Napasnya memburu, keluar sebagai uap putih di tengah udara malam yang menusuk tulang. Hutan itu gelap gulita, hanya diterangi kilatan petir yang menyambar sesekali, memperlihatkan bayangan pohon-pohon yang tampak seperti monster bertangan panjang.
Elara berlari. Kakinya yang tak beralas sudah mati rasa, tergores ranting tajam dan tertusuk kerikil, tapi dia tidak berhenti. Telinganya berdenging, namun suara langkah kaki berat di belakangnya tetap terdengar jelas. "Penjahat." Itu nama yang dia berikan kepada mereka.
Orang-orang berjaket hitam dengan sorot mata dingin yang merampas kedamaian rumahnya.
“Lari, Elara. Jangan menoleh ke belakang,” bisik ibunya tadi, sebelum wanita itu memejamkan mata untuk selamanya.
Elara ingin jatuh. Lututnya terasa seperti jeli, dan paru-parunya serasa dibakar api.
Menyerahlah, bisik rasa lelah itu. Namun, di tengah keputusasaannya, suara berat ayahnya kembali terngiang di ingatannya “Elara, seorang pemenang tidak pernah berhenti sebelum garis finis, dan pejuang tidak akan pernah menyerah selama napas masih ada.”
Dia memaksakan diri berlari lebih cepat. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di depannya, tanah seolah habis. Elara tersudut di tepi tebing curam. Di bawah sana, sungai meluap karena hujan lebat, arusnya bergemuruh seperti raungan binatang buas yang siap menelan apa saja.
"Sudah berakhir, bocah," suara berat salah satu pria itu menggema dari balik pepohonan.
Elara mundur. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan saat melihat cahaya senter mulai menyapu wajahnya. Satu langkah lagi... lalu satu langkah lagi. Tanah di bawah kakinya basah oleh lumpur, licin dan tidak stabil.
DOR!
Suara tembakan membelah kesunyian malam. Elara merasakan sensasi panas menyengat di lengan kirinya. Dia meringis kesakitan, melihat darah segar merembes di balik kain bajunya. Itu hanya goresan, tapi rasa sakitnya membuat keseimbangannya hilang.
Tanah di bawah kakinya amblas.
Elara kehilangan tumpuan. Dunianya berputar saat dia jatuh ke belakang, ke dalam pelukan kegelapan dan gemuruh air. Saat tubuhnya menghantam permukaan sungai yang dingin dan ganas, dunia di atas tebing itu menghilang, digantikan oleh arus yang menyeretnya pergi jauh dari kejaran para penjahat.
Di tengah dingin yang membekukan, Elara memejamkan mata. Dia belum mati. Dia masih bernapas. Dan selama dia masih bernapas, dia tahu dia akan terus berjuang.
Air sungai yang dingin membekukan masuk ke dalam hidung dan mulutnya setiap kali kepala Elara timbul tenggelam di permukaan. Hujan yang turun dari langit terasa seperti jarum-jarum es yang menghantam wajahnya yang pucat. Rasa lelah, perih di lengan, dan dingin yang luar biasa mulai menggerogoti kesadarannya.
Di tengah keputusasaan itu, pikiran Elara mulai mengembara liar.
Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan tertidur selamanya... seperti Ayah dan Ibu?
Bayangan wajah hangat kedua orang tuanya melintas. Tidur selamanya terasa begitu menggoda saat ini. Jika dia berhenti menggerakkan kakinya, jika dia membiarkan air ini memenuhi paru-parunya, rasa sakit ini akan hilang. Dia bisa bertemu dengan mereka lagi.
Namun, bagian kecil di dalam hatinya menolak. Tubuh mungilnya terombang-ambing, terbentur batu-batu sungai saat arus yang ganas membawanya terus menuju ke arah hilir.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Elara mendongak, menatap langit malam yang kelam dan pekat. Dia mengumpulkan seluruh udara yang tersisa di dadanya dan berteriak sekuat tenaga, membelah suara gemuruh badai.
"TOLOOONG...!!!"
Suaranya parau, tenggelam oleh suara air dan petir. Elara menangis di dalam air. Dia hanya berharap... sangat berharap... akan ada keajaiban. Akan ada seseorang yang mengulurkan tangan dan menariknya dari kegelapan ini. Hanya itu yang dia inginkan.
Salahkah aku jika ingin selamat? Salahkah aku jika berharap ada yang menolongku? batinnya menjerit pedih.
Pandangan Elara mulai mengabur. Cahaya kilat di langit tampak makin meredup di matanya.
Kesadarannya perlahan-lahan mulai menipis, menyisakan tubuh mungilnya yang pasrah terbawa arus hilir, menanti apakah takdir akan menjawab harapannya, atau justru membawanya pergi selamanya.
Arus sungai yang tadi terasa seperti cengkeraman maut, tiba-tiba terhenti oleh hambatan tak terduga. Di tengah kekacauan air yang menghantam, Elara merasakan sesuatu yang asing. Bukan lagi kayu atau batu tajam, melainkan sesuatu yang hangat, kuat, dan... hidup.
Tangan?
Pikiran itu melintas samar sebelum kesadaran Elara benar-benar goyah. Seseorang memegang lengannya dengan erat, tepat di bagian yang tidak terluka, dan menariknya melawan arus yang deras. Elara merasa tubuhnya diangkat, diangkat dari jeratan sungai yang membekukan menuju udara malam yang meskipun tetap dingin, terasa jauh lebih menenangkan.
Di antara sisa-sisa kesadarannya yang meredup, pendengarannya menangkap keriuhan yang tidak biasa.
"Cepat! Angkat dia!" sebuah suara pria dewasa terdengar tegas, berat, dan penuh wibawa. Suara itu memerintah di tengah suara hujan.
"Dia pingsan, Paman! Lengannya berdarah!" sahut suara anak laki-laki lain yang terdengar panik namun sigap.
"Kita tidak punya waktu, jaga dia tetap hangat. Bawa ke pondok, sekarang!"
Suara-suara itu terdengar samar, beradu dengan detak jantungnya sendiri yang melambat. Elara merasakan guncangan saat tubuhnya digendong. Ada rasa aman yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya, perasaan yang sudah lama hilang sejak malam itu dimulai.
Kehangatan dari napas seseorang yang membawanya, suara derap langkah kaki di atas tanah berlumpur, dan bisikan-bisikan cemas dari anak-anak laki-laki itu menjadi hal terakhir yang ia ingat. Elara membiarkan dirinya jatuh ke dalam kegelapan, bukan lagi kegelapan yang menakutkan, melainkan kegelapan yang terasa seperti perlindungan.
Harapannya terjawab. Di tengah badai yang mematikan, dia tidak lagi sendirian.
Kelopak mata Elara terasa sangat berat, seolah dilem terikat oleh debu dan kelelahan. Saat ia perlahan membukanya, cahaya lampu yang terang benderang menyambutnya, membuat pupil matanya mengerut sesaat.
Hal pertama yang menyapa indra penciumannya adalah aroma tajam, aroma antiseptik dan obat-obatan yang menusuk hidung. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa hangat menyelimutinya dengan tebal. Dia sedang berbaring di atas tempat tidur yang empuk, sangat kontras dengan tanah berlumpur dan arus sungai yang dingin.
Di mana ini? pikirnya bingung. Rumah... sakit? Ya, itu kata yang tepat.
Belum sempat ia memproses ingatannya yang berkeping-keping, perhatiannya teralih oleh sebuah gerakan di dekat kakinya. Tiga pasang mata sedang menatapnya dengan intens.
Mereka adalah tiga anak laki-laki dengan usia yang tampak berbeda; yang tertua mungkin remaja, sementara yang termuda tampak hanya beberapa tahun lebih tua darinya.
Wajah mereka tampak sangat antusias, seolah-olah Elara adalah sebuah keajaiban yang baru saja turun dari langit.
"Dia sadar!" seru anak laki-laki yang paling kecil dengan mata berbinar.
"Jangan berisik, nanti dia kaget," tegur anak laki-laki yang paling besar, meski senyum lega jelas terlihat di wajahnya.
Tanpa membuang waktu, anak laki-laki yang berada di tengah, seorang remaja dengan rambut sedikit berantakan, segera berbalik dan berlari keluar ruangan. Langkah kakinya terdengar terburu-buru di lorong.
"Daddy! Daddy, dia sudah sadar!" teriaknya, suaranya menggema di sepanjang lorong rumah sakit.
Elara terpaku. Kata 'Daddy' itu... apakah itu untuk seseorang yang menyelamatkannya di sungai tadi? Dia merasa asing, namun untuk pertama kalinya setelah malam yang mengerikan itu, dia merasa ada secercah harapan yang hangat, jauh berbeda dengan dinginnya hutan dan kejaran para penjahat.
Lanjut ga ya?