Hujan turun deras di kota itu saat Elara menerima sebuah amplop coklat tanpa nama pengirim. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas dan satu kunci kecil berkarat.
Tulisan di kertas itu pendek:
"Dia tidak mati karena kecelakaan. Dia dibunuh. Aku tahu siapa pelakunya. Temui aku di Stasiun Kota Tua, jam 10 malam. Datang sendirian."
Elara menggenggam kunci itu erat-erat. Tiga tahun telah berlalu sejak kekasihnya, Aris, tewas dalam kebakaran di apartemennya. Polisi menyebutnya kecelakaan. Elara tidak pernah percaya.
Dan malam ini, kebenaran akhirnya mulai membuka pintunya.
Stasiun Kota Tua sudah lama ditutup. Lampu-lampu berkedip-kedip seperti mata yang sekarat. Elara berdiri di peron kosong, hanya ditemani angin malam yang dingin.
Dari balik pilar, sesosok pria melangkah keluar.
Pria itu memakai jas hitam, wajahnya teduh, dan senyumnya... anehnya familiar.
"Kamu Elara?"
"Siapa kamu?"
"Namaku Leo. Dan aku adalah orang yang melihat semuanya malam itu."
Leo mendekat. Matanya serius, dan ada sesuatu di balik tatapannya yang membuat Elara tidak bisa menoleh.
"Aris dibunuh oleh seseorang yang sangat dekat dengannya. Seseorang yang selama ini kamu anggap teman."
Elara tersentak.
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda." Leo mengulurkan sebuah foto lama. Di dalamnya, Aris sedang tertawa bersama seorang pria lain. Pria itu... adalah sahabat Aris. Rio.
"Rio?"
"Rio yang membunuhnya. Dia sengaja membakar apartemen setelah Aris tahu bahwa Rio telah mencuri uang perusahaan mereka. Aris akan melaporkannya. Rio memutuskan untuk menghentikannya lebih dulu."
Elara merasakan dadanya bergetar. Bukan karena dingin. Tapi karena kemarahan yang selama tiga tahun terpendam kini mulai meletus.
"Bukti?"
Leo mengeluarkan kunci kecil yang identik dengan yang ia kirimkan.
"Kunci ini membuka brankas lama Aris. Di dalamnya ada semua bukti. Aku memberimu salinannya. Kau bisa membawa semua ini ke polisi."
Elara menerima kunci itu. Tapi ia tidak menoleh ke Leo.
Ia menatap hujan.
"Aku tidak akan membawa ini ke polisi," katanya pelan. "Aku akan menghadapinya sendiri."
Leo terdiam. Lalu ia tersenyum—senyum yang terlihat seperti kekhawatiran, tapi juga kekaguman.
"Aku akan membantumu."
Pertemuan Leo dan Elara berlanjut di kafe-kafe tua, di tepi sungai yang sunyi, di atap gedung tinggi yang menghadap kota. Mereka merencanakan balas dendam. Tapi di antara peta dan foto-foto bukti, sesuatu yang lain mulai tumbuh.
Leo bercerita tentang Aris—tentang hari-hari mereka bermain sepak bola saat kecil, tentang mimpi mereka membuka usaha bersama. Dan Elara, yang selama ini mengingat Aris sebagai kekasihnya, mulai melihat sisi lain dari sosok yang dicintainya.
Suatu malam, di bawah lampu kota yang temaram, Leo menatap Elara lama.
"Aku tahu ini salah," katanya. "Tapi aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku jatuh cinta padamu, Elara. Dan itu bukan bagian dari rencana."
Elara terdiam. Hatinya berdesir. Tapi ada satu nama yang masih menghantui pikirannya.
"Aku belum bisa..." jawabnya lirih. "Belum."
Leo hanya mengangguk.
"Aku akan menunggumu. Sampai dendam ini selesai."
Malam itu, Elara dan Leo menyusup ke rumah Rio. Di tengah ruang tamu yang gelap, Rio duduk di sofa—seperti sudah menunggu mereka.
"Aku tahu kalian akan datang," katanya dengan tenang. "Leo. Teman masa kecil Aris. Yang selama ini berpura-pura menjadi orang lain."
Elara membeku.
"Apa maksudmu?"
Rio tersenyum.
"Leo tidak mencintaimu, Elara. Dia hanya ingin membalas dendam pada Aris karena Aris merebut perhatian kita semua. Leo adalah otak di balik kebakaran itu. Dia yang mengatur semuanya. Aku... hanya pelaksana."
Elara menoleh pada Leo. Tidak ada jawaban di matanya. Hanya keheningan yang mematikan.
Leo akhirnya berbicara. Suaranya berat, seperti orang yang sudah menyembunyikan rahasia terlalu lama.
"Rio tidak berbohong," katanya. "Aku mengatur semuanya. Tapi ada satu hal yang tidak pernah kau ketahui, Elara. Aku jatuh cinta padamu... dan aku menyesal."
Elara terhuyung. Dunianya runtuh dalam hitungan detik.
"Kau..."
"Aku sudah berubah. Begitu aku melihatmu, aku tidak bisa meneruskan rencana ini. Aku justru ingin melindungimu dari diriku sendiri."
Rio tertawa.
"Aku tidak peduli siapa yang membunuh siapa," kata Rio dingin. "Kalian berdua sama saja. Pengkhianat."
Lalu ia mengeluarkan pistol.
Tembakan pertama melayang ke arah Elara. Leo melompat. Menutupi tubuh Elara.
Peluru menembus dadanya.
Rio melarikan diri. Elara memeluk Leo di lantai yang dingin. Darah menggenang di bawah tubuhnya.
"Kenapa?" bisik Elara, air mata mengalir deras.
"Karena..." Leo tersenyum, memar, tapi tulus. "Aku akhirnya memilih untuk menjadi lebih baik. Untukmu. Hanya untukmu."
Tangannya menggenggam jari Elara.
"Aku tahu kau tidak bisa memaafkanku. Tapi aku ingin kau tahu... surat itu... kunci itu... aku sengaja mengirimnya agar kau mengetahui kebenaran. Bahkan jika itu berarti kau akan membenciku."
Elara memeluknya erat.
"Kau bodoh," bisiknya. "Kau tidak perlu mengorbankan hidupmu."
"Aku tidak mengorbankan hidupku," Leo berbisik. "Aku memberikannya untukmu."
Matanya tertutup.
Hujan mulai reda.
Elara berdiri di depan pusara Leo. Ia meletakkan sekuntum bunga mawar putih.
"Kau telah pergi," katanya pelan. "Tapi dendamku sudah selesai. Rio di penjara. Dan aku... aku mulai hidup."
Ia tersenyum.
"Mungkin suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di tempat yang lebih baik. Tanpa kebohongan. Tanpa dendam."
Ia menepuk batu nisan itu pelan.
"Terima kasih untuk surat terakhirmu."
Di atas surat itu, yang kini tersimpan rapi di laci kamarnya, Elara menulis satu kalimat tambahan:
"Dendam membawa kita pada kebenaran. Tapi cinta—cinta yang tulus—membawa kita pada pengampunan. Terima kasih, Leo. Untuk akhir yang tidak pernah kau ceritakan, tapi kau tulis dengan nyawamu."
The End