Lantai kayu jembatan tua itu berderit, memekakkan telinga di tengah keheningan hutan karet yang mati. Raka mengarahkan lensa kamera mirrorless-nya tepat ke wajah, menampilkan senyum miring yang menjadi ciri khasnya di depan ratusan ribu penonton siaran langsung.
"Kalian lihat pohon beringin di belakang gue?" Raka menunjuk ke kegelapan dengan ibu jarinya, gerakannya santai, penuh kelancaran yang terlatih. "Katanya, ini tempat bersemayamnya 'Nyai Pandan'. Dukun desa sini bilang, kalau lewat harus permisi. Tapi buat apa? Di dunia ini, yang berkuasa itu yang punya nyali, bukan yang sudah jadi tanah."
Dia melangkah maju, dengan sengaja menendang sebuah sesaji bambu hingga tumpah. Bunga mawar, kemenyan, dan sebutir telur ayam kampung hancur di bawah sol sepatu gunungnya yang mahal. Raka tertawa kecil, membaca kolom komentar yang bergerak secepat kilat di layar ponselnya. Ada yang memujinya pemberani, ada yang memintanya berhenti, dan tidak sedikit yang memperingatkannya untuk menjaga sopan santun.
"Sopan santun itu cuma buat orang lemah yang butuh perlindungan, Guys," potong Raka cepat, suaranya jernih tanpa keraguan. "Gue ke sini bawa logika. Kalau hantu itu ada, keluar sekarang. Sini, cekik gue. Jangan cuma berani bikin merinding di layar kaca."
Dewa, kameramen sekaligus satu-satunya kru yang mau bertahan bekerja bersamanya, berbisik dari balik bayangan baju hitamnya. "Ka, sudahlah. Angka penonton sudah tembus seratus ribu. Kita balik ke mobil sekarang. Perasaan gue beneran nggak enak."
Raka menoleh, matanya berkilat penuh dominasi yang biasa dia gunakan untuk membungkam orang-orang di sekitarnya. "Lo mau dapet bonus bulan ini atau nggak? Kalau mau, pegang kameranya yang bener. Jangan gemetaran kayak pecundang. Keberanian itu komoditas, Dew. Dan di industri ini, gue rajanya."
Namun, kesombongan itu mendadak terhenti oleh desakan biologis yang tidak bisa tertahankan. Perut bagian bawahnya terasa melilit, panas, dan penuh. Efek dari kopi instan dan dinginnya udara hutan mulai terasa. Raka mendengus kesal, mematikan lampu sorot besar yang terpasang di atas kamera untuk menghemat daya.
"Gue perlu ke toilet sebentar. Dew, lo pegang siaran langsung ini. Interaksi sama penonton, jangan sampai angka viewer-nya turun," perintah Raka, menyerahkan ponselnya kasar ke tangan Dewa.
Raka berjalan menjauh dari jalur setapak, menembus rimbunnya semak belukar yang basah oleh embun malam. Dia berhenti di depan sebuah pohon besar yang batangnya dililit kain kafan hitam yang sudah lapuk. Tanpa rasa hormat, dia membuka ritsleting celananya. Air seninya mengucur deras, menghantam akar pohon yang dikeramatkan itu. Bau pesing menguar, bercampur dengan aroma busuk tanah yang mendadak menusuk hidung.
Saat itulah, keheningan hutan berubah menjadi sesuatu yang padat dan menekan.
Gemercik air seninya perlahan memudar, digantikan oleh suara tarikan napas panjang dari atas kepalanya. Raka membeku. Jantungnya melewatkan satu detak. Udara di sekitarnya mendadak turun drastis, membuat setiap embusan napasnya berubah menjadi kabut putih yang tebal.
Dia mendongak perlahan. Di sela-sela dahan pohon yang gelap, sepasang mata merah darah tanpa kelopak menatapnya lurus. Makhluk itu tidak memiliki wajah yang utuh, hanya kulit ari yang melepuh dengan cairan hitam yang menetes tepat ke punggung tangan Raka.
Raka terengah, rasa bangga yang selama bertahun-tahun dia bangun runtuh dalam hitungan detik. Logikanya mati. Dia berbalik untuk berlari, namun kakinya terasa seperti tertanam di dalam lumpur hisap. Tanah di bawah tempatnya berdiri mendadak melunak, berubah menjadi kubangan hitam pekat yang bergolak panas seperti aspal mendidih.
Dari dalam kubangan itu, belasan lengan kurus berwarna kelabu dengan kuku-kuku panjang berkarat mencuat.
Sret!
Satu lengan mencengkeram pergelangan kaki kanannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. Raka terjatuh, wajahnya menghantam tanah yang bau belerang.
"Dewa! Tolong gue, Dew!" teriak Raka. Suaranya yang biasa terdengar angkuh kini pecah, melengking penuh ketakutan yang murni.
Dia merangkak dengan tangan kirinya, mencoba meraih akar pohon lain. Namun, lengan-lengan gaib itu terus bermunculan dari dalam tanah, mencengkeram betisnya, paha, hingga merobek jaketnya. Genggaman itu tidak sekadar menahan fisik, melainkan membakar kulitnya. Raka bisa merasakan perih yang teramat sangat, seolah setiap jengkal kulit yang disentuh oleh lengan-lengan itu langsung melepuh dan mengeluarkan darah segar.
Dari kejauhan, dia bisa melihat kilatan lampu sorot kamera milik Dewa. Jaraknya hanya dua puluh meter, namun terasa seperti jutaan kilometer.
"Dewa! Sini, Dew! Kamera... matiin kameranya! Tolong!" Raka melolong, air matanya bercampur dengan tanah kering yang menempel di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia menyadari betapa kecil dan tidak berdayanya dia di hadapan sesuatu yang selama ini dia remehkan.
Satu lengan besar dengan kulit yang mengelupas kasar mencengkeram lehernya dari belakang, menarik kepalanya ke belakang hingga dia bisa melihat langit malam yang mendadak berubah warna menjadi merah pekat sehangat darah. Bau busuk bangkai dan belerang menyengat rongga dadanya, membuatnya tersedak.
"Maaf... saya minta maaf..." bisik Raka, suaranya parau, tercekik oleh ketakutan dan penyesalan yang terlambat. Segala ketenaran, uang di rekening, dan ratusan ribu pengikutnya di media sosial sama sekali tidak berguna di tempat ini. Dia hanya seorang manusia biasa yang sedang dijemput oleh konsekuensi dari kesombongannya sendiri.
Tubuh Raka mulai terseret masuk ke dalam tanah yang menganga lebar. Sentuhan lengan-lengan itu semakin agresif, menariknya ke dalam kegelapan abadi yang penuh dengan suara jeritan jutaan jiwa yang menderita di bawah sana. Siksaan itu nyata, panasnya api yang menyala di bawah tanah mulai menjilati ujung jarinya.
"Dewa..."
Itu adalah kata terakhir yang berhasil keluar dari tenggorokannya sebelum tubuh Raka sepenuhnya amblas ke dalam bumi. Tanah di bawah pohon keramat itu kembali merapat, menyisakan keheningan malam dan lambaian daun beringin yang tertiup angin sepoi-sepoi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana.
Di pinggir jalan setapak, Dewa menatap layar ponsel yang masih menampilkan siaran langsung. Kolom komentar mendadak sepi, sebelum akhirnya dipenuhi oleh satu kalimat yang sama dari ribuan akun yang berbeda: “Dia sudah pulang ke tempat yang seharusnya.”
TAMAT
------------------------------