Bab
2
PILIHAN YANG MENYAKITIAN
Malam itu, hujan masih mengguyur Kota Arwana. Reza berdiri di ruang kerjanya dengan wajah penuh amarah. Di atas meja tergeletak foto-foto Alya yang diam-diam diambil oleh musuh.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya," ucap Reza lirih.
Dimas mengangguk. "Bos, Black Cobra sengaja memancing emosi kita."
"Kalau begitu, kita jangan bermain sesuai aturan mereka."
Keesokan harinya, Alya menerima sebuah amplop tanpa nama di depan rumahnya.
Dengan penasaran, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa foto Reza saat memimpin anak buahnya, lengkap dengan berita lama tentang seorang bos gengster yang paling ditakuti di Kota Arwana.
Wajah Alya langsung pucat.
"Jadi... selama ini Reza menyembunyikan semua ini dariku?"
Air matanya mulai menetes. Ia teringat semua perhatian dan kebaikan Reza, tetapi kini bayangan masa lalunya membuat hati Alya dipenuhi kebingungan.
Sore harinya, Reza datang menemui Alya di taman tempat mereka pertama kali bertemu.
Namun kali ini, Alya tidak menyambutnya dengan senyum.
"Semua ini benar?" tanya Alya sambil menunjukkan foto-foto itu.
Reza terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
"Iya... itu benar."
"Kenapa kamu tidak jujur sejak awal?"
"Aku takut kehilanganmu."
Alya menarik napas panjang.
"Aku tidak takut pada masa lalumu, Reza. Tapi aku kecewa karena kamu memilih menyembunyikan kebenaran."
Ucapan itu terasa lebih menyakitkan daripada pukulan musuh mana pun.
Dari kejauhan, Raka dan beberapa anggota Black Cobra memperhatikan mereka.
Raka tersenyum puas.
"Rencana bos berhasil. Sekarang hati mereka mulai retak."
Namun, tanpa mereka sadari, Reza melihat bayangan mereka di balik pepohonan.
Tatapannya berubah tajam.
Ia melangkah mendekati Alya.
"Dengarkan aku. Apa pun yang terjadi setelah ini, jangan pernah keluar rumah sendirian."
"Kenapa?"
"Karena mulai hari ini... mereka tidak hanya mengincarku."
Belum sempat Alya bertanya lagi, suara tembakan memecah kesunyian taman.
Dor!
Peluru menghantam bangku tempat mereka berdiri beberapa detik sebelumnya.
Reza langsung menarik Alya berlindung di balik tembok.
"Pegang aku dan jangan lepaskan!" serunya.
Di balik pepohonan, para anggota Black Cobra mulai mengepung mereka.
Pertarungan yang selama ini tak bisa dihindari akhirnya dimulai.
Suara tembakan memecah kesunyian.
Dor! Dor! Dor!
Orang-orang yang berada di taman berteriak panik dan berlarian menyelamatkan diri.
Reza segera menarik Alya ke balik tembok pembatas.
"Jangan keluar apa pun yang terjadi!" perintah Reza.
"Tapi kamu?"
"Aku akan menghentikan mereka."
Alya menggenggam lengan Reza dengan tangan gemetar.
"Tolong... jangan sampai kamu terluka."
Reza tersenyum tipis.
"Itu janjiku."
Ia lalu melangkah keluar dari persembunyian.
Lima anggota Black Cobra sudah mengepung taman dari berbagai arah.
Di tengah mereka berdiri Raka, tangan kanan bos Black Cobra.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Reza," ejek Raka.
Reza menatapnya tanpa rasa takut.
"Kalau urusanmu denganku, jangan libatkan perempuan yang tidak bersalah."
Raka tertawa.
"Justru karena dia, kau datang sendirian."
Pertarungan pun pecah.
Reza bergerak cepat, melumpuhkan dua anak buah Raka hanya dalam hitungan detik. Pukulan dan tendangannya membuat lawan-lawannya terpental.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Saat Reza lengah, Raka mengayunkan batang besi ke arah punggungnya.
Brak!
Reza terjatuh.
"Reza!" teriak Alya dari balik tembok.
Dengan sisa tenaganya, Reza bangkit kembali. Wajahnya dipenuhi darah, tetapi tatapannya tetap tajam.
"Aku belum kalah..."
Ia menyerang balik dan berhasil menjatuhkan Raka hingga tersungkur.
Tak lama kemudian, suara sirene polisi semakin dekat.
"Waktunya mundur!" teriak salah satu anggota Black Cobra.
Raka berdiri sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
"Kau menang hari ini, Reza."
"Tapi perang ini belum selesai."
Mereka segera melarikan diri sebelum polisi tiba.
Setelah keadaan aman, Alya berlari menghampiri Reza.
Melihat luka di wajah dan tangannya, air mata Alya tak mampu lagi dibendung.
"Kenapa kamu mempertaruhkan nyawamu demi aku?"
Reza menatap Alya dengan lembut.
"Karena... aku mencintaimu."
Alya terdiam. Kata-kata itu membuat jantungnya berdebar, tetapi rasa takut masih memenuhi pikirannya.
Sebelum Alya sempat menjawab, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan.
Seorang pria tua berjas keluar dengan wajah serius.
"Reza," katanya.
"Sudah lama kita tidak bertemu."
Reza langsung membeku.
"Pak Arman..."
Dimas yang baru tiba tampak terkejut.
"Bos... kenapa beliau ada di sini?"
Pria tua itu memandang Alya, lalu berkata pelan,
"Kalau kau ingin hidup tenang bersama perempuan itu, ada satu rahasia yang harus kau ketahui."
Reza mengepalkan tangannya.
Ia tahu, rahasia yang selama bertahun-tahun disembunyikan akhirnya akan terungkap.
Malam mulai turun. Lampu jalan menerangi wajah Reza yang masih dipenuhi luka. Di hadapannya berdiri Pak Arman, pria yang selama bertahun-tahun menghilang tanpa jejak.
Alya hanya bisa memandang bingung.
"Reza... siapa sebenarnya beliau?" tanya Alya.
Reza menarik napas panjang.
"Dia... mantan pemimpin geng yang membesarkanku."
Mata Alya membelalak. Ia mulai mengerti mengapa Reza begitu dihormati sekaligus ditakuti.
Pak Arman melangkah mendekat.
"Sudah waktunya kau mengetahui seluruh kebenaran."
Dua puluh tahun lalu, ayah Reza adalah seorang polisi yang terkenal jujur. Ia memimpin penyelidikan terhadap sindikat kriminal terbesar di Kota Arwana.
Namun sebelum kasus itu terungkap, ayah Reza dibunuh oleh seseorang yang hingga kini identitasnya masih menjadi misteri.
Saat itu Reza masih kecil.
Pak Arman menemukannya sendirian dan memutuskan merawatnya.
"Aku tidak pernah berniat menjadikanmu seorang gengster," kata Pak Arman dengan nada menyesal. "Aku hanya ingin kau tetap hidup."
Reza mengepalkan tangannya.
"Kenapa baru sekarang kau mengatakan semuanya?"
"Karena orang yang membunuh ayahmu sudah kembali."
Suasana mendadak hening.
"Siapa dia?" tanya Reza dengan suara berat.
Pak Arman menatap lurus ke mata Reza.
"Bos tertinggi Black Cobra."
Di tempat lain, markas Black Cobra dipenuhi tawa.
Bos mereka, yang selama ini selalu menutupi wajahnya, berdiri di depan jendela.
"Reza akhirnya mulai mengetahui masa lalunya."
Raka menundukkan kepala.
"Perintah selanjutnya, Bos?"
Pria itu tersenyum dingin.
"Kalau dia ingin membalas dendam... biarkan dia datang."
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah kalung tua bergambar burung elang.
"Itu milik ayah Reza. Sengaja kusimpan agar suatu hari nanti dia datang mencariku."
Sementara itu, Alya memegang tangan Reza.
"Jangan biarkan dendam menguasai hatimu."
Reza menatap Alya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku berjanji akan melindungimu. Tapi aku juga harus menyelesaikan masa laluku."
Alya mengangguk pelan.
"Aku akan menunggumu. Tapi berjanjilah... pulanglah dengan selamat."
Reza mengangguk mantap.
"Ini janjiku."
Namun, tanpa mereka sadari, seorang pengkhianat di dalam kelompok Reza sedang mengirim pesan rahasia kepada Black Cobra.
"Reza akan menyerang markas kalian besok malam."
Pesan itu terkirim.
Di sisi lain, bos Black Cobra tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau begitu... besok malam akan menjadi akhir bagi Reza."
Bersambung ke Bab 3...