Langgam Pencabut Nyawa
Bagian 1: Bau Melati di Tepi Rawa
Malam di Desa Karang Anjar tidak pernah benar-benar hening. Di balik bisikan angin yang menyapu rumpun bambu, selalu ada desis halus yang membuat tengkuk siapa pun meremang. Namun, bagi Wisnu, seorang jurnalis lepas berusia dua puluh delapan tahun yang terobsesi dengan cerita mistis nusantara, suara-suara itu hanyalah bahan tulisan yang menjanjikan.
Wisnu memarkir sepeda motor tuanya di depan sebuah rumah panggung yang kayu-kayunya sudah melapuk dimakan usia. Bau tanah basah berkombinasi dengan aroma melati yang menyengat—terlalu menyengat untuk ukuran malam yang dingin.
"Mas Wisnu, yakin mau menginap di sini?" tanya Mbah Sastro, lelaki tua perantara yang mengantarnya dari balai desa. Mbah Sastro memegang obor minyak tanah yang nyalanya menari-nari ditiup angin malam. Matanya yang kabur menatap rumah panggung itu dengan ketakutan yang tidak disembunyikan.
"Kenapa, Mbah? Bukannya rumah ini sudah kosong sejak puluh tahun lalu?" tanya Wisnu sambil menurunkan tas ransel beratnya.
"Justru karena kosong itu, Mas. Tempat ini bukan lagi milik manusia. Sejak Nyi Kenanga meninggal saat melahirkan di atas panggung wayang tiga puluh tahun lalu, tidak ada satu pun warga yang berani mendekati Rawa Bangke setelah matahari terbenam."
Wisnu tersenyum tipis, merapikan jaket kulitnya. "Mbah, saya kemari justru untuk membuktikan apakah cerita tentang 'Sinden Beranak' itu nyata atau cuma isapan jempol penakut."
Mbah Sastro menggelengkan kepala dengan raut wajah prihatin. "Nyawa tidak bisa dibeli dengan tulisan, Mas. Kalau mendengarnya menyanyi, jangan sekali-kali menatap matanya. Dan jika dia menawarkan bayinya... lari. Lari secepat yang Mas bisa."
Tanpa menunggu balasan Wisnu, Mbah Sastro berbalik dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan Wisnu sendirian di kegelapan.
Wisnu menghela napas. Dia melangkah menaiki tangga kayu yang menjerit pelan di bawah bobot tubuhnya. Pintu depan tidak terkunci, hanya menyisakan celah sempit yang menghembuskan hawa dingin mencekam dari dalam rumah. Saat Wisnu melangkah masuk, bau busuk menyerupai bangkai hewan yang bercampur dengan minyak melati langsung menusuk hidungnya.
Bagian 2: Pengantin Gelap
Wisnu menyalakan lampu petromak yang dibawanya. Cahaya kuning remang-remang mulai menerangi ruangan utama. Debu tebal melapisi lantai kayu, tetapi ada satu hal yang membuat dada Wisnu berdesir: di tengah ruangan, terdapat sebuah panggung kecil yang tertutup kain jarik kusam. Di atas panggung itu, tergeletak sebuah selendang merah menyala—sama sekali tidak berdebu, seolah baru saja diletakkan beberapa detik yang lalu.
Wisnu mendekati panggung tersebut. Dia mengeluarkan perekam suara digital dan kamera DSLR miliknya.
"Uji coba perekaman, pukul 23.15 WIB. Lokasi: bekas rumah pertunjukan Nyi Kenanga, Desa Karang Anjar," ucap Wisnu pelan pada mikrofon.
Menurut legenda setempat, Nyi Kenanga adalah seorang sinden paras cantik luar biasa yang menjadi kebanggaan desa pada tahun 1990-an. Namun, kepopulerannya memicu dengki. Seorang dalang kaya yang ditolak cintanya menggunakan ajian ilmu hitam Jaran Goyang untuk mengikat jiwa Kenanga. Kenanga hamil tanpa suami yang jelas, gila karena bisikan gaib, dan akhirnya meninggal mengenaskan di tengah pertunjukan—melahirkan sesosok janin yang konon tidak pernah benar-benar mati.
Saat Wisnu sibuk memeriksa kameranya, tiba-tiba terdengar suara:
Klek. Klek.
Suara itu berasal dari sudut ruangan yang gelap. Seperti bunyi sendi tulang yang dipaksa bergeser.
Wisnu mengarahkan senternya ke sudut tersebut. "Siapa di sana?" serunya.
Tidak ada jawaban. Hanya ada bau busuk yang mendadak semakin pekat, begitu kuat hingga membuat Wisnu mual dan hampir muntah. Suasana tiba-tiba menjadi sangat dingin hingga napas Wisnu mengembun di udara.
Lalu, dari kegelapan, terdengar alunan nada. Bukan teriakan, melainkan suara tembang Jawa berlaras Pelog yang sangat merdu, namun terdengar sangat menyayat hati.
“Lir-ilir, lir-ilir... tandure wus sumilir...”
Suara itu terdengar melayang, tidak memiliki arah yang pasti. Kadang terasa berada di luar jendela, namun detik berikutnya berbisik tepat di belakang telinga kanan Wisnu.
Wisnu membeku. Tangan yang memegang kamera gemetar hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga bergetar di dadanya.
Bagian 3: Nyanyian dari Kubur
Wisnu memberanikan diri memutar tubuhnya. Di atas panggung kecil yang tadinya kosong, kini duduk sesosok wanita.
Wanita itu mengenakan kemben batik kusam yang terkoyak di beberapa bagian. Rambutnya yang hitam panjang terurai hingga menyentuh lantai, basah oleh cairan kental berwarna kehitaman. Kulitnya pucat kebiruan seperti mayat yang direndam air berhari-hari. Namun yang paling mengerikan adalah bagian perutnya: melendung besar, terbelah dengan luka menganga yang mengucurkan darah segar.
Darah itu menetes ke lantai kayu: Tess... tess... tess...
Wanita itu perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya yang semula cantik kini hancur sebelah; matanya yang kiri melotot tanpa kelopak, sementara pipi kanannya terkelupas memperlihatkan tulang rahang yang menguning.
Itu adalah Nyi Kenanga.
“Sopo sing ngundang aku...?” (Siapa yang memanggilku...?) bisik sosok itu dengan suara serak bergema, bercampur dengan tawa kecil yang melengking.
Wisnu mencoba melangkah mundur, tetapi kakinya terasa seperti terpaku ke lantai. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan seluruh saraf motoriknya. Perekam suara di tangannya mengeluarkan suara desis white noise yang keras sebelum akhirnya mati total.
Nyi Kenanga mulai melantunkan tembang lagi, kali ini nada suaranya berubah menjadi lengkingan histeris yang membuat telinga Wisnu berdenging nyeri.
“Njeluk anakku... kowe mau jipuk anakku...?” (Minta anakku... kamu mau mengambil anakku...?)
Dari dalam bagian perutnya yang terbelah dan berdarah, terlihat sesuatu bergerak-gerak. Sebuah tangan mungil berwarna keabu-abuan dengan kuku-kuku hitam yang tajam mencengkeram tepi luka perut wanita itu. Perlahan, kepala bayi dengan kulit bersisik dan mata merah menyala merayap keluar dari rahim mayat tersebut.
Bayi itu tidak menangis seperti bayi biasa. Ia merangkak di lantai kayu dengan kecepatan abnormal, mengeluarkan suara geraman seperti anjing liar yang kelaparan.
Bagian 4: Teror Tanpa Akhir
"Demi Tuhan!" jerit Wisnu. Keberaniannya runtuh seketika. adrenaline menguasai tubuhnya, memecah kelumpuhan yang mengikat kakinya.
Wisnu berbalik dan berlari kencang menuju pintu keluar. Namun saat jemarinya menyentuh gagang pintu, pintu kayu tebal itu terhempas menutup dengan keras. BAM!
Ia memutar gagang pintu secara panik, menendangnya berulang kali, tetapi pintu itu seolah telah menyatu dengan dinding.
Dari belakangnya, tawa lengkingan Nyi Kenanga bergema semakin keras, memenuhi setiap sudut ruangan. Lampu petromak di meja pecah berantakan, melempar ruangan ke dalam kegelapan gulita.
Satu-satunya cahaya berasal dari mata merah bayi gaib yang kini merangkak naik ke dinding, menempel di langit-langit tepat di atas kepala Wisnu. Lendir dingin berbau amis menetes jatuh mengenai dahi Wisnu.
Wisnu mendongak. Di atas sana, bayi mahluk halus itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi tajam seperti jarum.
“Wong bagus... kemari... asuh anak kita...” suara Nyi Kenanga kini terdengar tepat di samping telinganya.
Wisnu meresapi hawa dingin yang luar biasa menjalar dari lehernya. Sepasang tangan busuk dengan kuku-kuku panjang melingkar perlahan di dada Wisnu, menariknya mundur kembali ke arah panggung gelap. Tembang seram itu terus terdengar, membuai kesadarannya yang perlahan-lahan mulai memudar dalam jeritan histeris yang tak terdengar siapa pun di tengah Rawa Bangke.
Epilog
Keesokan harinya, Mbah Sastro bersama beberapa warga desa mendatangi rumah panggung tersebut. Pintu depan terbuka sedikit, bergoyang pelan ditiup angin pagi.
Di dalam rumah, tidak ada siapapun. Sepeda motor dan tas ransel Wisnu masih tergeletak di tempatnya. Kamera DSLR milik Wisnu tergeletak di lantai dengan lensa yang pecah.
Ketika warga memeriksa rekaman di dalam kartu memori kamera yang tersisa, mereka hanya menemukan satu berkas video berdurasi sepuluh detik. Video itu hanya merekam kegelapan total, diiringi suara bisikan halus seorang wanita dalam bahasa Jawa kuno:
“Matur nuwun... wis ngancani anakku...” (Terima kasih... sudah menemani anakku...)
Wisnu tidak pernah ditemukan lagi sejak hari itu. Namun, warga Karang Anjar tahu pasti: setiap kali bulan purnama berada di atas Rawa Bangke, dari dalam rumah panggung tua itu akan selalu terdengar alunan tembang sinden yang merdu, diiringi gelak tawa kecil seorang bayi dari dalam kegelapan.
Bagian 5: Di Antara Dua Alam
Wisnu tidak mati. Atau setidaknya, ia belum sepenuhnya mati.
Ketika matanya perlahan terbuka, ia tidak lagi berada di atas lantai kayu rumah panggung yang berdebu. Pandangannya kabur, diselimuti kabut tebal berwarna keabu-abuan. Bau melati dan bangkai masih membakar hidungnya, namun kini bercampur dengan bau minyak tanah dan dupa yang terbakar hebat.
Ia terikat di atas sebuah panggung kayu raksasa. Di sekelilingnya, ribuan orang berdiri diam tanpa ekspresi. Wajah-wajah mereka pucat, mata mereka rata-rata bolong atau mengucurkan cairan hitam. Mereka adalah para penonton gaib.
Di sudut panggung, berdiri seorang pria tua berkain jarik dengan keris terselip di pinggangnya. Dialah sang Dalang. Namun, wajah sang Dalang tidak utuh—separuh wajahnya berupa tengkorak yang keropos dimakan usia.
"Kau bukan orang pertama yang mencoba mencari tahu, Nak," suara sang Dalang bergema tanpa menyentuh bibirnya. "Kenanga butuh wadah. Janinnya butuh jiwa manusia bernyawa untuk tetap bernapas di dunia ini."
Wisnu mencoba menjerit, tapi tenggorokannya terasa seperti disumpal debu kering. Di depannya, Nyi Kenanga melayang pelan. Perutnya yang terbelah kini berdenyut lambat, dan makhluk kecil bersisik itu mulai merayap keluar menuju dada Wisnu.
Bagian 6: Rahasia Karang Anjar
Sementara itu, jauh dari Rawa Bangke, seorang pria muda bernama Rangga memacu mobilnya membelah jalanan desa yang gelap. Rangga adalah sahabat sekaligus editor Wisnu yang curiga karena Wisnu tidak memberi kabar selama dua hari.
Rangga tidak datang sendiri. Di kursi sampingnya duduk seorang wanita tua bernama Mbah Sumi, mantan penabuh gendang pertunjukan wayang Nyi Kenanga yang telah bertahun-tahun mengasingkan diri.
"Kita harus cepat, Nak Rangga," ucap Mbah Sumi dengan suara gemetar, jemarinya terus memutar bulir-bulir tasbih kayu. "Warga Karang Anjar menyembunyikan kebenaran. Kenanga tidak mati karena ajian Jaran Goyang biasa. Dialah kurban yang ditumbalikan oleh seluruh desa demi hasil panen sepuluh kali lipat!"
Rangga terperanjat. "Maksud Mbah... warga desa yang membunuhnya?"
"Mereka menjebaknya di panggung, menguncinya, dan membiarkan ilmu hitam sang Dalang membusukkan tubuhnya hidup-hidup saat hamil tua," bisik Mbah Sumi dengan mata berkaca-kaca. "Sumpah mati Kenanga meledak malam itu. Setiap sepuluh tahun sekali, ia menagih janji: jiwa seorang pria asing untuk membalas dendam."
Bagian 7: Pintu Gaib yang Terbuka
Mobil Rangga berhenti tepat di perbatasan Rawa Bangke. Udara malam terasa luar biasa berat. Mbah Sastro dan beberapa warga desa bertelanjang dada tiba-tiba keluar dari balik pepohonan bambu, membawa obor dan celurit.
"Jangan melangkah lebih jauh, Anak Muda!" gertak Mbah Sastro dengan mata memerah. "Temanmu sudah menjadi bagian dari pesugihan desa ini! Jika dia dilepaskan, Nyi Kenanga akan membantai seluruh keturunan Karang Anjar!"
"Kalian gila!" teriak Rangga.
Mbah Sumi melangkah maju, memukul tanah dengan tongkat kayunya. "Sastro! Dosa puluhan tahun lalu tidak bisa ditutup-tutupi lagi! Bumi sudah menolak darah Kenanga!"
Mbah Sumi membakar serbuk kemenyan hitam di atas tempurung kelapa. Asap putih tebal membumbung tinggi, menciptakan celah redup di udara kosong—sebuah pintu gaib menuju dimensi pertunjukan Nyi Kenanga. Tanpa ragu, Rangga menerobos masuk ke dalam kabut asap tersebut.
Bagian 8: Ritual Nyawa Dibayar Nyawa
Rangga mendapati dirinya berdiri di panggung yang sama dengan Wisnu. Wisnu terkulai lelah, dengan bayi gaib berpendar merah berada tepat di atas dadanya, siap menancapkan kuku-kukunya ke jantung Wisnu.
"Wisnu!" jerit Rangga.
Suara tembang Nyi Kenanga mendadak berhenti. Mahkluk itu memutar lehernya 180 derajat menatap Rangga. Jeritan histeris melengking memecah kegelapan.
“SIAPA LAGI YANG MAU MENGAMBIL ANAKKU?!”
Mbah Sumi masuk ke alam tersebut, melemparkan garam dan beras kuning yang telah diresapi doa-doa kuno ke arah Nyi Kenanga. Kulit mayat Nyi Kenanga melepuh dan mengeluarkan asap kehitaman. Ia menjerit kesakitan.
"Kenanga! Ingatlah Gusti Allah! Bayimu ini bukan anak manusia, ini bentukan ajian iblis sang Dalang!" teriak Mbah Sumi.
Sang Dalang tengkorak murka dan mencoba menyerang Mbah Sumi dengan kerisnya, namun Rangga menubruk sang Dalang hingga keris itu terlempar jatuh. Rangga memanfaatkan kesempatan itu untuk menembakkan suar (flare gun) yang dibawanya tepat ke arah tubuh sang Dalang. Api membakar kain dan jiwa sang Dalang hingga melolong menjadi abu.
Bagian 9: Kelahiran yang Terkutuk
Tanpa kendali sang Dalang, bayi gaib di dada Wisnu mengamuk. Tubuhnya membesar dua kali lipat, matanya menyala merah darah. Ia membalikkan badan dan merayap cepat menyergap Mbah Sumi, mengoyak bahu wanita tua itu.
"Wisnu, bangun! Lari!" jerit Rangga sambil menarik tubuh sahabatnya yang lemas.
Wisnu terbangun dari kesadarannya yang samar. Ia melihat Mbah Sumi terkulai berdarah, namun tangan wanita tua itu berhasil meraih keris sang Dalang yang terjatuh di lantai. Dengan sisa tenaganya, Mbah Sumi menusukkan keris bertuah itu tepat ke tali pusar gaib yang menghubungkan bayi tersebut dengan perut Nyi Kenanga.
Jeritan lengkingan paling mengerikan mengguncang dimensi gaib itu. Suara itu begitu keras hingga membuat telinga Rangga dan Wisnu mengucurkan darah. Bayi gaib itu meledak menjadi cairan hitam pekat yang berbau pembusukan.
Nyi Kenanga tersungkur, memegangi perutnya yang kini tidak lagi berdarah. Wajahnya yang hancur perlahan kembali berubah menjadi paras cantiknya sewaktu masih hidup. Air mata darah menetes dari pelupuk matanya.
“Matur nuwun... penutup tembangku sudah selesai...” bisiknya pelan, sebelum tubuhnya terurai menjadi debu bercahaya keemasan.
Bagian 10: Sisa-Sisa Dendam
Dimensi gaib runtuh seketika. Rangga dan Wisnu tersentak bangun, tergeletak di atas tanah Rawa Bangke yang dingin. Rumah panggung di depan mereka meledak dilalap api misterius yang membumbung tinggi ke langit malam.
Mbah Sastro dan warga desa yang berdiri di luar mendadak menjerit ketakutan. Satu per satu dari mereka tumbang, memegangi tenggorokan mereka yang mendadak membengkak dan mengucurkan darah—dampak dari musnahnya ilmu hitam dan pesugihan desa yang selama puluhan tahun mereka nikmati.
Rangga memapah Wisnu menuju mobil. Mbah Sumi telah meninggal dunia dengan senyuman tenang di lokasi kejadian.
Beberapa minggu kemudian, Wisnu terbangun di rumah sakit. Fisiknya pulih, namun trauma itu menetap selamanya. Ketika Rangga membereskan barang-barang Wisnu, ia menemukan perekam suara digital milik Wisnu yang sempat dikira rusak.
Rangga menekan tombol play.
Tidak ada suara gemuruh api atau jeritan monster. Hanya ada keheningan, diikuti oleh bisikan halus Wisnu sendiri saat ia berada dalam pengaruh gaib:
“Tembangnya belum selesai... anak itu... sekarang ada di dalam diriku.”
Rangga perlahan menoleh ke arah tempat tidur rumah sakit. Di sana, Wisnu sedang duduk menyendiri, menatap keluar jendela sambil menyanyikan alunan tembang Pelog dengan suara wanita yang sangat merdu.
Bagian 11: Parasit Jiwa
Rangga berdiri mematung di ambang pintu kamar rumah sakit. Dingin menyergap tengkuknya saat mendengarkan nada tembang Pelog yang meluncur sempurna dari bibir Wisnu. Suara itu bukan suara Wisnu yang berat dan serak—itu adalah lengkingan halus dan merdu seorang perempuan.
Wisnu perlahan memutar lehernya. Senyumnya terukir miring, janggal, dengan mata yang terbuka lebar tanpa berkedip.
"Wisnu... kau bercanda, kan?" bisik Rangga, mencoba menutupi getaran di suaranya.
Wisnu berhenti bernyanyi. Ia berkedip pelan, lalu mengerutkan kening seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Suaranya kembali normal, tegang dan penuh ketakutan. "Rangga? Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Rangga mematikan perekam suara di tangannya dan menyembunyikannya di dalam saku. Ia berusaha tersenyum. "Tidak... tidak ada apa-apa. Dokter bilang kau sudah boleh pulang besok."
Namun malam itu, saat Wisnu tertidur lelap di ranjang rumah sakit, Rangga melihatnya sendiri melalui kaca pintu: perut Wisnu yang datar perlahan-lahan bergerak membesar dan berdenyut di bawah selimut, seolah ada sesuatu yang sedang bernapas di dalamnya.
Bagian 12: Kembali ke Karang Anjar
Wisnu tahu ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Setiap kali ia mencoba tidur, ia tidak bermimpi; ia menyaksikan memori Nyi Kenanga. Ia merasakan kepedihan saat disiksa, bau kemenyan yang membakar kulitnya, dan kehangatan darah saat janin itu pertama kali dipaksa lahir secara gaib.
Lebih mengerikan lagi, Wisnu mulai mengidam hal-hal aneh. Ia kerap terbangun di tengah malam dengan mulut berdarah, mengunyah bunga melati segar atau daging mentah dari lemari es.
"Kita harus mengakhirinya di tempat semuanya dimulai, Ngga," kata Wisnu suatu sore di kontrakan mereka. Wajahnya kini sangat kempis, lingkaran hitam membelenggu matanya. "Kembalikan aku ke Rawa Bangke."
Rangga sempat menolak, namun ia tahu tak ada pilihan lain. Karang Anjar kini telah menjadi desa mati. Setelah terbakarnya rumah panggung dan tewasnya Mbah Sastro bersama belasan tetua desa malam itu, warga yang tersisa melarikan diri karena menganggap tanah itu telah dikutuk.
Mereka tiba di bekas Rawa Bangke saat matahari tenggelam. Puing-puing kayu rumah panggung yang hangus masih menyisakan bau sangit dan melati yang kental.
Bagian 13: Tumbal Terakhir
Wisnu melangkah ke tengah abu bekas rumah panggung. Udara dingin membeku seketika. Ia berlutut di tanah yang hitam.
"Nyi..." panggil Wisnu dengan suara bergema. "Aku tahu kau masih di sini. Ambil kembali apa yang kau titipkan."
Tanah di bawah lutut Wisnu bergetar. Dari dalam tanah hitam bekas kebakaran, mencuat jemari-jemari pucat tanpa kuku. Namun, kali ini bukan sosok Nyi Kenanga yang keluar, melainkan manifestasi dari seluruh dosa ilmu hitam Jaran Goyang yang pernah mengikat desa itu—sesosok gumpalan wujud hitam kelam bermata seribu yang terus melolong.
Benih gaib di dalam perut Wisnu bergejolak hebat, menendang-nendang dari dalam hingga Wisnu memuntahkan darah segar.
"Rangga! Keris Mbah Sumi!" teriak Wisnu bersimbah darah. "Gunakan keris itu untuk meretas hubungan gaib ini dari luar! Jika tidak, makhluk ini akan lahir menggunakan tubuhku sebagai cangkang!"
Rangga mencabut keris bertuah yang sempat ia amankan dari lokasi kejadian minggu lalu. Tangannya gemetar hebat. "Aku tidak bisa menancapkannya padamu, Wis!"
"Lakukan atau kita berdua mati di sini!" jerit Wisnu, jiwanya mulai diambil alih saat matanya berubah menjadi hitam pekat seluruhnya.
Bagian 14: Tamat – Kidung Abadi
Dengan jeritan keputusasaan, Rangga melompat maju. Ia tidak menancapkan keris itu ke perut Wisnu, melainkan menggoreskan mata keris ke telapak tangannya sendiri dan memeluk sahabatnya dari belakang, mengalirkan darah bersihnya ke dada Wisnu sambil merajut doa-doa perlindungan yang pernah diajarkan Mbah Sumi.
Darah bertuah bercampur dengan energi keris menciptakan ledakan cahaya emas yang menyilaukan. Bayangan hitam besar di depan mereka melengking histeris saat terjerat oleh doa-doa tersebut, perlahan-lahan hancur meledak menjadi debu udara.
Rawa Bangke mendadak hening seketika. Angin malam berhenti berembus.
Wisnu terkulai lemas di pangkuan Rangga. Perutnya kembali normal, bau melati yang menyengat perlahan menguap tergantikan oleh aroma tanah basah yang alami. Teror puluhan tahun itu akhirnya benar-benar musnah bersama rusaknya wadah ilmu hitam Karang Anjar.
Satu Tahun Kemudian
Wisnu telah berhenti dari pekerjaannya sebagai jurnalis mistis. Ia kini menetap di kota kecil, menjalani hidup tenang bersama Rangga dan membuka toko buku bekas.
Suatu malam yang hujan deras, Wisnu duduk sendirian di meja kerjanya, merapikan buku-buku tua. Tanpa disengaja, jarinya terhenti pada sebuah piringan hitam tua tanpa label.
Karena penasaran, ia memasang piringan hitam itu ke mesin pemutar.
Suara jarum garitan terdengar berdesis... lalu dari pengeras suara, terdengar alunan tembang Jawa berlaras Pelog yang sangat merdu.
Wisnu membeku. Ia tersenyum tipis, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang basah oleh air hujan. Di dalam pantulan itu, di balik bayangannya sendiri, berdiri sesosok wanita cantik berkemben batik yang tersenyum tenang sebelum akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam.
— SELESAI —