Rumah sakit itu selalu berbau sama: campuran antara cairan karbol, aroma obat-obatan generik, dan keputusasaan yang menguap pelan di udara. Bagi Dokter Rania, lorong-lorong bangsal kelas tiga adalah peta dari ribuan air mata yang tak sempat tumpah. Di antara puluhan pasien yang datang dan pergi setiap harinya, ada satu wajah yang paling akurat merekam denyut kesetiaan manusia.
Namanya Angah, atau yang lebih akrab disapa orang-orang sebagai Angah Igun Rupat.
Sudah hampir satu tahun penuh, wajah lelah namun tabah itu menghiasi kursi tunggu di depan ruang rawat inap. Jaket kainnya lusuh, matanya kerap kali merah karena kurang tidur, dan tangannya selalu menggenggam erat sebuah termos air panas kecil atau kantong plastik berisi pakaian bersih sang ayah, Pak Bulya.
Pak Bulya datang dari Pulau Rupat, sebuah pulau terluar di Selat Malaka, berlayar jauh menembus ombak demi secercah harapan kesembuhan. Dan di sisi lelaki tua itu, Angah berdiri tegak tanpa pernah mengeluh, menjadi jangkar di tengah badai penyakit yang menggerogoti tubuh ayahnya.
---
Hari ini, lorong rumah sakit terasa lebih senyap dari biasanya. Rania baru saja keluar dari ruang jaga ketika ia melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di dekat jendela kaca, menatap kosong ke luar.
"Angah?" panggil Rania lembut.
Lelaki berbadan tegap dengan kulit yang terbakar terik matahari Selat Malaka itu menoleh. Ia tersenyum, senyum khas yang selalu menyembunyikan letih luar biasa di balik garis-garis wajahnya.
"Eh, Bu Dokter," sapanya lirih.
Rania mendekat, berdiri di sampingnya. "Bagaimana kabar Bapak hari ini? Kenapa tidak istirahat di dalam?"
Angah menarik napas panjang, menatap lurus ke lantai keramik yang memantulkan lampu neon putih. "Bapak sudah tidur, Dok. Tenang sedikit malam ini."
Ada jeda panjang di antara mereka. Angin malam merangsek masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat, membawa bau basah dari halaman luar. Rania tahu betul apa yang dirasakan Angah. Sebagai dokter yang merawat Pak Bulya sejak hari pertama mereka tiba dari Rupat, Rania menyaksikan bagaimana hubungan seorang anak dan ayah mampu melampaui batas-batas daya tahan fisik manusia.
Selama hampir satu tahun, setiap minggu tanpa pernah absen, Angah selalu ada di sana. Menyuapi ayahnya, memijat kakinya yang bengkak, membopong tubuh renta itu ke kamar mandi, hingga duduk berjam-jam dalam diam ketika rasa sakit menyerang Pak Bulya di tengah malam.
"Kamu hebat, Ngah," bisik Rania tulus. "Tidak semua anak sanggup melakukan apa yang kamu lakukan. Bolak-balik Rupat-daratan, meninggalkan pekerjaan, menguras tenaga dan pikiran."
Angah menggeleng pelan, pandangannya menerawang jauh menembus kaca jendela, seolah-olah ia sedang melihat ombak Selat Malaka yang bergulung-gulung di kejauhan.
"Bapak segalanya buat saya, Dok," ucap Angah pelan, nyaris seperti bisikan angin. "Dulu, waktu saya kecil dan ibu sudah tiada, Bapak yang menggendong saya ke puskesmas naik sepeda tua sejauh belasan kilometer waktu saya demam tinggi. Bapak tidak pernah bilang lelah. Kalau sekarang gantian saya yang menemani Bapak di ujung usianya... itu bukan apa-apa, Dok. Belum ada sepersekian dari pengorbanan Bapak."
Rania tertegun. Ada getaran aneh yang merayap di dadanya setiap kali mendengar cara Angah berbicara tentang ayahnya. Di balik ketegaran itu, Rania tahu ada beban lain yang dipikul Angah—sebuah beban rahasia yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun, kecuali mungkin kepada deru ombak laut di kampung halamannya.
---
Kisah cinta Angah bukanlah kisah romantis tentang bunga dan janji-janji manis di bawah temaram lampu taman. Kisah cintanya adalah sebuah tragedi bisu yang terkubur di bawah tumpukan bakti kepada orang tua.
Beberapa tahun sebelum Pak Bulya jatuh sakit, Angah pernah mencintai seorang gadis bernama Marni. Mereka tumbuh bersama di desa nelayan di Pulau Rupat. Di bawah terik matahari pesisir, di antara bau ikan asin dan jaring-jaring yang dijemur, cinta mereka tumbuh dengan jujur dan sederhana. Marni adalah gadis yang lembut, yang selalu sabar mendengarkan cerita Angah tentang mimpinya merenovasi rumah tua mereka agar Pak Bulya bisa menikmati masa tua dengan nyaman.
Namun, takdir memiliki jalan lain yang lebih terjal.
Ketika lamaran sudah hampir diikat dengan sebuah cincin tembaga sederhana, musibah pertama datang. Pak Bulya menderita stroke ringan yang disusul dengan komplikasi gagal ginjal. Biaya pengobatan melonjak tinggi. Tanah satu-satunya milik keluarga di dekat pantai terpaksa dijual.
Marni, dengan segala pengertiannya, sempat berkata kepada Angah pada suatu sore di dermaga kayu: *"Pergilah rawat Bapakmu, Ngah. Aku akan menunggu di sini. Berapa lama pun."*
Tetapi Angah memiliki harga diri seorang anak lelaki sulung. Ia tahu, menunggu seorang perempuan nelayan di pulau terpencil tanpa kepastian finansial adalah bentuk kezaliman yang perlahan. Terlebih ketika penyakit Pak Bulya semakin parah dan membutuhkan pendampingan total di kota besar.
Suatu malam, di bawah sinar bulan yang temaram, Angah mengambil keputusan paling menyayat hati dalam hidupnya. Ia menemui Marni, menatap mata perempuan yang paling dicintainya itu untuk terakhir kali, dan melepaskannya.
*"Jangan tunggu aku, Mar,"* kata Angah saat itu dengan suara serak. *"Bapak butuh aku seutuhnya. Hidupku sekarang adalah untuk menyembuhkannya. Aku tidak ingin masa mudamu habis terkuras di ruang tunggu rumah sakit bersamaku."*
Marni menangis tersedu-sedu, memukul dada Angah dengan lemah, menolak keputusan sepihak itu. Namun Angah bergeming. Ia memilih memeluk kepedihan itu sendirian, berjalan mundur dari kehidupan perempuan yang sangat dicintainya demi sebuah kebaktian mutlak kepada darah dagingnya.
Sejak hari itu, Marni pergi ke negeri seberang untuk bekerja sebagai buruh pabrik, membawa serta sisa-sisa hati yang patah. Dan Angah? Ia kembali ke sisi ayahnya, menelan setiap rindu dan air mata mentah-mentah, menguburnya dalam-dalam di balik senyum tabahnya di hadapan para perawat dan dokter.
---
Waktu terus merayap tanpa belas kasihan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Penyakit Pak Bulya seperti gelombang pasang yang kian lama kian mengikis karang pertahanan tubuhnya.
Pada bulan kesebelas kedatangan mereka di rumah sakit, kondisi Pak Bulya merosot tajam. Mesin-mesin penunjang kehidupan mulai mendampingi napasnya yang semakin berat. Di saat-saat kritis itulah, Angah tidak pernah beranjak barang sedetik pun dari sisi ranjang. Ia menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering, membisikkan kalimat-kalimat tauhid dan doa ke telinga orang tua yang telah membesarkannya dengan seluruh jiwa raga.
Rania, yang bertugas sebagai dokter penanggung jawab, sering mendapati Angah tertidur dalam posisi duduk dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur, jemarinya masih bertaut erat dengan jemari Pak Bulya. Ada keindahan yang begitu menyayat hati dalam pemandangan itu—sebuah bentuk cinta tanpa syarat, cinta yang tidak menuntut balasan, cinta yang murni dari seorang anak kepada ayahnya.
Tepat pada malam Jumat, ketika hujan gerimis turun melingkupi kota, Pak Bulya mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Tidak ada suara jerit tangis yang memecah malam; yang ada hanyalah keheningan suci yang menyelimuti ruangan itu.
Angah tidak menangis sesenggukan. Ia hanya menunduk, mencium kening ayahnya yang sudah mulai dingin, lalu berbisik pelan, *"Terima kasih, Bapak. Sudah selesai tugas Bapak di dunia ini. Istirahatlah dengan tenang."*
---
Dua puluh hari telah berlalu sejak kepergian Pak Bulya. Jenazah lelaki tua itu telah dimakamkan di kampung halaman mereka di Pulau Rupat, di bawah naungan pohon kelapa yang berdesir ditiup angin laut.
Suatu siang, ketika Rania sedang memberkas catatan medis di ruang kerjanya, seorang perawat mengetuk pintu dan menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna putih kusam.
"Dari siapa, Suster?" tanya Rania heran.
"Tadi diantar oleh seorang pemuda, Dok. Katanya titipan untuk Ibu Dokter, tapi dia langsung pergi karena harus mengejar kapal cepat ke Rupat."
Rania membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat secarik kertas bergaris dengan tulisan tangan yang agak kaku namun sangat rapi.
Bu Dokter terima kasih ya telah berusaha mengobati orang tua saya yang dari Rupat. Saya anaknya Pak Bulya, biasa tiap minggu ketemu ibu hampir satu tahun bolak-balik ketemu ibu di rumah sakit. Sudah 20 hari orang tua kami meninggal dunia. Terima kasih ya buk semoga panjang umur dan sehat selalu.
Mata Rania mendadak panas. Membaca surat sederhana itu, seluruh bayangan tentang keteguhan Angah selama setahun belakangan berkelebat di kepalanya. Lelaki itu tidak pernah mengeluh tentang lelahnya perjalanan laut, tidak pernah meributkan biaya yang habis, dan tidak pernah menunjukkan keputusasaannya di hadapan tenaga medis. Ia datang sebagai anak yang berbakti, dan pergi dengan keikhlasan yang teramat luas.
Rania berjalan menuju jendela ruangannya. Ia menatap ke luar, ke arah langit senja yang mulai jingga. Ia tahu, di tempat nun jauh di sana, di Pulau Rupat yang dikelilingi ombak Selat Malaka, ada seorang lelaki berhati baja yang sedang menatap laut lepas, merelakan ayahnya pulang ke haribadian Sang Pencipta, sekaligus merelakan sisa-sisa kenangan cinta masa lalu yang tertinggal dihempas gelombang.
Kebaikan tanpa batas itu nyata. Ia tidak berwujud bangunan megah atau lembaran harta yang melimpah. Kebaikan itu berwujud kesetiaan seorang anak yang menemani detik-detik terakhir ayahnya dalam diam, mencintai tanpa pamrih, dan mengikhlaskan segalanya demi sebuah bakti yang tak lekang oleh waktu.