Suara bariton dari sesosok lelaki bertubuh tegap itu menggema di sebuah ruangan, membuat seorang gadis cantik berkerudung biru laut yang tengah memeluk seorang anak lelaki itu terkejut setengah mati.
“ Rayyan.. “ pekiknya menatap bocah laki-laki yang terpejam dalam pelukan si gadis.
Dania, wanita cantik yang memeluk Rayyan di pangkuannya itu menempelkan satu jarinya ke tengah bibirnya. Wisnu, lelaki yang tadi terpekik nampak lebih tenang dan mengangguk lemah.
“ Rayyan tidur Mas Wisnu… “ lirih suara Dania. Wisnu menatap Dania dengan tatapan yang sulit diartikan.
“ Saya gendong Rayyannya dek.. “ ucap Wisnu perlahan. Dania mengangguk. Ia sedikit mengendurkan pelukannya. Memberikan jarak untuk mengambil Rayyan dari pelukan Dania.
Rayyan yang tertidur lelap masih dengan sedikit sisa air mata di pipi tembemnya. Bocah lima tahun itu sepertinya menangis cukup lama. Hati Wisnu mencelos seolah tercubit melihat kenyataan menyadari sang bocah terlihat begitu rapuh dan sedih.
Dibaringkannya perlahan tubuh kecil itu. Diselimutinya lembut tubuh lelaki kecil itu dengan selimut karakter kartun favoritnya itu. Dielus pipi anak laki-laki, mengusap rambutnya dan mengecup ubun-ubunnya sembari melafalkan doa untuk Rayyan.
Dania nampak canggung. Gadis cantik berhidung tinggi itu bimbang antara tetap di tempatnya atau keluar dari kamar Rayyan.
Wisnu yang menyadari hal itu segera mengkode Dania untuk mengikutinya keluar kamar. Setelah menutup pintu kayu itu hampir tak bersuara, Wisnu dan Dania kini berada di pantry yang memang bersebelahan dengan kamar Rayyan.
Dania meremat ujung kemeja birunya perlahan. Terlihat sekali gadis itu gugup. Wisnu yang melihatnya tersenyum. Sangat tipis.
“ Dek…saya minta maaf ya.. Rayyan sudah merepotkan.. “ ujar Wisnu mengawali pembicaraan mereka di tengah keheningan.
“ Ndak apa-apa mas.. ta-tadi saya kaget Rayyan ke rumah saya sambil menangis.. ma-maaf saya lancang sudah masuk ke sini tanpa izin…”
Wisnu menghela nafas. Merasa ini adalah kesalahannya meninggalkan Rayyan seorang diri di rumah. Terlebih di luar sedang hujan lebat.
“ Saya tadi ke apotik sebentar, saya kira Rayyan sudah tidur tadi waktu saya pergi,” sahut Wisnu penuh rasa bersalah.
“ Rayyan sakit Mas?” Tanya Dania kaget.
“ Bukan.. asam lambung sama naik.. “ jawab Wisnu perlahan. Seolah tak ingin didengar oleh Dania.
Gadis cantik bermata indah itu terlihat khawatir.
“ Mas Wisnu sudah makan?” Tanyanya penuh perhatian.
Wisnu terhenyak. Bukan karena ia lemas tapi karena pertanyaan penuh perhatian seperti ini yang membuat Wisnu merasakan hangat di dadanya.
“ Ma-maksud saya.. emm.. kalo belum makan sa-saya bisa bawain makanan dari rumah mas.. “ Dania sedikit tergeragap dan tak sanggup memandang ke arah Wisnu.
Wisnu memang tampan. Garis rahangnya yang tegas dan jantan membuatnya terlihat lebih maskulin. Pekerjaannya sebagai anggota BASARNAS membuat postur badannya tegap dan gagah.
“ Eh ndak usah dek.. saya bisa masak sendiri.. “ ujar Wisnu tak enak hati. Dania malah tersenyum. Senyum manis yang entah bagaimana membuat Wisnu enggan berpaling.
“ Saya masak agak banyak mas.. nanti saya bawakan ya mas.. “ ucap si gadis itu kemudian. Wisnu tak menjawab lagi.
“ Kalau begitu saya pulang dulu ya mas.. “ Dania akhirnya memberanikan diri untuk menatap Wisnu hendak berpamitan.
Wisnu menganggukkan kepalanya.
“Dania… “ Wisnu memanggil Dania untuk pertama kalinya sejak tadi.
“ Iya mas…” Dania yang sudah beranjak menuju pintu kembali menoleh ke arah Wisnu yang memanggilnya.
“ Terimakasih.. saya antar pulang ya?” Wisnu berterimaksih sekaligus menawarkan untuk mengantarkan pulang gadis itu.
Dania tersenyum kecil.
“ Sama-sama mas.. ndak usah mas.. rumah saya kan di depan sana mas.. “ ucap Dania sambil kembali melangkah. Wisnu akhirnya mengekori Dania dari belakang.
Dania bertubuh tinggi semampai, cantik dan baik. Gadis tetangganya itu baru pindah dua bulan yang lalu ke lingkungan mereka. Ayah dan ibunya sudah berpisah, kini Dania tinggal bersama ayahnya yang seorang pelaut. Maka dari itu Dania lebih sering sendirian di rumah karena sang ayah kerap pergi berbulan-bulan untuk bekerja.
“ Dek.. “ lagi-lagi Wisnu menahan langkah Dania yang akan keluar dari pintu kayu itu.
“ Boleh saya telepon atau chat kamu kapan-kapan?” Ujar Wisnu ragu-ragu. Dania tidak langsung menjawab, gadis berlesung pipi itu mengetikkan sesuatu di ponselnya dan menunjukkannya pada Wisnu.
“ Boleh mas… ini nomer saya.. “ Dania menunjukkan no kontaknya dengan menyerahkan ponselnya ke tangan Wisnu yang pada saat itu juga segera menyimpannya di no kontak ponselnya.
Saat Wisnu mengembalikan ponsel Dania tanpa sengaja jemari mereka bersentuhan beberapa detik. Dan di hitungan detik itu tak ada yang menarik jari mereka lebih dahulu sampai Wisnu yang berdehem dan mengalihkan perhatian.
Bersamaan dengan itu pintu kamar Rayyan terbuka menampakkan bocah kecil itu dengan rambutnya yang berantakan. Melihat Dania yang masih berdiri di ambang pintu, bocah kecil itu berlari dan menubruk Dania yang hampir terjatuh. Rayyan memeluk Dania erat.
“ Ayah…. Aku mau punya bunda.. “cetus Rayyan membuat hati Wisnu kembali bergetar. Dania balas memeluk Rayyan, mengusap punggungnya dengan penuh kelembutan.
“ Aku gak mau Mama Andin yang ninggalin aku.. Mama Andin jahat.. aku mau kak Dania jadi bunda aku aja.. ya yah.. boleh ya ayah… “ pinta Rayyan yang membuat Wisnu tercekat sekaligus malu dan tak enak hati.
Sementara Dania, entah apa yang dirasakan gadis itu. Yang jelas semburat merah merona di pipi Dania saat itu.