" Tertatih tatih pria dan wanita paruh baya itu melangkah dalam kegelapan dan keheningan malam itu, tiba tiba mereka mendengar suara tangisan seorang bayi dalam sebuah keranjang yang terletak di ujung jalan menuju hutan larangan, bayi siapakah ini, kemana orang tuanya ? " ujar sang wanita yang sangat bahagia melihat bayi mungil dalam keranjang itu.
" Lihatlah suamiku, Tuhan mendengar doaku ! "
" Aku di berikan kebahagiaan di saat usiaku semakin menua " ujar si wanita dengan sangat bahagia.
" Kita harus menamai bayi ini suamiku, aku yakin pasti orang tuanya berharap anaknya tetap hidup dan disinilah ia menaruh keranjang berisi bayinya pasti dia memiliki alasan tersendiri sehingga ia tak rela meninggalkan bayinya di desa, kita akan menjadi ayah dan ibu bagi bayi ini suamiku " ujar si wanita lagi.
" Kalau kamu bahagia aku juga demikian, ayo istriku aku akan lebih giat lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi kita " si suami pun tak kalah bahagianya.
Anugerah Tuhan tidak boleh di sia sia kan, Aku dan suamiku kembali ke desa dimana kami tinggal dan kami membawa bayi kami bersama ke dalam gubuk bambu kami.
" Nak, ini rumah kita, mulai sekarang kamu akan menjadi anak kami, kamu akan kami beri nama " Kirana " nama yang manis untuk bayi secantik dirimu.
" Ayah akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kamu nak, ibu juga akan bekerja membantu ayah demi kamu penyemangat hidup kami " si wanita tak tinggal diam.
Dari kejauhan tampak Sepasang mata sedang memandang pasangan suami istri itu dengan senyum kebahagiaan.
" Terima kasih Tuhan akhirnya Engkau mempertemukan anakku dengan orang orang baik seperti mereka, aku akan kembali ke bumi ini setelah misiku di langit selesai " wanita itu pun pergi dan hilang di telan awan putih yang berarakan seperti domba berwarna putih bersih yang menghiasi langit malam yang indah ini "
Siapakah wanita ini ? bidadari ataukah Dewi ?
**
" Dimanakah kamu nak, " panggil ibu Ana pada bayi yang baru saja ditemukannya di tepi hutan semalam.
" Aku disini Bu ! " ucap Kirana sambil tersenyum menghampiri Bu Ana.
" Kamu sudah sebesar ini nak padahal ibu dan ayah baru saja menemukan dirimu semalam " ucap Bu Ana pada Kirana.
" Aku anak ajaib Bu, terima kasih sudah menganggap aku seperti anak ibu " ucap Kirana sambil tersenyum simpul.
" Ibu ayo kita ke pasar, Kirana mau beli baju dan sepatu " ucap Kirana yang tiba tiba badannya sudah seperti anak gadis umur 10 tahun.
" Nak, gimana kalau kamu tunggu aja di rumah biar ibu aja yang ke pasar membeli baju, " ucap ibu Ana lagi.
" Baiklah Bu, Kirana tunggu ibu dirumah saja " ucap Kirana sambil tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya.
" Bu jangan lupa beli juga telur ayam kampung ya Bu " ucap Kirana lagi.
" Baiklah nak, " ucap Bu Ana dan langsung pergi ke pasar terdekat di situ.
Untuk apa anak itu memesan telur ayam kampung, apa yang akan dilakukannya ? perasaan aneh berkecamuk dalam pikiran Bu Ana.
Kirana tersenyum dalam hati, semoga ibu membeli telur ayam, agar aku bisa kembali ke langit bertemu ibu, aku khawatir dengan ibu di sana sendirian, walaupun aku tak tahu caranya untuk kembali ke langit tetapi aku akan mencoba bulu ayam pada telur itu aku akan menunggu sampai telur ayam itu menetas dan ayamnya bertumbuh besar.
" Aneh, kenapa ia meminta telur ayam ? " gumam Bu Ana dalam hati.
" Bu Ana ! " panggil seorang wanita yang tak lain adalah tetangga Bu Ana di desanya.
" Iya Bu Ida ada apa Bu ? " tanya Bu Ana pada Bu ida.
" Bu Ana kok akhir akhir ini Bu Ana jarang keluar rumah ? " tanya Bu Ida penasaran.
" Aku lagi mengempu ! ( mengempu dalam bahasa Bali artinya mengasuh anak ) ! " jawab Bu Ana.
" Mengempu anaknya siapa ? " tanya Bu Ida penasaran.
" Ngempu anakku Bu Ida ! " jawab Bu Ana sekenanya
" Kapan Bu Ana melahirkan ? " tanya Bu Ida lagi.
" Maaf Bu Ida itu anak saudara aku " jawab Bu Ana lagi.
" Ooo, baiklah kalau begitu ! aku duluan ya Bu Ana " ucap Bu Ida langsung pergi dari hadapan Bu Ana.
" Ada apa dengan Bu Ida ? " gumam Bu Ana.
" Ya sudahlah saya harus cepat cepat beli baju yang di inginkan oleh Kirana '' ucap Bu Ana pada dirinya sendiri.
**
" aku harus memasak yang enak enak untuk menyambut ayah dan ibu pulang " gumam Kirana dalam hati.
Kirana pun mulai melakukan aktivitas memasak di dapur sederhana itu.
Asap api mengepul dan wangi masakan menjalar ke seluruh penjuru rumah dan sekitarnya..
Dari kejauhan tampak seorang wanita cantik menatap ke arah rumah yang di tempati oleh Kirana, wanita itu adalah seorang bidadari cantik yang merupakan ibu kandung dari Kirana.
Kirana tidak menyadari akan hal itu, ia bahagia dengan kegiatan memasaknya.
Tanpa sadar ibu Ana sudah berdiri di belakang Kirana dan menepuk pundak gadis kecil itu.
" Masak apa Nak,kamu terlihat sangat bahagia apa yang membuatmu bahagia ? " tanya Bu Ana sambil tersenyum.
" Ibu kapan ibu datang, ibu mengagetkan Kiran saja " ujar Kirana lagi.
" Udah dari tadi nak, " ucap Bu Ana sambil tersenyum tipis.
" Bagaimana dengan masakan Kirana Bu ? " tanya Kirana sambil memperlihatkan semua masakannya.
" Apa ibu menyukainya ? " tanya Kirana lagi.
" Ibu sangat suka, kamu mengambil ini dari mana kok bisa ada daging nak ? " tanya Bu Ana lagi.
" Ini daging rusa Bu, Kirana punya kemampuan untuk menangkap rusa yang berkeliaran di sekitar rumah kita Bu jadi ibu tenang saja " ucap kirana lagi dan langsung menata semua makanan di atas meja makan.
" Ayo ibu mandi dulu dan kita menunggu ayah pulang dan kita akan menyantap bersama makanan hasil masakanmu ini nak " ucap Bu Ana lagi.
" Bu, Kirana mandi dulu ya nanti setelah Kirana mandi baru deh ibu mandi " ucap Kirana langsung berlari ke arah kamar mandi yang tak jauh dari rumah utama.
" Bu apa boleh Kirana mandi di sungai dekat kebun ? " tanya Kirana pada Bu Ana lagi .
" boleh , tetapi ibu yang akan mengantarkan kamu nak ,ibu gak bisa melepaskan kamu pergi sendirian " ucap Bu Ana sambil tersenyum menatap ke arah wajah anak gadisnya yang sudah semakin bertumbuh menjadi gadis yang cantik.
Kirana akhirnya mengiyakan untuk bersama ibunya pergi ke sungai dekat rumahnya.
Mereka tinggal di hutan yang sangat luas, walaupun hutannya sangat rimbun tetapi, mereka sudah tinggal turun temurun dari dulu hingga kini di hutan itu sehingga suami istri itu tak pernah takut dengan keadaan hutan itu, karena jaraknya dengan desa terdekat hanya sejauh 2 kilometer dari hutan tempat tinggal mereka.
Mereka kemudian berjalan menuju ke sungai itu, sambil bernyanyi di sepanjang jalan.
"Nak, terimakasih karena telah hadir dalam kehidupan Ayah dan ibumu ini Nak,"Ucap Bu Ana sambil tetap berjalan mengikuti Langkah Kirana.
"Ibu, apa Kirana boleh bertanya sesuatu?" ucap Kirana pada ibunya.
"Ia boleh dong sayang, mau tanya apa ibu akan mencoba menjawab sesuai pengetahuan ibu!" ucap Bu Ana pada Kirana.
"Bu, mengapa saat bulan purnama penuh, setiap jam 12.00 tengah malam Kirana selalu merasa bahagia dan sedih, sebab hati Kirana seperti teriris pisau dan rasanya sakit banget Bu, padahal Kirana sehat sehat aja dan lagi punggung dan belakang Kirana sakitnya gak ada duanya, mengapa demikian Bu?" tanya Kirana dengan suara memelas karena ia benar benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya itu.
"Nak, maaf kamu belum cukup umur untuk mengetahui itu semua, tetapi ibu janji akan memberitahu Kirana nanti setelah Kirana berumur 17 tahun, sekarang belum bisa Karena Kirana baru berusia 12 tahun!" ucap Bu Ana mengalihkan pembicaraan mereka.
"Oo, gitu ya Bu baiklah Kirana akan menunggu sampai hari itu tiba ya Bunda?" ucap Kirana sambil tersenyum dan melambaikan tangannya pada ibunya.
"Hati hati Nak batu cadas itu licin karena banyak lumutnya, jalannya jangan tergopoh-gopoh ya Nak santai dan rileks saja nak!"