Yuki adalah seorang pemuda yang sangat gemar bermain game. Hampir setiap harinya ia habiskan di dalam kamar, bermain game daring maupun luring—khususnya permainan RPG—dan ia selalu menggunakan nama aslinya, Yuki, untuk karakternya.
"Jaha! Rasakan itu! Akhirnya aku berhasil mencapai bagian paling dalam dungeon ini!" seru Yuki sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sial, ini butuh waktu dua puluh empat jam lebih lama dari perkiraanku..."
Karena sudah beberapa hari tak tidur dan merasa haus, Yuki pun berjalan menuju tangga untuk keluar dari kamar. Namun tiba-tiba kepalanya terasa berputar hebat, dan sekejap kemudian ia terjatuh, terbentur anak tangga hingga menghembuskan napas terakhir di tempat.
"Di... mana ini? Semuanya terasa begitu asing..." gumam Yuki saat perlahan membuka mata. Ia mendapati dirinya berada di sebuah hutan lebat yang sama sekali tidak ia kenal. Ia pun bangkit berdiri. "Sial... cahaya matahari ini menyilaukan sekali," keluhnya sambil meneduhkan pandangan.
Baru saja ia hendak melangkah, tiba-tiba ia diserang oleh sesosok goblin. "Argh! Sakit!" Yuki terpental dan jatuh kembali ke tanah, sementara makhluk itu tertawa kecil. "Anjir... belum sempat melangkah sudah diserang. Dunia macam apa ini?" gerutunya.
Ia kembali bangkit, naluri seorang gamer yang sudah terbiasa bertarung pun muncul begitu saja. Meski keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, perlahan sebuah senyum tipis terukir di wajahnya saat ia menatap tajam ke arah goblin itu.Senyuman menyeringai mulai terukir di sudut bibir Yuki, seolah naluri petarung yang sudah terlatih berjam-jam di depan layar kembali mengambil alih kesadarannya. Tanpa ia sadari, kedua tangannya dengan santai masuk ke dalam saku celana panjang berwarna hitam yang ia kenakan, seolah mencari pegangan atau sekadar membiasakan diri dengan posisi yang nyaman. Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju dengan kecepatan yang bahkan ia sendiri tidak tahu darimana asalnya, menuju arah goblin yang masih berdiri tegak dengan tatapan mengancam. Tanpa ragu sedikit pun, Yuki melancarkan serangan tendangan balik yang diayunkan sekuat tenaga, keras dan penuh tekad, tepat mengenai dada si makhluk hingga ia terpental jauh ke belakang dan menabrak permukaan batu besar yang ada di belakangnya dengan suara benturan yang keras.
"Rasain itu, sialan! Hahaha!" seru Yuki tertawa puas, merasa seolah sedang menaklukkan bos terakhir di dalam permainan yang biasa ia mainkan setiap hari.
Namun harapan itu sepertinya terlalu cepat ia bangun. Goblin itu tidak terlihat terluka parah seperti yang ia duga, malah seolah tendangan tadi tidak memberikan rasa sakit sama sekali. Matanya yang kecil dan merah menyala kini semakin berkilat dipenuhi amarah, dan dengan gerakan yang cepat ia kembali menerjang turun dari atas batu itu, menuju arah Yuki dengan niat yang jelas-jelas ingin mencabik-cabik. Alih-alih berusaha menghindar atau mengangkat tangan untuk menahan serangan, tubuh Yuki seolah terpaku di tempat, tidak mau bergerak sedikit pun meski otaknya sudah memerintah untuk lari.
"Eh tunggu! Kenapa badanku nggak mau gerak! Woi! Apa-apaan ini!" teriak Yuki mulai panik, keringat dingin tiba-tiba membasahi punggungnya saat menyadari bahaya yang sudah berada di depan mata.
Beruntung, seketika itu juga ia berhasil mengendalikan kembali tubuhnya. Dengan gerakan cepat ia memutar badannya di tempat, mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan mengarahkannya tepat ke perut si goblin yang sudah berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Tendangan itu mendarat dengan sempurna, menekan paru-paru makhluk itu hingga ia tersedak dan memuntahkan cairan berwarna hitam pekat yang berbau menyengat, terciprat tepat ke bagian celana hitam yang ia pakai.
"Cih! Menjijikkan banget, dasar makhluk kotor!" gerutunya dengan nada kesal, sambil segera meloncat mundur beberapa langkah untuk menjauh dari percikan darah itu.
Meski terluka parah, goblin itu ternyata belum jatuh tak berdaya. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, lalu mengeluarkan suara auman yang panjang dan mengerikan, bergema di seluruh penjuru hutan itu hingga membuat bulu kuduk Yuki berdiri tegak. Rasa ngeri sempat menyelinap di hatinya, namun ia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Oi oi! Apa-apaan ini... jangan bilang kau sedang memanggil bala bantuan, ya?" ucap Yuki, masih menyeringai meski keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.
Dugaan itu ternyata benar. Tak lama setelah suara auman itu lenyap, semak-semak di sekelilingnya mulai bergerak berisik. Satu per satu sosok serupa mulai bermunculan dari balik pepohonan dan dedaunan lebat, membawa berbagai macam senjata kasar mulai dari gada kayu, pisau batu yang tajam, hingga rantai besi yang berkarat. Mereka mengelilingi Yuki dengan rapat, memotong semua jalan keluar yang mungkin ia ambil, menatapnya dengan tatapan lapar dan penuh kebencian. Kini ia tidak lagi berhadapan dengan satu, melainkan sekelompok makhluk yang siap menyerang kapan saja.Tepat saat Yuki dikelilingi rapat oleh gerombolan goblin, tiba-tiba terdengar suara kaku dan mekanis bergema di dalam kepalanya. Suara itu terasa sangat akrab, persis seperti suara penunjuk arah yang biasa ia dengar setiap hari.
"Pemberitahuan: Pengguna telah menyelesaikan sesi tutorial. Sebagai hadiah penyelesaian, Anda mendapatkan Keterampilan Unik: Pemecah Batas."
"Apa? Pemecah Batas... bukankah itu artinya melepaskan segala batasan?" gumam Yuki, matanya seketika berbinar diliputi rasa senang yang meluap-luap. Tanpa ragu ia memejamkan mata sejenak, dan tepat saat itu juga, para goblin yang sudah tak sabar lagi serentak menerjang ke arahnya dengan senjata teracung.
Yuki segera berteriak keras mengaktifkan kemampuan itu. "PEMECAH BATAS! AKTIFKAN SEKARANG!"
Sekejap kemudian, aura berwarna merah menyala meledak hebat dari seluruh tubuhnya. Segala sesuatu di sekelilingnya tiba-tiba terlihat bergerak jauh lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya melesat lincah ke samping, dengan mudah menghindari serangan bertubi-tubi yang seharusnya mustahil dielakkan.
"Wah, sial! Aku benar-benar jadi secepat ini! Seru juga ternyata!" serunya kagum sambil terus bergerak menghindar.
Ia mencoba melayangkan pukulan keras ke arah salah satu goblin yang lewat, namun hasilnya nihil. Kekuatan fisiknya sama sekali tak berubah, ia hanya menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.
"Sialan! Sistem macam apa ini? Benar-benar sampah!" gerutunya kesal. Ia segera melesat menuju dahan pohon yang tinggi menjulang, kedua tangannya tetap terselip rapi di dalam saku celana hitamnya.
Saat para goblin di bawah sana tampak bingung menengok ke kiri dan kanan mencari keberadaannya, Yuki meloncat turun dari atas dahan dengan kecepatan penuh. Ia mengarahkan tumit kakinya lurus ke arah kepala salah satu makhluk itu.
"Mati kau! Ini jurus rahasia andalanku—Tumit Kick!"
TAK!
Suara benturan terdengar jelas saat tumitnya mendarat tepat di jidat goblin itu. Makhluk itu meringis kesakitan dan memegang kepalanya yang kini menonjol benjol besar, namun ia tetap berdiri tegak dan tidak roboh sedikit pun. Yuki hanya bisa menyunggingkan senyum masam melihat hasilnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berbalik arah.
"Sial, aku kalah! Kabur sekarang!"
Ia pun melesat pergi menjauh dari sana dengan kecepatan maksimal. Di saat yang sama, suara kaku itu kembali terdengar di kepalanya. "Peringatan: Gelar telah diperoleh — Si Pengecut.""Hah!? Pengecut!? Sialan sistem, dasar tidak tahu diri!" gerutu Yuki dengan nada kesal setengah berteriak, kakinya terus melangkah cepat bahkan semakin kencang menjauhi lokasi pertarungan tadi. Walaupun di dalam hatinya ia tahu bahwa lari adalah keputusan paling bijak saat itu, tapi mendapat julukan yang begitu menyebalkan begitu saja membuat egonya sedikit tergores. Ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang, memastikan tidak ada satu pun goblin yang berani mengejarnya hingga jauh meninggalkan batas hutan lebat itu. Napasnya memang sedikit memburu, tapi berkat efek dari kemampuan yang baru saja ia aktifkan, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari biasanya.
Setelah merasa cukup jauh dan aman, akhirnya langkah kakinya melambat pelan-pelan, hingga ia sampai di depan tembok tinggi yang mengelilingi sebuah kota yang tampak megah. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas sambil menatap gerbang besar yang terbuka lebar di hadapannya. "Tapi ya sudahlah... biarlah, toh aku selamat dan tidak mati di tempat yang menyedihkan itu. Tapi sungguh, jangan beri julukan pengecut juga lah!" ucapnya kesal sambil mendengus kasar, masih terganggu dengan kata-kata yang dilontarkan suara aneh di kepalanya itu.
Dua orang penjaga yang berdiri tegak di sisi kiri dan kanan gerbang kota itu hanya diam mematung, menatap keheranan ke arah Yuki. Mereka melihat pemuda yang berpakaian agak lusuh dengan kedua tangan yang entah kenapa tetap terselip rapi di dalam saku celana panjangnya itu sambil bergumam sendiri seolah sedang berdebat dengan seseorang yang tak kasat mata. Namun tak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya atau menghalangi, mereka hanya membiarkan saja Yuki lewat begitu saja masuk ke dalam area kota.
Begitu kakinya melangkah melewati gerbang, mata Yuki seketika terbelalak lebar menatap pemandangan di hadapannya. "Gila... kota ini benar-benar besar sekali, dan nuansa fantasinya terasa sangat nyata sampai ke tulang!" ucapnya kagum tak sembunyi-sembunyi, matanya tak henti-hentinya berkeliling melihat segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Bangunan-bangunan dari batu bata dan kayu yang kokoh, orang-orang dengan pakaian bermacam-macam gaya, hingga aroma yang asing namun menenangkan bercampur menjadi satu. Semuanya terasa persis seperti dunia yang sering ia lihat atau baca di dalam cerita-cerita kesukaannya.
Ia terus berjalan santai menyusuri jalan setapak itu hingga akhirnya kakinya berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang cukup besar dan terlihat cukup ramai. Bangunan itu memiliki papan nama yang tergantung jelas di bagian depan, bentuknya pun sangat ia kenal. Ya, ini adalah bangunan yang selalu ada di setiap cerita bertema seperti ini, bangunan yang tak akan pernah absen: Persekutuan Petualang.
"Tidak akan lengkap dan tidak cocok rasanya kalau aku tidak masuk ke bangunan ini, toh dunia ini jelas-jelas bertema petualangan, kan? Hahaha," ucapnya sambil terkekeh pelan, kedua tangannya tetap tidak bergerak dari dalam saku celana hitamnya saat ia mendorong pintu besar itu dan melangkah masuk.
Begitu masuk, suara yang lembut terdengar menyambutnya. "Selamat datang di Persekutuan Petualang Avurus, wahai petualang!" ucap seorang resepsionis yang berdiri tegak di balik meja panjang itu. Suaranya terdengar sangat merdu, lembut, dan indah didengar, persis seperti suara wanita yang cantik dan ramah. Namun saat Yuki mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang berbicara, ia seketika tertegun kaku. Ternyata sosok yang berdiri di sana bukanlah seorang wanita, melainkan seorang pria yang memiliki wajah sangat rupawan dan halus hingga bisa dengan mudah disalahartikan sebagai perempuan.
Yuki menelan ludahnya dengan susah payah, kaget setengah mati namun berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin. Ia hanya mengangguk pelan beberapa kali dengan wajah yang tetap datar, lalu berjalan mendekati meja resepsionis itu untuk mendaftarkan dirinya secara resmi sebagai seorang petualang. Setelah beberapa prosedur singkat selesai dilakukan, akhirnya statusnya tercatat sebagai petualang dengan peringkat E—peringkat paling bawah dari semua tingkatan yang ada.Baru saja Yuki melangkah keluar dari pintu utama bangunan Guild Petualang, suara kaku dan khas itu kembali terdengar jelas di dalam kepalanya, seolah berdiri tepat di samping telinganya.
"Selamat! Kamu telah berhasil menyelesaikan misi pertama: Menjadi Petualang. Sebagai hadiah penyelesaian, kamu mendapatkan item: Boost Gear."
"Hah? Boost Gear? Anjir, ini persis kayak di anime High School DxD aja... tapi ya sudahlah, makasih sih setidaknya ada hadiahnya," ucap Yuki pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya aneh tapi setidaknya sistem ini lumayan sopan sesekali.
Ia kemudian merogoh ke arah saku yang tak terlihat, kantung dimensi yang tiba-tiba ia miliki sejak tadi, dan mengeluarkan benda itu hanya dengan satu tangan. Saat benda itu sudah berada di genggamannya, matanya seketika terbelalak kaget. Itu bukan benda yang rumit atau senjata besar, melainkan sebuah sarung tangan berbentuk kepala naga berwarna merah menyala, hanya untuk satu tangan saja.
"Anjir! Ini mah persis punya si Issei ga sih? Apa-apaan ini..." gumam Yuki semakin bingung setengah tidak percaya, menatap artefak itu bolak-balik seolah berharap benda itu akan menjelaskan sendiri. Karena belum tahu cara pakainya dan masih terlalu kaget, ia pun segera menyelipkan kembali benda itu ke dalam kantung dimensi, memutuskan untuk memikirkannya nanti saja saat sudah lebih tenang.
Karena sama sekali tidak bisa membaca tulisan yang digunakan di dunia ini, Yuki tidak punya pilihan selain mengambil satu lembar kertas misi yang diletakkan di tumpukan paling bawah secara acak. Ternyata misi yang ia ambil itu bertuliskan tentang penumpasan sarang goblin yang berada di pinggiran hutan—tempat yang baru saja ia tinggalkan dengan terburu-buru.
"Misi ini sangat cocok untuk pemula. Selamat berjuang, wahai petualang!" ucap resepsionis tadi dengan nada lembut dan senyum yang sangat ramah.
Mendengar ucapan itu, Yuki seketika merinding sekujur tubuhnya, bulu kuduknya berdiri tegak. Ia menatap resepsionis itu dengan tatapan heran dan sedikit canggung, rasanya ada yang salah tapi ia tidak bisa menunjukannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan gedung guild itu, menuju arah yang tertulis di kertas itu meski ia tidak benar-benar mengerti isinya.
Sepanjang jalan menuju pinggiran kota, Yuki terus menatap kertas lusuh yang ia pegang dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap diam terselip rapi di dalam saku celana hitamnya. Ia mengerutkan kening, mencoba memahami tulisan yang sama sekali tidak masuk akal baginya itu.
"Sebenarnya misi apa sih yang aku ambil ini? Kok rasanya nasibku sial banget ya hari ini," gumamnya pelan sambil terus melangkah, sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan kembali lagi ke tempat yang baru saja membuatnya harus lari terbirit-birit tak lama sebelumnya.Langkah kaki Yuki perlahan melambat saat ia tiba di lokasi yang dituju, namun seketika itu juga matanya terbelalak lebar, mulutnya terbuka lebar tak percaya.
"Hah...? HAH??????!" teriaknya keras sekali, suaranya memecah keheningan hutan itu. Tubuhnya langsung kaku di tempat karena ia sadar betul, tempat ini persis sama persis dengan tempat di mana ia pertama kali membuka mata di dunia ini—tempat di mana ia baru saja dikejar-kejar sampai harus lari terbirit-birit tadi.
"Sial! Ini tempat yang tadi kan?! Apa-apaan ini woy! Anjir!" ucapnya dengan nada panik yang mulai menyelimuti perasaannya, ia menoleh ke kiri dan kanan dengan gelisah, tidak percaya pada nasib sial yang sedang menimpanya. Jantungnya berdegup kencang lagi, rasa tidak nyaman mulai kembali merayap di dadanya. Namun di tengah kepanikan itu, tiba-tiba satu hal terlintas di benaknya.
"Ah benar! Aku punya artefak itu, Boost Gear!" gumamnya pelan, sedikit merasa lega seolah sudah menemukan jalan keluar. Wajahnya perlahan berubah ragu. "Eh... tapi gimana sih cara si Issei pakainya ya? Kalau tidak salah seingatku gerakannya begini deh," batinnya sambil mencoba mengingat-ingat adegan yang pernah ia tonton dulu.
Dengan penuh keyakinan yang sedikit dipaksakan, ia meniru gerakan yang masih samar di ingatannya, lalu berteriak sekuat tenaga. "BOOST GEAR!"
Hening. Tidak ada cahaya yang menyala, tidak ada kekuatan yang merambat ke tubuhnya, tidak ada perubahan sama sekali. Segalanya tetap sama saja.
"Sialan... dunia ini benar-benar GAME SAMPAH! SORA! SHIRO! Bagaimana kalian berdua bisa bertahan hidup di dunia yang seburuk ini sih?!" teriaknya meledak ke arah langit yang terlihat samar di antara celah dedaunan, memanggil nama dua tokoh yang ia kagumi dari anime kesukaannya, seolah mereka bisa mendengar keluh kesahnya dari sana.
Belum sempat rasa kesalnya mereda, suara gemerisik dedaunan dan geraman kasar terdengar dari segala arah. Perlahan namun pasti, gerombolan goblin yang sama persis seperti tadi mulai bermunculan mengepungnya kembali. Bahkan salah satu dari mereka yang memiliki benjol besar di kepalanya pun ikut ada di sana, menatapnya dengan tatapan yang semakin marah dan dendam.
"Aduh... mereka datang lagi deh..." Yuki menghela napas panjang, rasa kesal dan kaget perlahan berganti menjadi kepasrahan yang dalam. Ia tahu tidak ada jalan untuk lari lagi kali ini, dan sepertinya lari pun tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Perlahan ia memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celana panjang hitamnya, menegakkan badannya tegak lurus. Wajahnya yang tadi sempat panik kini berubah menjadi serius sepenuhnya, matanya menatap tajam ke arah para goblin yang mulai bersiap menerjang, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.Yuki perlahan memejamkan matanya rapat-rapat, seolah ingin membuang segala gangguan di sekelilingnya dan memusatkan seluruh kesadarannya pada satu tujuan saja. Beberapa detik ia diam begitu saja, hingga perlahan kelopak matanya terangkat kembali—matanya kini menyipit, tampak setengah terpejam namun memancarkan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Itu adalah tatapan yang menunjukkan bahwa kali ini ia benar-benar serius, tidak ada lagi keraguan atau rasa ingin lari sedikit pun.
Di dalam saku celana hitamnya, jari-jarinya mulai bergerak lincah, menekan-menekan dengan irama yang teratur persis seperti kebiasaan lamanya saat sedang mengetik di depan keyboard komputer. Gerakan itu terlihat begitu luwes dan alami, seolah-olah di hadapannya kini bukanlah gerombolan monster, melainkan layar permainan yang biasa ia kendalikan. Mengandalkan kecepatan yang didapat dari kemampuan "Pemecah Batas", tubuhnya seketika melesat membelah udara tanpa suara, melancarkan satu tendangan balik yang tepat sasaran langsung ke arah goblin yang berbenjol di kepala itu.
Angka kerusakan yang muncul di benaknya mungkin hanya satu, sangat kecil dan nyaris tak berarti bagi orang lain. Namun bagi Yuki yang kini sedang berada dalam mode serius sepenuhnya, hal itu sama sekali bukan penghalang.
"Meski aku bukan tokoh utama... Meski aku bukan protagonis yang ditakdirkan untuk menang..." ucapnya pelan namun tegas, suaranya terdengar tenang namun menyimpan tekad yang sekuat baja. "Aku akan menjadi yang paling puncak dari segalanya!"
Di momen inilah, mimpi dan tekad yang dulu hanya ia simpan di dalam hati saat bermain game akhirnya benar-benar terbentuk menjadi kenyataan yang nyata. Setelah menendang menjauh satu goblin lain yang mencoba mendekat, ia kembali melesat dengan cepat menuju dahan pohon yang tinggi. Jari-jarinya di dalam saku masih terus bergerak tak henti-henti, seolah sedang menyusun strategi atau memasukkan perintah-perintah khusus di kepalanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia meloncat tinggi ke angkasa sambil bersiap mengeluarkan jurus andalannya.
"Tumit Kick!"
Tubuhnya meluncur cepat ke bawah, tumit kakinya diarahkan lurus ke arah kepala salah satu goblin yang sedang menengadah ke atas. Saat benturan itu terjadi, angin kencang seketika menyapu ke segala arah hingga dedaunan di sekitarnya beterbangan berputar hebat. Kekuatan serangan itu ternyata jauh lebih dahsyat dari yang ia kira—kepala goblin itu tertancap begitu dalam hingga badannya tembus masuk ke dalam tanah, terbenam setengah tubuhnya ke dalam bumi yang keras.
Yuki menyunggingkan senyum tipis puas melihat hasilnya, lalu segera melompat mundur untuk menjaga jarak aman dari serangan balik yang mungkin datang. Tepat saat itu, salah satu senjata kasar milik goblin lain melesat cepat mengarah ke kepalanya. Dengan refleks yang terlatih, Yuki segera menangkisnya menggunakan telapak kakinya, membuat senjata itu terpental ke samping, namun bagian kulit kakinya ikut tergores hingga terlihat sedikit lecet dan mengeluarkan darah.
Namun belum sempat ia merasakan perihnya, suara kaku yang sudah ia kenal itu kembali terdengar jelas di dalam kepalanya.
"Kondisi tubuh terpantau. Anda telah memenuhi syarat tertentu. Anda mendapatkan Keterampilan Pasif: Regenerasi."Goresan kecil yang tadi sempat muncul di telapak kakinya perlahan terlihat menyempit, lalu menutup rapat seolah tidak pernah terluka sama sekali. Melihat hal itu, Yuki justru menyeringai lebar, matanya kembali berkilat penuh semangat yang belum habis.
"Kurang... masih kurang!" gumamnya pelan namun penuh tekad.
Tanpa menunggu waktu lebih lama, tubuhnya kembali melesat secepat kilat menuju sisa-sisa goblin yang masih bertahan. Ia melancarkan tendangan belakang yang mantap tepat ke arah perut salah satu makhluk itu. Meskipun angka kerusakan yang muncul di benaknya mungkin tetap hanya satu, namun Yuki mulai menyadari satu hal penting: bukan kekuatan tendangannya yang utama, melainkan kekuatan hembusan dan tekanan yang dihasilkan dari kecepatan itu sendiri. Ternyata prinsip fisika itu berlaku juga di sini. Hembusan angin yang tercipta bersamaan dengan serangan itu justru menambah dampak kerusakan secara drastis, dan seketika itu juga goblin itu roboh tak bergerak lagi.
"Aku mulai mengerti rahasianya..." batin Yuki, rasa percaya dirinya perlahan tumbuh besar.
Jari-jarinya di dalam saku celana masih terus bergerak dengan irama yang sama, teratur dan mekanis persis seperti sedang memasukkan perintah di dunia permainan. Dengan gerakan yang terlatih, ia meloncat cepat ke samping menghindari ayunan senjata kasar dari goblin lain yang mencoba menyerang secara tiba-tiba. Ia tidak lagi panik, setiap gerakannya terhitung rapi, seolah ia sudah melakukan hal ini ribuan kali sebelumnya.
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya sisa pertarungan itu pun selesai. Yuki kini berdiri tegak di atas tumpukan mayat para goblin, napasnya memang sedikit memburu dan keringat bercucuran membasahi dahi serta punggungnya, namun tatapannya tetap tajam dan tenang. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas, lalu mengambil beberapa bagian tubuh sebagai bukti penyelesaian misi dan menyimpannya rapi sebelum melangkah kembali menuju arah kota.
"Benar-benar melelahkan juga ternyata... aku sangat butuh istirahat dan tempat untuk beristirahat," gumamnya pelan sambil melangkah gontai. Sinar matahari mulai miring ke barat, warnanya berubah menjadi jingga keemasan yang menandakan hari sudah mulai sore. Jalanan mulai sepi, namun langkahnya terus ia bawa perlahan menyusuri jalan setapak menuju gerbang kota.
Namun belum sempat ia melangkah jauh, sesosok wanita tiba-tiba muncul di hadapannya dan menghalangi jalan sepenuhnya. Yuki pun berhenti bergerak, menatap sosok asing itu dengan kening sedikit berkerut.
"Kau siapa...?" tanyanya singkat, kedua tangannya tetap tak bergerak terselip di dalam saku celana hitamnya, siap siaga jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu.
Wanita itu hanya diam mematung, tidak menjawab sepatah kata pun, hanya menatap balik ke arah Yuki dengan tatapan yang sulit diartikan.Belum sempat Yuki menunggu jawaban lebih lama, tepat saat ia mengedipkan mata sekilas, sosok wanita itu seketika lenyap dari pandangan seolah ditelan udara kosong. Tidak ada suara langkah, tidak ada bayangan yang tertinggal, kecepatannya sungguh di luar nalar. Dalam sekejap saja, ia sudah muncul tepat di depan wajah Yuki dengan kepalan tangan yang terayun kencang, mengarah lurus ke samping kepalanya seolah ingin merobohkannya dalam satu serangan saja.
Namun naluri yang sudah terlatih berjam-jam di dunia permainan membuat tubuh Yuki bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengangkat kedua tangannya dan menahan pukulan itu tepat di udara, benturan yang terjadi membuat angin di sekitarnya berdesir pelan. Kali ini, kedua tangan Yuki akhirnya terlihat keluar dari saku celana hitamnya, menahan kekuatan yang jauh lebih berat dari yang ia duga.
"Sial! Kecepatannya benar-benar tidak masuk akal!" batin Yuki terkejut setengah mati, jantungnya berdegup kencang tak beraturan di dalam dada, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipis dan wajahnya. Meski begitu, sama sekali tidak ada rasa takut yang terlihat di wajahnya—sebaliknya, sebuah senyuman menyeringai justru terukir di sudut bibirnya, matanya berkilat menantang menghadapi lawan yang tiba-tiba ini. Ia tetap diam mempertahankan posisinya, menahan tekanan pukulan itu sekuat tenaga sebelum akhirnya mencari celah untuk membalas.
Dengan cepat ia melangkah maju sedikit sambil melancarkan tendangan tajam tepat ke arah pinggang wanita itu, berusaha mendesaknya mundur. Namun wanita itu tampak tenang sekali, ia hanya menggeser kakinya sedikit ke samping dengan gerakan yang sangat luwes dan mudah, menghindari serangan itu tanpa kesulitan sedikit pun.
"Cih! Kau ini sebenarnya siapa sih?" ucap Yuki dengan nada yang mulai terdengar kesal, ia merasa seolah-olah sedang dipermainkan semata. Ia pun perlahan mencoba menurunkan tangannya hendak memasukkannya kembali ke dalam saku celana, posisi yang paling nyaman dan terbiasa baginya saat bertarung.
Namun wanita itu sepertinya tidak memberinya kesempatan sedikit pun. Begitu ia melihat pergerakan Yuki, ia segera menyerang kembali dengan serangkaian pukulan dan tendangan bertubi-tubi, tidak memberi jeda sedikit pun agar tangan Yuki bisa kembali masuk ke dalam saku.
"Tunggu dulu—!" seru Yuki terkejut. Ia terpaksa harus terus menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis dan menghindari setiap serangan yang datang berturut-turut. Tanpa posisi yang nyaman dan terbiasa, pertahanannya perlahan mulai terdorong mundur, hingga akhirnya ia terpojok dan tidak memiliki ruang gerak yang leluasa lagi.Hingga akhirnya satu pukulan keras dari wanita itu berhasil menembus pertahanan Yuki dan mendarat tepat di wajahnya. Kekuatan di balik pukulan itu begitu dahsyat hingga tubuh Yuki terpental jauh ke belakang seperti boneka kain, menabrak batang pohon besar yang ada di belakangnya dengan suara benturan yang keras. Dampak hantamannya begitu kuat sampai pohon yang kokoh itu pun ikut miring dan akhirnya tumbang roboh ke tanah. Yuki terbaring di balik tumpukan dahan dan dedaunan itu, darah mulai menetes dari hidung dan sudut bibirnya, tangannya terangkat menekan kepalanya yang terasa berdenyut nyeri luar biasa seolah mau pecah.
"Keparat! Sakit banget..." gerutunya pelan dengan suara yang sedikit tercekat, ia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit berdiri perlahan meski kakinya masih terasa lemas dan goyah. Namun belum sempat kakinya menapak kuat kembali, sosok wanita itu sudah melesat mendekat dalam sekejap mata.
"Tumit Kick?"
BAM!
Dengan gerakan yang persis sama persis seperti jurus yang baru saja Yuki gunakan tadi, wanita itu melancarkan serangan tumit yang keras tepat ke arah kepalanya. Yuki terbelalak kaget, sama sekali tidak menyangka akan diserang dengan cara yang sama, dan seketika kepalanya terhantam kuat hingga wajahnya tersungkur menancap ke dalam tanah yang lembap.
"Ternyata masih anak-anak... sungguh merepotkan," gumam wanita itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tanpa menoleh ke belakang lagi, ia pun berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Yuki yang terkapar sendirian di sana.
Butuh waktu cukup lama bagi Yuki untuk bisa kembali mengangkat badannya. Wajahnya kini babak belur, darah mengucur dari beberapa bagian wajah dan mengotori pakaiannya. Ia menatap tanah dengan pandangan yang menyala dipenuhi amarah dan rasa malu yang memuncak.
"Bajingan...! Ini benar-benar penghinaan!" gerutunya penuh emosi, lalu tinjunya diayunkan keras memukul tanah yang ada di hadapannya. Ia merasa sangat kesal sekaligus kecewa berat pada dirinya sendiri—kecewa karena sampai sekarang ia masih belum bisa melakukan apa-apa, masih kalah telak dan hanya bisa dipermainkan oleh orang lain. Dengan langkah yang sempoyongan dan tubuh yang terasa berat, perlahan ia berjalan menjauh dari sana menuju arah kota, tekadnya masih tersisa untuk setidaknya menyelesaikan urusan dengan hasil misi yang ia bawa.
Sesampainya di guild, ia menyerahkan bukti-bukti itu dan menerima sejumlah uang yang diberikan kepadanya. Tanpa banyak bicara, ia langsung mencari penginapan terdekat, memesan sebuah kamar sederhana, lalu masuk ke dalamnya dan menutup pintu rapat-rapat. Namun meski tubuhnya lelah luar biasa, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata untuk tidur. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai.
"Siapa sebenarnya wanita itu... dia... benar-benar membuatku kesal setengah mati," batinnya penuh amarah, rasa tidak terima membakar dadanya. "Jika aku bertemu dengannya lagi... aku pastikan saat itu juga dia akan mati!"
Perkataan itu diucapkan dalam hati dengan keyakinan yang dalam, lalu seketika tangannya mengepal kuat dan dihantamkan keras ke meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya, membuat barang-barang di atasnya ikut bergetar hebat.Kelelahan yang teramat sangat akhirnya membuat kelopak mata Yuki tak sanggup lagi menahan kantuk. Tanpa ia sadari, tubuhnya perlahan terkulai lemas dan ia pun tertidur pulas seketika.
Saat pagi hari tiba dan cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat celah jendela, Yuki tidak beranjak menuju Guild Petualang seperti biasanya. Sebaliknya, ia justru bersiap-siap menuju ke dalam hutan. Niatnya kali ini bukan untuk mengerjakan misi, melainkan untuk melatih kemampuannya sendiri dengan menyerang monster yang ada di sana.
"Baiklah, kurasa perlengkapan ini sudah cukup... sial, aku sudah menghabiskan cukup banyak uang hanya untuk belanja pagi-pagi begini," gumamnya pelan. Uang yang ia dapatkan dari menyelesaikan misi kemarin sebagian besar sudah terpakai untuk membeli pelindung dada dari kulit yang kokoh, sepasang sepatu bot yang kuat, sarung tangan pelindung, serta bekal berupa makanan kering dan air minum yang cukup untuk beberapa hari.
Setelah semuanya siap dibawa dan dipakai, ia pun melangkah meninggalkan kota menuju arah hutan. Sepanjang jalan, pikirannya tak lepas dari kejadian kemarin sore. "Sialan... sampai sekarang aku masih terus kepikiran siapa sebenarnya wanita yang kemarin itu..."
Tepat saat kalimat itu terucap, suara kaku milik sistem kembali terdengar jelas di dalam kepalanya. "Selamat! Kamu telah memenuhi syarat tertentu. Kamu mendapatkan Keterampilan Pasif: Pemikiran Ganda."
Yuki berhenti sejenak, tampak bingung mendengarnya. "Skill pasif Pemikiran Ganda? Jadi... aku sekarang bisa memikirkan banyak hal sekaligus?" Awalnya ia sempat merasa senang, namun seketika ingatannya kembali pada keterbatasan yang ia miliki di dunia ini. "Benar juga... buat apa aku bisa mikir cepat kalau aku bahkan tidak bisa membaca tulisan di dunia ini?! Kenapa aku malah dapat skill begini sih? Sialan! Benar-benar sialan!" gerutunya kesal sendiri.
Tanpa terasa, langkah kakinya telah membawanya sampai ke tepi hutan yang dikenal dengan nama Hutan Pemangsa. Seketika ia menelan ludah, udara di sini terasa jauh lebih berat, lembap, dan dipenuhi aura yang mengancam dibandingkan hutan tempat ia mendarat kemarin. "Udara di sini jauh lebih kental dan tidak nyaman rasanya dibanding hutan sebelumnya," ucapnya pelan, kedua tangannya sudah terselip rapi di dalam saku celana sejak ia tiba di sana.
Belum sempat ia meneliti keadaan lebih jauh, tiba-tiba semak belukar di sebelahnya terbuka dengan kasar. Sesosok Orc bertubuh besar dan kekar melesat keluar sambil menghantamkan gada besi yang berat ke arah kepala Yuki dengan niat membunuh. Berkat refleks yang meningkat karena kemampuan barunya, Yuki bisa melihat pergerakan itu lebih jelas dan bereaksi jauh lebih cepat. Ia mengandalkan kecepatan dari Pemecah Batas untuk menghindar dengan mudah, hingga gada itu menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri sedetik sebelumnya.
"Sial! Hampir saja aku terkena pukulan itu... ternyata gabungan kedua skill ini lumayan berguna juga ya," gumamnya lega. Kini ia sudah berpindah posisi dan berdiri santai di atas dahan pohon yang cukup tinggi, aman dari jangkauan makhluk itu. Di dalam saku, jari-jarinya mulai bergerak mekanis seolah sedang mengetik cepat di atas papan tombol.
Seketika kepalanya dipenuhi dua suara pendapat yang saling bersahutan.
"Apa yang sebaiknya aku lakukan? Langsung menyerang saja pakai jurus Tumit Kick?"
"Jangan bodoh! Makhluk sebesar dan sekuat itu tidak akan tumbang hanya dengan satu serangan saja!"
"Enggak, enggak, enggak... tetap pakai Tumit Kick saja, biar sekalian dicoba," tekad salah satu sisi pikirannya mengalahkan keraguan itu."Hm... kayaknya kalau langsung pakai Tumit Kick belum deh, tunggu dulu," gumam Yuki pelan sambil perlahan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba memusatkan seluruh perhatiannya pada satu gerakan yang ingin ia lakukan. Di dalam saku celana hitamnya, jari-jarinya terus bergerak lincah dan teratur, seolah sedang mengetik perintah-perintah khusus yang hanya ia sendiri yang mengerti. Seketika ia meloncat tinggi ke udara, memutar tubuhnya dengan cepat di tengah ketinggian.
"Jurus Roll Kick!"
BAM!
Bagian tumit dan kakinya mendarat bersamaan tepat mengenai kepala dan bahu si Orc dengan kekuatan penuh. Yuki segera mendorong tubuhnya menjauh dan mendarat di tanah agak jauh untuk memastikan hasil serangannya. "Sial... kulitnya keras sekali ya... tapi kurasa serangan tadi lumayan berhasil," batinnya merasa sedikit lega.
Namun tepat saat ia mulai lengah dan menurunkan kewaspadaannya, ternyata makhluk raksasa itu belum jatuh tak berdaya sama sekali. Tiba-tiba tangan besar Orc itu mencengkeram lengan Yuki dengan sangat kuat, lalu dengan mudah melempar tubuhnya tinggi ke udara selembar kain.
"Tunggu dulu! Bajingan! Kalau jatuh begini aku bisa mati!!" teriak Yuki panik saat melihat tanah menjauh dan Orc itu justru melesat naik menyusulnya dengan kecepatan yang tak disangka-sangka. Tidak ada jalan lain, tidak ada waktu untuk berpikir panjang lagi.
"Arghh! Tumit Kick!!"
Dengan sisa tenaga yang ada, ia berteriak keras sambil memutar tubuhnya sekali lagi, mengarahkan tumit kakinya lurus ke arah kepala Orc yang sedang mengejarnya. Serangan itu mendarat sempurna, dan kali ini tekanan angin yang tercipta dari benturan itu meledak hebat di dalam tubuh makhluk itu. Orc itu seketika terhempas jatuh kembali ke tanah dengan luka yang mengerikan, tewas seketika dengan keadaan yang sangat parah.
"Gila... ternyata benar-benar bisa berakhir begini," ucap Yuki sambil mendarat kembali di tanah, masih terlihat tak percaya melihat hasilnya.
Namun belum sempat ia bernapas lega, suara-suara di dalam kepalanya mulai bersahutan satu sama lain tanpa henti.
"Sudah aku bilang kan dari tadi, akhirnya harus pakai Tumit Kick juga kan!"
"Iya, iya, sudah selesai juga ini urusannya. Ah bawel banget sih kamu!"
"Eh tapi ngomong-ngomong, jurus Roll Kick tadi sebenernya lumayan juga ya... cuma sayangnya gerakannya terlalu banyak gaya dan tidak efisien gak sih?"
Ketiga pemikiran itu terus berdebat dan saling membalas di dalam kepalanya tanpa ada yang mau mengalah, membuat Yuki memegangi kepalanya yang perlahan terasa pening pusing mendengarnya sendiri.Perlahan suara-suara yang saling bersahutan di dalam kepalanya itu mulai mereda dan akhirnya hening kembali. Yuki pun melangkah mendekati bangkai Orc yang tergeletak tak bergerak di tanah, menatapnya dengan raut wajah yang tidak terlalu suka.
"Jijik sih sebenarnya... tapi demi uang, apa boleh buat, ya kan?" gumamnya pelan sambil menghela napas panjang, mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Namun baru saja ia berniat mengambil sesuatu, ketiga suara itu kembali terdengar beradu pendapat di dalam kepalanya:
"Eww, beneran jijik banget nih..."
"Kalau aku sih enggak mau deh pegang-pegang begini."
"Tapi demi uang, ayo lah Yuki, ambil saja selesaikan!"
"Kalian semua berisik sekali!" bentak Yuki kesal sendirian di tempat. Seketika itu juga perdebatan dalam pikirannya terhenti total seketika. Ia menghela napas panjang sekali lagi, lalu dengan ragu namun tegas ia mengambil bagian bukti yang diperlukan dari tubuh makhluk itu dan menyimpannya rapi.
Tepat saat itu suara sistem kembali terdengar, kali ini dengan nada yang terdengar agak kecewa dan berat.
"Pemberitahuan: Gelar 'Si Pengecut' telah dicabut. Gelar baru diperoleh — Jenius V1."
Mendengar pengumuman itu, Yuki justru merasa tersindir dan semakin bingung.
"Hah!? Maksudmu apa sih tiba-tiba begitu? Jenius V1 itu apa coba? Dan kenapa nadamu terdengar seolah tidak rela sekali memberikannya hah!!" protesnya keras, menuntut penjelasan yang lebih jelas. Namun kali ini sistem tidak menjawab lagi dan seketika menghilang begitu saja, membuat Yuki hanya bisa menghentakkan kakinya kesal karena merasa digantungkan.
Dengan perasaan yang masih campur aduk antara kesal dan bingung, ia pun berjalan kembali menuju kota. Sesampainya di Guild Petualang, ia langsung menghadap meja resepsionis yang sama untuk menukarkan bukti hasil pertarungannya tadi.
"Hmm? Batu sihir inti milik Orc? Hebat juga ya kamu bisa mengalahkannya sendirian," ucap resepsionis itu dengan suara yang tetap lembut dan merdu seperti pertama kali mereka bertemu.
Mendengar suara itu lagi, Yuki seketika merinding dan merasa sangat tidak nyaman hingga timbul rasa jijik yang aneh di hatinya. Namun ia tetap berusaha bersikap tenang, menerima sejumlah koin yang diserahkan kepadanya tanpa banyak bertanya, lalu segera berbalik badan dan meninggalkan gedung itu. Langkah kakinya kini tertuju pada sebuah kedai minum atau bar yang tidak jauh dari sana, perutnya sudah terasa sangat lapar dan ia butuh makanan yang layak untuk mengisi tenaga yang sudah habis terkuras.