Jam 4.30 pagi. Stasiun Cikampek masih sepi. Lampu kuning temaram.
*Bu Lastri* 52 tahun duduk di bangku kayu paling pojok. Di sebelahnya ada koper merah tua. Sudah lecet-lecet. Stiker "Jakarta - Surabaya" masih nempel.
Di dalam koper itu bukan baju.
Isinya: 3 bungkus nasi uduk, 2 botol air, surat-surat lamaran kerja, dan 1 foto.
Foto seorang anak laki-laki umur 7 tahun, senyum ompong, pakai seragam SD.
Di belakang foto ada tulisan: _"Untuk Ibu. Kalau sudah sukses, jemput aku ya. - Dimas"_
Itu 14 tahun lalu.
*14 TAHUN LALU*
Dimas umur 7 tahun. Ayahnya meninggal. Bu Lastri jualan gorengan keliling.
Suatu hari ada orang nawarin kerja jadi ART di Jakarta. Gaji 2 juta.
"Bu, pergi aja. Demi Dimas. Nanti kalau udah kumpul uang, kita buka warung," kata tetangga.
Bu Lastri pamit ke Dimas. "Ibu kerja dulu ya Nak. 1 tahun. Nanti Ibu pulang bawa sepeda baru."
Dimas peluk. "Ibu jangan lama-lama ya."
1 tahun jadi 2 tahun. 2 tahun jadi 5 tahun.
Telepon makin jarang. Majikan nggak ngasih HP. Pas pulang kampung, rumah Dimas sudah kosong.
Tetangga bilang: "Dimas sama Buliknya pindah ke Surabaya. Nggak ninggalin alamat."
*SEKARANG*
Hari ini Bu Lastri dapat info dari grup Facebook. Ada yang lihat "Dimas Pratama" wisuda di Surabaya. Jurusan Teknik.
Dengan uang tabungan 14 tahun, Bu Lastri nekat. Bawa koper merah. Bawa nasi uduk buatan sendiri.
"Kalo ketemu, aku masakin. Dia paling suka," gumamnya.
Kereta ekonomi berangkat jam 5.15. 12 jam perjalanan.
Di kereta, pemuda sebelahnya tanya: "Mau ke mana Bu?"
"Surabaya Nak. Mau nemuin anak."
"Anak Ibu umur berapa?"
"Udah 21 tahun. Udah gede. Udah wisuda katanya."
Pemuda itu diem. Ngasih Bu Lastri air mineral. "Semoga ketemu ya Bu."
Jam 6 sore. Surabaya. Hujan.
Bu Lastri nanya satpam kampus. "Permisi Pak. Cari Dimas Pratama. Wisuda hari ini."
Satpam lihat daftar. "Oh iya. Itu. Gedung Graha. Tapi acaranya udah selesai 1 jam lalu Bu."
Dada Bu Lastri copot.
Dia jalan ke gedung. Sepi. Tinggal beberapa orang beres-beres.
Di bangku paling belakang, ada pemuda. Jas wisuda udah dilepas. Lagi main HP.
Jantung Bu Lastri copot. Wajah itu. Mata itu. Sama.
"Dim... Dimas?" suaranya pelan.
Pemuda itu nengok. Kaget. "Ibu??"
5 detik. Mereka diem.
Terus Bu Lastri nangis. Bukan nangis kenceng. Nangis yang 14 tahun ditahan.
Dimas lari. Peluk. Kenceng. "Ibuuu... aku kira Ibu udah lupa sama aku."
"Enggak Nak. Ibu bawa ini." Bu Lastri buka koper merah. Nasi uduk masih anget.
"Dimas paling suka nasi uduk Ibu kan?"
Dimas ketawa sambil nangis. Nyuapin ibunya. "Sama Bu. Aku juga tiap ulang tahun minta nasi uduk. Tapi rasanya nggak pernah seenak punya Ibu."
Malam itu mereka nggak foto di studio.
Mereka foto di depan gerbang kampus. Bu Lastri pakai baju terbaiknya. Dimas pakai toga.
Di tengah mereka: koper merah.
*EPILOG - 1 BULAN KEMUDIAN*
Di depan rumah kontrakan kecil di Cikampek ada spanduk:
_"Warung Nasi Uduk Dimas & Ibu"_
Yang masak Bu Lastri. Yang nganter Dimas tiap weekend.
Di dinding warung ditempel foto wisuda + koper merah.
Ada tulisan kecil di bawah foto:
_"14 tahun nunggu. Ternyata rumah bukan tempat. Rumah adalah orang yang nyuapin kita nasi uduk pas kita paling lapar."_
*3 BULAN SETELAH PERTEMUAN DI SURABAYA*
Warung "Nasi Uduk Dimas & Ibu" sekarang rame tiap pagi.
Meja kayu 4 biji. Kursi plastik warna-warni. Spanduknya udah ganti. Ada foto Bu Lastri sama Dimas + koper merah di pojoknya.
Yang jaga pagi Bu Lastri. Yang jaga sore sampai malam Dimas.
Tiap weekend Dimas pulang dari Surabaya naik kereta ekonomi. Bawa buku, bawa laptop, bawa oleh-oleh buat pelanggan.
"Bu, hari ini laris ya?" tanya Dimas sambil lap meja.
"Alhamdulillah Nak. Ada 3 bapak tukang bilang nasinya ngingetin sama masakan emaknya di kampung."
Bu Lastri senyum. 14 tahun jualan gorengan keliling, baru sekarang jualan sambil duduk dan ketawa.
Tapi hidup nggak selalu semanis nasi uduk.
*MASALAH PERTAMA*
Suatu Senin, ada preman pasar datang. 2 orang. Badan gede.
"Bu, ini uang keamanan. 500rb sebulan. Kalo nggak bayar, warung tutup."
Tangan Bu Lastri gemetar. 500rb itu modal seminggu.
"Pak... saya baru buka. Bisa kurang nggak?"
"Nggak bisa. Aturan."
Malam itu Bu Lastri nggak bisa tidur. Dia buka koper merah. Di dalamnya sekarang bukan cuma foto.
Ada tabungan receh, ada surat lamaran kerja lama, ada... 1 kalung emas tipis. Warisan dari almarhum suaminya.
"Dim... Ibu mau jual kalung ini ya. Buat bayar."
Dimas di seberang telpon langsung nolak. "Jangan Bu. Itu satu-satunya peninggalan Bapak."
"Terus gimana? Warung kita?"
Dimas diem lama. "Biar aku yang urus Bu. Jangan jual apa-apa."
*SOLUSI ANAK RANTAU*
Jumat malam. Dimas datang bawa 3 temen kampusnya. Anak teknik semua.
"Bu, ini temen-temen aku. Kita mau bikin sistem."
Seminggu kemudian, di depan warung ada banner baru:
_"NASI UDUK DIMAS & IBU - Bisa Pesan Online & Bayar Qris"_
Anak-anak itu bikinin Instagram. Bikin Gofood. Bikin logo. Gratis.
Caption pertama: _"Ini warung ibu saya. 14 tahun beliau nunggu. Sekarang giliran kita yang jaga beliau."_
Viral.
1 minggu, orderan numpuk. Wartawan lokal datang. "Kisah Koper Merah" masuk berita.
Preman itu balik lagi. Liat rame. Liat ada 3 cowok tinggi gede pakai jaket almamater.
Langsung pamit: "Lanjut Bu. Sukses ya." Nggak jadi minta uang.
*BAB 3: SURAT DALAM KOPER*
Suatu malam pas beres-beres, Dimas nemu amplop di bawah tumpukan baju di koper merah.
Sudah kuning. Alamat: Bu Lastri, Cikampek.
"Bu, ini apa?"
Bu Lastri buka. Tangannya gemetar.
> _Bu,
> Aku Dimas. Umur 9 tahun.
> Bulik bilang Ibu udah punya keluarga baru di Jakarta. Aku nggak percaya.
> Aku simpen uang jajan 2rb tiap hari. Nanti kalau udah 1 juta, aku nyusul ke Jakarta jemput Ibu.
> Ibu jangan lupa aku ya.
> — Dimas_
Bu Lastri nangis. "Ibu nggak pernah punya keluarga baru Nak. Ibu cuma kerja. Majikan nggak ngasih pulang."
Dimas peluk ibunya. "Aku tau Bu. Makanya aku kuliah. Biar bisa jemput Ibu. Biar Ibu nggak kerja lagi."
Malam itu mereka bakar surat itu di belakang warung. Bukan karena marah.
Tapi karena masa nunggu udah selesai. Sekarang masanya bareng-bareng.
*EPILOG - 1 TAHUN KEMUDIAN*
Stasiun Cikampek. Jam 5 pagi.
Koper merah itu sekarang nggak dipake buat pindahan lagi.
Dipake buat "Koper Berkah".
Isinya: nasi uduk bungkus, air mineral, dan buku doa.
Tiap subuh Bu Lastri dan Dimas bagi-bagi gratis ke pemulung, tukang sapu, dan orang yang nunggu kereta pertama.
Di samping koper ditempel kertas:
_"Dulu koper ini isinya rindu. Sekarang isinya berkah. Karena orang yang kita tunggu, akhirnya pulang."_
Orang-orang manggil Bu Lastri "Ibu Koper Merah".
Dan tiap ada yang nanya "Kenapa merah Bu?"
Bu Lastri jawab: "Karena merah itu warna berani. Warna orang yang berani nunggu 14 tahun."
*TAMAT* 🤍
*PESAN CERPENNYA:*
Kadang orang yang kita tinggalkan demi "masa depan", justru jadi alasan kita bertahan.
Dan pulang paling indah adalah pulang ke pelukan orang yang dulu kita janjiin "sebentar".