Bab 1: Bayangan di Atas Tahta
Malam itu, hujan turun dengan derasnya di atas kota Metropolitan. Petir menyambar-nyambar seolah alam sedang murka. Di dalam sebuah rumah mewah bergaya Eropa kuno yang tersembunyi di perbukitan elit, suasana justru lebih mencekam dari badai di luar.
Vittorio Ricci, kepala keluarga mafia terbesar di Asia Tenggara, mondar-mandir di luar kamar bersalin. Wajahnya yang biasanya dingin dan tak terbaca kini dipenuhi kecemasan. Para pengawalnya berjaga di setiap sudut, siap membunuh siapa pun yang mencoba mengganggu momen sakral ini.
"Signore, putri Anda telah lahir," ucap dokter dengan gemetar.
Vittorio melesat masuk. Di pelukan istrinya, Isabella, terbaring seorang bayi mungil dengan rambut hitam legam dan kulit seputih salju. Matanya yang masih terpejam, namun Vittorio tahu—bukan dari penampilan, tapi dari naluri seorang ayah—bahwa anak ini istimewa.
"Seperti kau, Bella," bisiknya pada istrinya. "Dia sempurna."
Isabella tersenyum lemah, keringat membasahi dahinya. "Kita harus melindunginya, Vitto. Dari dunia kita."
Vittorio mengangguk. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Dalam dunia mafia, seorang anak perempuan adalah kelemahan sekaligus target. Musuh-musuhnya tak akan segan menculik atau melukai darah dagingnya untuk melemahkannya.
"Mereka takkan pernah tahu keberadaannya," ucapnya tegas. "Kita akan mengirimnya ke luar negeri. Ke tempat di mana tak ada yang mengenali nama Ricci."
---
Dua puluh tahun kemudian...
Di sebuah apartemen kumuh di pinggiran kota Jakarta, seorang gadis berusia 18 tahun terbangun dari tidurnya. Rambut hitamnya berantakan, wajahnya masih sembab. Di atas meja, terdapat banyak botol minuman keras kosong dan sisa-sisa makanan cepat saji.
"Alya! Bangun! Kau terlambat lagi!" teriak seorang wanita paruh baya dari luar kamar.
Alya mengerang, menarik selimut menutupi kepalanya. "Auntie, lima menit lagi..."
"Apa kau ingin dipecat dari pekerjaan barumu? Ini sudah ketiga kalinya kau terlambat!"
Alya mendengus. Dia tahu Auntie Rina benar. Tapi dia tidak peduli. Pekerjaan sebagai kasir di minimarket itu membosankan. Dia lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-temannya, berkeliling kota, membuat onar, dan melupakan kenyataan bahwa dia tidak pernah tahu siapa orang tuanya.
Paman dan Auntie-nya—yang sudah merawatnya sejak bayi—selalu menghindari pertanyaan tentang asal-usulnya. Mereka bilang orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat Alya masih bayi. Tapi ada sesuatu yang ganjil. Alya merasakannya. Cara mereka berbicara tentang orang tuanya selalu terkesan ragu-ragu, seolah menyembunyikan sesuatu.
"Paman, benar-benar tidak ada foto orang tuaku?" tanyanya suatu kali.
Paman Doni terdiam. Matanya menatap kosong ke suatu titik di kejauhan. "Mereka... tidak suka difoto, Nak."
Alya tahu itu bohong. Tapi dia terlalu lelah untuk terus bertanya. Jadi dia memilih untuk hidup dengan caranya sendiri. Membuat masalah, melawan aturan, dan menunjukkan pada dunia bahwa dia tidak peduli.
---
Hari itu, Alya baru saja lulus SMA—dengan nilai yang sangat pas-pasan. Tanpa pikir panjang, dia memutuskan untuk "merayakannya" dengan cara yang paling dia sukai: membuat masalah.
"Kau yakin mau melakukan ini?" tanya temannya, Bima.
Alya menyeringai. Di tangannya, terdapat sebuah kaleng cat semprot warna merah. Di depannya, tembok putih sebuah gedung pencakar langit milik salah satu konglomerat paling berpengaruh di kota.
"Dia koruptor, Bim. Orang bilang dia punya hubungan dengan mafia. Dia pantas mendapat ini," jawab Alya sambil mulai mencorat-coret tembok.
Tulisan merah besar terbentuk: "MAFIA BREEDING GROUND".
Yang Alya tidak tahu adalah bahwa gedung itu bukan milik sembarang konglomerat. Itu adalah salah satu properti keluarga Ricci, yang dikelola oleh anak buah setia Vittorio.
Tiga jam kemudian, Alya ditangkap.
Di kantor polisi, dia duduk dengan santainya, menggoyangkan kaki, sama sekali tidak terlihat takut. Polisi yang memeriksanya bahkan terlihat lebih stres darinya.
"Kau tahu siapa pemilik gedung itu?" tanya seorang polisi senior.
Alya mengangkat bahu. "Hantu?"
Polisi itu mendesah frustrasi. "Anak muda, kau bermain dengan api. Aku sarankan kau menelepon orang tuamu."
"Tidak punya."
"Apa?"
"Aku tidak punya orang tua. Hanya paman dan auntie. Dan mereka tidak akan datang menjemputku kali ini, karena aku sudah melakukan ini tiga kali dalam sebulan terakhir."
Polisi itu menggelengkan kepala. Lima belas menit kemudian, Alya dibebaskan. Tanpa penjelasan. Tanpa denda. Tanpa apa pun.
Di luar kantor polisi, Alya mengerutkan kening. Itu aneh. Sangat aneh. Biasanya setidaknya ada denda atau peringatan.
Sesuatu tidak beres.
---
Di sebuah ruangan ber-AC di lantai tertinggi gedung pencakar langit itu, Vittorio Ricci duduk di kursi kulit hitamnya. Di hadapannya, seorang pria berjas rapi melaporkan kejadian tadi malam.
"Putri Anda, Signore. Dia mencoret-coret tembok properti kita."
Vittorio menyipitkan mata. Dua puluh tahun. Dua puluh tahun dia menahan diri untuk tidak menemuinya. Untuk tidak menyentuh anaknya. Tapi sekarang...
"Apa dia baik-baik saja?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Ya, Signore. Kami sudah... mengurus polisi. Tidak ada catatan kriminal untuknya."
Vittorio mengangguk. Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, dia tersenyum.
"Dia pemberani. Sepertiku."
Dia menoleh pada sebuah foto di meja. Foto seorang gadis remaja dengan rambut hitam panjang dan mata yang tajam—mata yang sama dengan almarhum istrinya.
"Bella, putri kita sudah dewasa," bisiknya. "Dan dia baru saja menyatakan perang pada kita."
Seorang anak buah masuk dengan tergesa-gesa. "Signore! Saya punya berita penting."
"Apa?"
"Dari informan kami... Keluarga Bianchi merencanakan sesuatu. Mereka mungkin sudah menemukan keberadaan putri Anda."
Vittorio berdiri, wajahnya kembali berubah menjadi topeng dingin. Matanya berkilat ancaman.
"Jika mereka menyentuh sehelai rambut pun darinya, aku akan membasmi seluruh garis keturunan Bianchi dari muka bumi. Angkat senjata. Kita bergerak malam ini."
Dia berjalan menuju jendela, menatap kota yang diterangi lampu-lampu.
"Alya... maafkan Ayah karena telah menjauh. Tapi sekarang, dunia yang Ayah sembunyikan dari kau akan datang mencari. Dan Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
---
Sementara itu, di apartemen kumuhnya, Alya tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Berkeringat. Napasnya tersengal. Dia baru saja bermimpi—tentang seorang pria dengan mata tajam, berdiri di atas tumpukan mayat, memanggil namanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Auntie Rina yang masuk melihat wajah pucat Alya.
Alya menggeleng. "Auntie... siapa sebenarnya orang tuaku?"
Auntie Rina membeku. Lalu perlahan, air mata mengalir di pipinya.
"Ini saatnya kau tahu, Nak. Tapi aku takut... setelah kau tahu, hidupmu takkan pernah sama lagi."
Di luar, sirene mobil melintas di kejauhan. Seolah menjadi pertanda bahwa badai akan segera datang.
Dan Alya, gadis yang tidak pernah tahu bahwa dia adalah pewaris tahta mafia paling ditakuti di Asia, baru akan memasuki babak pertama dari hidupnya yang sesungguhnya.
---
Bab 2: Bayangan yang Menghantui
Alya menatap Auntie Rina dengan perasaan campur aduk. Ada ketakutan, kemarahan, dan rasa penasaran yang membara di dadanya. Selama ini dia hidup dengan kebohongan, dan kini kebenaran akan terungkap.
"Auntie... tolong katakan padaku. Siapa mereka?" suara Alya bergetar.
Auntie Rina menarik napas panjang. Tangannya gemetar saat meraih sebuah album foto tua dari balik lemari yang selama ini terkunci. Debu beterbangan saat album itu dibuka.
Di dalamnya terdapat foto-foto yang belum pernah Alya lihat sebelumnya. Sebuah pernikahan mewah. Seorang pria tampan dengan jas mahal dan wanita cantik dengan gaun putih. Mereka berdiri di samping altar yang dihiasi bunga-bunga eksotis.
"Itu... orang tuamu," bisik Auntie Rina. "Vittorio dan Isabella Ricci."
Alya menatap foto itu dengan tak percaya. "Ricci? Nama keluarga itu..."
"Ya. Keluarga mafia paling ditakuti di Asia Tenggara," sahut Paman Doni yang tiba-tiba muncul di pintu. Wajahnya pucat, matanya sembab. "Ayahmu adalah kepala keluarga Ricci. Ibumu adalah putri dari keluarga mafia saingan yang mereka kawini untuk perdamaian."
Alya terdiam. Dunianya yang selama ini sederhana—sebagai gadis pinggiran yang suka membuat masalah—tiba-tiba terasa sangat jauh. Dia bukan siapa-siapa. Dia adalah pewaris tahta kejahatan.
"Tapi kenapa... kenapa kalian tidak bilang?" suara Alya pecah.
"Karena mereka memintaku untuk melindungimu!" Paman Doni mendekat, meraih bahu Alya. "Vittorio takut. Di dunia mafia, anak-anak pemimpin adalah sasaran empuk. Ada terlalu banyak musuh yang mengincar. Dia mengirimmu ke sini agar kau bisa hidup normal. Bahagia. Aman."
Alya tertawa pahit. "Normal? Bahagia? Paman, hidupku kacau! Aku tumbuh tanpa orang tua, tanpa tahu siapa diriku sebenarnya. Dan sekarang kalian bilang semua ini hanya untuk melindungiku?"
"Aku tahu, Nak. Aku minta maaf." Paman Doni menunduk. "Tapi sekarang, keadaannya berbeda. Musuh-musuh ayahmu sudah mengetahui keberadaanmu. Kau tidak aman di sini lagi."
Sebelum Alya bisa merespons, sebuah suara berat terdengar dari luar apartemen. Kemudian pintu didobrak paksa.
Tiga pria berpakaian hitam berdiri di ambang pintu. Mereka membawa senjata yang terlihat jelas di balik jas mereka. Salah satu dari mereka, seorang pria tua dengan rambut putih dan mata elang yang tajam, melangkah maju.
"Selamat malam, Putri Alya," ucapnya dengan suara yang dalam. "Ayahmu mengirim kami untuk menjemputmu."
Alya mengerutkan kening. "Aku tidak pergi ke mana pun dengan orang asing."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Namaku Marco. Aku adalah tangan kanan ayahmu selama tiga puluh tahun. Dan aku punya perintah untuk membawamu pulang, dengan atau tanpa persetujuanmu."
Paman Doni melangkah maju, melindungi Alya. "Marco, kau tidak bisa sembarangan masuk ke sini. Vittorio berjanji—"
"Janji," potong Marco dengan dingin. "Dunia mafia tidak mengenal janji, Doni. Ada ancaman dari Keluarga Bianchi. Putri Ricci harus segera diamankan."
Alya merasakan amarahnya naik. Selama ini dia menjadi boneka yang dipindahkan sesuai keinginan orang lain. Dikirim ke sini, diputuskan untuknya, dan sekarang akan dibawa pergi tanpa bertanya.
"Aku bukan barang," katanya tajam. "Aku tidak akan pergi ke mana pun kalau aku tidak mau."
Marco mengangkat alis. Matanya berkilat ancaman, tapi di baliknya, Alya bisa melihat kekaguman. "Kau persis seperti ibumu. Tegas. Berani. Tidak takut pada siap pun."
Dia bertepuk tangan. Dua pria lainnya menghunus senjata mereka, mengarah ke Paman Doni dan Auntie Rina.
"Aku tidak ingin melukai mereka, Putri. Tapi jika kau memaksa..."
Alya menggertakkan gigi. Dia tidak bisa membiarkan Paman dan Auntienya terluka. Tidak peduli seberapa marahnya dia pada mereka.
"Baiklah. Aku ikut. Tapi lepaskan mereka."
Marco mengangguk. Para pria itu menurunkan senjata. "Keputusan bijak, Putri."
Alya berjalan ke arah pintu, lalu berhenti. Dia menoleh pada Paman Doni dan Auntie Rina yang menangis.
"Aku akan kembali. Dan setelah itu, kita akan bicara banyak hal."
Paman Doni mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Aku percaya padamu, Nak. Ayahmu... dia benar-benar menyayangimu. Dia melakukan semua ini untuk melindungimu."
Alya tidak menjawab. Dia mengikuti Marco keluar dari apartemen yang selama ini dia sebut rumah.
---
Di dalam mobil mewah yang melaju cepat menuju sebuah helikopter pribadi, Alya duduk diam. Pikirannya melayang ke mana-mana. Hidupnya yang sederhana, teman-temannya, pekerjaannya yang membosankan—semua akan berubah.
"Mau rokok?" tanya Marco, menawarkan sebatang rokok. Alya menggeleng.
"Aku tidak merokok."
Marco tersenyum. "Kebaikan yang diajarkan Paman Doni." Dia menghela napas. "Ayahmu sudah menunggu. Dia sangat ingin bertemu denganmu."
"Kalau dia begitu ingin, kenapa baru sekarang?" Alya tidak bisa menahan kepahitan dalam suaranya.
Marco terdiam beberapa saat. "Karena... dia takut. Takut kau akan membencinya. Takut kau tidak akan menerima dunia yang dia tinggali."
Alya menatap ke luar jendela. Lampu-lampu kota berkelebat, dan dia merasa seperti sedang melayang di antara dua dunia: dunia lama yang dia kenal, dan dunia baru yang akan dia masuki.
Helikopter sudah menunggu di sebuah lapangan terbuka. Saat mereka naik, Alya merasakan detak jantungnya berpacu. Dia akan bertemu dengan ayah kandungnya untuk pertama kalinya.
"Marco," panggilnya. "Seperti apa ayahku sebenarnya?"
Marco menatapnya dengan mata yang tajam. "Dia adalah pria yang bisa membunuh tanpa berkedip. Tapi dia juga pria yang menangis saat istrinya meninggal. Dunia kita penuh dengan kontradiksi, Putri. Kau akan segera mengetahuinya."
Helikopter lepas landas, meninggalkan kota yang selama ini menjadi rumah Alya. Dan di kejauhan, dia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.
Sebuah mobil meledak di jalanan dekat apartemennya.
"Apa itu?" tanyanya panik.
Marco melihat ke bawah. Wajahnya mengeras. "Keluarga Bianchi. Mereka sudah mulai bergerak. Mereka meledakkan apartemen tempat Paman dan Auntiemu tinggal."
Alya merasakan darahnya membeku. "AUNTIE! PAMAN!"
---
Di lokasi ledakan, Paman Doni dan Auntie Rina berhasil selamat karena Marco sudah memindahkan mereka ke tempat aman. Tapi Alya tidak tahu itu. Yang dia lihat hanyalah api yang membakar habis apartemen yang dia tinggali.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara bergetar. "Mengapa mereka meledakkan rumahku?"
"Karena mereka ingin membunuhmu," jawab Marco dengan dingin. "Selamat datang di dunia nyata, Putri Ricci. Dunia di mana setiap hari bisa menjadi hari terakhirmu."
Alya mengepalkan tangannya. Air mata mengalir di pipinya, tapi bukan air mata kesedihan—itu air mata kemarahan. Kemarahan pada ayahnya yang tidak pernah ada. Kemarahan pada dirinya sendiri karena begitu naif. Dan kemarahan pada Keluarga Bianchi yang berani mengancam orang-orang yang dia cintai.
"Aku akan membuat mereka membayar," sumpahnya dalam hati. "Aku akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab, dan aku akan membuat mereka merasakan sakit yang sama."
Di atas helikopter, di bawah langit malam yang gelap, Alya berubah. Gadis nakal yang suka membuat masalah kini telah menjadi seseorang dengan tujuan. Seseorang yang siap menghadapi dunia yang penuh kegelapan.
---
Di sebuah gudang tersembunyi di pinggiran kota, seorang pria dengan wajah penuh bekas luka tersenyum melihat ledakan di kejauhan.
"Kita berhasil, Tuan," lapor anak buahnya. "Apartemen itu hancur. Tidak ada yang selamat."
Pria itu, Alessandro Bianchi, kepala keluarga mafia saingan, mengangkat gelas wine-nya. "Bagus. Dengan begitu, masalah kecil dari keluarga Ricci telah terselesaikan."
Tapi yang tidak dia ketahui adalah bahwa Alya masih hidup. Dan di atas helikopter menuju markas Ricci, seorang gadis muda dengan mata penuh dendam sedang merencanakan balas dendam yang akan mengubah peta kekuasaan mafia selamanya.
Alya Ricci telah lahir kembali.