Salju turun begitu perlahan di langit malam itu, menyelimuti seluruh desa dengan warna putih yang senyap dan dingin. Di sebuah rumah kayu yang berdiri terpencil di pinggiran desa, jauh dari cahaya lampu-lampu jalan, seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Kulitnya seputih salju yang jatuh di luar jendela, dan rambutnya yang tumbuh tipis namun berwarna merah lembut seketika membuat siapa pun yang melihatnya terpaku. Ibu yang melahirkannya tersenyum lemah sambil menyentuh wajah mungil itu. Ia memberinya nama Scarlet.
Sejak hari itu, hanya ada mereka berdua di rumah itu. Hanya ibu dan anak. Ayahnya tak pernah terlihat. Tak ada foto, tak ada barang peninggalan, tak ada satu pun jejak yang menunjukkan bahwa pria itu pernah ada di antara mereka. Setiap kali Scarlet bertanya, jawaban ibunya selalu sama — lembut, tenang, namun penuh penghalusan: "Ayah sedang bekerja jauh, Nak... ayah akan pulang saat waktunya tiba."
Lima belas tahun berlalu. Scarlet tumbuh menjadi gadis yang cantik, dengan kulit yang tetap seputih salju dan rambut kemerahan yang kini menjuntai panjang. Namun di balik wajahnya yang tenang, ada sesuatu yang terus menggerogoti hatinya. Setiap hari, setiap malam, pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya: Siapa sebenarnya ayahku? Mengapa ia tak pernah pulang? Mengapa ia tak pernah menulis surat?
Malam itu, salju kembali turun deras, menutupi jalan setapak dan menyelimuti atap rumah kayu mereka. Angin menderu pelan di sela-sela dinding. Scarlet duduk di tepi tempat tidur, menatap ibunya yang sedang merajut di dekat perapian. Cahaya api menari-nari di wajah tua itu, namun tak mampu menyembunyikan kerutan yang semakin dalam dan pandangan mata yang sering kali tampak kosong menatap ke kejauhan.
"Bu..." suara Scarlet terdengar pelan namun jelas memecah keheningan. "Ayah... kemana sebenarnya?"
Tangan ibunya berhenti bergerak seketika. Benang rajut di jarinya terhenti. Ia mengangkat wajah perlahan, menatap mata anaknya dengan senyum yang dipaksakan, lembut namun terasa begitu tipis dan rapuh.
"Ayah sedang bekerja di luar sana, Nak..." ucapnya dengan nada yang selalu sama, lembut dan menenangkan, seolah kalimat itu adalah satu-satunya jawaban yang ia miliki. "Ia sedang menabung... agar kelak kau bisa hidup layak. Sabarlah... ia akan pulang."
Scarlet menatapnya lama. Di dalam hatinya, ia tahu. Ia tahu ibunya berbohong. Ia tahu kata-kata itu hanyalah selimut tipis yang disusupi kebohongan demi melindunginya dari kenyataan yang pahit. Namun ia tak langsung menyanggah. Ia hanya menunduk perlahan, menelan rasa sakit yang tiba-tiba naik ke kerongkongan, dan berjalan kembali ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.
Sebenarnya... ia sudah tahu jawabannya. Sudah sejak lama.
Beberapa minggu yang lalu, saat ibunya pergi ke hutan mencari kayu bakar, Scarlet tanpa sengaja menemukan sebuah kotak kayu tua yang terselip jauh di bawah tumpukan pakaian di lemari paling atas. Di dalamnya, tak ada perhiasan, tak ada surat cinta. Hanya secarik kertas yang sudah menguning dan sedikit lembap, dengan tulisan tangan yang kasar dan penuh amarah. Tulisan itu begitu tajam hingga seakan masih terasa panas saat matanya membacanya pelan-pelan:
"Kau wanita bajingan! Dia bukan anakku! Aku bahkan tidak pernah berhubungan denganmu sejak malam pernikahan kita!"
Scarlet masih ingat betul bagaimana rasanya saat itu. Dunianya seketika runtuh. Kakinya terasa lemas. Napasnya tertahan di kerongkongan seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya dari dalam. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi kertas itu sedikit saja sebelum ia buru-buru menyekanya. Ia tak ingin ibunya tahu bahwa ia sudah membacanya. Ia tak ingin melihat wajah ibunya yang penuh rasa bersalah dan malu.
Ia melipat kembali kertas itu, menyimpannya kembali ke tempat semula, lalu masuk ke kamarnya dan memeluk lutut erat-erat di sudut ruangan yang gelap. Di sana, di dalam kesunyian yang dingin, kata-kata itu terus berputar kembali di kepalanya, berulang-ulang, seakan dipukulkan palu besi ke pelipisnya berkali-kali:
Dia bukan anakku! Dia bukan anakku! Dia bukan anakku!
Lantas... aku anak siapa?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, menyayat hatinya sendiri hingga terasa berdarah-darah. Jika pria itu bukan ayahnya... jika sejak malam pernikahan mereka tak pernah bersama... lalu dari mana ia berasal? Siapa ayahnya sebenarnya? Mengapa ibunya menyembunyikannya? Mengapa ia dilahirkan sebagai anak yang keberadaannya seakan tak diinginkan oleh siapa pun?
Ayah... aku anak siapa?
Jeritan itu bergema di dalam dadanya, tak mampu meloloskan diri menjadi suara. Hatinya terasa begitu sesak, begitu hancur, begitu hampa. Ia merasa seketika tak memiliki akar, tak memiliki asal-usul, tak memiliki tempat untuk pulang. Ia adalah anak yang tak diinginkan oleh ayahnya sendiri — bahkan mungkin tak diketahui siapa ayahnya. Rasa malu, sakit, dan ketakutan bercampur menjadi satu, melukainya sedalam-dalamnya hingga akhirnya kelelahan itu menyeretnya perlahan masuk ke dalam tidur yang gelap dan tak terhindarkan.
Namun tidur malam itu bukan tempat istirahat baginya. Itu adalah pintu masuk menuju neraka yang jauh lebih mengerikan.
Di dalam mimpinya, Scarlet berdiri di sebuah tempat yang serba kelabu dan tak bertepi. Tak ada langit, tak ada tanah. Hanya kabut tebal yang berputar perlahan di sekelilingnya. Ia tampak begitu kecil, begitu rapuh, berdiri gemetar sendirian di tengah kekosongan yang mencekam.
Lalu... mereka muncul.
Puluhan sosok pria melangkah keluar dari balik kabut. Tubuh mereka samar-samar, tak jelas bentuknya. Yang paling mengerikan adalah wajah mereka — tak ada mata, tak ada hidung, tak ada mulut. Permukaan wajah mereka halus dan kosong selembar kertas putih. Namun meski tak bermulut, suara mereka terdengar begitu jelas, begitu keras, dan begitu mengerikan.
Mereka berhenti melingkarinya. Puluhan sosok tanpa wajah berdiri mengelilingi Scarlet yang kini sudah berlutut di tanah tak kasat mata, menutup telinga dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. Dan serentak... bergema dari segala arah, suara itu meledak bersama:
"KAU BUKAN ANAKKU!"
"KAU ANAK HARAM!"
"MATI SAJA!"
Suara itu bukan datang dari luar saja — suara itu seakan keluar dari dalam kepalanya sendiri. Dari setiap sudut, dari setiap arah, dari masa lalu dan masa depan. Menuduhnya. Mencacinya. Mengutuknya. Kata-kata itu menghantam dadanya seperti batu besar bertubi-tubi, membuat napasnya terhenti, membuat dadanya terasa sesak hingga nyaris pecah.
Scarlet terbangun dengan tersentak hebat.
Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamarnya yang remang-remang diterangi cahaya bulan yang masuk lewat celah jendela. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin yang sedingin salju di luar. Napasnya memburu tak beraturan, tarikan napasnya pendek dan menyakitkan. Dadanya naik turun dengan kasar, seakan ada beban berat yang menindihnya terus-menerus.
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun udara seakan menolak masuk ke paru-parunya. Sesak itu semakin menjadi-jadi. Jantungnya berpacu begitu cepat dan begitu keras hingga ia bisa mendengar detakannya di telinganya sendiri. Tubuhnya mulai gemetar — bukan karena hawa dingin yang menyusup ke dalam kamar, melainkan karena ketakutan yang meledak dari dalam jiwanya sendiri. Rasa takut yang begitu murni, begitu dahsyat, hingga seluruh sarafnya menegang keras dan kaku.
Kakinya melengkung hebat. Tangannya mencengkeram selimut hingga buku-buku jarinya memutih. Seluruh tubuhnya kejang-kejang pelan namun menyakitkan, napasnya terputus-putus, wajahnya memucat seputih salju di luar sana. Pandangannya mulai kabur. Bunyi di telinganya semakin nyaring. Bayangan puluhan wajah kosong itu masih melayang-layang di hadapannya, menatapnya tanpa mata, dan kata-kata itu terus bergema di kepalanya tanpa henti.
Anak haram... mati saja... anak haram...
Di tengah kesadarannya yang mulai menipis, di tengah rasa sakit yang menyergap seluruh tubuhnya, ia mendengar suara pintu terbuka. Langkah kaki tergesa-gesa mendekat. Dan suara yang paling ia kenal — suara ibunya yang kini terdengar begitu panik, begitu ketakutan, memanggil namanya berulang kali dengan suara yang pecah:
"Scarlet! Scarlet anakku! Apa yang terjadi?! Buka matamu, Nak! Scarlet!"
Ia ingin menjawab. Ia ingin memeluk ibunya. Ia ingin berkata betapa takutnya ia. Namun kata-kata itu tak kunjung keluar. Kekuatan perlahan meninggalkan tubuhnya. Cahaya di matanya perlahan meredup. Suara ibunya yang terus memanggil namanya semakin terdengar samar, semakin jauh, seakan ditarik menjauh ke dalam air yang dalam dan gelap.
Dan akhirnya... semuanya menjadi gelap sepenuhnya.