Malam itu, layar ponsel memantulkan cahaya putih di wajah Rian. Jarinya bergerak super cepat. Scroll, klik ikon hati, ganti judul, scroll, klik hati lagi.
Dalam dunia kepenulisan online, Rian adalah teror visual yang nyata. Dia adalah pelaku boom like.
Dia tidak pernah membaca satu paragraf pun. Baginya, novel-novel itu hanyalah tumpukan teks sampah. Dia hanya butuh namanya terpampang di notifikasi para penulis, berharap mereka balik mengunjungi profilnya dan membaca cerita picisan miliknya yang sepi peminat.
"Bagus, Kak! Lanjut!" ketik Rian, menyalin komentar template yang sama ke sepuluh novel berbeda dalam waktu kurang dari satu menit.
Tiba-tiba, aplikasi di ponselnya membeku. Layar menjadi hitam pekat, lalu berkedip merah darah. Sebuah pop-up muncul di tengah layar dengan font gotik yang tajam.
[Anda telah memberikan 10.000 like palsu minggu ini. Saatnya membaca dengan sungguh-sungguh.]
Rian mendengus. "Halah, eror paling."
Dia mencoba menekan tombol home, tapi ponselnya tidak merespon. Detik berikutnya, rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Pandangan Rian kabur. Dunia berputar hebat sampai dia ambruk ke lantai kamarnya.
------------------------------
Saat terbangun, Rian tidak lagi berada di kamarnya yang sempit. Dia terkapar di atas lantai beton dingin di dalam sebuah ruangan tanpa jendela. Bau apak dan karat menyengat hidung.
Di hadapannya, berdiri sebuah mesin raksasa dari besi hitam. Mesin itu memiliki sepasang lengan mekanik yang ujungnya berupa jarum-jarum bedah yang berkilau. Di bagian tengah mesin, ada sebuah layar monitor besar yang menyala, menampilkan sebuah teks cerita.
Rian mencoba bergerak, namun tubuhnya sudah terikat kuat di sebuah kursi besi. Kedua matanya dipaksa terbuka lebar oleh dua buah jepitan logam yang dingin—mirip alat penyiksa di film-film psikopat.
"Woi! Siapa pun di luar, lepasin gue!" teriak Rian histeris. Suaranya bergema riuh, memantul di dinding beton.
Mekanisme mesin di depannya tiba-tiba berdengung hidup. Sebuah suara statis yang berat keluar dari pengeras suara di sudut ruangan.
"Selamat datang di Ruang Koreksi, Rian. Di sini, setiap kata yang kamu lewati adalah satu sayatan."
Layar monitor di depannya menampilkan bab pertama dari sebuah novel amatir. Tulisannya berantakan, penuh dengan salah ketik dan tata bahasa yang hancur.
"Aturan mainnya sederhana," suara itu kembali menggema. "Baca setiap kata di layar secara lisan. Jika matamu melompat, atau jika kamu melakukan skip walau hanya satu baris, mesin ini akan bergerak."
Rian berkeringat dingin. "Gila! Gue gak mau!"
"Bab satu. Mulai."
Teks di layar mulai berjalan perlahan. Rian yang panik mencoba membaca dengan cepat dalam hati, berniat menyelesaikan bab itu secepat mungkin seperti kebiasaannya di dunia nyata. Matanya langsung melompat dari paragraf pertama ke paragraf ketiga untuk mencari inti cerita.
Sreeet!
"AAAGHHH!"
Rian menjerit sejadi-jadinya. Lengan mekanik itu bergerak secepat kilat. Ujung jarumnya yang tajam menyayat kulit lengannya hingga darah segar mengucur. Rasa perihnya luar biasa, membakar seluruh sarafnya.
"Kesalahan pertama. Anda melewati tiga puluh dua kata. Tiga puluh dua milimeter sayatan telah diberikan."
"Ampun! Ampun, gue baca! Gue baca!" Rian menangis, air matanya mengalir melewati jepitan besi yang menahan kelopak matanya. Matanya yang mulai mengering dipaksa menatap layar kembali.
Teks berjalan lagi. Kali ini Rian terpaksa mengeja setiap kata. Rasanya menyiksa. Cerita yang disajikan sangat membosankan, bertele-tele, dan penuh dengan deskripsi tidak penting. Setiap kali fokusnya pecah dan matanya tidak sengaja berkedip atau melompat karena bosan, jarum mekanik itu langsung menancap dan merobek bagian tubuhnya yang lain. Paha, bahu, bahkan ujung jarinya.
Ruangan itu dipenuhi suara napas Rian yang terengah-engah dan bau anyir darah yang makin pekat.
Setiap kali dia mencoba menutup mata karena tidak tahan dengan rasa sakit, jepitan logam di matanya akan mengalirkan sengatan listrik kecil yang memaksanya tetap melek. Dia tidak bisa melarikan diri. Dia dipaksa mengonsumsi setiap detail kata dari karya yang selalu dia remehkan.
Setelah empat jam yang terasa seperti neraka jahanam, layar monitor akhirnya menampilkan kata: [TAMAT].
Seluruh tubuh Rian sudah bersimbah darah. Dia lemas, napasnya satu-satu, jiwanya hancur berkeping-keping. Rasa trauma itu tertanam begitu dalam di otaknya.
"Eksekusi selesai. Kembalilah ke duniamu," ucap suara mesin itu untuk terakhir kali.
------------------------------
Gasppp!
Rian terduduk di lantai kamarnya sambil megap-megap mencari udara. Matahari pagi sudah masuk lewat celah jendela.
Dia langsung memeriksa seluruh tubuhnya dengan gemetar. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Kulitnya utuh. Semuanya ternyata hanya mimpi buruk yang teramat sangat nyata.
Rian mengembuskan napas lega yang panjang. Dia merangkak naik ke kasur dan mengambil ponselnya yang tergeletak di bantal. Saat menyalakan layar, aplikasi NovelToon masih terbuka, menampilkan daftar notifikasi.
Jempol Rian secara refleks bergerak menuju sebuah judul novel baru, berniat untuk menekan tombol like seperti biasanya tanpa membaca.
Namun, baru saja ujung jempolnya berjarak satu milimeter dari layar, sebuah rasa sakit yang luar biasa hebat tiba-tiba menyengat seluruh tubuhnya. Persis seperti sayatan jarum mekanik dalam mimpinya. Otaknya langsung memutar kembali memori penyiksaan kejam semalam.
Rian menjerit ketakutan. Dia melempar ponselnya hingga menghantam dinding kamar sampai retak.
Tubuh Rian gemetar hebat di pojok kasur, dia memeluk lututnya sendiri sambil menangis histeris. Setiap kali dia memikirkan kata 'like' atau 'skip', rasa perih itu kembali membakar kulitnya.
Sejak hari itu, Rian tidak akan pernah bisa lagi menyentuh tombol like. Trauma itu telah merenggut kewarasannya, menyisakan ketakutan abadi pada setiap baris kalimat yang ada di dunia.
Tamat 😂
------------------------------