Halo teman-teman! Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi di keluargaku. Beberapa bagian diceritakan kembali agar lebih mudah dinikmati sebagai sebuah cerpen.
Aba adalah panggilan yang dalam bahasa Arab berarti "bapak". Namun, bagiku, "Aba" bukan sekedar sebuah kata. Itulah panggilan yang sejak kecil ku ucapkan jiuntuk kakek dari pihak mamahku. Setiap kali mendengar kata itu, yang terlintas di benakku bukan hanya sosok seorang kakek, melainkan juga senyum hangat, kasih sayang yang sederhana dan sebuah motor tua yang selalu setia menemaninya ke mana pun ia pergi.
Ada satu hal yang selalu kuingat tentang Aba. Motor butut yang selalu menemaninya. Kata Ummi, motor itu bukan di beli dari dealer ataupun diwariskan oleh siapa pun. Entah bagaimana awalnya, Aba menemukannya saat masih menjadi seorang pengembara, Jauh sebelum menikah dengan nenekku yang kupanggil Ummi.
Ada kisah menarik di balik Aba dan motor bututnya. Karena motornya sudah tua dan sering dianggap kurang layak dibandingkan motor-motor lain pada zamannya. Aba memilih menjadi tukang ojek pada malam hari. Saat siang, penumpang lebih memilih ojek dengan motor yang lebih bagus. Namun, ketika malam hari tiba dan pilihan hanya sedikit, motor butut Aba tetap setia mengantarkan orang-orang yang membutuhkan.
Bagi orang lain, motor itu mungkin hanya kendaraan tua yang nyaris tak dilirik. Namun, bagi Aba, motor itu adalah teman seperjuangan yang membantunya mencari nafkah untuk keluarga.
Malam itu sekitar pukul sembilan lewat, hampir setengah sepuluh. Seperti biasa, Aba mengendarai motor butut kesayangannya berkeliling mencari penumpang. Angin malam berhembus dengan pelan, sementara jalan mulai lengang.
Disebuah pinggir jalan, Aba melihat seorang pemuda yang usianya kira-kira masih anak SMA. Ia berdiri seorang diri di dekat halte, sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada angkot yang lewat. Namun malam itu berbeda, biasanya masih banyak angkot yang wara-wiri , tetapi entah mengapa, tak satu pun di malam itu ada yang melintas. Melihat pemuda itu terus menunggu dengan wajah gelisah, Aba pun memperlambat lanjut motornya hingga berhenti tepat di depan pemuda yang sedari tadi dilihatnya.
"Tong, mau kemana malam-malam ginihh"? Tanya Aba dengan logat Betawinya yang Khas dan senyuman yang selalu terukir di wajahnya.
"Saya mau pulang Pak". Jawab pemuda itu dengan pelan dan senyum sopan santunnya.
"Rumahnya daerah mana Tong"?
"Poris Pak"
Aba tersenyum. "Ooh Deket itumah. Ayodah, naek motor Bapak. Bapak anterin sampe depan rumah".
Pemuda itu tampak ragu. "Emang gak ngerepotin pak?"
Enggaklah. Daripada nungguin angkot kaga ada yang lewat, tumbenan banget juga biasanya Waya ginih masih banyak angkot berkeliaran, ini mah sepi.
Pemuda itu pun naik ke jok belakang motor butut Aba. Motor tua itu melaju dengan pelan membelah dinginnya malam hingga akhirnya berhenti tepat di depan rumah sang pemuda.
Seorang pria paruh baya berbaju kaos oblong dengan sarungnya tampak berdiri di depan Jaro (sebutan pagar bambu bahasa Betawi) dengan wajah penuh dengan kecemasan. Begitu melihat anaknya turun dari motor, ia langsung menghampiri Aba.
"Yaa Allaah... Makasih banyak yaa pak. Saya dari tadi kuwatir banget. Anak saya belom pulang abis tugas kelompok. Saya sampe kepikiran banget tuhh bocah tumben banget Waya ginih belom pulang, emaknya juga di dalem rumah sampe timplang-timpling (mondar-mandir) dari tadi sampe ketiduran. Saya mau nyamperin anak saya, saya ga tahu rumah temennya tuh bocah dimana".
Aba hanya tersenyum ketika Sang ayah dari pemuda tersebut berceloteh dengan nada khawatir.
Sama-sama bang. Saya juga bakalan kaya Abang kalo anak saya belom di rumah. Saya liat anak Abang lagi ada dipinggir jalan, manah sendirian aja bari (sembari) nungguin angkot, mana kaga ada yang lewat barang satu juga. Saya jadi keinget anak saya di rumah. Yaudah saya anterin aja anak Abang, saya bilang saya bakal anterin depan rumah.
Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang 500 perak rupiah. Pada saat itu nilainya masih besar.
"Ini pak tolong di terima ya..
Anggep aja rasa terima kasih. Biar kata ikhlas juga rasa syukur anak saya udah pulang dengan selamet, sehat wal afiyat tanpa kekurangan satu apapun.
Aba menggeleng pelan.
"Engga usah bang saya ikhlas"
"Engga apa-apa pak ambil ajah"
"Udah bang, simpen aja buat Si Entong. Saya pamit dulu"!
"Engga mampir pak, kali aja gitu minum dulu".
"Engga bang, makasih banyak laen kali aja, udah malem banget ini, kasian bini saya nungguin di rumah sama anak-anak".
"Assalamualaikum" pamit abaku.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya pak di jalan". Jawaban salam dan ucapan pria itu.
Aba pun menyalakan kembali motor bututnya tanpa menerima sepeserpun uang. Baginya, melihat seorang anak tiba di rumah dengan selamat sudah menjadi balasan yang lebih berharga daripada upah apa pun.
Part 2
Masih terinspirasi dari kisah yang sama tentang Aba, kali ini ada pengalaman yang tak kalah membekas oleh keluargaku terutama aku.
Selamat membaca, teman-teman.
Semoga kalian suka ceritanya 🤍
Selepas mengantar pemuda itu pulang, Aba kembali mengendarai motor bututnya menyusuri jalan kali Sipon. Angin malam berhembus pelan, sementara suara mesin tua motornya masih setia menemani perjalanan.
Malam semakin larut. Jalanan yang masih ramai kini mulai lengang. Aba terus melaju hingga tiba di sebuah gang yang di ujungnya berdiri sebuah masjid bercat putih dan kuning di jalan Al-Fitroh. Disanalah perjalanan malam itu kembali mempertemukan Aba dengan sebuah kisah yang tak pernah beliau sangka.
Tak jauh dari masjid putih kuning, di jalan yang membentang di antara masjid dan sebuah pabrik, Aba melihat seorang anak perempuan berdiri seorang diri di tepi jalan.
Usianya sekitar sepuluh tahun, dengan tinggi badan yang sesuai anak seusianya. Rambut hitam panjang ikal pada bawahnya tertata dengan sangat rapih, wajahnya bersih, dan sorot matanya begitu teduh. Selama hidupnya, Aba belum pernah melihat anak sekecil itu memiliki paras yang begitu menawan. Kalau kata Abaku cuaaaantiiik bangeet, saking saking cantiknya kala aba mengingat rupanya. Namun, bukan kecantikannya yang membuat berhenti, melainkan tatapan bingung di wajah anak itu, seolah sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
Rasa penasaran membuat Aba memperlambat laju motornya. Sesampainya tepat di depan anak perempuan itu, beliau menghentikan motor bututnya. Aba tetap duduk di atas motornya, lalu menatap anak itu dengan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Dari jarak yang dekat, anak perempuan itu tampak tenang berdiri seorang diri di tengah malam yang sangat sepi dan sunyi.
Anak perempuan itu berdiri dengan posisi yang terasa janggal. Wajahnya menengadah ke langit, dengan kedua matanya yang berbulu mata sangat lentik dan tebal terbuka dengan lebar tanpa sekalipun berkedip.
Aba menempatkan motor tepat di depan anak kecil itu. Aba tetap duduk di atas motor, lalu mulai menyapanya dengan ramah.
"Neng, kenapa neng"? Abis dimarahin yaa sama mamah, makanya keluar dari rumah"?
Tak ada jawaban.
Anak itu bahkan tidak menoleh sedikit pun. Tatapannya tetap lurus ke atas, seolah sedang memperhatikan sesuatu yang tak dapat dilihat oleh siapa pun.
"Ayo neng. Bapak anter pulang. Nanti bapak bilangin ke mamahnya biar ga ngomelin Eneng lagi".
Masih tetap tak menjawab.
"Apa Eneng lapar yah? Kalo laper ayo bapak beliin makan, di depan Sono ada warteg kalo emang mau makan mah. Tenang bapak bayarin".
Tetap hening.
Hampir 30 menit Aba membujuknya. Aba sampai berjanji akan membelikannya makanan dan jajanan. Namun, anak itu tetap membisu.
Saat itulah gerimis mulai turun. Rintik-rintik air mulai membasahi jaket Aba sedikit demi sedikit.
"Ayo neng jaket bapak mulai basah nih".
Tanpa sengaja Aba memandang pakaian anak itu. Aba berkata dalam hatinya
"Lahh iyaa jaket guah basah ko baju dia engga sama sekali. Kering banget bahkan Astaghfirullaahal 'Adzhiim".
Dalam hati Aba mulai timbul firasat yang tidak enak. Dengan suara pelan namun tegas, beliau berkata.
"Kalo emang bukan manusia tunjukkin muka asli luh, gua ga takut. Guah takutnya sama Allaah doang".
Tidak lama dari Aba berkata seperti itu, yang tadinya Aba liat ke arah bajunya kini liat ke atas, ke arah muka anak kecil itu. Wajah yang semula sangat cantik, kini di penuhi kapas yang tebal memenuhi wajah. Selepas melihat wajahnya yang penuh dengan kapas putih yang tebal Aba menundukkan kepalanya melihat ke arah bawah kaki anak kecil itu. Kedua kakinya sama sekali tidak napak di tanah. Tubuh kecilnya melayang beberapa senti di atas jalan yang basah oleh gerimis dengan berbaju panjang berwarna putih dengan bercak tanah.
Setelah mengetahui wujud asli anak perempuan itu, Aba sama sekali tidak berteriak atau memacu motornya sekencang mungkin.
Beliau hanya menarik napas pelan, lalu berkata dengan logat khas Betawinya.
"Yaudah, dah guah pulang yaa... Lu jangan ngikutin guah luhh".
Tak ada jawaban.
Aba pun menyalakan gas motornya seperti biasa. Tak tergesa-gesa, tak pula menoleh ke belakang. Motor butut itu kembali melaju pelan membelah jalanan yang saat itu sudah berhenti dari gerimis.
Hal seperti itu memang sudah terbiasa dalam sepanjang hidupnya, bahkan masih banyak lagi kejadian di luar nalar manusia. Dan juga karena keyakinannya terhadap Allaah begitu kuat, hingga tak takut menghadapi setan bahkan manusia yang kerap kali iri hati terhadapnya.
Malam itu, beliau tiba di rumah dengan aman dan selamat. Seolah tidak terjadi apa-apa yang baru saja terjadi.