Pukul 21.00. Rumah itu sunyi. Hanya terdengar detak jam dinding dari ruang tamu dan dengung AC yang samar.
Ceklek.
Pintu kamar di lantai dua terbuka perlahan. Engselnya berderit pelan.
Aluna yang sedang meringkuk memeluk Jihoon langsung mengernyit. Tidurnya memang tidak nyenyak.
Di kursi dekat jendela, Yuta seketika membuka mata. Tatapannya tajam dan waspada.
Dari celah pintu, muncul sebuah wajah.
Raisa.
Bibirnya tersenyum. Namun matanya menyapu seluruh ruangan dengan cepat dan tajam, seolah sedang mencari sesuatu. Gaun sutra berwarna champagne membalut tubuhnya. Sepatu stiletto-nya berkilau di bawah cahaya lampu.
Ia melangkah masuk tanpa mengetuk.
Tak. Tak. Tak.
Suara hak sepatunya menghantam lantai marmer. Terlalu nyaring untuk jam segitu.
Pandangan Raisa terhenti pada ranjang.
Aluna tertidur memeluk Jihoon. Cardigan berwarna pink melorot di bahunya. Rambutnya tergerai menutupi sebagian wajah Jihoon. Keduanya tampak damai.
Senyum di bibir Raisa langsung menghilang. Rahangnya mengeras.
Yuta bangkit dari kursi dalam satu gerakan. Wajahnya datar. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih pergelangan tangan Raisa dan menariknya keluar.
Brak.
Pintu kamar ditutup rapat.
Di lorong yang temaram, Yuta melepaskan genggamannya dengan kasar.
"Kamu mau apa ke sini?" Rahang Yuta mengeras. Urat di lehernya menegang.
Raisa mengusap lengannya yang sakit. Ia mendongak. Dagunya terangkat tinggi.
"Aku mau bertemu Jihoon, Mas," jawabnya dengan suara yang dibuat manja.
"Jangan panggil aku 'Mas'."
Yuta melangkah maju. Tubuhnya yang tinggi hampir bersentuhan dengan tubuh Raisa. Matanya dingin. "Kamu bukan istriku lagi. Pergi. Keluar dari rumah ini."
Raisa menyilangkan tangan di dada. Ia tertawa kecil, sinis.
"Oh... karena dokter muda itu?"
Matanya melirik ke arah pintu kamar di belakang Yuta. "Kamu bahkan satu kamar dengannya. Bertiga dengan Jihoon."
Dada Yuta naik turun. Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kamu marah?" Yuta menunjuk pintu dengan dagu. Suaranya menekan. "Kamu bukan siapa-siapa di sini lagi. Kamulah yang menceraikanku dan meninggalkanku. Sekarang mau buat keributan?"
"Aku hanya ingin bertemu Jihoon," kata Raisa. Bahunya diturunkan. Ia memasang wajah sedih.
"Tidak." Yuta memotong tegas. "Aku tidak mengizinkan. Jihoon tidak butuh ibu sepertimu lagi. Dia sudah membencimu karena kamu meninggalkannya."
"JIHOON! BANGUN, NAK! INI IBU!"
Teriakan Raisa memecah keheningan. Ia menengok ke arah tangga. Matanya melebar.
Duk. Duk. Duk.
Langkah kaki cepat terdengar.
Aluna muncul di anak tangga. Napasnya tersengal. Rambutnya berantakan dan hanya dikuncir asal. Wajahnya panik. Ia menggendong Jihoon erat-erat, dagunya bersandar di kepala anak itu seolah ingin melindunginya.
Jihoon masih setengah mengantuk. Namun begitu melihat Raisa, tubuhnya langsung menegang. Ia memeluk leher Aluna semakin erat.
Raisa melangkah mendekat. Tangannya terulur, hendak menyentuh pipi Jihoon.
Refleks, Jihoon menoleh dan menghindar. Ia mengubur wajahnya di bahu Aluna.
Tangan Raisa menggantung di udara. Beberapa detik kemudian, ia menurunkannya perlahan.
"Jihoon tidak benci Ibu, kan?"
Raisa berjongkok. Ia memaksakan senyum. Namun sudut bibirnya bergetar. Matanya dipaksa berkaca-kaca. "Sayang..."
Jihoon mengangkat wajah dari bahu Aluna. Ia menatap Raisa lurus. Air matanya sudah menggenang.
"Benci." Suaranya kecil, tetapi tegas. Tangannya menunjuk ke arah Raisa. "Kamu bukan ibuku."
Bahu Jihoon terguncang. Air matanya jatuh.
Wajah Raisa menegang. Senyumnya retak. "Jihoon... jangan seperti ini. Ibu ingin memelukmu, Sayang."
"Dokter..." bisik Jihoon di telinga Aluna. Suaranya gemetar. "Ayo kita kembali ke kamar. Ibuku galak."
Dada Aluna terasa perih. Ia menoleh ke Yuta dengan tatapan memohon.
Yuta menarik napas panjang. "Bawa Jihoon kembali ke kamar, Dokter Aluna."
"Baik, Pak." Aluna mengangguk cepat. Ia berbalik dan segera naik ke atas.
"APAKAH INI?!" Raisa berteriak. Jarinya menunjuk ke arah punggung Aluna. "Kenapa pakaiannya tidak sopan? Hanya piyama!"
Yuta memijat pelipisnya. Ia menutup mata sejenak, menahan amarah. Ketika dibuka kembali, tatapannya sudah dingin.
"Jangan banyak bicara. Pergi dari sini."
"Jihoon!" Raisa berteriak lagi dan maju selangkah.
"CUKUP, RAISA!"
Bentakan Yuta menggema di ruang tamu yang tinggi. Vas di atas meja ikut bergetar.
Ia melangkah hingga jarak mereka hanya 20 sentimeter. "Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu kembali ke sini dan membuat keributan?"
Bahu Raisa merosot. Ia menunduk. Rambutnya menutupi wajah.
Ketika ia mendongak, air matanya sudah jatuh.
"Maafkan aku, Mas..." Suaranya serak. Tangannya mencoba meraih lengan kemeja Yuta, tetapi ditepis.
"Laki-laki itu menipuku," isaknya. "Dia menguras semua harta dari perusahaanku. Aku... aku ingin rujuk denganmu."
Hening.
Lalu Yuta tertawa. Suaranya serak dan pahit. Di ujung tawa itu, ada air mata yang jatuh. Ia menatap Raisa dengan mata merah. Wanita yang dulu ia cintai dan nikahi. Ternyata telah mengkhianatinya.
"Tidak!"
"Pergi sekarang juga!"
Raisa menggeleng. "Tidak, Mas. Aku janji akan berubah."
Yuta menepis tangan itu. Dengan kasar ia menarik pergelangan tangan Raisa dan menyeretnya keluar rumah.
Brak.
Pintu kayu jati setinggi tiga meter itu ditutup dengan keras.
Di teras, lampu taman menyorot wajah Raisa. Ia berjalan ke mobil sport merahnya. Sebelum masuk, ia menoleh.
Bibirnya tersenyum. Namun matanya penuh dendam.
"Aku tidak akan menyerah, Mas."
Ngiiing. Mesin meraung. Mobil itu melaju dan menghilang di balik gerbang.
Yuta berdiri kaku di ambang pintu. Dadanya naik turun.
Brak!
Ia menendang pot bunga besar. Tanah dan pecahan keramik berhamburan.
Ia masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Ruangan itu luas dan dingin. Lampu kristal menggantung di atas. Namun terasa kosong. Kedua tangannya menutup wajah. Bahunya naik turun.
Sepuluh menit kemudian, terdengar langkah pelan dari tangga.
Aluna turun. Rambutnya sudah dikuncir rapi. Ia memakai cardigan untuk menutupi piyamanya. Matanya sembab.
Ia melirik ke ruang tamu. Yuta masih di sana. Punggungnya membungkuk.
Aluna duduk di kursi sebelah Yuta. Jarak mereka hanya sejengkal.
"Biarkan aku sendiri," kata Yuta. Suaranya berat dan serak. "Raisa benar-benar keterlaluan malam ini."
Aluna tidak menjawab.
Tiba-tiba pergelangan tangannya ditahan. Hangat dan kuat.
Aluna menoleh. Yuta masih menunduk.
"Maaf... atas kegaduhan tadi," bisiknya.
Aluna menggeleng pelan. "Bukan salah Bapak."
Yuta akhirnya mendongak. Mata mereka bertemu. Mata Yuta merah. Ada lelah, ada marah, dan ada luka lama yang belum sembuh.
Aluna tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengusap pelan punggung tangan Yuta yang masih menggenggam pergelangannya.
Dari lantai atas, terdengar Jihoon menggumam dalam tidurnya. Memanggil, "Dokter."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, mereka duduk bersama dalam diam. Bukan sebagai dokter dan pasien. Bukan sebagai karyawan dan atasan.
Hanya dua orang dewasa yang sama-sama lelah, dan satu anak kecil di atas yang sedang mencari rasa aman.
Kalau suka, yuk mampir di karya aku.