berubah bukan berarti hancur.”
Rena menutup wajahnya.
“Aku tidak tahu.”
Aku yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
“Mbak, keluarga bukan cuma tentang siapa yang melahirkan kita.”
Rena menatapku.
“Keluarga juga tentang siapa yang tetap menerima kita ketika kita menemukan bagian diri kita yang selama ini hilang.”
Kak Ilham mengangguk.
Perempuan tua itu menangis.
“Aku tidak berharap dia memanggilku Ibu,” katanya.
“Aku hanya ingin melihat wajahnya sebelum aku mati.”
Rena berjalan mendekatinya.
Mereka berdiri berhadapan.
Tidak ada pelukan pada awalnya.
Hanya dua orang yang saling memandang setelah kehilangan waktu puluhan tahun.
Kemudian Rena perlahan memeluk perempuan itu.
Tangis pecah.
Kami semua diam.
Beberapa saat kemudian, Rena berkata,
“Aku marah.”
Perempuan itu mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku kecewa.”
“Aku tahu.”
“Kenapa Ibu meninggalkanku?”
Perempuan itu menangis.
“Karena waktu itu aku tidak punya pilihan.”
Rena tidak menjawab.
Ia hanya menangis dalam pelukannya.
Kami tidak memaksa mereka menyelesaikan semua luka dalam satu hari.
Tidak ada luka puluhan tahun yang bisa sembuh hanya dengan satu pelukan.
Namun setidaknya hari itu menjadi awal.
Rena akhirnya pulang bersama kami.
Dalam perjalanan, Kak Ilham menggenggam tangannya.
“Lain kali kalau ada masalah, jangan pergi sendirian.”
Rena tersenyum sambil menangis.
“Aku takut kalian tidak mengerti.”
“Aku mungkin tidak langsung mengerti.”
Kak Ilham menatapnya.
“Tapi aku akan tetap mendengarkan.”
Aku duduk di kursi belakang dan tersenyum.
Sesampainya di rumah, Ibu sudah menunggu di depan pintu.
Begitu melihat Rena, Ibu langsung memeluknya.
“Kamu membuat kami takut.”
“Maaf, Bu.”
“Lain kali kalau mau pergi, bilang.”
Rena mengangguk.
Kemudian Ibu berkata,
“Kalau kamu ingin mencari keluargamu, cari. Tapi jangan lupa, di sini juga rumahmu.”
Rena menangis lagi.
Malam itu kami makan bersama.
Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu.
Tidak ada yang memaksa Rena bercerita lebih banyak.
Kami hanya duduk bersama seperti malam sebelum ia pergi.
Bedanya, kali ini aku melihat sesuatu yang baru.
Rena tampak lebih tenang.
Beberapa bulan kemudian, perempuan yang selama ini menjadi ibu kandungnya mulai sering berkunjung.
Awalnya terasa canggung.
Namun perlahan mereka belajar mengenal satu sama lain.
Rena tidak meninggalkan keluarga yang membesarkannya.
Ia juga tidak menggantikan keluarga yang selama ini dicintainya.
Ia hanya menambahkan satu bagian baru dalam hidupnya.
Aku pun belajar sesuatu dari kejadian itu.
Dulu aku mengira keluarga adalah sesuatu yang sudah selesai dibentuk sejak kita lahir.
Ternyata tidak.
Keluarga bisa bertambah karena pernikahan.
Bisa kembali karena pertemuan.
Bisa retak karena kesalahpahaman.
Dan bisa disatukan kembali oleh keberanian untuk saling memaafkan.
Rena pernah pergi sebelum pagi.
Saat itu kami mengira ia sedang meninggalkan kami.
Ternyata ia hanya sedang mencari bagian dirinya yang hilang.
Dan ketika ia kembali, ia tidak pulang sebagai orang yang sama.
Ia membawa sebuah cerita baru.
Tentang seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Tentang seorang anak yang mencari asal-usulnya.
Dan tentang sebuah keluarga yang akhirnya mengerti bahwa mencintai seseorang berarti memberi ruang baginya untuk mengenal seluruh dirinya.
Sejak kejadian itu, setiap kali Rena pergi, ia selalu berkata,
“Aku keluar sebentar.”
Dan Kak Ilham selalu menjawab,
“Jangan lupa pulang.”
Rena akan tertawa.
“Pasti.”
Karena sekarang kami tahu satu hal:
Pergi tidak selalu berarti meninggalkan. Kadang seseorang harus pergi sebentar untuk menemukan alasan mengapa ia ingin pulang.