Bab
1
Reza Sang Penguasa Jalanan
Malam di Kota Arwana tak pernah benar-benar tidur. Suara raungan motor, lampu neon yang berkedip, dan aroma hujan yang membasahi aspal menjadi saksi siapa penguasa jalanan sesungguhnya.
Namanya Reza Pratama.
Usianya baru dua puluh delapan tahun, tetapi namanya sudah membuat banyak orang gemetar. Ia adalah bos gengster paling disegani. Wajah tampannya menyimpan tatapan dingin yang sulit ditebak. Setiap keputusan yang keluar dari mulutnya adalah perintah yang tak boleh dibantah.
"Bos, wilayah timur sudah aman," lapor Dimas, tangan kanan Reza.
Reza hanya mengangguk pelan sambil mengisap rokoknya. "Pastikan tidak ada yang mengganggu warga. Kita bukan preman yang mencari musuh tanpa alasan."
Semua anak buahnya tahu, meski ditakuti, Reza memiliki satu aturan: jangan pernah menyakiti orang yang tidak bersalah.
Namun hidupnya berubah pada suatu sore.
Saat sedang melewati sebuah taman kota, pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang sedang membantu anak kecil mengambil balon yang tersangkut di pohon.
Perempuan itu tersenyum begitu tulus.
Senyum yang belum pernah Reza lihat selama hidupnya.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Siapa dia?" gumam Reza.
"Namanya Alya, Bos," jawab Dimas setelah mencari informasi. "Dia guru taman kanak-kanak. Hidup sederhana. Tidak punya hubungan dengan dunia kita."
Reza memandang Alya dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, pria yang ditakuti banyak orang itu merasa gugup.
"Aku ingin mengenalnya."
Dimas terkejut. "Bos... serius?"
Reza tersenyum tipis.
"Selama ini aku mengejar kekuasaan. Sekarang... aku ingin mengejar cinta."
Namun Reza tidak tahu, masa lalunya yang kelam akan menjadi penghalang terbesar. Di balik senyum Alya, ada rahasia yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya.
Pagi itu, langit Kota Arwana diselimuti mendung tipis. Reza memarkir mobil hitamnya di seberang taman kanak-kanak tempat Alya mengajar. Untuk pertama kalinya, ia mengenakan kemeja putih sederhana, bukan pakaian serba hitam yang biasa membuat orang-orang langsung mengenali siapa dirinya.
"Bos, yakin mau turun sendiri?" tanya Dimas.
Reza mengangguk. "Hari ini aku bukan bos gengster. Aku hanya seorang pria yang ingin berkenalan."
Tak lama kemudian, Alya keluar dari gerbang sekolah sambil membawa beberapa buku. Saat hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju kencang ke arahnya.
"Awas!" teriak Reza.
Tanpa berpikir panjang, Reza berlari dan menarik Alya menjauh. Buku-buku di tangan Alya jatuh berserakan.
"Maaf... saya tidak melihat motor itu," ucap Alya pelan.
"Yang penting kamu tidak apa-apa," jawab Reza.
Alya menatap pria di depannya. Wajah Reza terlihat tenang, tetapi napasnya masih tersengal karena berlari.
"Terima kasih. Nama saya Alya."
Reza tersenyum tipis.
"Reza."
Mereka saling berjabat tangan. Untuk sesaat, dunia seakan berhenti. Reza yang selama ini tak pernah gentar menghadapi lawan, kini justru gugup saat menatap mata seorang perempuan.
Namun, dari kejauhan, seseorang memotret momen itu.
Pria bertopi hitam itu segera mengirim foto tersebut kepada bos geng lawan.
"Bos... Reza punya kelemahan. Dia jatuh cinta."
Di tempat lain, bos geng rival tersenyum licik.
"Kalau begitu... perempuan itu akan menjadi umpan untuk menghancurkannya."
Sementara itu, Reza sama sekali belum menyadari bahwa pertemuan sederhana itu telah memicu awal dari perang yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Sejak pertemuan itu, bayangan Alya terus memenuhi pikiran Reza. Di tengah rapat bersama anak buahnya, pikirannya sering melayang mengingat senyum sederhana perempuan itu.
"Bos?"
Suara Dimas membuyarkan lamunannya.
"Kita mendapat kabar. Geng Black Cobra mulai bergerak. Mereka mengumpulkan orang-orang bersenjata di wilayah utara."
Reza berdiri dari kursinya.
"Jangan bertindak gegabah. Awasi mereka. Kalau mereka mengganggu warga, baru kita turun."
"Siap, Bos."
Sore harinya, Alya berjalan pulang setelah selesai mengajar. Tanpa ia sadari, sebuah mobil hitam mengikuti dari kejauhan.
Di dalam mobil itu duduk Raka, tangan kanan bos Black Cobra.
"Itu perempuan yang difoto kemarin?"
"Iya."
Raka tersenyum sinis.
"Jangan sentuh dia dulu. Kita lihat seberapa jauh Reza akan melindunginya."
Di sisi lain, Reza sengaja datang ke sebuah toko buku yang sering dikunjungi Alya. Kali ini ia memberanikan diri menyapa lebih dulu.
"Halo, Alya."
Alya menoleh dan tersenyum.
"Halo, Reza. Kebetulan sekali bertemu lagi."
Mereka berbincang cukup lama. Alya bercerita tentang pekerjaannya sebagai guru yang bercita-cita membuka sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu.
Reza hanya mendengarkan sambil tersenyum. Dalam hati ia berkata, Andai Alya tahu siapa diriku sebenarnya... apakah senyum itu masih akan tetap ada?
Saat mereka keluar dari toko buku, Reza menangkap pantulan cahaya kamera dari atap gedung di seberang jalan.
Tatapannya langsung berubah tajam.
"Mereka mulai mengawasi..."
Reza segera mengantar Alya pulang dengan alasan hari sudah mulai gelap. Dari kejauhan, Raka mengepalkan tangan.
"Benar. Dia benar-benar jatuh cinta."
Malam itu, markas Black Cobra dipenuhi tawa.
Bos mereka melempar foto Reza dan Alya ke atas meja.
"Selama bertahun-tahun, kita tak pernah menemukan kelemahan Reza. Sekarang kita sudah menemukannya."
Ruangan mendadak sunyi.
Bos Black Cobra tersenyum dingin.
"Mulai malam ini... permainan yang sebenarnya dimulai."
Sementara itu, Reza yang berdiri di balkon markasnya memandang langit malam. Ia belum tahu bahwa orang yang paling ingin ia lindungi kini telah menjadi target musuh paling berbahaya.
Hujan turun deras membasahi Kota Arwana. Reza berdiri di depan jendela markasnya, memandangi jalanan yang sepi. Instingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
"Bos," ujar Dimas sambil masuk tergesa-gesa. "Anak buah kita melihat beberapa anggota Black Cobra berkeliaran di sekitar rumah Alya."
Tatapan Reza langsung berubah tajam.
"Tambah penjagaan. Jangan sampai mereka tahu kita melindunginya."
"Siap."
Keesokan paginya, Alya berangkat mengajar seperti biasa. Ia sama sekali tidak menyadari ada dua mobil yang diam-diam mengawasinya dari kejauhan. Satu mobil milik anak buah Reza, satu lagi milik Black Cobra.
Saat jam sekolah usai, Alya berjalan menuju halte bus.
Tiba-tiba sebuah van berhenti tepat di depannya.
Pintu samping terbuka.
Dua pria bertopeng turun dan berusaha menarik Alya masuk ke dalam kendaraan.
"Lepaskan aku!"
Jeritan Alya menggema di jalan.
Di saat yang sama, sebuah mobil hitam meluncur dengan kecepatan tinggi.
"Ciiittt!"
Reza keluar sebelum mobil benar-benar berhenti.
"Berani sekali kalian!"
Salah satu penculik mengayunkan besi, tetapi Reza berhasil menghindar dan melumpuhkannya. Dua orang lainnya mencoba menyerang bersamaan. Pertarungan sengit tak terelakkan di tengah hujan.
Beberapa detik kemudian, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Para penculik panik.
"Mundur! Cepat!"
Mereka melarikan diri sebelum sempat membawa Alya.
Alya masih gemetar. Reza melepas jaketnya dan menyelimutkannya di bahu Alya.
"Terima kasih... kalau tidak ada kamu..." ucap Alya dengan suara bergetar.
Reza tersenyum tipis.
"Yang penting kamu selamat."
Alya menatap Reza lekat-lekat.
"Reza... sebenarnya siapa kamu? Orang biasa tidak mungkin bisa bertarung seperti itu."
Reza terdiam.
Ia ingin jujur, tetapi ia takut kehilangan perempuan yang baru saja mengisi hatinya.
"Aku... hanya seseorang yang pernah menjalani hidup yang keras."
Alya tidak memaksa. Namun, sejak hari itu, ia mulai merasa bahwa Reza menyimpan rahasia besar.
Di kejauhan, dari balik gedung, seseorang kembali memotret mereka.
Bos Black Cobra melihat foto itu dan tersenyum dingin.
"Kalau penculikan gagal... saatnya kita gunakan cara yang lebih kejam."
Ia mengangkat telepon dan berkata singkat,
"Siapkan rencana berikutnya. Kali ini, Reza akan dipaksa memilih... kekuasaan atau cinta."
Bersambung lanjut bab 2...