Tidak ada yang tahu, bahwa tawa paling ceria di kampus itu adalah yang terakhir kali mereka dengar.
Saat itu masih di tahun 2005. Udara di kota Medan terasa lembap dan panas, menyambut langkah-langkah mahasiswa baru yang penuh harapan.
Dua gadis cantik bernama Vina dan Lia, mereka adalah sahabat akrab sejak bangku SMA, tersenyum lebar saat melihat kartu tanda mahasiswa mereka dan sama-sama diterima di sebuah universitas swasta di kota ini.
Tak terpisah, itu janji mereka.
Dan pagi itu, di halaman depan kampus, suara ceria memecah keramaian.
"Vina! Lia! Wah, kalian juga di sini?"
Santi berlari menghampiri dengan wajah berseri.
Gadis itu memang selalu ceria, suaranya renyah, senyumnya tak pernah hilang meski lelah.
Meski berbeda fakultas,Vina dan Lia masuk Bahasa Inggris, sedangkan Santi di Ekonomi dan mereka berjanji tak akan menjauh.
Setiap hari di kantin, mereka selalu bertemu, tertawa membicarakan dosen, mata kuliah, hingga rencana masa depan.
Kabar rencana perjalanan Inagurasi Mahasiswa Baru ke luar kota membuat mereka semakin bersemangat.
Di sudut kantin yang berisik, ketiganya sibuk merencanakan baju yang akan dipakai, camilan apa yang dibawa, seolah hari itu takkan pernah tiba.
Namun seminggu sebelum keberangkatan, telepon berdering di tengah malam.
Kabar itu datang seperti petir di siang bolong.
Santi meninggal dunia di sebuah diskotik besar di pusat kota.
Diduga kuat karena overdosis obat terlarang.
Vina dan Lia terpaku diam.
Dunia serasa berhenti berputar.
Di kampus belum ada satu pun yang tahu. Maka merekalah yang memberanikan diri melapor ke bagian kemahasiswaan, menyampaikan berita duka itu dengan suara bergetar.
Keesokan harinya, setelah kuliah malam selesai pukul sembilan, Vina, Lia, dan beberapa teman lain mengendarai motor menuju rumah duka yang tak jauh dari kampus.
Udara malam terasa dingin menusuk tulang.
Sesampainya di sana, suasana sepi sekali.
Hanya ada beberapa orang kerabat dekat, dan tak lebih dari tiga orang teman kuliah Santi.
Saat mereka mendekati peti jenazah, napas Vina tercekat.
Wajah Santi didandani cantik, namun pucat sekali, seolah darah tak lagi mengalir di bawah kulitnya.
Rambutnya yang biasa berantakan karena tertawa kini tersusun rapi.
Dan tiba-tiba, dari sudut mata Santi yang tertutup kelopak, sebutir air mata bening mengalir pelan, menuruni pipi yang dingin.
"Kau melihatnya juga?" bisik Lia, tangannya mencengkeram lengan Vina erat.
Vina mengangguk pelan, tenggorokannya terasa kering.
Namun orang-orang di sekitar hanya diam, menunduk berdoa.
Tak ada satu pun yang bereaksi.
Seolah hanya mereka berdua yang bisa melihat air mata itu.
Sepanjang perjalanan pulang, rasa dingin tak hilang dari tubuh mereka.
Bayangan wajah Santi yang menangis itu terus muncul di benak, terbawa hingga ke mimpi buruk setiap malam.
Hari-hari berlalu, namun rasa berat di dada tak pernah hilang.
Hingga suatu malam, Vina, Lia, dan Sonia salah satu teman sekelas yang belum pernah sama sekali mengenal Santi dan diperintahkan masuk ke ruang komputer di lantai tiga kelas bahasa inggris.
Mereka bertiga berjalan sambil bercanda, menaiki tangga dengan santai.
Tanpa sadar, langkah kaki membawa mereka masuk ke gedung yang salah.
Bukannya sampai di gedung Bahasa Inggris, mereka justru tiba di lantai dua gedung Ekonomi.
Suasana di sana sunyi senyap.
Lampu kuning temaram hanya menyala setiap jarak lima langkah, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding. Lantai ini tak pernah dipakai untuk kuliah malam, hanya dipenuhi meja kosong dan pintu ruangan yang tertutup rapat. Bau debu dan kelembapan tercium menyengat.
"Kita salah gedung," bisik Lia dengan suara gemetar.
Saat hendak berbalik, mata Vina terpaku pada ujung lorong.
Di sana, pintu kamar mandi terbuka sedikit, dan lampu di dalamnya menyala terang sekali, seolah memanggil.
Dan darah Vina serasa membeku.
Di lubang udara persis di bagian atas pintu kamar mandi, ada sepasang mata yang menatap lurus ke bawah.
Wajah itu pucat pasi, rambutnya berantakan, dan di sudut bibirnya terukir senyum tipis yang menyeramkan. Posisi wajah itu terlalu tinggi, tak mungkin dicapai oleh manusia biasa tanpa menumpu sesuatu.
Itu Santi. Persis wajah yang mereka lihat di peti jenazah, kini tersenyum lebar menatap mereka.
"Lari! Cepat lari!" teriak Lia sekuat tenaga.
Vina langsung berbalik dan berlari tanpa menoleh lagi.
Jantungnya berdegup kencang hingga menyakitkan dada.
Mereka meninggalkan Sonia yang masih berdiri bingung di tengah lorong.
"Hei! Tunggu aku! Kenapa sih?" teriak Sonia dari belakang, menyusul langkah mereka yang lebar.
Mereka baru berhenti saat sampai di lantai gedung Bahasa Inggris, napas mereka terengah-engah, keringat dingin membasahi seluruh tubuh.
Setelah selesai praktik dan berjalan pulang, Vina dan Lia baru menceritakan semuanya pada Sonia dengan suara bergetar.
Sonia mengerutkan kening, wajahnya penuh kebingungan.
"Apa yang kalian bicarakan? Di sana kan gelap dan kosong. Tak ada siapa-siapa. Aku tak melihat apa pun," katanya polos.
Vina dan Lia saling berpandangan.
Sonia tak pernah mengenal Santi.
Mungkin hanya mereka yang pernah melihat air mata terakhir gadis itu, yang bisa melihat senyum perpisahan yang tak pernah benar-benar berakhir.
Baru saat itu Vina sadar sepenuhnya. Lorong tempat mereka berdiri tadi adalah lorong gedung Ekonomi, tempat Santi dulu belajar.
Ruangan di sana adalah ruang kelas tempat gadis itu menghabiskan hari-harinya tertawa.
Santi tidak bermaksud menakuti mereka.
Gadis itu hanya pulang ke tempat terakhirnya hidup, menunggu sahabat yang pernah ia janjikan tak akan dijauhi.
Malam itu, di tengah lorong gelap yang sepi, ia hanya ingin berdiri sebentar, menatap mereka berdua, dan tersenyum untuk terakhir kalinya sebagai tanda perpisahan yang tak sempat terucap sebelum ia pergi selamanya.
...Gadis itu hanya pulang ke tempat terakhirnya hidup, menunggu sahabat yang pernah ia janjikan tak akan dijauhi. Malam itu, di tengah lorong gelap yang sepi, ia hanya ingin berdiri sebentar, menatap mereka berdua, dan tersenyum untuk terakhir kalinya sebagai tanda perpisahan yang tak sempat terucap sebelum ia pergi selamanya.
Beberapa hari kemudian, malam Inagurasi akhirnya tiba.
Acara digelar di sebuah hotel besar di tepi pantai, jauh dari hiruk-pikuk kota Medan.
Lampu-lampu berwarna-warni memantul di permukaan air, tawa dan musik terdengar meriah di mana-mana.
Namun di hati Vina dan Lia, ada ruang kosong yang tak terisi.
Kemarin, ketiganya berjanji akan menikmati malam ini bersama, tertawa lepas, dan berjanji untuk tetap bersahabat sampai kapanpun.
Kini, hanya dua orang yang berdiri di sana.
Saat acara selesai dan masuk waktu bebas, Vina dan Lia duduk diam di tepi pasir, membiarkan angin laut menerpa wajah. Air mata perlahan menetes membasahi pipi, teringat janji sederhana yang tak bisa ditepati.
Di kejauhan, ombak menghantam pantai berulang kali, seolah membawa pesan yang tak terdengar bahwa Santi ada di sana, ikut merasakan malam itu bersama mereka.