Matahari terbit di awal dekade sembilan puluhan selalu membawa wangi yang khas: campuran embun segar di dedaunan pinggir jalan, asap knalpot tua yang mengepul tipis, dan aroma minyak kayu putih yang menguar dari pakaian seragam sekolah yang baru disetrika. Bagi anak-anak sekolah kejuruan di masa itu, pagi bukan sekadar tentang mengejar bel masuk jam tujuh, melainkan tentang petualangan menembus sesaknya angkutan kota.
Namaku Kalingga Laksana—anak jurusan Perdagangan yang saban hari disibukkan dengan rumus tata niaga dan nota penjualan. Sedang dia, perempuan dengan senyum tenang bernama Arum Larasati—bintang kelas dari jurusan Akuntansi yang ke mana-mana selalu membawa kalkulator hitam dan buku kas bergaris merah.
Di mata anak muda zaman sekarang, mungkin cerita kami terdengar sangat sederhana, seperti potongan lirik lagu nostalgia. Namun bagi kami, jalanan kota di masa seragam putih-abu-abu itu adalah saksi dari sebuah kisah yang tak beraksara.
---
Setiap jam enam pagi tepat, aku sudah berdiri di tikungan persimpangan jalan, menunggu angkot biru muda jalur tiga. Angkot itu selalu datang dalam keadaan nyaris penuh. Suara mesinnya meraung kencang, berebut penumpang dengan angkot-angkot lain. Dan di sana, di bangku depan sebelah sopir—atau terkadang di pojok dalam dekat jendela—Arum selalu duduk manis.
Aku tak pernah berani menyapanya secara langsung. Masa itu belum ada ponsel pintar, apalagi media sosial untuk berkirim pesan singkat. Yang ada hanyalah surat kertas bergaris dengan amplop bergaris merah-biru di pinggirnya. Tapi jangankan mengirim surat, menyampaikan sepatah kata saat berpapasan di lorong sekolah saja rasanya seperti menyeberangi lautan.
Posisiku hampir selalu sama: berdiri berdesakan di bagian belakang angkot, berpegangan erat pada besi pembatas atap, bertolak punggung dengan penumpang lain. Dalam himpitan badan dan hawa pagi yang pengap, mata kami sering kali bertemu secara tidak sengaja.
Terutama ketika paman sopir menginjak rem secara mendadak. Sret!
Tubuh para penumpang terdorong ke depan. Di saat itulah, Arum akan menoleh ke belakang melalui kaca spion dalam atau berpaling sedikit dari duduknya. Mata kami beradu. Hanya satu atau dua detik, tidak lebih. Setelah itu, dia akan mengulas senyum tipis yang sangat halus—jenis senyum yang sanggup membuat sesak di dada seketika sirna. Dan aku? Aku biasanya akan berpura-pura melempar pandangan ke luar jendela, memandangi deretan toko kelontong yang baru buka, berusaha menyembunyikan wajahku yang mendadak panas dan memerah.
Tidak ada ucapan "aku suka kamu". Tidak ada janji-janji manis di bawah pohon tua sekolah. Yang ada hanya rasa mengagumi yang kami simpan rapi di dalam dada masing-masing. Rasa itu tumbuh begitu pelan, mirip seperti tradisi menabung di koperasi sekolah yang kami jalani saban hari Senin. Sedikit demi sedikit, keping demi keping perasaan itu terkumpul, mengendap menjadi sebuah pondasi yang begitu kokoh, meski tak pernah terucap oleh bibir.
---
Masa kelulusan akhirnya datang membawa lembaran baru sekaligus perpisahan yang tak terhindarkan. Hari itu ditandai dengan gemuruh bel sekolah yang berbunyi untuk terakhir kalinya. Halaman sekolah dipenuhi riuh tangis dan tawa teman-teman yang saling membubuhkan tanda tangan di baju seragam putih-abu-abu.
Aku celingukan mencari Arum di antara kerumunan anak Akuntansi, namun sosoknya tak terlihat. Baru sore harinya, dari seorang teman sekelasnya, aku mendengar kabar yang meremukkan dada. Arum tidak ikut merayakan kelulusan karena harus segera berkemas kembali ke kampung halaman orang tuanya. Dia dijodohkan dengan seorang pria pilihan keluarganya tak lama setelah ujian nasional selesai.
Dunia rasanya berhenti berputar sejenak di lorong sekolah yang mulai sepi itu. Aku berdiri menatap bangku-bangku kosong, membayangkan betapa cepatnya waktu merenggut mimpi-mimpi sederhana seorang remaja.
Tahun-tahun berikutnya berlalu seperti deret angka di buku jurnal akuntansi. Aku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, berusaha menyibukkan diri dengan teori-teori ekonomi yang rumit. Beberapa tahun kemudian, sebuah kabar angin sampai ke telingaku: Arum telah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak. Menerima kabar itu, aku hanya bisa menarik napas panjang, mengelus dada, dan berbisik pelan, "Alhamdulillah..." meski ada rasa sembilu yang menyayat di dalam dada.
Aku sendiri akhirnya melangkah ke jenjang pernikahan bertahun-tahun setelahnya. Bersama istriku yang sabar, kami dikaruniai seorang anak perempuan yang manis. Hidupku berjalan normal dan membaik. Aku menjadi suami yang bertanggung jawab, ayah yang mencintai keluarganya, dan pekerja keras. Namun jauh di sudut hatiku, ada satu laci rahasia yang sengaja kukunci rapat-rapat. Laci yang berisi ingatan tentang angkot biru muda, aroma kertas stensil sekolah, dan tatapan mata di jam enam pagi yang tak pernah benar-benar pudar.
---
Takdir manusia adalah susunan teka-teki yang tak pernah bisa ditebak. Roda kehidupan berputar, membawa kebahagiaan sekaligus duka yang teramat dalam pada waktunya masing-masing.
Beberapa tahun berselang, sebuah kabar duka berhembus samar dari teman-teman masa sekolah. Suami Arum meninggal dunia karena sakit. Aku memanjatkan doa terbaik untuk kebaikan Arum dan anak-anaknya dari jauh, tanpa berani mencari tahu lebih banyak demi menjaga perasaan keluarga kecilku sendiri.
Hingga akhirnya, waktu bergulir dan giliran ujian terberat menghampiriku. Istri tercintaku dipanggil pulang oleh Yang Mahakuasa setelah berjuang melawan sakit yang diidapnya. Kehilangan itu memukulku begitu telak. Rumah yang biasanya hangat dengan suara perbincangan harian mendadak menjadi begitu lengang dan dingin. Anak perempuanku yang kini sudah dewasa dan mulai sibuk dengan dunianya sendiri berusaha menguatkanku, namun rasa sepi itu tetap menyelusup di setiap sudut ruangan.
Angkot kehidupan yang kutumpangi kini terasa sangat kosong. Aku dan Arum, di dua tempat yang berbeda, sama-sama dipaksa oleh keadaan untuk belajar memahami arti kata "sendiri". Kami mengecap kepahitan ditinggalkan oleh pasangan hidup yang pernah menemani separuh perjalanan usia.
---
Suatu ketika, di hari kedua Lebaran, suasana hening menyelimuti ruang tamu rumahku. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, memantulkan debu-debu tipis yang menari di udara.
Tiba-tiba, ponsel pintar yang tergeletak di atas meja kayu bergetar singkat.
Bzzzt... Bzzzt...
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor baru yang tak tersimpan di kontakku:
`“Assalamualaikum... Kang Kalingga, apa kabar?”`
Jantungku berdegup kencang secara instan. Tanganku gemetar saat meraih telepon genggam tersebut. Ketika kubuka foto profil dari nomor asing itu, dadaku serasa dihantam gelombang kenangan yang teramat dahsyat. Di sana, di layar kaca kecil itu, terpampang foto seorang wanita paruh baya dengan busana sederhana. Wajahnya memang telah disentuh oleh garis-garis usia, namun senyumnya... senyum itu masih sangat sama dengan senyum puluhan tahun yang lalu.
Senyum Arum di angkot biru muda. Cinta pertamaku.
Dengan jemari yang masih tremor, aku membalas sapaan itu. Obrolan yang berawal dari kata "Apa kabar" yang kaku pelan-pelan mencair. Kami bertukar cerita tentang kondisi kesehatan, perkembangan anak-anak yang sudah tumbuh dewasa, hingga akhirnya pembicaraan itu bermuara pada ingatan masa seragam putih-abu-abu.
"Inget nggak, dulu kita sering desak-desakan di angkot biru muda jam 6 pagi?" tulisnya diiringi emotikon tersenyum.
Membaca kalimat itu, air mata yang sudah lama kutahan perlahan menetes di pipi. Ternyata rasa itu tidak pernah benar-benar mati. Rasa mengagumi itu tidak hangus dimakan waktu atau terhapus oleh perjalanan hidup yang panjang. Dia hanya tertidur lelap di laci terkunci itu, menunggu waktu dan izin dari Sang Pencipta untuk terbangun kembali.
---
Tuhan akhirnya mempertemukan kami kembali. Bukan lagi sebagai dua anak remaja yang pemalu dan bingung dengan perasaan sendiri, melainkan sebagai dua orang dewasa yang telah kenyang mengecap manis-pahitnya kehidupan dan sama-sama memahami betapa perihnya sebuah kehilangan.
Kami memutuskan untuk menyatukan sisa perjalanan kami dalam sebuah ikatan pernikahan yang sangat sederhana. Tidak ada pesta megah atau dekorasi mewah berlebihan. Hanya dihadiri oleh keluarga inti dan anak-anak kami. Namun, air mata haru yang menetes di hari pernikahan itu jauh lebih banyak daripada pesta mana pun di dunia.
Anak-anak kami yang sudah dewasa menerima keputusan ini dengan dada lapang dan senyuman hangat. Mereka saling merangkul, memberi dukungan penuh kepada kami berdua untuk saling menjaga di usia senja. Melihat mereka kompak melayani para tamu menjadi hadiah tersendiri yang amat membahagiakan.
Malam ini, gerimis tipis mengguyur halaman rumah. Udara dingin menyusup pelan, membawa kesegaran yang menenangkan. Arum berjalan dari arah dapur membawakan dua cangkir teh hangat aromatik yang asapnya masih mengepul halus. Dia meletakkannya di atas meja lalu duduk tepat di sampingku, menyandarkan bahunya dengan lembut.
Aku memandangi wajahnya dari samping, mengamati setiap lengkung pipinya yang kini tak lagi muda, lalu tersenyum kecil.
"Coba dulu zaman sekolah aku berani ngomong ya, Rum..." kataku memecah keheningan, teringat betapa pengecutnya aku di masa lalu.
Arum tertawa renyah, suara tawa yang begitu merdu dan menenteramkan jiwa.
"Alhamdulillah Tuhan nggak ngasih kita menikah dulu," jawabnya pelan sambil menggenggam jemariku yang mulai keriput. "Ngasihnya sekarang, pas kita berdua sudah dewasa, sudah mengerti cara bersabar, dan sudah benar-benar siap untuk saling menjaga sampai akhir hayat."
Aku menatap cangkir teh di depanku, lalu kembali menatap mata wanita di sampingku ini. Tatapan yang sama seperti di angkot biru muda puluhan tahun silam, kini terasa begitu hangat dan penuh kedamaian.
Jodoh memang sebuah misteri yang amat indah. Dahulu, ketika kehilangan menyapa, kuputuskan bahwa kisah cintaku telah usai. Namun ternyata, Tuhan tidak pernah mematikan rasa itu... Dia hanya menundanya sejenak, untuk diberikan di waktu yang paling tepat dan paling indah.