Namaku Jhon. Aku lahir di sebuah keluarga yang begitu biasa, hingga terasa seolah dunia tak pernah benar-benar menoleh ke arah kami. Kini usiaku sudah menginjak angka dua puluh lima tahun. Bagi anak-anak muda sebayaku, mungkin ini adalah usia yang tepat untuk mulai memikirkan pasangan hidup, membangun rumah tangga, dan melangkah menuju masa depan yang lebih terang. Namun aku berbeda. Aku memilih jalan yang sepi, jalan yang tak berisi siapa pun selain bayanganku sendiri.
Aku bekerja di sebuah kantor yang sederhana. Gajiku sungguh tidak seberapa. Jika aku hitung-hitung dengan jari, uang yang kuterima dalam satu minggu itu nyaris hanya cukup untuk membeli bensin motorku dan sebungkus rokok yang menjadi teman setiaku sepanjang hari. Namun aku tidak pernah mengeluh. Setiap kali rasa ingin mengeluh itu muncul di tenggorokanku, aku segera menelannya kembali. Aku tahu betapa sulitnya mencari pekerjaan di zaman yang semakin kejam ini. Setiap orang berlari mengejar rezeki, berdesak-desakan, dan aku hanyalah satu dari sekian banyak orang yang berusaha bertahan sekuat tenaga tanpa meminta lebih.
Setiap sore, setelah jam kerja selesai, aku melaju membelah jalanan pulang menuju rumahku yang sederhana. Dan setiap kali pintu rumah itu kubuka, yang kulihat hanyalah dua orang adikku dan ayahku. Rumah terasa sepi dan berantakan, namun tak ada satu pun dari mereka yang bergerak membereskan apa pun. Ibuku telah tiada sejak aku berusia lima belas tahun. Sejak hari itu, sepotong besar kehangatan di rumah ini ikut lenyap bersamanya.
Ayahku kini berusia hampir empat puluh tahun. Namun sayangnya, ia bukanlah sosok ayah yang menjadi sandaran. Ia seorang pemalas. Sering kali ia bolos bekerja dengan alasan sedang sakit. Namun yang membuatku selalu bertanya-tanya dalam hati — jika tubuhnya sakit, mengapa ia masih bisa berdiri tegak dan melontarkan amarah kepadaku setiap hari tanpa henti? Entahlah. Aku sudah lelah memikirkannya. Aku memilih untuk tidak peduli. Setiap kali aku pulang, hampir tak pernah ada sapaan hangat. Yang kudengar hanyalah kemarahan, nada tinggi, dan celaan yang terlontar begitu saja seolah aku adalah tempat pembuangan segala kekesalannya.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa aku tak pernah berani memikirkan pasangan hidup di usia yang seharusnya sudah layak memilikinya. Bagaimana aku bisa membahagiakan orang lain, jika kebahagiaanku sendiri terasa begitu jauh dari jangkauan tanganku? Mungkin saja aku akan hidup sendirian hingga akhir hayat nanti. Aku tak tahu. Aku pun tak lagi berani memikirkannya terlalu jauh.
Setiap malam, setelah semua pekerjaan rumah selesai kuurus seorang diri, aku duduk di tepi tempat tidurku yang sempit. Aku menghabiskan waktu dengan menonton anime, atau sekadar menuliskan cerita-cerita pendek yang hanya kubaca untuk diriku sendiri. Tak ada yang akan membacanya. Tak ada yang akan peduli. Cerita itu lahir dari kesepianku, dan akan kembali kubawa ke dalam kesepian itu pula.
Lalu pagi pun tiba. Aku berangkat bekerja. Sore hari aku pulang dengan tubuh yang terasa berat dan jiwa yang lelah. Dan malam pun datang kembali. Siklus itu terus berputar, berulang-ulang tanpa perubahan sedikit pun. Kadang aku merasa hidupku seperti terjebak di dalam sebuah lingkaran setan yang tak memiliki ujung. Aku muak. Aku lelah. Kadang aku bertanya dalam hati, sambil menatap langit-langit kamarku yang mulai menguning: Apakah hidupku akan terus seperti ini selamanya? Apakah aku akan terus berjalan di tempat yang sama, menatap langit yang sama, merasakan kesepian yang sama, hingga napasku berhenti? Kenapa aku lahir ke dunia ini jika hanya untuk menjalani hari-hari yang begitu suram dan tak berarti?
Aku kembali berpikir. Mungkin inilah takdirku. Jika kupikirkan baik-baik, hidupku ini sungguh penuh dengan drama yang membagongkan. Lucu sekali rasanya. Namun anehnya... meski aku sering dimarahi tanpa alasan yang jelas, meski gajiku nyaris tak cukup untuk hidup, meski setiap hari aku mengeluh dalam hati... aku tetap saja melangkah di jalan yang sama. Aku bahkan tidak berani membangkang. Aku tidak berani melawan. Aku menelan semuanya, menahannya, dan tetap tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
Mungkin karena aku ini anak yang baik? Atau mungkin aku hanya penakut? Terkadang aku merasa seolah-olah aku adalah tokoh utama dari sebuah novel. Namun seketika itu juga aku tertawa kecil pada diriku sendiri. Bukan. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan pahlawan yang tiba-tiba datang menyelamatkan seorang putri bangsawan dari menara yang tinggi. Aku bukan tokoh yang memiliki kekuatan luar biasa atau takdir yang besar. Aku hanyalah seorang pria biasa yang memiliki mimpi sederhana — ingin menikahi seorang wanita dari Jepang. Mungkin mimpi itu terdengar konyol bagi siapa pun yang mendengarnya. Tapi apa salahnya bermimpi? Di dunia tempatku hidup, mimpi adalah satu-satunya hal yang tak bisa dirampas siapa pun dariku.
Namun siapa yang menyangka... bahwa hari-hari yang kusangka akan terus berjalan kelabu selamanya, tiba-tiba berubah warna seketika. Semua itu bermula dari sebuah pertemuan yang tak pernah kucari, namun seketika itu juga mengubah seluruh arah hidupku.
Pada suatu hari, aku baru saja melangkah pulang dari tempat kerjaku. Sore itu udara terasa begitu panas membakar kulitku. Bulan ini hujan seakan lupa turun, menyisakan tanah yang retak dan debu yang beterbangan di mana-mana. Aku berjalan perlahan di sepanjang jalanan yang mulai sepi, membiarkan angin sore menyapu wajahku yang berkeringat. Hingga tiba-tiba, pandanganku tertuju pada sebuah sudut jalan yang sepi.
Di sana, berdiri sesosok wanita.
Jantungku seketika berhenti berdetak sejenak. Aku menghela napas perlahan, namun udara terasa berat di dadaku. Aku mengakui, wanita itu sungguh luar biasa cantik. Rambutnya hitam pekat dan tergerai panjang jatuh di punggungnya, tertiup angin sepoi-sepoi dengan begitu lembut. Wajahnya begitu cantik, terukur dengan sempurna, seolah-olah setiap garis pada wajahnya telah digambar dengan penuh ketelitian oleh tangan yang paling mahir. Tubuhnya tegap namun lembut, berjalan dengan anggun seolah bumi ini pun tak berani menyentuh kakinya.
Namun bukan kecantikannya yang membuatku terpaku di tempat. Bukan pula bentuk tubuhnya yang begitu sempurna. Yang membuat napasku tertahan adalah perasaan yang muncul begitu saja begitu mataku bertemu dengan wajahnya. Aku merasa... aku pernah melihatnya sebelumnya. Di mana? Kapan? Aku tak mampu mengingatnya. Namun perasaannya begitu kuat, begitu mendalam, seolah-olah jiwaku telah mengenalnya jauh sebelum mataku ini melihatnya. Dia terasa begitu akrab, begitu dekat, seolah dia adalah bagian dari hidupku yang telah lama hilang dan kini akhirnya kembali berdiri di hadapanku.
Pertemuan itu begitu singkat. Dia hanya melintas sejenak di pandanganku, lalu pergi menghilang di balik kerumunan orang. Namun dalam detik-detik singkat itu, sesuatu di dalam dadaku seketika berubah. Jantungku berdebar kencang, begitu kencang hingga aku tak sanggup menahannya. Aku berdiri terpaku di tempat yang sama, menatap ke arah perginya, dan di dalam hatiku yang sepi itu, satu keinginan tumbuh begitu kuat: Aku ingin menemuinya lagi. Aku ingin melihatnya sekali lagi.
Aku pun melanjutkan perjalananku pulang dengan perasaan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Hatiku terasa ringan, penuh, dan begitu hangat. Namun begitu aku melangkah masuk ke dalam rumahku, kehangatan itu seketika disambut oleh pemandangan yang kembali membuat hatiku terasa berat. Rumah itu berantakan. Lantai kotor, piring menumpuk, barang-barang berserakan di mana-mana. Padahal di rumah itu ada ayahku dan kedua adikku. Namun tak satu pun dari mereka bergerak. Mereka semua sibuk menatap layar gawai di tangan masing-masing, tak peduli pada keadaan rumah yang berantakan itu.
Kesal melanda hatiku. Amarah seketika naik ke dadaku. Aku ingin berteriak. Aku ingin melepaskan semua kekesalan yang selama ini kutahan sendirian. Namun aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Aku menahan amarah itu. Aku tak ingin kebahagiaan kecil yang baru saja kuterima sore itu hancur begitu saja oleh hal-hal yang tak berarti. Dengan berat hati, aku pun mengambil kain pel, sapu, dan ember. Aku membereskan semuanya seorang diri. Dari lantai hingga sudut ruangan, hingga rumah itu kembali rapi, sementara mereka yang lain tetap sibuk dengan dunianya masing-masing. Aku tak mengucapkan sepatah kata pun. Aku hanya melakukannya dalam diam, menyembunyikan rasa lelahku di balik senyum yang tak pernah terlihat siapa pun.
Malam itu aku tak bisa tidur. Aku terus terjaga hingga larut malam, mataku terbuka menatap kegelapan kamar. Bayangan wajah wanita itu terus kembali muncul di benakku. Wajahnya yang cantik, tatapannya yang lembut, dan perasaan akrab yang tak bisa kujelaskan itu terus berputar di kepalaku. Dia benar-benar seperti malaikat... batiniku berbisik pelan. Sejak saat itu, tak ada lagi yang bisa kulihat selain wajahnya yang tersenyum samar di dalam pikiranku.
Hingga pagi pun tiba. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Aku bergegas mandi, berpakaian rapi, dan melangkah berangkat ke kantor dengan semangat yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Langkah kakiku terasa ringan, seolah ada sesuatu yang menarikku terus ke depan. Sesampainya di kantor, aku menyapa rekan kerjaku dengan senyum yang tulus, lalu melangkah masuk ke ruangan tempatku bekerja.
Dan saat itulah... dunia seakan berhenti berputar.
Di sana, berdiri di tengah ruangan yang baru saja diatur ulang, adalah wanita itu. Wanita yang kulihat kemarin sore di jalanan. Wanita yang tak bisa kulupakan sepanjang malam. Ternyata dia ada di sini. Dia adalah karyawan baru yang baru saja diterima bekerja di kantor kami.
Jantungku kembali berdebar kencang. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Aku menatapnya dari kejauhan, tak percaya dengan apa yang kulihat dengan kedua mataku sendiri. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dia benar-benar ada di sini, di tempat yang sama denganku. Sebuah perasaan hangat menyelimuti seluruh tubuhku. Ini takdir... batiniku berbisik dengan penuh keyakinan. Ini memang takdir. Dia dikirimkan ke sini untukku.
Sejak hari itu, hari-hariku berubah sepenuhnya. Aku bangun setiap pagi dengan senyum di wajahku. Aku bersemangat berangkat bekerja. Langkah kakiku tak lagi terasa berat. Setiap kali melihatnya, setiap kali mendengar suaranya, setiap kali dia tersenyum kepada siapa pun di ruangan itu... hatiku terasa penuh hingga sesak. Aku mengaguminya dari kejauhan. Aku menatapnya dari jauh. Aku tak berani mendekat. Aku tak berani menyapanya. Aku hanya diam di tempatku, memandangnya dengan penuh cinta yang kusimpan rapat-rapat di dalam dadaku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Lebih dalam dari yang kubayangkan. Lebih tulus dari yang kukira mampu kurasakan.
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa satu bulan telah berlalu sejak hari pertama dia datang. Aku merasa bahagia. Setiap hari cukup bagiku hanya dengan melihatnya tersenyum, mendengar suaranya, dan mengetahui bahwa dia ada di dekatku. Aku tak meminta lebih. Aku cukup bahagia dengan perasaan itu sendirian.
Namun... siapa yang menyangka bahwa kebahagiaanku itu tak berlangsung lama.
Suatu hari, aku mendengar pembicaraan di antara rekan-rekan kerjaku. Salah seorang temanku tampak begitu bahagia, tersenyum lebar, dan tak lama kemudian kabar itu tersebar — temanku itu kini memiliki kekasih. Aku mendengarnya dengan biasa saja di awal. Aku ikut bahagia untuknya, sungguh. Namun saat aku mendengar siapa wanita itu... saat nama wanita yang kucintai terucap dari mulut orang lain... dunia seketika runtuh di bawah kakiku.
Ternyata... wanita yang kucintai dari jauh itu adalah kekasih temanku.
Rasanya... rasanya seperti ada seribu jarum tajam yang sekaligus menembus jantungku. Sakit. Sungguh luar biasa sakit. Aku berdiri terpaku di tempatku, napas tertahan di kerongkongan, mataku memandang ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun. Aku melihat mereka berdua berjalan beriringan. Aku melihat mereka bergandengan tangan. Aku melihat dia tersenyum bahagia di samping pria lain. Aku melihat semuanya dengan kedua mataku sendiri. Dan hatiku... hatiku hancur berkeping-keping menjadi debu.
Aku yang lebih dulu mencintainya. Aku yang lebih dulu memperhatikannya. Aku yang setiap malam memikirkan wajahnya hingga tak bisa tidur. Aku yang menyimpan perasaan ini begitu dalam, begitu tulus, begitu murni... namun aku tak pernah memiliki keberanian untuk mengucapkannya. Aku menyalahkan diriku sendiri. Aku bodoh. Aku lemah. Aku tak berani melangkah mendekat. Dan karena kelemahanku inilah... dia kini berjalan di samping orang lain.
Aku pulang hari itu dengan langkah yang berat seolah menanggung beban seluruh dunia di pundakku. Aku masuk ke dalam kamarku, mengunci pintu, dan duduk bersandar di belakang pintu itu. Aku tak berteriak. Aku tak mengamuk. Aku hanya mengambil bungkus rokokku, menyalakannya satu per satu, dan membiarkan air mataku jatuh membasahi pipiku yang kian hari kian kusam. Asap rokok menyelimuti ruangan kecil itu, menyatu dengan kesedihanku yang tak terucap.
Perasaan apa ini? Kenapa terasa begitu sakit? Kenapa dada ini terasa sesak hingga nyaris tak mampu bernapas? Kenapa aku mencintainya jika akhirnya harus berakhir seperti ini? Sialan... sungguh sialan... aku merutuk dalam hati, menyesali ketidakberanianku, menyesali siapa diriku yang bukan siapa-siapa ini.
Namun di tengah kehancuran itu... di tengah rasa sakit yang seakan tak akan pernah berakhir... satu hal tetap teguh di dalam hatiku. Aku tersenyum getir sambil menyeka air mataku. Jika inilah pilihannya... jika di sampingnya dia terlihat begitu bahagia... maka aku akan ikut bahagia pula. Meski bahagia itu bukan milikku. Meski senyum itu bukan kuberikan.
Aku berharap... aku tulus berharap... dia bahagia bersama pilihannya. Aku akan tetap mencintainya dari sini, dari kejauhan, dari tempatku berdiri tak terlihat oleh siapa pun. Aku akan tetap mencintainya lebih dari siapa pun. Lebih dari dirinya sendiri. Karena akulah yang lebih dulu mencintainya. Karena akulah yang pertama kali menyadari betapa berharganya dia. Karena akulah yang menyimpan perasaan ini paling dalam, paling tulus, dan paling lama.
Aku tahu aku bodoh. Aku tahu aku telah kalah sebelum sempat melangkah. Namun biarlah begitu. Aku akan tetap bertahan. Meski cinta ini perlahan menghancurkan diriku sedikit demi sedikit... aku tak akan pergi. Aku ingin melihatnya bahagia. Aku ingin melihatnya tersenyum. Itu sudah cukup bagiku.
Aku mencintaimu... dan akan terus mencintaimu... selamanya. Meski kau tak pernah tahu. Meski kau tak pernah menoleh ke arahku. I love you...