Asap tipis mengepul dari dandang alumunium raksasa di atas gerobak kayu bertuliskan Bubur Ayam Pasundan. Di balik gerobak itu, Rangga berdiri mengelap mangkuk dengan gerakan yang terukur, ritmis, dan hampir tanpa suara. Orang-orang di sekitar kawasan perkantoran Sudirman mengenal Rangga sebagai Bang Rusdi—pria pendiam, kaku, berpakaian kaos oblong lusuh dengan celemek kain warna krem, serta topi seniman yang selalu ditarik agak rendah menutupi separuh dahinya.
Namun, di balik sepasang mata cokelat gelap yang irit berkedip itu, tidak ada satu detail pun yang luput dari pengamatan. Rangga adalah seorang agen intelijen tingkat tinggi yang sedang melakoni penyamaran deep-cover untuk mengintai jaringan pencucian uang salah satu konsortium di gedung pencakar langit seberang jalan. Watak dasarnya yang amat introver justru menjadi perisai sempurna. Rangga tidak suka banyak bicara, tidak pandai bersosialisasi, dan selalu merasa energi mentalnya terkuras jika harus berinteraksi dengan orang asing. Baginya, menyamar sebagai pedagang bubur yang pasif adalah surga pekerjaan: cukup mengangguk, menuangkan kuah kuning, menerima uang, dan kembali menyendiri dalam pikirannya.
Sampai akhirnya, wanita itu hadir dalam lingkaran sunyinya.
Arimbi. CEO muda dari sebuah perusahaan agensi pemasaran digital yang kantornya berada di lantai dua belas gedung bertingkat di depan gerobak Rangga. Setiap pukul tujuh pagi, wanita itu akan turun dengan pakaian kerja serba elegan—blazer terpotong rapi, sepatu hak tinggi dengan ketukan tegas di atas trotoar, serta rambut terurai anggun. Namun, mata Rangga yang terlatih membaca mikromimik wajah tidak bisa dibohongi: di balik riasan wajah yang sempurna dan garis bibir yang dipaksa tersenyum tegak, Arimbi membawa duka yang sangat berat.
"Bubur satu, Bang. Kuah pisah, tanpa tongcai," ujar Arimbi dengan suara serak-basah pagi itu. Matanya sedikit sembab, dibalut kacamata hitam berbingkai tebal yang sengaja diturunkan sedikit di pangkal hidung.
Rangga tidak banyak tanya. Tanpa kata, tangan kekar bertato tempelan itu bergerak cepat. Mangkuk diisi bubur beras lembut, kerupuk, kacang kedelai, irisan ayam kampung tebal, lalu kuah kuning gurih ditaruh di wadah terpisah. Ia menyodorkannya ke meja kayu kecil di samping gerobak.
Arimbi duduk, meremas jarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Ponsel mewahnya di atas meja bergetar berulang kali. Sebuah nama terpampang di layar: Mama Tiri - Tante Rosalinda. Arimbi membiarkannya bergetar hingga mati, sebelum akhirnya menghela napas panjang yang terdengar sangat putus asa.
Melalui pantulan cermin gerobak, Rangga memperhatikan wanita itu memakan buburnya dengan gerakan hampa. Rangga tahu persis alasannya. Dua hari yang lalu, dari balik kamera pengintai infra-merah yang terpasang di radio genggamnya, Rangga tidak sengaja menangkap basah tunangan Arimbi—seorang pengusaha muda flamboyan—sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil tepat di parkiran VIP gedung. Kemarin sore, Arimbi memergoki pria itu sendiri, dan hubungan mereka hancur berkeping-keping.
Ini bukan kali pertama Arimbi dikhianati. Selama enam bulan Rangga berada di sudut trotoar ini, ia telah menyaksikan tiga pria berbeda datang dan pergi dari hidup Arimbi. Semuanya tipikal pria oportunis yang memanfaatkan kesuksesan, kebaikan, dan kerapuhan hati wanita tersebut.
"Kenapa laki-laki selalu janji hal yang tidak pernah bisa mereka tepati?" gumam Arimbi pelan, hampir tak terdengar, seolah berbisik pada uap bubur di depannya. Ia tidak sadar bahwa pendengaran Rangga yang sudah terasah tajam menangkap setiap kata.
Rangga terdiam sejenak. Tangan yang sedang memegang sendok sayur sempat berhenti di udara. Logika dingin intelijennya berbisik untuk tidak mencampuri urusan target atau masyarakat biasa. Namun, ada sesuatu pada diri Arimbi—ketegaran yang dipaksakan dan kesepian mendalam yang sangat mirip dengan dirinya—yang secara perlahan meretas dinding pertahanan psikologis Rangga.
"Mungkin..." suara Rangga keluar perlahan, berat, bernada rendah, dan sangat canggung karena ia jarang berbicara lebih dari tiga kata. "...karena mereka berjanji pakai kata-kata, bukan pakai tindakan."
Arimbi mendongak terkejut. Matanya menatap tukang bubur di depannya dengan tatapan heran. Selama bertahun-tahun berlangganan, ini pertama kalinya ia mendengar pria penutup wajah itu merangkai kalimat utuh dengannya.
"Abang... bicara sama saya?" tanya Arimbi, agak bingung.
Rangga langsung berdehem kaku, menyadari batas profesionalitasnya perlahan goyah. Ia menundukkan kepala, berpura-pura sibuk mengelap bagian atas meja. "Maaf, Mbak. Cuma asal ceplos."
Ponsel Arimbi kembali berdering keras. Kali ini panggilan telepon dari Papanya. Dengan tangan gemetar dan wajah penuh tekanan, Arimbi akhirnya menggeser tombol hijau.
"Halo, Pa... Iya, Arimbi ingat. Acara makan malam keluarga besar sabtu ini di Hotel Mulia... Pacar? Oh, iya, Pa. Dion datang kok... Iya, kami baik-baik saja... Dion sangat perhatian..." Arimbi berbohong dengan nada suara yang bergetar hebat. Air mata menetes di pipinya, mengikis riasan tipis di bawah matanya. "Iya, Ma... Tante Rosalinda tak perlu khawatir. Dion nanti bawa kado untuk Tante..."
Panggilan terputus. Arimbi menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya di meja kayu trotoar itu, terisak pelan tanpa suara. Kebohongan itu makin melilit lehernya. Pria bernama Dion itu sudah pergi setelah menguras investasinya, sementara Papa dan Mama Tirinya adalah tipe orang tua pemaksa yang menjadikan kehidupan asmara Arimbi sebagai ajang pamer kekayaan dan status sosial. Mama tirinya yang licik selalu berusaha merendahkan Arimbi jika wanita itu tidak memiliki pasangan yang setara.
Rangga menyaksikan pemandangan itu dalam hening. Di balik dada bidang yang terbiasa menahan rasa sakit luka tembak dan latihan militer berat, ada rasa iba dan simpati mendalam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seorang wanita yang begitu tangguh memimpin ratusan karyawan di duniagengsi, harus berlutut tak berdaya di hadapan ekspektasi keluarga dan kebohongan yang terpaksa ia rajut sendiri.
---
Jumat pagi, sehari sebelum acara gala malam keluarga besar Arimbi. Ketegangan di trotoar depan gedung perbelanjaan itu memuncak.
Arimbi datang tidak untuk makan. Wajahnya pucat, matanya merah karena tidak tidur semalaman. Mama tirinya baru saja mengirimkan pesan bahwa jika Arimbi tidak membawa Dion besok malam, Papa Arimbi akan membatalkan investasi modal untuk cabang baru perusahaan agensinya dan menyerahkan posisinya kepada saudara tirinya. Kebohongan Arimbi bahwa Dion masih bersamanya kini berada di ambang kehancuran fatal.
Arimbi berdiri di depan gerobak Rangga, meremas tali tas kulitnya. Di tempat penyeberangan jalan yang bising dengan klakson kendaraan, Arimbi hanya melihat satu-satunya sosok yang tidak pernah menghakimi dan selalu ada di sana setiap pagi: pria penjual bubur yang introver dan tenang ini.
"Bang Rusdi..." panggil Arimbi dengan suara gemetar.
Rangga menghentikan aktivitasnya menata kerupuk. Ia menatap Arimbi datar, namun batinnya bersiap untuk kondisi darurat. "Ya, Mbak?"
"Bisa bicara sebentar? Di bangku taman sebelah sana... Tolong."
Rangga ragu sejenak. Tugas intelijennya menuntut agar ia tetap berdiri di posisi mengamati sasaran. Namun, melihat keputusasaan di mata Arimbi yang tampak seperti orang hendak melompat dari tebing, Rangga melepas celemeknya, mematikan kompor gerobak, lalu mengikuti Arimbi langkah demi langkah dari jarak aman.
Di bangku taman yang rimbun, Arimbi duduk membungkuk. "Saya butuh bantuan. Ini gila... saya tahu ini sangat gila dan tidak masuk akal. Tapi saya tidak punya pilihan lain."
Rangga berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain tebalnya. "Bantuan apa?"
"Tolong... pura-pura jadi pacar saya untuk besok malam saja."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Arimbi. Rangga tertegun. Untuk pertama kalinya dalam kariernya sebagai agen lapangan yang terlatih menghadapi situasi paling ekstrem, otaknya mendadak freeze.
"Mbak... saya tukang bubur," jawab Rangga singkat, polos, dan apa adanya.
"Saya tahu! Saya tahu Abang tukang bubur. Tapi saya tidak bisa minta bantuan teman-teman pria saya. Kebanyakan dari mereka kenal Dion atau bekerja di industri yang sama. Kalau saya bawa teman sewaan dari agensi aktor, Mama tiri saya akan menyewakan detektif privat untuk membongkarnya dalam hitungan jam," cecar Arimbi panik. "Tapi Abang... Abang berbeda. Abang punya cara bicara yang tenang, Abang tidak banyak tingkah, dan yang paling penting... Abang tidak kenal siapa-siapa di lingkaran saya."
Arimbi mendongak, menatap mata Rangga penuh ketulusan dan keputusasaan. "Saya akan bayar berapa pun. Puluhan juta, ratusan juta... saya hanya butuh Abang berdiri di samping saya selama tiga jam besok malam, memakai jas, mengaku sebagai pengusaha privat yang sangat low-profile, dan membantu saya melewati malam pembantaian keluarga itu."
Rangga menatap wanita di depannya. Di satu sisi, menyamar adalah keahlian utamanya. Bertransformasi dari tukang bubur menjadi pengusaha kaya adalah hal sepele bagi seorang agen terlatih. Namun, masalah dasarnya adalah: Rangga seorang introver yang benci menjadi pusat perhatian di pesta kemewahan, dan yang lebih berbahaya lagi, perasaan pribadinya terhadap Arimbi bisa mengacaukan profesionalismenya.
"Saya tidak butuh uang Mbak," kata Rangga dingin. "Dan saya tidak pandai bersandiwara di depan orang kaya."
"Tolong, Bang Rusdi..." Arimbi memegang lengan kaos kain Rangga. Sentuhan itu membuat jantung sang agen berdegup kencang secara tidak teratur. "Saya cuma butuh seseorang yang jujur. Meskipun ini kebohongan, saya merasa Abang tidak akan menusuk saya dari belakang seperti pria-pria lain dalam hidup saya."
Kata-kata itu meruntuhkan tembok benteng introvert Rangga. Wanita ini terlalu sering dilukai. Kepercayaannya pada manusia sudah hancur, dan entah bagaimana, sosok tukang bubur inilah yang menjadi satu-satunya tempat ia merasa aman.
Rangga menghela napas panjang melalui hidungnya. Ia menatap ke arah gerobaknya, lalu kembali menatap Arimbi.
"Aturannya tiga," tegas Rangga dengan nada suara yang mendadak berubah keras, dominan, dan sangat berwibawa—sangat berbeda dari nada suara penjual bubur biasa. Arimbi sampai sedikit terkejut mendengarnya.
"Pertama, tidak ada uang bayaran. Saya bantu karena Mbak butuh bantuan, bukan transaksi. Kedua, Mbak harus menuruti semua arahan skenario dari saya, tanpa bantahan. Ketiga... setelah acara besok malam selesai, kita kembali ke kehidupan masing-masing. Deal?"
Arimbi terpana mendengar ketegasan dalam intonasi bicara pria di depannya. Ada aura ketampanan dan kepemimpinan yang tersembunyi sangat rapat di balik kaos lusuh dan topi senimannya. Tanpa berpikir panjang, Arimbi mengangguk cepat. "Deal!"
---
Sabtu malam di Grand Ballroom Hotel Mulia Jakarta. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan ke atas lantai marmer yang mengilap. Puluhan pengusaha papan atas, pejabat, dan kerabat keluarga besar Arimbi berkumpul dalam balutan gaun malam dan tuksedo mahal.
Di sudut ruangan, Tante Rosalinda—Mama tiri Arimbi yang tampil menyolok dengan perhiasan berlian—berdiri bersama Papa Arimbi. Matanya terus melirik pintu masuk dengan senyum sinis. "Lihat saja, Pa. Arimbi pasti bohong. Mana ada Dion mau datang lagi setelah anakmu itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya? Paling nanti dia datang sendirian sambil cari alasan."
Namun, tepat pada pukul delapan malam, pintu ballroom terbuka.
Seluruh pandangan mata perlahan tertuju ke arah pintu. Arimbi masuk anggun mengenakan gaun malam berwarna merah marun. Namun yang membuat seluruh ruangan tertahan napas bukan hanya keanggunan Arimbi, melainkan sosok pria yang menggandeng tangannya.
Rangga berdiri tegak dengan postur tubuh sempurna seperti seorang perwira tinggi. Potongan rambutnya kini rapi dan klimis, rahangnya yang tegas tampak bersih dari kumis tipis penyamaran, dan tubuh atletisnya dibalut sempurna oleh tailor-made suit warna biru gelap yang sangat elegan. Garis-garis ketampanan tersembunyi yang selama ini ditutupi topi seniman kini terpancar penuh aura karismatik, dingin, dan sangat mengintimidasi.
Arimbi sendiri hampir tidak mengenali pria di sampingnya saat Rangga menjemputnya di lobi satu jam lalu. Pria yang biasanya memegang sendok sayur itu berjalan dengan ketenangan luar biasa yang mencerminkan kelas sosial tertinggi—sebuah hasil pelatihan intelijen bertahun-tahun untuk masuk ke lingkaran elit internasional.
"Tenang," berbisik Rangga pelan di dekat telinga Arimbi saat mereka berjalan di atas karpet merah. "Napas teratur. Senyum tipis. Biarkan saya yang pegang kendali."
Mereka menghampiri meja Papa Arimbi dan Tante Rosalinda. Wajah Mama tirinya langsung berubah pucat kaget, bercampur rasa tidak percaya. Pria di samping Arimbi jelas bukan Dion—pria ini berkali-kali lipat lebih tampan, lebih gagah, dan memancarkan aura kekuasaan yang tak tergoyahkan.
"Papa, Kenalkan..." ujar Arimbi dengan percaya diri yang tiba-tiba membumbung tinggi. "Ini Rangga. Kekasih saya yang baru."
Papa Arimbi menjabat tangan Rangga. Cengkeraman tangan Rangga yang mantap dan tegas langsung mendapatkan penghormatan dari sang pengusaha senior. "Rangga? Arimbi tidak pernah cerita banyak tentang Anda. Bergerak di bidang apa?"
"Saya mengelola dana investasi privat dan konsultasi manajemen risiko strategis, Pak," jawab Rangga lugas, bernada tenang, halus, namun sangat padat berbobot. Ia merangkul pinggang Arimbi dengan lembut namun protektif. "Saya sengaja meminta Arimbi untuk menjaga privasi hubungan kami dari media dan publik."
Tante Rosalinda yang merasa posisinya terancam langsung mencoba menyela dengan nada menyindir. "Oh ya? Konsultan risiko? Kok namanya asing ya di lingkaran bisnis Jakarta? Jangan-jangan cuma bisnis rekayasa?"
Rangga menatap Tante Rosalinda secara langsung. Tatapan mata cokelat gelapnya begitu tajam dan tajam hingga membuat wanita tua itu terdiam kaku. Dengannya yang terlatih membaca profil kejahatan, Rangga tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat memikat.
"Dunia investasi privat memang tidak riuh seperti pasar modal umum, Tante," sahut Rangga pelan namun telak. "Kami fokus menjaga kerahasiaan dan keamanan aset keluarga... persis seperti bagaimana saya menjaga Arimbi dari orang-orang yang hanya memanfaatkan kebaikannya."
Papa Arimbi tampak sangat terkesan. Sepanjang malam, Rangga berdiskusi tentang geopolitik, ekonomi global, dan strategi bisnis dengan sangat cerdas, membuat para pengusaha senior di meja itu mengangguk-angguk setuju. Arimbi menatap Rangga dari samping dengan rasa takjub yang tak terlukiskan. Pria introver yang selama ini ia kira penjual bubur biasa ternyata memiliki wawasan seluas samudra dan pesona yang melumpuhkan.
Saat acara berdansa dibuka, Rangga meraih tangan Arimbi dan membawanya ke tengah lantai dansa. Di bawah sorotan lampu lembut, tangan Rangga melingkar cermat di pinggang Arimbi. Momen itu terasa sangat ajaib.
"Kamu... siapa sebenarnya, Bang Rusdi?" bisik Arimbi lirih saat tubuh mereka berputar perlahan mengikuti irama musik klasik. "Tukang bubur tidak mungkin punya cara jalan dan wawasan seperti ini."
Rangga menatap mata Arimbi yang jernih. Untuk pertama kalinya, perisai introver dan kerahasiaan tugasnya terasa sangat berat untuk dipertahankan. "Saya hanya seseorang yang tidak ingin melihat kamu disakiti lagi, Arimbi."
"Kebohongan malam ini terasa sangat nyata bagiku," aku Arimbi dengan kejujuran yang membakar dada. "Aku tidak ingin ini berakhir saat musik ini berhenti."
Namun, di tengah kehangatan itu, ponsel khusus di dalam saku dalam jas Rangga bergetar pendek tiga kali—sebuah sinyal darurat dari markas komando bahwa operasi pengintaian target utama telah selesai dan Rangga harus segera ditarik dari lapangan malam itu juga. Penyamarannya sebagai pedagang bubur resmi ditutup.
Ketika malam usai dan Rangga mengantar Arimbi kembali ke depan rumahnya, suasana menjadi sangat hening.
"Terima kasih untuk malam ini, Rangga," kata Arimbi pelan saat berdiri di pintu pagar. "Besok pagi... aku akan tetap datang beli buburmu."
Rangga menatap wajah wanita yang telah mencuri hati penyamarnya itu. Sesuai aturan intelijen, setelah penyamaran dibongkar, agen tidak boleh lagi menemui sasaran atau orang-orang di area penyamaran. Ini adalah perpisahan, meski Arimbi belum menyadarinya.
Tanpa mampu menahan lagi rasa di dadanya, Rangga maju satu langkah, menangkup wajah Arimbi dengan kedua tangannya, dan mendaratkan ciuman lembut namun dalam di dahi Arimbi. Sebuah ungkapan cinta dari pria introver yang tidak pandai berkata-kata.
"Jaga dirimu baik-baik, Arimbi," berbisik Rangga pelan di dahinya, lalu berbalik dan berjalan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Keesokan paginya, pukul tujuh tepat, Arimbi turun ke trotoar dengan langkah ringan dan senyum membuncah di bibirnya. Namun, ketika sampai di sudut tempat biasa, gerobak *Bubur Ayam Pasundan* telah lenyap. Yang tersisa hanya meja kayu kosong.
Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah amplop cokelat bersih. Arimbi membukanya dengan tangan bergetar. Di dalamnya terdapat sebuah kartu nama resmi berwarna hitam elegan dengan logo emas kepolisian/badan intelijen, bertuliskan nama asli: Kapten Rangga Pratama - Divisi Intelijen & Investigasi Khusus.
Di belakang kartu itu tertulis sebuah pesan singkat dalam tulisan tangan yang rapi dan tegas:
"Penyamaranku sebagai penjual bubur telah berakhir hari ini. Namun, penyamaranku sebagai pria yang mencintaimu adalah satu-satunya kebenaran yang tidak pernah kubohongi. Jika kamu siap menerima pria introver dengan kehidupan yang penuh bahaya ini, datanglah ke alamat kantor di balik kartu ini. Aku akan menunggumu tanpa ada lagi kebohongannya."
Arimbi memeluk surat itu di dadanya, tersenyum lebar di tengah hiruk-pikuk kota, dan melangkah pasti menuju arah baru dalam hidupnya.