Malam itu, asap rokok satu per satu melayang ke atas, lenyap di udara kamar yang sepi dan remang. Di hadapanku tinggal bungkus yang sudah kosong, dan di dadaku... rasa sakit yang masih utuh, masih berdenyut pelan namun tak pernah benar-benar mereda. Aku telah memilih jalannya sendiri — mencintainya dari tempat yang tak akan pernah ia jangkau, mencintainya meski setiap detik terasa seperti pisau yang perlahan membelah dadaku. Dan malam itu, aku kembali menyadari satu hal: aku tak akan bisa tidur. Bukan karena rokok yang kubakar habis satu bungkusnya. Tapi karena bayangannya terus berdiri di kelopak mataku, tersenyum bahagia di samping orang lain, dan senyum itu... bukan untukku.
Pagi pun tiba dengan berat yang tak terlukiskan. Aku kembali mengenakan pakaian yang sama, melangkah keluar menuju jalan yang sama, menuju kantor yang sama. Setiap langkah terasa berat, sepatu yang kupakai seolah terbuat dari timah yang kian hari kian menekan kakiku ke tanah. Namun aku tetap melangkah. Aku tak punya pilihan lain selain terus berjalan di jalur yang telah kutapak selama ini.
Sesampainya di kantor, napasku seketika tertahan. Dadaku terasa sesak, begitu sesak hingga aku harus menelan ludah berulang kali agar tetap bisa berdiri tegak. Di sana... di ruangan yang sama, di tempat yang sama... terlihat dia. Wanita yang kucintai. Wanita yang sejak hari pertama mengubah seluruh duniaku menjadi lebih berwarna sekaligus lebih menyakitkan. Dia berdiri tersenyum di samping temanku. Tangan mereka saling bertaut. Tatapan mata mereka begitu hangat, begitu penuh kasih, seolah tak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua.
Hatiku kembali terasa remuk. Ternyata bukan mimpi... batiniku berbisik getir. Semua rasa sakit yang kurasakan kemarin malam itu nyata. Semua air mata yang jatuh di pipiku itu nyata. Namun aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Tak apa-apa... tak apa-apa... aku mencoba membujuk hatiku yang berdarah-darah ini. Selama dia bahagia... aku ikut bahagia. Meski bahagia itu bukan kuberikan.
Namun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku tahu... aku tak pernah benar-benar ingin melupakannya. Meski setiap hari menyakitkan, meski setiap senyumnya untuk orang lain... aku tetap tak sanggup melepaskannya. Aku tetap bertahan. Aku tetap berdiri di sini, menatapnya dari jauh, cukup jauh agar tak terlihat, cukup dekat agar tak kehilangan jejaknya. Aku bahagia melihatnya bahagia dengan pilihannya — begitulah yang selalu kuucapkan pada diriku sendiri, walau hatiku berteriak sebaliknya.
Hari-hari pun berjalan begitu saja. Pagi berangkat, siang bekerja, sore pulang dengan langkah yang kian terasa berat. Hingga suatu siang, sesuatu yang baru muncul di tengah rutinitas yang kelabu itu. Seorang wanita melangkah masuk ke ruangan kantor kami. Wajahnya segar, senyumnya ramah, dan suaranya terdengar lembut namun tegas. Itu adalah karyawan baru. Namanya Rani.
Belakangan aku tahu, Rani adalah sahabat dekat wanita yang kucintai. Wanita itu... Muna. Ya, namanya Muna. Nama yang kini terukir begitu dalam di hatiku, begitu dalam hingga tak mungkin lagi terhapus walau waktu terus berlalu. Rani pun ternyata sudah memiliki kekasih. Kabar itu terdengar begitu saja dari percakapan rekan-rekan lain. Hidupnya pun sudah berjalan pada jalannya sendiri, sama seperti Muna, sama seperti temanku yang kini berjalan bergandengan tangan dengan Muna setiap hari. Dan aku... aku hanya penonton yang berdiri di sisi paling gelap panggung ini.
Namun waktu terus berjalan. Hubungan temanku dengan Muna terasa semakin dekat, semakin terang-terangan. Di kantor, di jalan pulang, di mana pun kulihat... mereka berdua selalu bersama. Tawa mereka terdengar begitu hangat, begitu penuh kebahagiaan. Setiap kali melihatnya, dadaku kembali terasa hancur. Setiap senyum Muna yang terarah kepada temannya... adalah serpihan yang kembali menambah tumpukan reruntuhan hatiku. Aku tersenyum melihatnya, namun di dalam dada... hujan turun tanpa henti.
Di saat yang sama, sesuatu yang tak terduga mulai terjadi. Rani yang baru beberapa minggu bergabung... sepertinya mulai sering berbicara denganku. Sering menyapaku, sering berhenti di dekat mejaku hanya untuk sekadar menanyakan hal-hal kecil. Aku tak terlalu memikirkannya hingga suatu hari, rekan-rekan kantor mulai berbisik-bisik di belakangku, lalu tersenyum penuh makna saat aku melintas.
"Kau tahu... Rani sepertinya menyukaimu," bisik salah seorang rekan sambil tersenyum menggoda.
Aku terdiam di tempat. Bingung. Tak mengerti. Apa yang terlihat dariku? Apa yang istimewa dari pria biasa yang hidupnya hanya berisi kesepian dan rasa sakit seperti diriku? Aku menggeleng pelan, mencoba menepisnya. "Mungkin hanya perasaan biasa saja," jawabku pelan, lebih kepada diriku sendiri. Aku sadar siapa diriku. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan orang yang pantas diharapkan oleh siapa pun. Terlebih lagi... Rani sudah memiliki kekasih. Aku tak ingin menjadi alasan bagi siapa pun untuk terluka.
Namun hari-hari berikutnya membuatku semakin bingung. Setiap kali rekan-rekan kantor mulai menjodoh-jodohkan aku dengan Rani, setiap kali mereka tertawa dan menyebut nama kami berdua dalam satu kalimat... Muna ikut tertawa. Dia tertawa begitu gembira, begitu tulus, seolah hal itu sungguh lucu dan menyenangkan.
Dan saat itulah... hatiku kembali terasa ditusuk ribuan jarum yang lebih tajam dari sebelumnya.
Dia tertawa. Wanita yang kucintai itu tertawa bahagia... melihat orang lain menjodohkan aku dengan wanita lain. Seolah tak ada sedikit pun rasa keberatan di dadanya. Seolah tak ada sedikit pun rasa cemburu atau haru. Dia hanya tertawa. Tawa yang begitu indah di telinga siapa pun... namun bagiku... itu adalah suara yang menghancurkan sisa-sisa hatiku yang masih utuh.
Apakah dia tidak tahu? Apakah dia tidak pernah menyadari? Bahwa setiap kali kulihat ke arahnya... mataku tak pernah berpaling pada siapa pun? Bahwa hatiku tak pernah tersisa untuk wanita lain? Bahwa Rani... siapa pun dia... tak akan pernah bisa menggantikan tempatnya di hatiku? Bahwa aku tak menginginkan siapa pun selain dia?
Apakah salah aku mencintainya? Apakah salah aku ingin memilikinya? Apakah salah jika aku berharap... sekali saja... dia menoleh dan melihat ke arahku, menyadari bahwa ada seseorang yang telah berdiri menunggunya sejak hari pertama, mencintainya lebih dari siapa pun, lebih dari dirinya sendiri?
Namun dia hanya tertawa. Tawa yang bahagia, tawa yang tanpa beban. Dan di hadapan tawanya itu... aku merasa begitu kecil, begitu tak berarti, begitu tak terlihat.
Hari-hari berikutnya terasa semakin berat. Setiap pagi aku semakin malas berangkat bekerja. Setiap kali melangkah masuk ke ruangan kantor, napasku terasa sesak. Kepalaku dipenuhi bayangan wajah Muna yang tertawa gembira setiap kali namaku disebut bersama Rani. Apakah dia benar-benar tak tahu? Atau dia tahu... namun sengaja bersikap seolah tak tahu, agar aku segera mengerti dan berhenti mencintainya?
Entahlah... Aku lelah. Sungguh lelah.
Hingga akhirnya, satu keputusan terucap dari dalam hatiku yang telah rapuh itu. Aku tak bisa lagi menahan semua ini. Aku tak bisa lagi berdiri di sini setiap hari, menatapnya bahagia di samping orang lain, sambil hatiku perlahan hancur berkeping-keping tanpa ada yang tahu. Aku harus pergi.
Dengan langkah yang berat dan perasaan sakit yang sedalam samudra, aku melangkah menuju ruangan kantor kepala kantor. Aku harus mengundurkan diri. Aku harus pergi dari tempat ini — tempat di mana aku meninggalkan cinta pertamaku, tempat di mana aku belajar mencintai seseorang dengan tulus namun tak pernah sempat mengucapkannya.
Aku berdiri di depan pintu ruangan itu, menarik napas panjang, menyusun kekuatan untuk mengucapkan kata perpisahan. Namun sebelum aku sempat membuka mulut... pintu itu terbuka dari dalam. Dan sebelum satu kata pun terucap dariku... bosku sudah lebih dulu berbicara.
"Maaf, Jhon... ada kebijakan baru. Kau terpaksa harus berhenti bekerja di sini, terhitung mulai hari ini."
Aku tertegun sejenak. Tak marah. Tak kaget. Tak pula memohon. Aku hanya tersenyum. Sebuah senyum yang begitu getir, begitu hampa, namun entah mengapa... terasa begitu tenang. Seolah semua hal yang terjadi hari ini memang sudah seharusnya begini. Seolah dunia ini memang tak pernah membiarkan satu hal pun berjalan baik untukku.
"Baik, Pak," jawabku pelan. "Terima kasih untuk semuanya."
Aku pun berbalik dan melangkah keluar. Tanpa banyak bicara. Tanpa menoleh ke belakang. Aku meninggalkan kantor ini — tempat yang selama ini menjadi saksi perjuanganku, tempat di mana aku pertama kali melihatnya, tempat di mana hatiku tumbuh dan sekaligus hancur. Aku meninggalkan cinta pertamaku di sini. Di ruangan yang sama, di sudut yang sama... di tempat yang tak akan pernah bisa kupunya.
Apakah aku sanggup melangkah pergi? Entahlah... Aku tak tahu.
Dunia ini terasa begitu kejam padaku. Terlalu banyak hal yang tak berjalan sesuai harapanku. Terlalu banyak luka yang kuterima tanpa pernah memintanya. Namun apa yang bisa kulakukan? Aku hanyalah seorang pria biasa yang tak memiliki kekuatan untuk mengubah takdir. Aku hanya bisa menerima. Aku hanya bisa berjalan terus meski kakiku terasa penuh luka.
Namun... di tengah segala kepahitan ini... ada satu hal yang masih tersisa di dalam dadaku. Satu hal yang tak pernah benar-benar mati.
Aku masih ingin menggapai mimpiku. Mimpi yang mungkin terasa mustahil bagi siapa pun. Mimpi yang mungkin tak akan pernah menjadi kenyataan. Namun setidaknya... sekali lagi... dalam hidupku ini... aku ingin berjuang. Bukan untuk diakui siapa pun. Bukan untuk dimiliki siapa pun. Tapi agar aku tak menyesal seumur hidupku karena tak pernah sekalipun mencoba melawan takdir yang terasa begitu kejam padaku.
Jika kali ini pun usahaku gagal... jika mimpi itu tetap tak terjangkau... maka aku akan pergi. Aku akan melangkah jauh, sangat jauh... ke tempat di mana tak ada satu pun orang yang mengenalku. Ke tempat di mana namaku tak akan pernah disebut lagi. Ke tempat di mana aku bisa menghabiskan sisa hidupku dalam kesepian yang tenang, tanpa harus melihatnya bahagia bersama orang lain, tanpa harus merasakan sakit yang tak kunjung usang ini.
Namun sebelum pergi... aku akan berjuang sekali lagi. Hanya sekali lagi. Untuk diriku sendiri. Untuk hatiku yang masih berdetak meski penuh luka. Untuk mimpi yang kugenggam erat meski terasa mustahil.
Dan di tengah langkahku yang perlahan menjauh dari kantor itu... dari tempat terakhir kali aku melihatnya... satu hal tetap kusimpan rapat di dalam hatiku, satu hal yang hanya aku yang tahu...
Bahwa aku mencintainya. Bahwa aku akan selalu mencintainya. Bahwa tak ada satu pun orang lain di dunia ini yang bisa menggantikan tempatnya. Dan biarlah... biarlah ini menjadi rahasia yang hanya aku yang tahu... selamanya.