Seorang gadis cantik berambut panjang melangkahkan kakinya dengan lemas, make upnya minimalisnya sudah luntur berganti dengan peluh dan debu yang ia serap hasil perjalanannya dengan motor matic kesayangannya. Rambutnya yang panjang bergelombang nampak kusut, sekusut pikirannya saat ini.
“ Rara…. Si Ruru belum pulang Ra… jemput lah di lapang main layangan katanya Ra.. udah mau maghrib.. “ ini lagi suara fantastis sang Ibunda Ratu merepet tanpa henti mengusik indra pendengaran Rara yang kemudian naik ke kepalanya.
Tambah pusing. Mau bantah tapi Rara ini takut dosa sama emaknya. Jadilah ia misuh-misuh kembali ke motor maticnya yang tadi sudah masuk kandang.
Damn. Sialnya lagi si mamat alias motor matic nya malah tak bisa dinyalakan. Rara lihat indikator bensin. Whaaattt?? Kosong? Gadis itu mencebik kesal. Huhu… lengkap banget hari ini ya Alloh. Tapi masih bersyukur habis bensinnya pas sampe rumah.
“ Buuu.. motornya abis bensin!!” Seru Rara. Ibu yang sedang membawa spatula dari arah dapur menghampiri Rara dengan wajah tak mau tahunya. Rara mendengus.
“ Terusss?” Ibu ratu malah melihat Rara dengan pandangan kejam. Ya Alloh dosa gak sih ngarungin emak sendiri yang super jutek kayak gini. Walaupun Rara tahu jawabannya tapi tetap saja berharap ya ada yang sekutu dengannya.
“ Yaaa palingan pulang sendiri bu.. biasanya juga… “ Ucapan Rara langsung terhenti saat ibunya memandanginya dengan tatapan laser yang menusuk pertahanan Rara.
“ Adik kamu itu navigasinya eror Ra… dari lapangan ntar malah kemana-mana, liat noh udah mulai gelap.. gimana kalo nyasar…lagian kamu punya kaki dipake atuh Rara.. cenah mau langsing.. body goals tapi kamana-mana pake motor. Sok atuh sekarang tah itung-itung olahraga Ra… “ Ibunda Ratu kalau sudah campur-campur gini bahasanya berarti bakal tambah panjang pidatona. Rara memijat pelipisnya yang mendadak pusing.
Punya adik satu kok bikin repot banget ya. Sepanjang jalan Rara ngedumel-dumel tak jelas. Ia tak sadar dari arah belakang sejak tadi ada seseorang yang tersenyum-senyum jahil .
Seorang cowok tinggi bertampang cool yang sedari tadi memperhatikan nya. Juga naik motor dengan sangat perlahan di belakangnya. Rara yang tak sadar diikuti berjalan dengan cepat. Sampai sneakernya tiba-tiba menginjak kerikil yang cukup besar. Rara hampir saja terjatuh dan memekik kaget.
Tubuhnya oleng ke samping kenapa sebuah tangan sigap menangkapnya. Rara terkesiap. Terkejut dengan tampang cowok yang sudah lama menghilang dari pikirannya. Atau tepatnya sengaja dihilangkan.
Masalahnya cowok itu cara menolongnya adalah dengan merenggut kaos oblongnya Rara dari belakang macam pegang kucing yang keciduk lagi nyolong ikan asin. Rara jengah kaos nya jadi melar dong.
“ Loooo… iiih najis mugoladoh pegang-pegang gue… sanaan iiih… “ Rara berteriak kesal. Padahal cowok itu sudah menolongnya. Tapi Rara malah makin jengkel saat cowok itu malah nyengir.
“ Cepet jadi tante-tante lo Ra.. cepet tua.. kagak berubah marah-marah mulu… “ decak si cowok yang membuat Rara makin naik tensi amarahnya. “ Gue nolongin elo Ra.. “ cowok itu tak ikhlas rupanya. Rara mendelik kesal.
“ Looo dateng-dateng malah bikin gue kesel lo ya… lo ngapain lagian? Ngapain? Ngikutin gue? Gak minta ditolong gue…“ Rara malah menatap cowok itu dengan pandangan galak dan ketus.
“ Wiiiih selow Ra.. kagak level gue mah ama lo.. “ senyum jahil terbit di wajah ganteng itu. Rara murka. Gadis berlesung pipi itu mempercepat langkahnya.
Cowok itu geleng-geleng kepala. Dengan sangat perlahan menyamai langkah Rara. Rara mendengus.
“ Cari Ruru kan? “ Cowok itu bertanya. Rara tak menjawab. Masih kesal.
“ Bareng gue aja Ra.. gue juga nyari si Tirta Ra.. paling barengan mereka.. “ ucap cowok itu lagi. Rara sempat bimbang.
Dia juga capek berjalan Lapangan masih agak jauh. Setelah perempatan baru terlihat lapangan sepakbola yang biasanya dipakai anak-anak dan siapapun yang ingin main atau sekedar nongkrong disana.
Rara hendak berbicara sesuatu saat cowok di depannya dengan santainya malah melajukan motornya sambil tersenyum jahil.
“ Bareng gue aja Ra… “ cowok itu melambaikan tangannya. “Tapi boong… bwahahahaa… “ meledaklah tawa si cowok yang membuat Rara merasakan gemuruh di dadanya karena marah. Berteriaklah ia kuat-kuat. Tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya, antara aneh, geli dan kasihan.
“ Geger… Gerhana… gue sumpahin lo jomblo seumur hidup woy… nyungsep noh elo ke kandang ayam sana… “ teriak Rara super duper jengkel.
Tapi sayang doa Rara tidak dikabulkan ya gaess. Buktinya Geger alias Gerhana si cowok tengil itu baik-baik saja dan sekarang anteng mantengin dua bocil di lapangan yang sedang asyik memperebutkan layangan. Heran.. malah ditontonin bukan malah dipisahin.
Rara yang baru datang melotot ke Gerhana yang malah mantengin duo bocil gelud. Layangan putus yang jadi bahan rebutannya.
“ Teh Raraaaa… “ pekik Tirta dan Sabiru tatkala Rara datang menghampiri mereka. Tirta dan Sabiru ngos-ngosan. Jambak-jambakan dia dengan Tirta yang tak lain adalah adiknya si Geger tadi.
“ Hehhh bocil.. gelud deui sok.. kenapa udahan?” Nyengir si Gerhana dapat cubitan keras dari Rara yang membelalakkan matanya marah. Malah di roasting.
SI Ruru merah padam layangan putus yang jadi rebutan malah sobek.. Nangis kejer bocil 5 tahun itu. Rara tambah kesal dan marah pula dengan kedua bocil dan 1 cowok gede yang bukan bocil lagi itu.
“ TUHHHH KAN JADINYA NANGIS… HEHHH !! “ Pekik Rara dengan merah padam. Dasar cowok bikin tensi darah naik semua. Seharian ini Rara memang kesal dengan yang namanya makhluk yang namanya cowok ini.
Kaum adam, jantan.. Rara kesel baget. Supervisornya di kantor tadi penyebab hari nya luar biasa nelangsa juga lelaki dingin tak punya perasaan yang seenaknya saja mencoret bahan presentasinya yang ia buat mati-matian.
Dan ini lagi adiknya, musuh adiknya dan kakak dari musuhnya semuanya cowok. Rara benci cowok!! Semuanya nyebelin dan ngeselin.
Rara kesal tapi tak tega maka ia memeluk Tirta yang awut-awutan. Rambutnya dirapikan oleh Rara. Pipinya berleleran air mata yang dihapus lembut oleh gadis berambut panjang itu. Lah ini adiknya Rara siapa sih? Itu Sabiru malah didiemin Rara. Bocil itu terengah-engah nafasnya menahan marah. Ditambah lagi kakaknya malah ngurusin si Tirta yang cengeng.
“ Tirta cengeng… “ teriak Sabiru kesal.
Tirta memeletkan lidahnya menjawab kekesalan Sabiru. Gerhana malah anteng memperhatikan. Mesem-mesem tak jelas.
“ Udah.. pada pulang yuk… “ ajak Rara kemudian. Gadis berkulit putih itu mendelik kesal pada Gerhana. Nggak ada guna tuh cowok. Cuma diem-diem aja.
“ Teh Rara.. itu Biru sobekin layangan aku… “ adu Tirta. Kirain udah diem. Eh malah mulai lagi.
Rara sampai melotot lagi. “ Udaaah besok lagi berantemnya.. kasian Tirta Ru… “ Rara mengelus kepala Tirta. Sabiru malah tantrum.
“ Teh Raraaa jahat pilih kasih…. “ teriak Sabiru sambil berlari. Rara bengong. Lah nambah aja tensi emosinya ya. Gerhana malah tertawa. Tapi ia segera mengejar Sabiru.
Lah?? Ini salah adik atau gimana sih?? Kenapa Rara malah lebih membela Tirta padahal adiknya Sabiru alias Ruru? Jawabannya di cerita selanjutnya ya.. kenapa bisa kayak ketuker gini adiknya.