Bab 4: Keluarga dalam Keheningan
Malam itu, hujan di Kupang turun dengan intensitas yang tidak wajar. Langit seolah ingin membasuh segala dosa dan rahasia yang tersimpan di balik dinding-dinding sekolah teknik itu. Aku mengendarai mobilku membelah kegelapan, namun aku tidak sendirian. Di kursi penumpang, di jok belakang, dan bahkan di ruang hampa yang seharusnya kosong, aku bisa merasakan kehadiran tiga belas pasang mata yang menatapku.
Rumahku, yang tadinya merupakan tempat pelarian dari hiruk-pikuk dunia, kini terasa seperti persimpangan jalan bagi mereka yang sudah melintasi garis kematian.
Saat aku sampai di depan pagar rumah, aku menoleh ke belakang. Raina duduk di sana, sosoknya tampak begitu nyata meski warnanya sedikit memudar dibandingkan manusia hidup. Di sampingnya, Steven dan Alfino—kedua sepupuku yang malang—tampak seperti dua titik cahaya kecil yang meredup. Wajah mereka, meski tak pernah kulihat dalam bentuk dewasa, tertanam kuat di memoriku melalui foto-foto yang disimpan orang tuaku. Mereka terlihat seperti bayi-bayi yang lelah, yang kehabisan napas dalam tragedi gas beracun itu, dan kini menemukan kedamaian sementara di bawah pengawasanku.
"Masuklah," kataku pelan, suaraku sedikit bergetar.
Keadaan di dalam rumah seketika berubah. Hawa dingin yang dibawa oleh ketiga belas jiwa itu membuat suhunya turun drastis. Perabotan rumah, foto-foto di dinding, dan setiap sudut ruangan seolah bergetar menyambut kehadiran mereka. Raina, dengan langkahnya yang mantap dan tegas, memimpin masuk. Dia adalah sang komandan—sosok tomboy yang memikul beban jiwa-jiwa lainnya. Di belakangnya, Frans, Ester, Claudia, Gusti, Desi, Fransiskus, Elviana, Eti, Gian, dan Natalie masuk dengan langkah ragu-ragu, seolah takut jika mereka melangkah terlalu jauh, mereka akan menghilang kembali ke dalam kegelapan.
Aku menutup pintu dan menguncinya rapat. Ini adalah awal dari kontrak hidup dan mati kami.
Aku melangkah menuju ruang tengah, tempat di mana aku telah menyiapkan sebuah meja kecil dengan piring-piring bersih dan camilan—sesuai dengan janjiku. Aku tahu ini terdengar gila bagi siapa pun yang mendengarnya, namun inilah satu-satunya cara untuk menciptakan keseimbangan di rumah ini.
"Dengarkan aku," ucapku, membalikkan badan untuk menghadapi mereka. "Di rumah ini, kita punya aturan. Kalian tidak boleh menampakkan diri jika ada tamu yang datang. Kalian tidak boleh mengganggu tetangga. Dan yang terpenting, setiap kali aku berdoa, kalian harus ikut serta. Tidak ada kompromi soal itu."
Raina berdiri tegak. Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat senyum tipis—bukan senyum kemenangan, melainkan senyum kelegaan. Dia mengangguk pelan, memberikan instruksi tanpa kata kepada dua belas jiwa lainnya. Steven dan Alfino segera merapat ke dekat Raina, seolah menemukan perlindungan di balik sosok pemimpin itu.
Malam itu, doa menjadi jembatan kami. Saat aku melafalkan doa-doa, aku merasakan aura di ruangan itu berubah. Dari yang tadinya mencekam dan dingin, perlahan berubah menjadi hangat. Jiwa-jiwa kecil itu merapat, duduk bersila di lantai, menyimak setiap kata yang kuucapkan. Camilan yang kusediakan—biskuit dan air minum—seolah terserap energinya. Mereka tidak makan secara fisik, namun mereka "menyantap" ketenangan yang kupancarkan melalui doa-doaku.
Namun, mengurus tiga belas jiwa bukanlah perkara mudah. Sifat mereka berbeda-beda. Frans dan Ester, misalnya, seringkali terlalu aktif. Mereka sering memindahkan barang-barang kecil di atas meja hanya untuk menarik perhatianku. Claudia, yang meninggal karena penyakit, sering kali tampak pucat dan perlu aku berikan perhatian ekstra agar dia tidak "menghilang" kembali ke dimensi lain.
Yang paling sulit adalah menjaga Steven dan Alfino. Keduanya adalah sepupuku, dan naluri keluargaku sering kali membuatku ingin memeluk mereka, meski tanganku hanya menembus udara hampa. Setiap kali aku merasa mereka mulai gelisah, Raina akan mendekat, memberikan sentuhan dingin pada bahuku, seolah berkata, *'Aku menjaga mereka untukmu.'*
Raina sendiri bukan tanpa masalah. Sering kali, di tengah malam, dia akan mengalami *flashback*. Dia akan terjaga dari "tidurnya" di sudut kamar, wajahnya yang hancur akan terlihat lebih mengerikan, dan dia akan menari di tengah ruangan. Bukan tarian yang penuh amarah seperti di sekolah, melainkan tarian perpisahan.
"Kenapa kau masih melakukan ini, Raina?" tanyaku suatu malam saat dia sedang berputar dengan anggun di bawah cahaya bulan yang masuk lewat jendela.
Raina berhenti. Dia menatap tangannya sendiri, tangan yang dulu sangat terampil memperbaiki mesin-mesin berat. "Aku tidak tahu bagaimana cara berhenti. Tarian ini adalah satu-satunya caraku untuk merasakan bahwa aku pernah ada. Bahwa aku pernah hidup, pernah bekerja, dan pernah mencintai sesuatu sebelum mesin itu merenggut semuanya."
Aku merasa hati ini seperti diremas. "Kau tidak perlu menari untuk membuktikan eksistensimu. Kau ada di sini, bersamaku. Itu sudah cukup."
Sejak malam itu, Raina mulai membantuku lebih banyak lagi. Dia menjadi pelindung rumah ini. Jika aku harus pergi ke kantor, ke rumah saudara, atau sekadar pergi berlibur, dia akan mengecek lokasi terlebih dahulu. Dia akan pergi beberapa langkah di depanku, merasakan energi di tempat tujuan, dan memberitahuku jika ada sesuatu yang membahayakan.
"Ada energi hitam di sana," bisiknya suatu hari ketika aku hendak berkunjung ke sebuah rumah tua milik kerabat. "Jangan masuk lewat pintu depan."
Dan dia benar. Begitu aku mengikuti sarannya, aku terhindar dari sesuatu yang bisa saja mencelakaiku. Sebagai balas budi, aku akan selalu membawakan oleh-oleh untuk mereka—mainan untuk Steven dan Alfino, bunga untuk Natalie dan Elviana, atau sekadar dupa wangi yang mereka sukai.
Kami membentuk ritme yang unik. Rumahku bukan lagi rumah biasa, melainkan tempat di mana kehidupan dan kematian berbaur menjadi satu. Orang-orang menganggap aku tinggal sendirian, namun bagi mereka yang memiliki indra keenam atau mereka yang mampu melihat melampaui tabir, mereka akan merasakan keramaian di dalam rumah ini.
Namun, keberadaan mereka juga menarik perhatian. Kadang-kadang, entitas dari luar—arwah penasaran, sosok-sosok jahil yang dulunya hidup di aliran sungai di dekat sekolah, atau bahkan sisa-sisa tentara Belanda yang masih mencari jalan pulang—mencoba masuk. Dalam situasi itulah, Raina menunjukkan sisi pemimpinnya yang luar biasa. Dia akan berdiri di depan pintu, tubuhnya yang mungil namun kokoh menjadi benteng terakhir. Dengan kekuatan besar yang dia miliki, dia mengusir mereka semua.
"Pergi! Tempat ini sudah ada pemiliknya!" suaranya menggema, bukan secara fisik, tapi melalui getaran energi yang membuat kaca-kaca di rumah bergetar.
Malam itu, setelah berhasil mengusir sosok asing yang mencoba masuk, Raina terduduk di lantai, napasnya tampak tersengal meski dia tidak lagi memiliki paru-paru. Aku mendekat, memberikan doa perlindungan agar energinya kembali pulih.
"Terima kasih, Raina," kataku tulus.
Dia menatapku dengan mata yang dalam. "Ini balas budiku. Kau telah menyelamatkanku dari cengkeraman pohon beringin itu. Kau membiarkanku tidak mati di tempat aku terhina. Bagi kami, kau bukan sekadar manusia magang. Kau adalah rumah."
Aku terdiam. Kalimat itu menancap dalam di relung hatiku. Ternyata, bukan hanya aku yang menolong mereka. Merekalah yang memberikan tujuan baru dalam hidupku yang sempat terasa hampa. Di tengah tarian Raina yang terkadang muncul saat hujan deras, aku melihat keindahan dalam duka.
Aku tahu, perjalanan ini masih jauh. Masih ada misteri tentang Pak Adi, tentang sekolah itu, dan tentang kenapa Kuntilanak itu begitu menginginkan jiwa mereka. Namun, dengan Raina memimpin dua belas jiwa lainnya—termasuk dua sepupuku yang berharga—aku merasa siap untuk menghadapi apa pun.
Rumahku kini penuh dengan tawa kecil Natalie yang berlarian di lorong, isak pelan Fransiskus, dan kesetiaan Raina yang tak tergoyahkan. Kami adalah sebuah keluarga yang aneh, keluarga yang lahir dari air mata dan doa, keluarga yang bertahan dalam sunyi, menari di antara garis tipis kehidupan dan kematian.
Dan selama aku masih bernapas, aku akan memastikan mereka tidak akan pernah lagi merasa sendirian. Apalagi Steven dan Alfino, sepupuku yang kini memiliki seorang kakak sulung yang akan menjaga mereka dari apa pun yang mengintai di balik kegelapan dunia ini.