"Kita putus aja."
Bagai disambar petir di siang bolong, seorang gadis yang bernama Jingyi merasa seluruh tubuhnya gemetar, rasanya tak percaya jika orang yang ia cintai ingin mengakhiri hubungan dengannya.
Desert yang tadinya terasa manis di lidahnya berubah menjadi rasa pahit yang memenuhi mulut dan hatinya. Tanpa sadar matanya berembun.
Dengan suara yang tercekat Jingyi bertanya, "mengapa? Yichen apa aku berbuat salah? "
Han Yichen tersenyum tipis, "kamu tidak memiliki kesalahan apapun, aku hanya ... merasa bosan"
"Habiskan makananmu, aku sudah membayar semua makanan ini tadi." Han Yichen bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar dari Cafe.
Ucapan yang dilontarkan Han Yichen membangkitkan amarah dari Jingyi. Tubuh Jingyi bergetar halus karena amarah, jemari dan kukunya mencengkram hingga noda darah memenuhi telapak tangannya.
"Han Yichen, aku akan membalasmu. Aku akan mengirimkan hadiah yang terbaik di hari ulang tahunmu, " ucap Jingyi disela amarahnya.
Jingyi meninggalkan Cafe itu dengan amarah yang memenuhi dirinya.
Keesokan paginya, Han Yichen berada di taman bersiap merekam film, salah satu tugas yang diberikan oleh dosennya.
"Yichen! " Han Yichen berbalik, lalu berjalan ke arah Ruan Jian.
"Ada apa?"
"Lulu kesulitan mengerjakan naskah filmnya, sepertinya dia membutuhkan bantuanmu," jawab Ruan Jian.
Han Yichen memandang ke arah seorang gadis yang sedang berkutat dengan laptop yang berada di pangkuannya.
Yichen berjalan mendekat, kemudian ia memanggil gadis itu, "Lulu, apa kamu memerlukan bantuan?" Yichen duduk tepat di samping Lulu
Lulu menatapnya sejenak, kemudian menggeleng, "tidak perlu, pekerjaanku hampir selesai."
Yichen melirik jam tangannya, "ini sudah hampir siang, ayo makan siang terlebih dahulu," ajaknya, yang kemudian disetujui oleh Lulu
Mereka berjalan berdampingan sembari melemparkan candaan kecil yang membuat keduanya tertawa.
Di sisi lain, hati seorang gadis seakan tertusuk oleh ribuan pisau ketika melihat pemandangan yang menyakitkan itu.
Amarah yang coba ia tekan kembali muncul, baru sehari mereka putus kini ia melihat sang mantan sedang berjalan beriringan dengan gadis lain.
"Yichen bajingan, tunggu saja hadiahku! " Jingyi pergi dengan diliputi amarah dan rasa kecewa di hatinya.
Di restoran, Yichen menikmati makan siangnya bersama dengan Lulu tanpa tahu jika Jingyi saat ini sedang mempersiapkan hadiah untuknya.
"Yichen terimakasih telah mentraktir ku makan siang, " ucap Lulu dengan tulus.
"Aku mengajak seorang gadis cantik untuk makan bersama, tentu saja harus mentraktirnya." Lulu dibuat salah tingkah dengan ucapan yang Yichen lontarkan.
"Ayo kembali, kita masih harus menyelesaikan tugas yang diberikan dosen, " ajak Yichen.
Malam harinya, di dalam kamar asrama. Jingyi mengacak-acak lemari pakaiannya.
"Dimana aku menyembunyikan buku itu! " Jingyi mengusap kasar rambutnya, berusaha mengingat dimana ia pernah menyembunyikan buku yang ditemukannya di gudang perpustakaan sekolah.
Setelah mencari cukup lama, ia akhirnya menemukan buku yang telah tertutup oleh buku pada kolong tempat tidurnya.
Jingyi terlebih dahulu membersihkan debu yang menempel pada sampul buku, buku itu menampilkan judul 'Mantra Nerdusa' dengan bercak darah di sampulnya.
"Jika kau ingin mengutuk seseorang tulis nama mereka di telapak tanganmu, kemudian sayatlah dan teteskan darahmu pada kendi hitam sambil mengucapkan mantra
Om raktaḥ svapathaḥ me,
nāmaḥ tava bhāgyaḥ syāt,
chāyāyāṃ Nerdusāṃ āhvaye,
sukhaṃ hara, duḥkhaṃ sampūraya."
Walaupun timbul rasa tak tega pada jingyi ia tetap ingin melakukan ritual itu karena kenangan Yichen saat berjalan dengan gadis lain membuatnya buta akan dendam dan benci.
Jingyi menulis nama mantannya, Han Yichen pada telapak tangannya lalu menyayatnya menggunakan pisau tajam.
Telapak tangan itu ia genggam agar setetes darah dapat terjatuh ke dalam guci hitam.
"Om raktaḥ svapathaḥ me, "
mantra pertama Jingyi lantunkan sembari mengingat semua kenangan manisnya bersama dengan Yichen.
"nāmaḥ tava bhāgyaḥ syāt,"
Jingyi dengan jelas dapat merasakan jika atmosfer disekitarnya berubah menjadi dingin, dingin yang menusuk bagaikan berada di tengah gurun salju
"chāyāyāṃ Nerdusāṃ āhvaye,"
Ketika mengucapkan kalimat Nerdusam, kendi hitam yang berada di depan Jingyi bergetar hebat, bahkan jinggi dapat melihat jika ada benang hitam yang mulai merambat keluar dari kendi tersebut.
"sukhaṃ hara, duḥkhaṃ sampūraya. "
Tepat setelah mengucapkan mantra terakhir, petir menggelegar di langit malam. Aroma darah pekat menusuk indra penciuman Jingyi.
Setelah beberapa detik, aroma itu membentuk bayangan pekat yang menyerupai manusia kemudian menghilang begitu saja.
Jingyi duduk terpaku, bayangan apa itu? sangat menakutkan menurut Jingyi. Perasaan takut dan sesal mulai menghampirinya.
Jingyi segera mengenyahkan rasa sesal dan takut itu, ia berpikir jika Yichen memang pantas menerimanya.
Jingyi bangkit, kemudian menutup buku dan menyimpan kendi itu di atas lemari.
Diwaktu yang sama, Yichen yang baru saja terlelap mulai mengalami mimpi buruk.
Di dalam mimpinya, Yichen melihat seorang gadis berdiri di tengah kabut. Rambutnya panjang, menutupi sebagian wajah, dan hanfu putihnya berlumuran noda merah gelap yang menetes ke tanah.
Ia memanggil namanya.
"Jingyi?"
Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan. Namun yang terlihat bukan wajah jingyi melainkan wajah wanita asing yang berlumuran darah, bahkan wanita itu sudah tidak lagi memiliki bola mata.
Wanita itu tiba-tiba berpindah posisi, ia langsung berdiri di samping Yichen dan membisikan kata, "sukhaṃ hara... duḥkhaṃ sampūraya.."
Bisikan itu semakin lama semakin melengking, dan bergema hingga menusuk telinganya. Yichen terbangun dari mimpi buruknya dengan napas tersenggal.
Ia menatap sekeliling kamarnya yang gelap. Tidak ada siapa-siapa.
Namun, di kaca jendela, samar-samar tampak bekas tangan berdarah seolah seseorang menepuknya dari luar.
Rentetan kejadian ini membuat Yichen tak bisa melanjutkan tidurnya, setiap kali Yichen menutup matanya bayangan wanita menyeramkan itu langsung terlintas.
Keesokan paginya, Yichen berusaha menepis mimpi buruk itu. Namun sepanjang hari tubuhnya terasa lemas, pikirannya tak fokus.
"Yichen..." Tubuh Yichen langsung gemetar ketakutan ketika ia melihat jika yang baru saja memanggilnya ternyata adalah wanita yang berada di dalam mimpinya.
Yichen mundur, ia meronta agar wanita itu tidak mendekat. "Pergi! Menyingkir dariku, pergi!"
Yichen terus berjalan mundur sembari menutuo telinganya yang sudah mulai mengeluarkan darah.
"Yichen ada apa? Yichen! " Ruan Jian berusaha menenangkan Yichen yang tampak menggila.
Tuan Jian juga dibuat khawatir dengan kondisi telinga Yuchen yang telah mengekurkan banyak darah.
Yichen jatuh pingsan tepat saat itu juga.
Kesadaran Yichen mulai terkumpul kembali, ia melihat Ruan Jian dan Lulu yang berdiri di hadapannya dengan tatapan khawatir.
"Aku.. apa yang baru saja terjadi? " tanya Yichen dengan bingung.
"Yichen kamu berteriak saat aku mendekatimu tadi, lalu kamu menutup telingamu yang mulai berdarah setelahnya kamu jatuh pingsan. " Lulu menjelaskan dengan singkat apa yang baru saja terjadi pada Yichen
"Yichen ada apa? " Ruan Jian bertanya, mencoba memastikan kondisi sahabatnya.
Yichen akhirnya mulai menceritakan mengenai mimpi yang ia alami semalam, tentang rasa sakit yang diderita oleh tubuhnya, dan bahkan telinganya yang kadang berdengung.
3 hari kemudian.
Kesehatan fisik Yichen menurun, ia sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk, telinganya terkadang mengeluarkan darah segar bahkan ia sempat memuntahkan darah hitam dengan bau amis dari mulutnya
Ruan Jian merasa ada yang tidak beres, ia memaksa Yichen agar kembali ke kampung dan menanyakan apa yang sebenarnya dialami oleh Yichen beberapa hari terakhir.
Hari ini, mereka berdua berencana kembali ke kampung halaman.
Sesampainya di desa Yin, mereka langsung bergegas untuk menemui tetua desa.
"Tetua, " sapa keduanya saat bertemu dengan tetua desa.
"Kalian anak muda, apa ada kepentingan sehingga kalian kembali ke desa dan menemuiku? " tanya tetua desa.
Han Yichen mulai menceritakan kejanggalan dan rasa sakit yang ia derita beberapa hari terakhir, juga menceritakan mengenai bisikan aneh yang sering kali ia dengar.
"Apakah kamu sering melihat bayangan seorang wanita yang memakai hanfu Dinasti Yin yang berwarna putih?" Yichen mengangguk, membenarkan pertanyaan dari tetua desa.
"Wanita itu tidak memiliki bola mata bukan? Lehernya menunjukkan garis berwarna hitam kan? " Yichen sekali lagi mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu sepertinya dikutuk, dikutuk oleh seseorang yang kamu sakiti hatinya."
Yichen terbelalak mendengar pernyataan itu. Dia menyakiti hati seseorang? lelucon apa itu.
"Tetua, bagaimana mungkin aku menyakiti hati seseorang? Itu tidak masuk akal" sanggah Han Yichen.
"Mantra Nerdusa hanya bisa dilantunkan oleh mereka yang rasa sakit dan kecewanya tak lagi terbendung. Anak muda, kadang kau mungkin tidak sadar telah melakukan sesuatu yang melukai hati orang lain sedemikian sakitnya. "
"Tapi bukan berarti aku membenarkan dia yang melantunkan mantra terlarang ini. Sadari kesalahanmu terlebih dahulu, kemudian aku akan membersihkan dirimu dari kutukan." Tetua desa bangkit dan meninggalkan kedua pemuda itu yang sedang dilanda kebingungan.
"Yichen apa kamu melakukan sesuatu yang salah?" tanya Ruan Jian untuk memastikan
Yichen berpikir sejenak kemudian berkata, "sepertinya aku tidak melakukan tindakan kriminal bagaimana mungkin ada yang mengutukku. "
"Apa kau pernah mengucapkan sesuatu yang membuat orang lain sakit hati? " tanya Jian lagi
"Ohh ayolah, beberapa hari terakhir ini aku hanya mengobrol denganmu dan Lulu. " Yichen kemudian teringat dengan Jingyi yang sering menghantui pikirannya, "Jingyi! aku memutuskan jingyi secara sepihak dan sepertinya perkataanku waktu itu sangat melukainya."
"Pasti Jingyi yang berada di balik semua ini, wanita itu menganggapmu sebagai Poros dunianya, jika kau memutuskannya secara sepihak pasti sangat melukai hati gadis itu. " ucap Jian.
"Minta maaf lah pada Jingyi terlebih dahulu kemudian kita menemui tetua. "
Yichen menyetujui saran sahabatnya, ia membuka ponselnya dan mengirimkan sederet permintaan maaf pada jingyi.
"Aku di blokir, " wajah Yichen seketika memucat mengetahui itu.
Jian mengusap bahu Yichen, memberi ketangan pada sahabatnya, "yang penting kamu sudah minta maaf, ayo temui tetua yang berada di belakang. "
Di halaman belakang mereka berdua melihat tetua desa yang sedang menyiapkan lima obor yang mengelilingi sebuah lingkaran.
Ayam berwarna hitam disambelih oleh tetua dan darah ayam tersebut diteteskan pada bak berwarna hitam dengan garis merah tua yang mengelilinginya.
"Yichen duduklah pada lingkaran hlyang berada di tengah obor itu, " Tanpa banyak bertanya, yichen melaksanakan perintah dari terua desa.
"Ambil kendi dan pisau ini, sayat lengan kirimu mulai dari bahu hingga ke ujung jari tengah, " hati Han Yichen menegang, ia menggenggam gagang pisau yang diberikan oleh tetua dengan tangan gemetar. Logamnya terasa dingin seperti es. Ia menarik napas panjang, sebelum menyayat lengannya.
Ketika darah Yichen terjatuh ke dalam kendi terdengar suara raungan yang menggema mengelilingi mereka.
Tetua desa mengambil kendi itu kemudia menuangkan darah Yichen pada bak hitam yang terisi air dan darah ayam hitam.
"Saat aku memandikanmu menggunakan air ini, ucapkan mantra
Om śuddhaṃ raktaṃ nirvṛtiḥ,
duḥkhaṃ nivartaya, sukhaṃ pratinivartaya,
Nerdusāyāḥ bandhanaṃ mocaya,
ātmanāṃ pavitram kuru svāhā,
sambil membayangkan wajah orang yang telah kau sakiti. "
Bau amis darah tercium ketika air dari bak hitam itu mulai membasahi tubuh Yichen secara perlahan.
Yichen menutup matanya, mulai membayangkan sosok jingyi yang sempat ia sakiti sambil mengucapkan mantra, "Om śuddhaṃ raktaṃ nirvṛtiḥ,
duḥkhaṃ nivartaya, sukhaṃ pratinivartaya,"
Rasa sesak mulai menghampiri Yichen, bagaikan ada ribuan beton yang menimpa dadanya, tenggorokannya terasa dicekik oleh tangan yang tak kasat mata.
"Nerdusāyāḥ.... bandhanaṃ mocaya... "
Ketika bait ketiga selesai dilantunkan, terdengar jeritan yang menyayat hati namun menusuk gendang telinga mereka.
Secara perlahan, dari kobaran obor terlihat sosok yang berpakaian hanfu putih dengan gaya Dinasti Yin muncul di atas mereka.
Yichen kembali memfokuskan dirinya, dan melantunkan bait terakhir, "ātmanāṃ pavitram kuru svāhā.. "
Ketika bait terakhir selesai dilantunkan wujud wanita itu perlahan menghilang dari pandangan mereka.
"Ritual pembersihan telah selesai, bersihkan dirimu terlebih dahulu sebelum kembali ke kota, " ucap tetau, kemudian pergi berlalu meninggal keduanya.
Seusai membersihkan dirinya, Yichen dan Jian memutuskan untuk kembali ke kota malam itu juga.
Perjalanan dari desa Yin ke kota sangat jauh, memerlukan waktu sekitar 9 jam. Jika mereka kembali sekarang maka mereka akan tibadi kota tepat pukul 7 pagi.
Di waktu yang sama, gedung asrama A tepatnya kamar Jingyi.
Jingyi baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ekor matanya tanpa sengaja menangkap sosok wanita yang berpakaian hanfu berwarna putih.
Sosok itu sangat familiar bagi jingyi, namun entah mengapa tak ada perasaan akrab sama sekali. Hawa sosok itu kali ini terasa mencekam.
Ju jingyi secara perlahan mulai merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Mata, hidung, telinga dan mulutnya mulai mengeluarkan darah.
Seluruh organ dalam tubuh Jingyi serasa dicengkram oleh tangan tak kasat mata.
Wanita berpakaian hanfu putih itu mengangkat lengannya, jemarinya memanjang mengarah ke arah jingyi yang sedang meronta kesakitan.
"Akhh! ampuni aku!" Teriak jingyi
Kuku dari sosok itu secara perlahan menembus kulit jingyi, dan hampir menembus jantung jingyi.
Jingyi terus meronta hingga ia terlepas, ia terus melangkah mundur, hingga kini berada di dekat jendela yang terbuka.
Wanita itu mendekat dengan langkah pelan, setiap langkah kakinya meninggalkan bercak darah pada lantai.
"Tidak, jangan mendekat! Kumohon jangan mendekat.. " Jingyi mulai naik ke pembatas jendela, terus bergerak mundur hingga tak sadar jika tak ada celah untuk mundur lagi.
"Selamat tinggal, jingyi. Kematianmu akan menjadi hadiah terbaik untuk Yichen." Bau amis tercium ketika sosok itu berbicara.
Tangan wanita itu mulai mendekat ke arah jingyi, kali ini tangannya berhasil mencengkram jantung jingyi.
Sosok itu menghancurkan jantung Jingyi, kemudian mendorong tubuh jingyi yang telah tak bernyawa.
Malam itu merupakan hari kematian yang tak pernah Jingyi harapkan.
Pagi harinya, tepat pukul 7 pagi.
Mobil milik Yichen memasuki area asrama kampus.
"Ada apa di gedung asrama A itu? Mengapa begitu ramai di pagi hari seperti ini? " Pertanyaan dari Jian itu menimbulkan rasa penasaran dalam diri Yichen.
"Ayo turun dan cari tau. " Mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arah kerumunan.
Yichen diam terpaku, ia dibuat syok dengan pemandangan yang berada di depan matanya.
Tepat di depannya, tubuh Jingyi tertancap pada sebuah tiang, tanah yang berada di bawahnya sudah dilumuri oleh warna merah pekat.
"Jingyi...." Yichen berujar lemah, seketika pandangannya terasa buram dan ia jatuh pingsan.
Jian yang berada di dekat Yichen tidak menunjukan terlalu banyak ekspresi, ia hanya menopang tubuh Yichen yang telah pingsan.
"Apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai. Balas dendam tak akan pernah memberikan akhir yang baik untuk siapapun yang menyimpan dendam. "
Jian menjauh dari arah kerumunan sembari menggendong Yichen ke arah mobil.