Sebelum rumah kami diketuk oleh lelaki berseragam abu-abu pembawa kabar duka itu, dunia kami sebenarnya sudah cukup sunyi. Kami tinggal di sebuah rumah beratap rumbia yang jika hujan tiba, musik pertama yang kami dengar adalah dentang air yang jatuh ke dalam ember-ember plastik penampung bocor. Namun, di dalam rumah yang ringkih itu, kami punya Hanif.
Hanif adalah abangku. Usianya dua puluh dua tahun, terpaut empat tahun di atasku. Di keluarga kami, Hanif bukan sekadar anak sulung; ia adalah tiang penyangga yang menolak membiarkan atap rumah kami yang lapuk menjatuhi kepala kami. Sejak Bapak meninggal lima tahun lalu karena paru-paru basah yang tak pernah mampu kami obati, Hanif berhenti sekolah. Ia merantau ke kota, menjadi buruh bangunan apa saja, mengirimkan lembar demi lembar uang puluhan ribu yang lecek demi memastikan aku bisa tetap memakai seragam putih-abu-abu.
Hanif adalah jenis manusia yang tidak pernah membiarkan Ibu meletakkan telapak tangannya yang pecah-pecah ke atas dahi karena pusing memikirkan beras besok pagi. Setiap kali matahari hampir tenggelam, ia akan duduk di lantai tanah teras rumah, mengasah parang atau membersihkan sepatu bot karetnya yang robek di bagian jempol.
"Rara," panggilnya sore itu, beberapa bulan sebelum ia memutuskan pergi ke kota. Suaranya selalu berat, tetapi punya nada yang menenangkan. "Kalau nanti Abang kerja di kota, kamu jaga Ibu, ya. Belajar yang rajin. Jangan mikirin biaya. Selama tangan Abang masih bisa megang sekop, kamu harus tetap sekolah."
Waktu itu, Hanif tersenyum. Giginya yang gingsul membuat wajahnya terlihat selalu kekanak-kanakan meski pundaknya sudah dipaksa jadi sedewasa batu karang. Ia memberikan aku sebuah pulpen murah bertinta hitam. "Pakai ini buat belajar. Kalau tintanya habis, bilang Abang. Nanti Abang belikan satu pak."
Aku merawat pulpen itu seperti jimat. Dan beberapa bulan kemudian, jimat itu menjadi satu-satunya benda yang menghubungkan aku dengan detak jantungnya yang sudah berhenti.
------------------------------
Luka itu tidak memiliki suara. Ia hanya berupa ketukan pelan di pintu rumah tua kami, dibawa oleh seorang lelaki berseragam abu-abu yang wajahnya dibasuh peluh. Sore itu, langit di atas kampung kami berwarna keunguan, seperti memar yang dipaksa sembuh. Ibu sedang di dapur, merebus sisa-sisa kegagalan hari ini: dua buah talas kecil yang didapat dari ladang belakang milik tetangga yang berbaik hati.
"Keluarga Bapak tiri dari Hanif?" tanya lelaki itu. Suaranya serak, khas orang yang baru saja menempuh perjalanan jauh dengan sepeda motor tua.
Ibu keluar dengan menyeka tangan pada kain jarik loak yang diikat di pinggangnya. Rambutnya yang mulai memutih mencuat di sana-sini, kering dan patah. "Iya, benar. Saya ibunya. Ada apa, Pak?"
Lelaki itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyerahkan sebuah kantong plastik hitam yang diikat simpul mati. Di dalamnya, samar-samar aku bisa melihat bentuk tas ransel kain milik Hanif—tas yang ritsletingnya sudah rusak sejak dua tahun lalu dan hanya ditautkan dengan peniti karat.
"Mas Hanif kecelakaan di proyek, Bu. Jatuh dari lantai empat. Tadi siang. Jenazahnya sudah di rumah sakit daerah. Ini barang-barangnya yang tersisa," ucap lelaki itu pelan, nyaris berbisik, seolah-olah jika ia mengeraskan suara, bumi akan runtuh.
Bumi tidak runtuh. Tapi duniaku dan Ibu berhenti berputar seketika.
Ibu tidak menjerit. Beliau tidak pingsan seperti perempuan-prempuan di dalam sinetron televisi tetangga. Ibu hanya menerima plastik itu, memeluknya di dada, lalu duduk perlahan di lantai tanah teras rumah kami. Matanya menatap lurus ke arah pohon mangga yang meranggas di halaman. Kosong. Begitu kosong hingga aku bersumpah, ketakutan terbesar dalam hidupku adalah melihat mata Ibu yang kehilangan cahayanya sore itu.
Aku memandangi pulpen di kantong seragamku yang mulai menguning. Pulpen itu belum habis, tapi tangan yang memberikannya sudah mendingin di atas meja besi rumah sakit nun jauh di sana.
------------------------------
Perjalanan menuju kota malam itu adalah perjalanan paling panjang dalam hidupku. Kami menumpang mobil pikap sayur milik Pak RT yang kebetulan subuh nanti hendak ke pasar induk kota. Ibu duduk di bak belakang, bersandarkan karang-karang kol yang dingin, memeluk erat plastik hitam berisi tas Hanif. Sepanjang jalan yang berbatu dan gelap, Ibu tidak sepeser pun mengeluarkan air mata. Beliau hanya merapalkan selawat yang patah-patah, suaranya parau, menyatu dengan deru mesin mobil yang kepayahan menanjak bukit.
Aku memeluk lengan Ibu yang kurus. Tubuhnya bergetar, bukan karena angin malam yang menusuk tulang, melainkan karena seluruh sendinya sedang menahan ledakan besar yang menolak keluar.
"Bu," bisikku, air mataku sudah meluas di pipi sejak kami berangkat. "Ibu nangis aja, Bu. Jangan diginiin."
Ibu menoleh padaku. Dalam remang lampu jalan tol yang sesekali menyinari bak pikap, wajah Ibu terlihat seperti pahatan batu yang rapuh. "Abangmu nggak suka lihat Ibu nangis, Ra. Dia selalu billing, kalau Ibu nangis, rezekinya seret di kota. Ibu mau rezeki Abangmu lancar, biar dia bisa pulang bawa baju baru buat kamu."
Pikiran Ibu macet. Beliau menolak percaya bahwa Hanif sudah tidak butuh lagi mencari rezeki.
Ketika kami sampai di kamar jenazah menjelang dini hari, bau formalin dan anyir langsung menyergap indra penciuman. Di atas sebuah dipan besi, sesosok tubuh membujur ditutupi kain jarik motif serupa dengan yang dipakai Ibu di rumah. Petugas rumah sakit, seorang pria paruh baya dengan lingkaran hitam di matanya, menatap kami dengan tatapan iba yang sudah terlalu sering ia berikan pada orang-orang miskin yang datang ke tempat ini.
"Mau dipastikan dulu, Bu?" tanya petugas itu lembut.
Ibu melangkah maju. Langkahnya terseret-seret, seolah-olah sepasang kakinya terbuat dari timah hitam. Aku mengikuti di belakang, memegangi ujung baju Ibu, seluruh tubuhku gemetar hebat hingga gigiku berantukan.
Ibu membuka kain penutup itu perlahan, dari bagian kepala.
Itu memang Hanif. Tapi itu bukan Hanif yang kukenal. Wajahnya yang biasa bersih kini penuh dengan memar kebiruan dan luka robek di pelipis yang sudah dijahit dengan kasar. Ada sisa tanah kering yang menempel di sela-sela rambut ikalnya. Pundak yang biasanya kokoh itu kini tampak miring, remuk dihantam beton tempatnya terjatuh.
Di situlah Ibu runtuh. Beliau tidak menjerit badai, namun suara yang keluar dari tenggorokannya adalah sejenis lenguhan panjang, suara binatang buruan yang sekarat setelah dadanya ditembus anak panah. Ibu menjatuhkan wajahnya ke dada Hanif yang kaku, memeluk tubuh dingin itu dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.
"Hanif... ini Ibu, Nak... Ibu datang..." bisik Ibu, suaranya pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. "Bangun, Le... Ibu nggak butuh baju baru. Rara nggak butuh pulpen lagi. Kita pulang ya? Kita makan talas di rumah..."
Aku memalingkan wajah ke dinding. Air mataku jatuh deras, membasahi lantai semen yang dingin. Di sudut ruangan, aku melihat sepasang sepatu bot karet milik Hanif yang robek di bagian jempolnya, tergeletak di pojok meja, dipenuhi noda semen kering yang mengeras. Sepatu itu yang menemaninya memanjat tiang-tiang besi pembawa maut itu.
------------------------------
Kami membawa Hanif pulang pagi harinya, menggunakan ambulans rumah sakit yang biayanya dibayar dari sumbangan patungan para pekerja proyek sesama teman Hanif. Mereka mengumpulkan uang di dalam kardus mi instan; lembaran seribuan, dua ribuan, dan lima ribuan yang lecek oleh keringat. Ketika salah satu mandor menyerahkan uang itu pada Ibu, ia tertunduk dalam-dalam.
"Maafkan kami, Bu. Pengaman kerjanya memang kurang. Hanif tadi mau mengambil ember temannya yang hampir jatuh, tapi dia malah terpeleset," kata mandor itu dengan mata berkaca-kaca.
Ibu menerima uang itu tanpa melihatnya. Beliau hanya mengangguk pelan. Bagi Ibu, dan bagi kami, uang satu kardus pun tidak akan pernah bisa bernapas, tidak akan pernah bisa pulang di malam hari dan memanggil "Ibu" dengan suara gembira yang mengalahkan rasa lelah.
Pemakaman Hanif berlangsung cepat dan sepi. Kampung kami tidak dihuni oleh banyak orang kaya yang bisa meninggalkan pekerjaan mereka untuk melayat lama-lama. Setelah tanah merah ditimbun dan doa-doa terakhir selesai dirapalkan oleh Pak Ustaz, satu per satu tetangga pamit pulang karena harus kembali ke sawah dan ladang.
Tinggallah aku dan Ibu di depan gundukan tanah yang masih basah itu. Matahari siang menyengat tanpa ampun, menimbulkan bau tanah berbaur kembang kamboja yang menusuk hidung.
Ibu duduk bersimpuh, jemarinya yang gemetar mengusap nisan kayu jati yang ditulis nama Hanif dengan cat warna putih yang belum sepenuhnya kering.
"Ra," panggil Ibu sehabis hening yang lama.
"Iya, Bu?"
"Buka tas Abangmu. Ibu mau tahu apa yang dia bawa buat kita."
Aku berlutut di samping Ibu, membuka simpul plastik hitam yang dibawa petugas kemarin. Aku mengeluarkan tas ransel kain Hanif. Baunya keringat berbaur debu semen. Ritsletingnya yang rusak masih tertaut peniti. Aku membuka peniti itu berhati-hati, lalu merogoh ke dalamnya.
Di dalam tas itu tidak ada banyak barang. Hanya ada dua potong baju kaos oblong yang sudah menipis, satu celana panjang penuh noda cat, dan sebuah dompet plastik tiruan yang sudah mengelupas sudut-sudutnya.
Aku membuka dompet itu. Di dalamnya tidak ada uang sepeser pun. Hanya ada selembar kartu tanda penduduk Hanif yang fotonya sudah agak buram, dan sekeping foto kecil kami bertiga—Ibu, Hanif, dan aku—yang diambil di pasar malam tiga tahun lalu menggunakan kamera ponsel temannya yang kemudian dicetak seadanya.
Namun, di bagian kompartemen utama tas, ada benda lain yang dibungkus dengan koran bekas berulang kali. Bentuknya memanjang dan agak berat.
Dengan tangan yang gemetar, aku membuka gulungan koran itu satu demi satu. Ketika lapisan koran terakhir terbuka, dadaku terasa seperti dihantam oleh godam besar.
Itu adalah sebuah kotak plastik transparan berisi satu pak pulpen bertinta hitam. Di atas kotak itu, ada selembar kertas kecil yang disobek dari buku nota proyek. Di sana, tertulis pesan pendek dengan tulisan tangan Hanif yang besar-besar dan kaku, menggunakan pensil tukang yang tebal:
Untuk Rara. Belajar yang pinter ya, Dek. Ini Abang belikan satu pak, biar Rara nggak usah bingung kalau tintanya habis sampai lulus sekolah nanti. Maaf Abang belum bisa belikan sepatu baru, bulan depan Abang usahakan.
Aku memandangi pulpen-pulpen itu. Mereka berjejer rapi, berkilau di bawah terik matahari siang. Mereka hitam, kokoh, dan penuh dengan tinta yang siap menuliskan masa depan yang sudah dirancang Hanif untukku dengan bayaran nyawanya.
Aku menatap Ibu, lalu beralih ke gundukan tanah di depan kami. Air mataku yang sempat mengering kini tumpah lagi, lebih deras, lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Aku memeluk kotak pulpen itu ke dadaku, merasakan permukaannya yang keras menekan tulang rusukku.
"Bang..." bisikku, suaranya tercekat di tenggorokan. "Tintanya banyak banget, Bang... Rara harus nulis sepanjang apa biar Abang bisa lihat dari sana?"
Ibu mengambil satu pulpen dari kotak itu. Beliau memeganginya dengan kedua tangan, lalu menekannya ke atas tanah makam Hanif, seolah-olah ingin menanam pulpen itu di sana agar tumbuh menjadi sesuatu yang bisa membawanya kembali pada kami.
Angin siang berembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon kamboja tua di atas kami. Tidak ada jawaban dari dalam tanah. Hanya keheningan yang luar biasa berat, keheningan yang kini harus kami bawa di dalam saku kami setiap hari, sepanjang sisa hidup yang berjalan tertatih-tatih tanpa dirinya.
------------------------------
Tahun-tahun berlalu seperti langkah kaki yang dipaksa berjalan di atas pecahan kaca. Rumah beratap rumbia kami masih bocor, tetapi suara dencing airnya kini tidak lagi diiringi tawa Hanif. Di meja belajar kayuku yang sudah reyot dimakan rayap, kotak plastik berisi satu pak pulpen peninggalan Abang berdiri dengan anggun. Setiap kali aku merasa lelah, setiap kali aku ingin menyerah karena lapar atau karena ejekan teman-teman sekolah tentang seragamku yang semakin menguning, aku akan menyentuh kotak itu.
Aku menggunakan pulpen itu satu demi satu. Setiap goresan tinta hitam di atas kertas adalah detak jantung Hanif yang dipinjamkan kepadaku. Aku menulis lembar demi lembar jawaban ujian, merangkai catatan pelajaran, hingga akhirnya malam kelulusan itu tiba.
Aku lulus sebagai lulusan terbaik di sekolahku. Namun, tidak ada perayaan mewah. Sore hari setelah menerima ijazah, aku dan Ibu kembali berjalan ke pemakaman di ujung kampung.
Ibu berjalan lebih lambat sekarang. Penyakit rematik dan kesedihan yang menumpuk membuat langkahnya kian ringkih. Kami duduk di samping makam Hanif yang kini sudah ditumbuhi rumput gajah mini yang kurawat sendiri.
Aku mengeluarkan pulpen terakhir dari pak plastik itu. Pulpen kesebelas. Tintanya tinggal setengah.
"Bang," bisikku sambil meletakkan lembar ijazahku di atas rumput makamnya, menahannya dengan sebutir batu agar tidak terbang ditiup angin. "Rara lulus. Rara dapat beasiswa penuh ke universitas di kota."
Ibu mengusap nisan kayu Hanif yang catnya sudah mengelupas. Air mata Ibu yang kupikir sudah habis bertahun-tahun lalu, ternyata masih menyisakan aliran hangat di pipinya yang kian keriput. "Anakku... adikmu sudah jadi orang, Le. Kamu bisa tidur tenang sekarang..."
Aku menggenggam pulpen terakhir itu erat-heavy. Ujungnya yang runcing terasa dingin di jemariku.
"Tinta dari Abang habis tepat hari ini," kataku, suaraku tersendat oleh rasa sesak yang kembali naik ke dada. "Tapi naskah kehidupan yang Abang tulis buat Rara baru saja dimulai. Rara janji, Bang... Rara nggak akan membiarkan setetes pun keringat dan darah Abang terbuang sia-sia."
Kami bangkit berdiri ketika langit mulai berubah jingga keunguan, warna yang sama persis dengan sore hari saat kabar duka itu datang lima tahun lalu. Namun kali ini, memar di langit itu tidak lagi terasa menyakitkan. Ia terasa seperti pelukan hangat yang jauh. Kami melangkah pulang, meninggalkan gundukan tanah itu dalam keheningan yang damai, membawa sisa tinta terakhir yang kini telah abadi di dalam kepalaku.
TAMAT
------------------------------