Sialan... benar-benar sialan.
Langkah kakiku terasa berat seketika saat pintu rumah itu kubuka. Belum sempat aku meletakkan tas dan duduk sejenak untuk menenangkan napas, suara amarah itu sudah meledak menyambutku. Ayahku berdiri di ambang pintu ruang tengah, matanya menatap tajam penuh kemurkaan, dan dari mulutnya yang terbiasa melontarkan celaan, kembali meluncur kalimat-kalimat yang begitu tajam dan menyakitkan.
"Kau dipecat? Kau memang tidak berguna! Sejak dulu kau hanya membawa kesialan ke rumah ini!"
Aku hanya diam. Tak membantah. Tak menatapnya. Hanya menunduk menatap lantai yang kusam, menelan rasa pahit yang seketika memenuhi kerongkonganku. Benar-benar aneh. Dia yang setiap hari bolos bekerja, yang sering mengeluh sakit namun tetap kuat berdiri dan berteriak sepuas hati... justru dia yang paling keras menghakimiku saat aku jatuh. Di luar sana aku diusir tanpa alasan yang pantas. Di dalam rumah... aku diperlakukan seolah aku adalah kesalahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupnya. Aku adalah sampah. Lebih buruk dari sampah yang dipungut dari jalanan.
Aku melangkah keluar kembali ke halaman, meninggalkan suara teriakan yang terus memburu di belakangku. Malam telah turun sepenuhnya. Angin dingin menyapu wajahku yang terasa panas menahan amarah dan air mata yang tak kunjung jatuh. Aku mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menghisapnya perlahan... dalam... hingga asap itu memenuhi paru-paruku yang terasa sesak, lalu keluar kembali berbaur dengan udara malam yang dingin.
Aku berdiri di sana sendirian, membiarkan asap itu melayang hilang di udara, sambil bergumam pelan pada diriku sendiri:
"Aku dipecat... cintaku bertepuk sebelah tangan... di rumah aku diperlakukan seperti sampah..."
Tak ada jawaban. Hanya keheningan malam yang menyambutku. Hanya kesepian yang kian merapat.
Namun di tengah segala kekacauan dan kepahitan itu... bayangan wajahnya kembali muncul. Wajah Muna. Senyumnya. Tawanya. Yang seakan-akan terus menatapku dan tertawa mengejekku dari balik kegelapan malam. Lihatlah dirimu... kau tak berharga... kau bahkan tak pantas kucintai... seakan itu yang tersirat di balik senyumnya.
Benar-benar menjengkelkan. Sungguh menjengkelkan hingga rasanya aku ingin memukul dinding hingga tanganku berdarah. Namun anehnya... meski dia begitu menyakitkan... meski senyumnya terasa seperti cemohan... aku tetap saja mencintainya. Hatiku tetap kembali kepadanya. Bodoh. Aku tahu aku bodoh. Tapi aku tak sanggup melawannya.
Aku mengeluarkan ponsel dari saku, berniat mengalihkan pikiran dengan menonton anime seperti malam-malam yang lalu. Namun kali ini... mataku menatap layar itu tanpa benar-benar melihat apa pun. Setiap kali tawa terdengar dari layar, hatiku justru terasa semakin perih. Aku tak bisa tertawa. Aku tak punya alasan untuk tertawa. Semua hal yang dulu menghiburku kini terasa hambar dan tak berarti.
Jari-jariku bergerak sendiri membuka sebuah aplikasi percakapan. Aplikasi tempat orang-orang saling mengenal dan mencari teman dari berbagai penjuru dunia. Aku mulai mengobrol dengan banyak wanita. Dari berbagai negara, dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun hatiku tetap kosong. Tak ada satu pun yang mampu mengisi ruang yang telah lama terisi penuh oleh wajah Muna.
Hingga aku berkenalan dengan seorang wanita yang berasal dari Jepang. Namanya Hijiri.
Berkat lima tahun lamanya aku menonton anime, aku lumayan paham bahasa yang mereka ucapkan. Namun saat ia menuliskan kalimat-kalimat panjang, aku kembali bingung. Huruf-huruf itu tampak indah namun maknanya tak sepenuhnya kucerna. Aku tersenyum getir sendiri. Betapa jauhnya dia dariku... dan betapa jauh pula kenyataan dari mimpiku yang dulu ingin menikahi wanita Jepang. Namun di antara sekian banyak percakapan yang terasa hambar... obrolan dengan Hijiri entah mengapa terasa sedikit lebih ringan. Tidak ada tekanan. Tidak ada paksaan. Hanya pertukaran cerita dan kabar yang saling menyapa setiap malam.
Namun sekalipun begitu... hatiku tetap tak beralih. Setiap kali layar ponsel kumat dan muncul nama Hijiri... di benakku justru wajah Muna yang kembali muncul. Setiap kali aku hendak terlelap... senyum Muna kembali melintas. Setiap kali aku tersenyum tipis membaca pesan Hijiri... bayangan tawa Muna yang mengejek kembali terdengar di telingaku.
Kenapa? Kenapa dia selalu datang? Kenapa wajahnya tak pernah mau pergi dari kepalaku tepat saat aku berusaha melupakannya? Apakah ini hukuman? Apakah ini harga yang harus kubayar karena mencintainya?
Pertanyaan itu terus berputar tanpa henti di kepalaku, malam demi malam, hingga perlahan... perasaan yang dulu begitu tulus dan lembut itu... perlahan berubah. Rasa cinta yang dulu begitu dalam kini bercampur dengan rasa sakit yang tak tertahankan. Dan rasa sakit itu perlahan berubah menjadi rasa benci. Benci karena dia tak pernah menoleh. Benci karena dia tak pernah menyadari. Benci karena dia begitu bahagia sementara aku hancur berkeping-keping. Namun lebih dari itu... aku benci diriku sendiri yang tak sanggup melepaskannya.
Satu minggu berlalu begitu saja. Tanpa kabar baik. Tanpa harapan baru. Aku belum mendapatkan pekerjaan apa pun. Uang yang kami miliki di rumah semakin menipis. Hingga akhirnya... bahkan uang lima ratus perak pun tak ada di saku celanaku. Kami jatuh miskin. Benar-benar jatuh hingga ke dasar tanah yang paling dalam. Setiap hari makin terasa sesak. Setiap tatapan ayahku makin penuh kebencian. Setiap sudut rumah itu makin terasa seperti penjara yang sempit dan pengap.
Aku muak. Aku benar-benar muak! Aku ingin pergi! Aku ingin lepas dari lingkaran setan ini yang terus berputar dan menyeretku semakin dalam ke bawah!
Dan malam itu... tepat saat aku berdiri mematung di tengah kegelapan dan keputusasaan... telepon berdering. Dari Hijiri.
Suaranya terdengar jernih dan tenang di seberang sana. Ia menyapaku seperti biasa, lalu perlahan menyampaikan sesuatu yang membuat jantungku berdetak kencang tak seperti biasanya. Di tempat Hijiri bekerja, di Jepang sana... ada sebuah lowongan pekerjaan. Dan ia menyarankanku untuk mencoba melamar.
Hatiku seketika tergerak. Sebuah harapan yang sempat lama mati perlahan kembali menyala pelan di dadaku. Bukan hanya karena pekerjaan itu. Tapi karena... aku harus pergi. Aku harus pergi dari rumah ini. Dari tempat di mana aku diperlakukan lebih menjijikkan daripada sampah oleh ayahku sendiri. Dari tempat di mana setiap sudutnya penuh kenangan menyakitkan. Dari tempat di mana setiap hari aku dipaksa melihat kenyataan yang menghancurkan hatiku.
Namun hal yang benar-benar mematahkan sisa hatiku yang masih utuh... hal yang akhirnya membuatku bulat tekad untuk pergi... terjadi tepat setelah pembicaraan itu berakhir.
Aku membuka media sosial. Dan di sana... di halaman Muna... sebuah video baru saja ia unggah.
Tanganku gemetar hebat saat menekan tombol putar. Mataku menatap layar dengan napas tertahan. Dan saat itu... saat itu juga... rasanya seolah seluruh darah di tubuhku berhenti mengalir.
Di dalam video itu... Muna tersenyum begitu cantik. Begitu cerah. Namun bukan di samping satu orang saja. Dia sedang duduk bersama banyak pria sekaligus. Tertawa riang. Menyapa mereka. Seolah-olah semua orang itu adalah bagian dari hidupnya. Seolah-olah dia tak pernah benar-benar milik siapa pun. Seolah-olah kesetiaan dan cinta tulus yang kuberikan dari jauh selama ini... hanyalah hal yang tak berarti baginya. Bahkan mungkin... ia sengaja melakukannya... seakan ingin menunjukkan kepadaku betapa tak berharganya perasaanku.
Apa-apaan ini?!
Panas menjalar dari dada naik ke leher hingga ke wajahku. Dadaku terasa sesak luar biasa. Napasku tercekat. Rasa marah, malu, dikhianati, dan hancur sekaligus meledak di dalam dadaku. Itu bukan sekadar kencan. Itu adalah penghinaan. Penghinaan terbesar untuk cinta yang kusimpan begitu tulus dan murni untuknya selama ini. Cintaku yang kusimpan rapat-rapat, yang kujaga agar tetap suci... ternyata baginya tak lebih dari sekadar tontonan yang bisa ia permainkan sesuka hatinya.
Aku tak sanggup lagi bertahan di sini. Aku tak sanggup lagi berdiri di tanah yang sama dengan tempatnya berdiri. Ini bukan lagi rumah. Ini bukan lagi kotaku. Ini adalah neraka bagiku. Neraka yang diciptakan oleh ayahku... dan oleh wanita yang kucintai namun tak pernah menghargainya sedikit pun.
Aku menarik napas panjang... mengembuskannya perlahan... membiarkan air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh membasahi pipi yang kian dingin. Aku menatap langit malam yang gelap tanpa bintang... dan di dalam hatiku... aku berbisik pelan... kepada sosok yang kini telah jauh di atas sana...
"Ibu... jika kau mendengar doaku dari sana... tolong doakan aku... Aku akan pergi. Aku akan pergi jauh dari sini... meninggalkan semuanya. Doakan aku..."
Aku pun berbalik perlahan. Melangkah menjauh dari segala luka. Melangkah pergi dari segala penghinaan. Melangkah menuju tempat yang jauh... tempat di mana tak ada satu pun orang yang mengenalku. Tempat di mana aku bisa memulai kembali. Atau setidaknya... tempat di mana aku tak perlu lagi melihat wajahnya... dan hatiku perlahan bisa berhenti berdarah.