Suara dering telepon dari ponsel Bapak selalu punya ritme tersendiri di rumah kami. Itu bukan nada dering standar pabrikan yang kaku, melainkan sebuah lagu daerah lama yang nyaring dan diputar dengan volume maksimal. Setiap kali lagu itu berbunyi, kami sekeluarga sudah bisa menebak siapa yang berada di seberang garis udara tanpa perlu melihat layarnya.
Pasti Paman Broto.
"Pasti si Broto lagi ini," ibu biasanya akan bergumam sambil tersenyum kecil dari dapur, memotong sayuran atau menyeduh teh.
Dan benar saja. Bapak akan setengah berlari dari halaman belakang, menyapu keringat di dahinya dengan kaus oblong lusuh, lalu mengangkat telepon dengan suara bass-nya yang khas, penuh semangat yang membuncah.
"Woy, Bro! Gimana? Udah makan siang belum kamu?"
Lalu, percakapan itu akan mengalir begitu saja. Tanpa jeda, tanpa canggung, seolah-olah mereka baru saja berpisah lima menit yang lalu di gerbang sekolah dasar puluhan tahun yang silam. Mereka bisa membicarakan apa saja: harga pupuk yang naik, kenangan konyol masa remaja saat mencuri jambu di pekarangan Pak RT, sepeda tua yang rantainya kerap putus, hingga sakit pinggang yang mulai kerap datang menyapa tubuh tua mereka.
Bagi aku, hubungan Bapak dan Paman Broto bukan sekadar pertemanan biasa. Itu adalah sebuah monumen hidup dari persahabatan yang tak tergerus zaman. Sejak aku kecil, cerita tentang Paman Broto sudah menjadi bagian dari dongeng pengantar tidurku. Bapak selalu bercerita betapa mereka adalah dua anak laki-laki dengan celana pendek berdebu yang kemana-mana selalu menaiki satu sepeda secara berboncengan. Jika Bapak yang mengayuh, Paman Broto yang membonceng di belakang sambil memegang jepitan jemuran untuk diketukkan ke jari-jari roda. Jika Paman Broto yang mengayuh, Bapak akan berteriak memberikan arah dari belakang seolah mereka sedang mengendarai pesawat tempur.
"Bapakmu itu kalau tak ada Broto, mungkin sudah putus sekolah dulu," kata Ibu suatu kali. "Waktu simbah meninggal dan bapakmu tak punya uang bayar ujian, Broto yang menjual tabungannya—celengan tanah bentuk ayam—buat bayar biaya ujian bapakmu. Mereka itu lebih dari saudara."
Setiap kali mudik ke kampung halaman saat Lebaran, tujuan pertama Bapak bukanlah tempat wisata atau pusat perbelanjaan, melainkan sebuah rumah kayu sederhana di ujung gang sempit tempat Paman Broto tinggal. Saat mobil kami berhenti di depan pagar rumahnya, Bapak tidak akan mengetuk pintu seperti tamu pada umumnya. Ia akan berteriak dari luar dengan panggilan masa kecil mereka. Dan Paman Broto akan keluar dengan wajah berbinar, berlari kecil dengan langkahnya yang sedikit pincang—akibat jatuh dari pohon bersama Bapak waktu SMP—lalu merengkuh Bapak dalam pelukan hangat yang begitu erat.
Di sana, di teras rumah Paman Broto, waktu seolah berhenti. Dua pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih itu akan berubah kembali menjadi dua anak laki-laki belasan tahun. Mereka tertawa terbahak-bahak hingga matanya berair, saling menepuk pundak, dan menyeduh kopi hitam hingga larut malam. Aku selalu memperhatikan reaksi mereka dari kejauhan; ada kejujuran, ada binar kebahagiaan yang murni di mata Bapak setiap kali berada di dekat Paman Broto. Sebuah raut wajah yang jarang aku lihat ketika Bapak berhadapan dengan orang lain.
---
Tahun ini, sebuah impian besar yang telah Bapak raih dengan susah payah akhirnya terwujud. Setelah menabung puluhan tahun dari hasil berjualan di toko kelontong kecil dan menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil panen ladang, nama Bapak akhirnya keluar sebagai calon jamaah haji.
Hari ketika surat panggilan keberangkatan itu datang, orang pertama yang dijemput Bapak dengan teleponnya—tentu saja—adalah Paman Broto.
"Bro! Nama aku keluar! Aku berangkat tahun ini, Bro! Akhirnya cita-cita kita... akhirnya aku dipanggil ke Tanah Suci!" suara Bapak terdengar bergetar hari itu. Ada tangis haru yang pecah di balik telepon.
Paman Broto di ujung sana menyambutnya dengan teriakan sukacita yang tak kalah bergelora. "Alhamdulillah, Din! Alhamdulillah! Ya Allah... akhirnya impianmu terkabul! Berangkatlah, Din. Doakan aku dari sana, ya. Doakan sahabatmu ini supaya bisa nyusul."
Sejak hari keberangkatan itu, ponsel Bapak tak pernah berhenti bekerja. Setiap kali ada kesempatan—setelah selesai tawaf, saat menunggu waktu salat di Masjidil Haram, atau ketika beristirahat di tenda Mina—Bapak selalu mengambil foto.
Bapak bukan orang yang mahir menggunakan media sosial. Ia tidak mengerti cara membuat *story* atau memamerkan foto ke khalayak ramai. Kamera ponselnya hanya memiliki satu tujuan utama: dikirimkan kepada Paman Broto melalui pesan WhatsApp.
Foto Bapak berdiri berselimut kain ihram di depan Ka'bah. Foto Bapak tersenyum lebar dengan latar belakang Kubah Hijau di Madinah. Foto piring berisi nasi biryani yang porsinya melimpah. Hingga foto selfie konyol Bapak dengan serban yang agak miring dan latar belakang padang pasir yang luas. Setiap foto selalu disertai pesan suara pendek dari Bapak.
*"Bro, ini Ka'bah. Megah banget, Bro. Aku udah sebut namamu di sini tadi pas tawaf."*
*"Bro, panas banget di sini, tapi hatiku rasanya adem. Ini aku lagi makan nasi arab, porsinya banyak betul, kalau ada kamu pasti habis ini."*
Dan Paman Broto akan selalu membalasnya dengan penuh antusiasme. Puluhan pesan balasan berisi doa, rasa takjub, dan ucapan terima kasih karena telah diajak "melihat" Tanah Suci melalui mata dan kamera Bapak. Bagi Paman Broto, cerita-cerita dan foto dari Bapak adalah jendela hatinya menuju Makkah. Ia menikmati setiap detik perjalanan sahabatnya itu seolah-olah ia sendiri yang sedang melangkah di sana.
---
Hingga akhirnya, tanggal keberangkatan pulang pun tiba.
Jadwal kepulangan kelompok terbang Bapak adalah pertengahan Juni. H-1 sebelum kepulangan, Bapak sempat mengirimkan pesan terakhirnya kepada Paman Broto.
*"Bro, besok aku terbang pulang ke Indonesia. Alhamdulillah semua prosesi lancar. Nanti kalau udah nyampe rumah, aku telfon kamu ya. Aku mau cerita banyak. Banyak banget yang ga cukup ditulis di WA."*
Paman Broto membalas detik itu juga: *"Siap, Din! Hati-hati di jalan. Kabari aku begitu kamu menginjakkan kaki di rumah! Jangan lupa istirahat dulu."*
Namun, takdir adalah sebuah rahasia yang tersimpan rapat di balik langit.
Perjalanan udara yang panjang dan keletihan fisik yang luar biasa setelah menempuh rangkaian ibadah haji yang berat rupanya menguras habis stamina Bapak. Saat tiba di bandara kepulangan, kondisi fisik Bapak drop secara drastis. Wajahnya pucat dan napasnya memburu. Kami sekeluarga yang menyambut di asrama haji langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Suasana berubah menjadi panik dan mencekam dalam sekejap. Penyakit jantung bawaan Bapak yang selama ini tersembunyi tiba-tiba kambuh dengan sangat hebat. Seluruh fokus keluarga tersedot sepenuhnya pada ruang ICU. Kami berdoa, menangis, berlari ke sana kemari mengurus administrasi dan obat-obatan, menahan napas di depan pintu kaca yang tertutup rapat. Ponsel Bapak yang terus berdering di dalam tasnya tak sempat tersentuh oleh siapapun. Kami semua berada dalam pusaran ketakutan yang teramat sangat.
Dan di hari ke-4 setelah kepulangannya ke tanah air—hari di mana seharusnya rumah kami dipenuhi oleh gelak tawa dan tamu yang menyambut kedatangan seorang Haji baru—Allah memutuskan untuk memanggil Bapak pulang ke haribaan-Nya secara abadi.
Bapak meninggal dunia dengan tenang, meninggalkan senyum tipis di bibirnya.
Dunia kami seolah runtuh. Rumah kami yang tadinya bersiap menyambut kepulangan penuh sukacita, seketika berubah menjadi rumah duka. Bendera kuning berkibar di depan pagar. Tangisan Ibu pecah menyayat hati, dan aku kehilangan tumpuan hidupku. Hari-hari berikutnya diisi dengan prosesi pemakaman, penguburan, hingga pengajian tahlilan yang melelahkan jiwa dan raga. Kami benar-benar lupa pada dunia luar. Kami tenggelam dalam lautan duka yang teramat dalam.
---
Empat hari setelah pemakaman Bapak. H+4.
Suasana rumah mulai agak lengang. Para pelayat sudah berkurang. Aku duduk di tepi tempat tidur kamar Bapak yang kini terasa dingin dan hampa. Bau minyak angin dan parfum khas haji milik Bapak masih tertinggal lembut di sprei. Di atas meja kecil di samping ranjang, terletak ponsel Bapak yang selama beberapa hari ini mati karena kehabisan daya.
Dengan tangan gemetaran, aku mengisi dayanya dan menyalakan ponsel itu. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi masuk bertubi-tubi. Namun, ada satu nama yang mendominasi seluruh layar.
Paman Broto.
Ada puluhan panggilan tak terjawab dari tanggal 11 Juni hingga hari ini, 21 Juni. Dan puluhan pesan singkat yang tak terbaca. Aku membuka aplikasi pesan tersebut dengan dada yang mendadak terasa sesak.
*"Din, udah nyampe rumah belum?"* (11 Juni)
*"Din, kok belum ada kabar? Pesawatnya delay ya?"* (12 Juni)
*"Din, telfonku kok ga masuk-masuk? Kamu ketiduran ya karena capek?"* (14 Juni)
*"Din, aku nungguin cerita kamu nih. Jangan bikin khawatir dong."* (17 Juni)
*"Din... kamu baik-baik aja kan?"* (19 Juni)
Dan pesan terakhir yang masuk baru saja sepuluh menit yang lalu:
*"Kamu udah dirumah?"*
Airmataku menetes tanpa bisa ditahan membaca rentetan pesan itu. Terbayang di benakku, bagaimana seorang tua di ujung sana, duduk di teras rumahnya setiap hari sambil menggenggam ponsel, menunggu dengan sabar nama sahabatnya muncul di layar. Menunggu pesan suara yang biasa ia dengar. Menunggu panggilan telepon yang tak pernah absen menyapa harinya.
Dari tanggal 11 Juni hingga 21 Juni—sepuluh hari penuh—Paman Broto menunggu tanpa tahu bahwa sahabat karibnya sedang berjuang melawan maut, dan kini telah terbujur kaku di balik tanah merah.
Dengan jemari yang bergetar hebat dan napas yang tertahan, aku mengetik balasan dengan air mata yang menetes menembus layar ponsel.
*"Paman... Ini Dita, anaknya Bapak. Maaf baru bales WA Paman..."*
Belum sempat aku mengetik kalimat berikutnya untuk menjelaskan keadaan, ponsel di tanganku mendadak bergetar hebat. Paman Broto langsung menelepon.
Aku menghirup napas dalam-dalam, berusaha menetralkan suaraku yang serak, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Dita?" suara Paman Broto terdengar di ujung sana. Suaranya cepat, penuh nada cemas namun berusaha ditutupi dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Dita... aduh, Paman kaget ini nomor Bapakmu aktif. Bapakmu mana, Dit? Ini Paman dari kemarin nungguin telfonnya kok ga diangkat-angkat? Katanya udah mau pulang dari Makkah? Masa udah di rumah malah ngelupain Paman? Pasti bapakmu lagi ngerjain Paman ya? Suruh dia angkat telfonnya, Dit, Paman mau marah ini sama dia!"
Mendengar cecaran kalimat itu, dadaku rasanya seperti dihantam batu besar yang sangat berat. Air mataku meluncur makin deras. Aku memegang dadaku yang luar biasa menyesakkan. Bagimana caranya menyampaikannya? Bagaimana cara mematahkan hati seorang tua yang sedang menantikan sahabat hidupnya dengan penuh kerinduan?
"Paman..." suaraku tercekat di tenggorokan. "Paman... maafin Dita..."
Suara tawa kecil Paman Broto di ujung sana perlahan terhenti. Hening menyergap garis telepon itu selama beberapa detik.
"Dit...? Kenapa, Dit? Kok kamu nangis?" suara Paman Broto berubah mendadak, menjadi pelan, ragu-ragu, dan bergetar.
"Paman... Bapak... Bapak udah ga ada, Paman..." tangisku akhirnya pecah tak tertahankan. "Bapak meninggal empat hari yang lalu... Pas nyampe Indonesia Bapak drop, langsung masuk ICU... Maafin Dita baru kabarin Paman sekarang... Maafin Dita, Paman..."
Hening yang sangat panjang merayap di antara kami. Hening yang begitu pekat hingga aku bisa mendengar suara detik jam dinding dari rumah Paman Broto di ujung sana. Tidak ada teriakan, tidak ada raungan seketika. Hanya keheningan yang mencekam, seolah angin pun berhenti berembus di sekitar Paman Broto.
"Dita..." suara Paman Broto terdengar sangat tipis, hampir seperti bisikan yang nyaris hilang ditelan angin. "Kamu... kamu lagi bercanda kan, Dit? Jangan becanda ah... Bapakmu suka becanda, kamu jangan ikut-ikutan... Ini Paman lagi nungguin telfon Bapakmu..."
"Enggak, Paman... Dita ga bercanda," bisikku di antara isak tangis yang makin menjadi-jadi. "Bapak udah dikuburin empat hari yang lalu di samping makam Simbah. Maafin keluarga kita ga sempat ngabarin Paman karena kemarin semuanya panik dan kalut banget di rumah sakit..."
Dengar suara embusan napas yang sangat berat dari ujung telepon. Sebuah helaian napas yang panjang, dalam, dan terdengar begitu hancur.
*Huuuuft...*
Satu hela napas.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un..." ucap Paman Broto. Suaranya yang tadinya lantang kini terdengar begitu rapuh, seperti kaca tebal yang mendadak retak seribu.
"Paman..."
"Bapakmu... bapakmu benar-benar udah ga ada, Dit?" tanya Paman Broto sekali lagi, memastikan, seolah-olah ia berharap ada keajaiban bahwa aku akan berkata *'Aku bercanda'*.
"Iya, Paman. Bapak udah tenang..."
Di ujung telepon, aku mendengar Paman Broto menghela napasnya sekali lagi. Kali ini disertai getaran hebat dari dadanya. Ia tidak menangis meraung-raung, tapi suara hembusan napas dan patahan suaranya jauh lebih menyakitkan dari sekadar tangisan biasa. Itu adalah suara dari sebuah jiwa yang runtuh seketika.
"Paman bingung, Dit..." kata Paman Broto pelan, sangat pelan, suaranya parau dan terputus-putus. "Paman dari tanggal 11 kemarin... paman nungguin terus. Paman liat HP terus setiap jam. Paman mikir... kok Kemplud ga ngabarin aku lagi ya?"
Paman Broto menyebut panggilan masa kecil Bapak. Nama panggilan kesayangan yang hanya boleh diucapkan olehnya.
"Katanya dia udah mau pulang..." lanjut Paman Broto, dan kali ini suara tangisnya yang ditahan-tahan mulai terdengar menyelinap. "Aku tunggu-tunggu WA-nya. Aku tunggu telfonnya. Paman mikir, masa udah di rumah malah ga hubungin aku? Padahal... padahal pas di Makkah dia selalu kirim foto ke Paman, Dit..."
"Iya, Paman... Dita baru liat history chat Bapak..." tangisku makin pecah mendengar setiap patah kata yang keluar dari mulutnya.
"Bapakmu itu, Dit..." Paman Broto menghentikan kalimatnya sejenak, menahan isak tangis yang makin mencekik tenggorokannya. "Setiap hari telfonan sama Paman... Kirim-kirim foto dari sana. Paman seneng banget denger cerita-cerita bapakmu... Cita-cita dia dari muda itu cuma satu, Dit, mau naik haji. Dan akhirnya tercapai... Paman senengnya luar biasa pas dia cerita di depan Ka'bah..."
Paman Broto menghela napasnya yang kesekian kali. Setiap helaian napas itu terasa seperti sembilu yang mengiris hatiku. Aku membayangkan Paman Broto duduk sendirian di teras rumahnya, memegang ponsel tua itu, menatap foto-foto Makkah yang dikirimkan Bapak, sambil menyadari bahwa orang yang mengambil foto itu kini sudah berada di alam yang berbeda.
"Aku ini temen sekolahnya dari kecil, Dit..." bisik Paman Broto, suaranya kini benar-benar pecah dalam tangisan yang amat sangat dalam. "Dulu... kemana-mana kita selalu bareng. Naik sepeda bareng, kelaparan bareng, nyari uang bareng... Kenapa... kenapa dia pulang dari Makkah malah ga pamit sama Paman... Kenapa dia ga telfon Paman dulu kalau mau pergi jauh..."
"Maafin Bapak, Paman... Maafin Bapak..." hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Dadaku begitu sesak. Aku bisa merasakan kepedihan yang luar biasa dari seorang sahabat yang ditinggalkan tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan.
"Bapakmu janji... katanya begitu nyampe rumah mau telfon Paman..." kata Paman Broto lagi, air matanya kini terdengar menetes bebas. "Dia janji mau cerita banyak... Kenapa dia belum sempet ngabarin kalau udah nyampe rumah... Kenapa dia malah pulang ke rumah Allah..."
Hari itu, di atas pembaringan Bapak yang masih beraroma wangi, aku mendengarkan seorang pria tua menangisi sahabat masa kecilnya melalui sambungan telepon interlokal. Kami berdua tenggelam dalam duka yang mendalam, terpisah jarak namun disatukan oleh rasa kehilangan yang sama besarnya.
Paman Broto bercerita banyak sore itu, dengan suara yang tersendat-sendat dan hembusan napas yang berkali-kali menahan sesak. Ia menceritakan bagaimana Bapak selalu membanggakan anak-anaknya saat telepon, bagaimana Bapak selalu berjanji akan mengajak Paman Broto jalan-jalan jika ada rezeki lebih, dan bagaimana Bapak selalu menutup teleponnya dengan kata-kata: *"Udah dulu ya, Bro, besok aku telfon lagi."*
Tapi besok itu tak pernah ada lagi.
Panggilan telepon yang ditunggu-tunggu Paman Broto selama sepuluh hari tidak akan pernah masuk ke ponselnya lagi. Foto-foto Makkah yang tersimpan di obrolan pesan mereka kini menjadi lembaran kenangan terakhir dari sebuah persahabatan sejati yang terputus oleh takdir.
Sebelum mengakhiri telepon, Paman Broto membisikkan satu kalimat yang sampai hari ini masih bergema di dalam kepalaku, sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta kepedihan paling pekat dalam hidupku:
"Dita... nanti kalau Paman melayat ke rumahmu... tolong antarkan Paman ke makam Bapakmu ya. Paman mau nanya langsung sama dia... kenapa dia tega pulang duluan tanpa nungguin Paman..."
Telepon terputus. Dan di dalam kamar yang sunyi itu, aku memeluk ponsel Bapak erat-erat di dadaku, menangis sejadi-jadinya, menyadari betapa dalam dan indahnya sebuah persahabatan, serta betapa kejamnya sebuah perpisahan yang datang tanpa sempat mengucap kata selamat tinggal.