Mentari pagi baru saja mengintip di balik gerbang **SMA Nusa Bangsa 1**, namun suasana sudah riuh dengan deru mesin kendaraan siswa. Di antara hiruk-pikuk itu, sebuah motor sport hitam melaju dengan tenang namun pasti. Pengendaranya adalah **Valen**, cowok yang dikenal sebagai "paket lengkap" di sekolah. Ia tampan, karismatik, jago *dance*, dan selalu ramah pada siapa saja.
*Brakk!*
"Aw arghh sialan!!!"
Suara benturan kecil itu menghentikan gerak Valen. Ia baru saja menyenggol ban belakang sebuah sepeda jengki yang sedang melaju pelan. Akibatnya, sang pengendara sepeda tersungkur tepat di depan gerbang.
Valen buru-buru turun dari motornya. "Hey, *I'm so sorry! Are you okay?*" tanyanya spontan dengan aksen Inggris yang fasih sembari mengulurkan tangan.
Bukannya menyambut uluran tangan Valen, gadis yang terjatuh itu justru mendongak dengan tatapan tajam. Rambut hitamnya dipotong model *wolfcut* yang berantakan namun terlihat keren. Ia mengenakan seragam yang sengaja dikeluarkan, sepatu kets kusam, dan sebuah *skateboard* tersampir di ranselnya.
"Punya mata tuh dipake, bukan cuma buat pajangan," ketus gadis itu. Ia adalah **Nia**, sang *bad girl* pendiam yang lebih suka bicara dengan papan *skateboard*-nya daripada dengan manusia.
"Gue beneran nggak sengaja. Sini gue bantu," ujar Valen tetap berusaha *humble*.
Nia menepis tangan Valen, berdiri sendiri, lalu membersihkan debu di hodie dan roknya tanpa ekspresi. "Nggak butuh. Jauh-jauh deh lo," gumamnya cuek. Ia langsung menuntun sepedanya menuju parkiran tanpa menoleh lagi, meninggalkan Valen yang terpaku di tempatnya.
Sejak kejadian itu, Valen entah mengapa selalu menemukan matanya mencari sosok Nia di koridor sekolah. Ternyata, di balik penampilannya yang *rebel*, Nia adalah siswi cerdas yang selalu duduk di pojok kelas sambil mendengarkan musik lewat *headphone*.
Suatu sore di ruang latihan *dance*, Valen sedang melatih gerakan *footwork*-nya yang rumit. Saat ia beristirahat, ia melihat Nia sedang meluncur dengan *skateboard*-nya di area parkir yang sepi. Nia melakukan teknik *kickflip* dengan sangat mulus.
"Keren juga," gumam Valen tanpa sadar.
Ia menghampiri Nia yang baru saja berhenti untuk minum. "Gerakan lo tadi... *smooth* banget. Mirip ritme *dance*," puji Valen sambil tersenyum lebar.
Nia meliriknya sekilas, lalu membuang muka. Sifat *tsundere*-nya kumat. "Biasa aja. Jangan ganggu, gue mau balik."
"Galak banget sih," tawa Valen renyah. "Gue cuma pengen kenalan secara bener. Gue Valen."
"Gue tahu. Si 'Pangeran Sekolah' yang hobi tebar pesona kan?" sindir Nia telak.
Valen justru tertantang. "Oke, kalau gitu gimana kalau kita tukar ilmu? Gue ajarin lo *basic locking dance*, lo ajarin gue cara berdiri di atas papan itu tanpa jatuh."
Nia terdiam sebentar, menatap mata Valen yang tampak tulus. "Lo nggak bakal kuat. Ini hobi buat orang yang berani luka, bukan buat cowok rapi kayak lo."
"Coba aja," tantang Valen.
Minggu-minggu berikutnya, SMA Nusa Bangsa 1 dihebohkan dengan pemandangan aneh. Valen, sang bintang sekolah yang karismatik, sering terlihat nongkrong di pinggir lapangan bersama Nia.
Valen mulai memahami bahwa di balik sikap cuek dan pakaian tomboy Nia, gadis itu hanya merasa lebih nyaman menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura manis di depan orang lain. Sebaliknya, Nia mulai menyadari bahwa keramahan Valen bukanlah sekadar pencitraan, melainkan sifat aslinya yang peduli pada orang sekitar.
Suatu hari, saat Nia kesulitan mengerjakan tugas literatur bahasa Inggris, Valen dengan sabar membimbingnya.
"Nia, fokus. "it's not that hard, if you understand the meaning of the word" bisik Valen lembut.
Nia mendengus, namun pipinya sedikit merona. "Berisik lo. Gue emang lebih jago matematika daripada bahasa beginian."
Valen tersenyum tipis. Ia sadar, ia telah jatuh hati pada sisi "bad" Nia yang jujur dan apa adanya. Baginya, Nia bukan sekadar gadis nakal, tapi sebuah teka-teki yang menarik untuk dipecahkan.
"Kenapa lo suka deket-deket gue? Imej lo bisa rusak temenan sama cewek urakan kayak gue," tanya Nia suatu kali saat mereka duduk di atap sekolah.
Valen menoleh, menatap Nia yang terlihat cantik di bawah sinar senja. "Karena cuma lo yang berani bilang mata gue pajangan di hari pertama kita ketemu. *And honestly? I think I love bad girls. Especially you*."
Nia tertegun, lalu menarik tudung jaketnya untuk menutupi wajahnya yang memerah sempurna. "Dasar gila," gumamnya pelan, namun kali ini ada senyum kecil yang tersungging di bibirnya.
part 2
POJOK PERPUSTAKAAN
Aroma kertas tua dan kayu mahoni biasanya menjadi penenang bagi Valen. Sebagai siswa yang dikenal *cool* namun tetap rendah hati, ia lebih sering menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan pusat sekolah untuk sekadar membaca literatur bahasa Inggris atau membantu pustakawan merapikan buku.
Siang itu, Valen sedang mencari referensi untuk tugas esainya di sela-sela rak fiksi yang remang. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sekelebat siluet di ujung rak nomor 04.
"Need some help?" suara Valen memecah keheningan, rendah dan tenang.
Gadis itu tersentak, hampir menjatuhkan buku di sebelahnya. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang dingin. "Enggak perlu. Gue bisa sendiri."
Valen terpaku sejenak. Mata itu... ia mengenalnya. "Lagi cari buku apa nia ?"
Nia, sang *bad girl* sekolah yang namanya sering masuk catatan guru BK, mendengus. Ia membuang muka, menyembunyikan rona merah tipis yang tiba-tiba muncul di pipinya. "Kenapa? Kaget liat gue di perpustakaan?"
Valen tersenyum tipis, tipe senyum yang bisa membuat siswi lain histeris, namun ia tetap bersikap *humble*. Tanpa banyak bicara, Valen melangkah maju. Karena postur tubuhnya yang tinggi, ia dengan mudah mengambil buku yang tadi diincar Nia.
"I think this is what you’re looking for. *The Catcher in the Rye*," ucap Valen sambil menyodorkan buku itu. "Pilihan yang bagus. *It's a classic about teenage rebellion. Matches your vibe.*"
Nia merampas buku itu dari tangan Valen dengan kasar, meski jemarinya sempat bersentuhan sedetik. "Sok pinter bahasa Inggris lo. Gue cuma suka covernya, bukan mau baca isinya!"
"Oh ya?" Valen menyandarkan bahunya di rak, menatap Nia dengan santai. "Kalau cuma suka covernya, kenapa tadi lo kelihatan penasaran banget sama sinopsis di belakangnya?"
"Brisik, val!" Nia membenahi letak *hoodie*-nya, mencoba terlihat tidak peduli. Karakter *tsundere*-nya kumat. "Mending lo balik sana ke kumpulan anak-anak pinter. Ngapain sih malah di sini?"
"Lagi nyari lo, mungkin?" canda Valen.
Nia terdiam, wajahnya semakin memanas. Ia memilih untuk berbalik dan berjalan menjauh, namun langkahnya terhenti. Tanpa menoleh, ia bergumam pelan—sangat pelan hingga hampir menyerupai bisikan.
"Besok... kalau lo nggak sibuk... jelasin ke gue kenapa tokoh di buku ini marah-marah terus."
Valen terkekeh kecil melihat punggung gadis tomboy itu yang berjalan terburu-buru meninggalkan area rak. "Sure, Nia. *See you tomorrow.*"
Nia tidak menjawab, tapi ia tidak melepaskan genggamannya pada buku itu. Di balik sifat pendiam dan pemberontaknya, perpustakaan hari ini baru saja menjadi tempat favorit barunya.
Part 3
TRAGEDI BAN BOCOR
Langit sore mulai berubah jingga ketika bel pulang sekolah berbunyi. Kringg.....kringgg...kring
Para siswa berhamburan keluar gerbang sambil bercanda dan tertawa. Di parkiran sekolah, suara mesin motor sport milik Valen terdengar meraung halus sebelum akhirnya melaju keluar halaman sekolah.
Valen dikenal sebagai cowok yang cool dan tenang. Ia jarang bicara berlebihan, .banyak cewek menyukainya, tapi Valen tidak pernah benar-benar tertarik pada siapa pun.
Di tengah perjalanan pulang, motor sport hitam miliknya tiba-tiba oleng pelan.
“Ah, walah sialan... ban bocor!!” gumamnya sambil turun dari motor.
Ia mencoba mendorong motornya perlahan.
Namun tiba-tiba suara sepeda berhenti di dekatnya.
“Motor lo kenapa?”
Seorang cewek berhenti tepat di depannya
Rambut wolfcut hitamnya bergerak tertiup angin. Hoodie hitam oversized dan membawa papan skeatboard didalam tas punggungnya membuat penampilannya terlihat tomboy dan sedikit seperti Tatapannya dingin, wajahnya jutek seperti biasa.
Valen menoleh dan tersenyum kecil.
“Ban bocor.”
Nia menatap Valen beberapa detik sebelum akhirnya bicara pendek.
“Ban bocor?”
Valen tersenyum tipis.
“Yeah. Lucky me.”
Nia mendecih pelan.
“Masih bisa bercanda.”
Valen tertawa kecil.
“You understand English too?”
“Dikit.”
Walau nada bicara Nia terdengar cuek, diam-diam ia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang.
“Halo? Bawa mobil pickup ke jalan dekat minimarket lama. Ada motor mogok.”
Valen mengangkat alis.
“Kamu nelpon siapa?”
“Temen gue. Dia punya bengkel.”
Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah mobil pickup datang. Teman Nia membantu membawa motor Valen ke bengkel untuk diperbaiki.
Valen terlihat sedikit kagum.
“You’re actually kind.”
Nia langsung memalingkan wajah.
“Jangan salah paham.”
Nia menuju sepedanya dan menaikinya perlahan.
“Kalau mau… gue bisa anter pulang.”
Valen menaikkan alis.
“Naik sepeda?”
“Kalau nggak mau ya udah.”
Baru saja Nia ingin mengayuh pergi, Valen menahan setang sepeda itu pelan.
“Who said I don’t want it?”
Nia terdiam sebentar.
Valen tersenyum tipis lalu berkata dengan nada santai,
“Biar gue aja yang bonceng.”
“Hah?”
“Lo capek kan.”
Tanpa menunggu jawaban, Valen duduk di sadel depan dan memegang setang sepeda, sementara Nia duduk di belakang dengan wajah jutek.
“Jangan ngebut awas ae lu ngebut ,” kata nia dengan dingin.
“Yes, ma’am.”
Nia mendecih pelan, tapi pipinya sedikit merah.
Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol kecil. Awalnya canggung, namun lama-lama terasa nyaman.
Valen beberapa kali berbicara memakai bahasa Inggris hanya untuk menggoda Nia.
“You know… you actually look cute when you’re angry.”
Nia langsung menendang kecil bagian belakang sepeda.
“Norak.”
“Tapi bener.”
“Diam.”
Valen malah tertawa makin lepas.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti di minimarket dekat alon alon kota .
Valen turun dari sepeda dan membeli satu es krim.
Ia memberikan kepada Nia.
“Nih.”
Nia menerimanya dengan muka juteknya .
“…makasih.”
Walau wajahnya tetap jutek, matanya terlihat senang sekali.
Valen diam-diam memperhatikannya.
Cara Nia menggigit kecil es krimnya, rambut wolfcut yang tertiup angin, hoodie hitam kebesaran yang membuatnya terlihat galak tapi lucu…
Entah kenapa, jantung Valen berdebar lebih cepat.
“Kenapa lihat-lihat?” tanya Nia curiga.
Valen tersenyum kecil.
“Nothing.”
Padahal sebenarnya, sejak sore itu Valen sadar satu hal.
Ia mulai menyukai cewek bad girl berwajah jutek yang diam-diam sangat perhatian itu.
Dan tanpa mereka sadari…
Ban motor bocor sore itu menjadi awal cerita mereka.
Part 4
JEMPUTAN DADAKAN
Pagi itu suasana komplek masih terasa sunyi. Matahari baru naik, embun masih menempel di dedaunan, dan jalanan depan rumah Valen terlihat kosong.
Di dalam rumahnya, Valen masih sibuk memakai seragam sekolah sambil menghela napas panjang.
“Motor gue masih di bengkel…” gumamnya pelan.
Ban motor sport miliknya bocor kemarin sore dan sampai sekarang belum selesai diperbaiki. Mau tak mau hari ini ia harus mencari cara lain untuk pergi ke sekolah.
Tiba-tiba—
“VALEEEN!!!”
Suara cewek terdengar dari luar rumah.
Valen langsung mengenali suara itu dan buru-buru membuka pintu.
Di depan pagar berdiri Nia sambil memegang sepeda hitam miliknya. Cewek itu memakai seragam sekolah lengkap dengan hoodie hitam oversized favoritnya. Rambut wolfcut panjangnya sedikit berantakan tertiup angin pagi.
Di punggungnya tergantung skateboard penuh stiker.
Tatapan matanya tetap dingin seperti biasa.
“Ngapain bengong?” tanya Nia datar. “Lo mau telat?”
Valen tersenyum kecil.
“Lo… jemput gue?”
“Jangan geer,” jawab Nia cepat sambil memalingkan wajah. “Motor lo kan masih dibengkel.”
Valen terkekeh pelan.
“Tumben perhatian.”
“Kalau gak jadi berangkat ya udah gue cabut duluan.”
“Eh jangan! Gue ikut!”
Valen langsung naik membonceng sepeda milik Nia. Meski terlihat santai, dalam hati ia senang bukan main.
Selama perjalanan, valen mengayuh sepeda dengan cepat melewati jalanan kota yang mulai ramai.
“Oh iya,” ucap Nia tiba-tiba. “Sepulang sekolah nanti kita ke bengkel lihat kondisi motor sport lo.”
Valen tersenyum hangat.
“Siap, bos.”
“Dan jangan nyuruh gue nunggu lama.”
“Iya, Nona Bad Girl.”
Nia langsung menoleh tajam.
“Mau gue turunin?”
Valen malah tertawa.
Baginya, sifat tsundere Nia justru terasa lucu.
Tepat pukul tujuh pagi mereka sampai di sekolah.
Beberapa siswa langsung memperhatikan mereka.
“Itu Valen dibonceng Nia?”
“Serius?”
“Anak skateboard itu?”.
Di sekolah, Valen memang terkenal cukup populer. Cowok itu cool, humble, pintar bahasa Inggris, dan jago dance saat acara sekolah.
Sedangkan Nia terkenal sebagai cewek pendiam yang susah didekati. Penampilannya tomboy, sering memakai hoodie hitam, dan lebih suka bermain skateboard daripada mengobrol dengan orang lain.
Tapi satu hal yang semua orang tahu...
Nia sangat cerdas di kelas dan pendiam .
Jam istirahat tiba.
Valen berjalan menuju meja Nia yang sedang membaca buku.
“Nia.”
“Hm?”
“Ke kantin yuk.”
“Gak mau.”
“Kenapa?”
“Rame.”
Valen duduk di depan mejanya sambil memasang wajah memohon.
“Ayolah sekali aja.”
“Malas.”
“Please?”
“Enggak.”
“Pleaseeee…”
Nia menutup bukunya pelan lalu menatap Valen kesal.
“Lo cerewet banget.”
“Berarti mau?”
Nia menghela napas panjang.
“…iya.”
Valen langsung tersenyum lebar.
Di kantin, mereka duduk berdua di dekat jendela. Banyak siswa diam-diam memperhatikan pasangan aneh itu.
Valen terus berbicara santai sementara Nia hanya menjawab seperlunya.
Namun sesekali Valen melihat Nia diam-diam tersenyum kecil.
Dan entah kenapa… itu membuat jantungnya berdebar.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Kring....kring....kring.....kring...
Valen berdiri di depan parkiran sambil menjaga sepeda milik Nia.
Sudah lima menit berlalu.
Lalu—
Sreettt—
Suara roda skateboard terdengar dari kejauhan.
Valen menoleh.
Nia datang meluncur cepat menggunakan skateboardnya. Hoodie hitamnya bergerak tertiup angin sore sementara rambut wolfcutnya terlihat keren di bawah cahaya matahari.
Dengan lincah Nia melompat kecil melewati garis parkiran sebelum berhenti tepat di depan Valen.
Valen terpaku.
Matanya tidak bisa lepas dari cewek itu.
“Kok diem?” tanya Nia sambil mengangkat alis.
Valen tersadar lalu tertawa kecil.
“Lo keren banget…”
“Hah?”
“Seriusan.DIH”
Nia langsung memalingkan wajah.
“Norak.”
Tapi pipinya memerah samar.
Saat itu Valen sadar…
Cewek tomboy, pendiam, tsundere, dan bad girl di depannya telah membuat hatinya jatuh tanpa izin.
Dan sejak jemputan dadakan pagi itu—
Valen mulai menyukai satu hal yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Ia sepertinya mulai jatuh cinta pada seorang bad girl bernama Nia.
Part 5
CAMPING IS CALLING
Suasana kelas siang itu jauh lebih berisik dari biasanya. Bahkan sebelum guru keluar ruangan, hampir seluruh murid sudah sibuk membicarakan agenda tambahan sekolah untuk akhir pekan nanti—camping bersama di pantai.
Beberapa murid terlihat antusias membahas api unggun, permainan malam, sampai siapa yang akan berangkat bersama siapa. Namun di tengah keributan itu, Valen justru duduk santai sambil memandangi langit dari jendela kelas.
Cowok itu memutar bolpoin di jemarinya pelan.
Pikirannya tiba-tiba kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu ketika ban motor sport miliknya bocor di jalan sepulang sekolah. Saat semua orang hanya lewat begitu saja, Nia diam-diam berhenti dan membantu dirinya sampai ke bengkel.
Padahal gadis itu terkenal dingin dan sulit didekati.
Valen melirik ke arah bangku belakang.
Nia sedang duduk sendiri seperti biasa. Hoodie hitam oversized menutupi tubuh rampingnya, sementara rambut wolfcut hitamnya jatuh berantakan namun tetap terlihat keren. Earphone menggantung di lehernya, membuat aura bad girl-nya semakin terasa.
Valen tersenyum kecil.
“Kayaknya gue harus balas budi deh hmssh…” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, jam pelajaran selesai.
Murid-murid mulai keluar kelas satu per satu. Valen langsung berjalan menghampiri meja Nia yang sedang memasukkan buku ke tasnya.
“Nia.”
Nia menoleh sekilas.
“Apa?”
“Camping besok … gue jemput ya.”
Jawaban Nia langsung keluar tanpa pikir panjang.
“Gak usah.”
Valen sudah menduga tolakaan itu .
“Sekali ini aja.”
“Gue bisa sendiri.”
“Anggap aja balas budi.”
Nia mendengus pelan sambil memasang wajah datarnya.
“Gak perlu.”
Valen tersenyum tipis, lalu sedikit menundukkan badan mendekat ke arah Nia.
“Please?”
Nia terdiam beberapa detik.
Ia paling tidak tahan kalau Valen mulai memohon dengan nada lembut seperti itu.
“Lo berisik banget.”
“Nah berarti boleh?”
“…terserah.”
Meski terdengar cuek, Valen tahu itu jawaban setuju.
Senyumnya langsung melebar.
Malam sebelum keberangkatan camping, Nia sedang rebahan di kamarnya sambil mendengarkan musik dari ponselnya.
Lampu kamar redup. Hoodie hitamnya masih dipakai meski ia sudah berada di rumah.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala.
Pesan dari whatsapp dari nomer tidak dikenal
VALEN
Besok gue jemput jam 4 sore.
Nia langsung duduk tegak.
“HAH LU SIAPA ?!”
Matanya membesar kaget.
VALEN
Ini gua valen ...besok sore gua jemput
Dengan cepat ia mengetik balasan.
NIA
Darimana lo dapet nomor gue?
Tak lama kemudian balasan masuk lagi.
VALEN
Rahasia...dech
Didalam kamar nia bingung dan sedikit
Mengerutkan dahi menahan 0 kesal.
Padahal dalam hati, ia diam-diam senang karena cowok itu sampai berusaha mencari nomor teleponnya.
Tanpa Nia tahu, Valen mendapatkan nomor itu dari wali kelas mereka dengan alasan koordinasi camping.
Beberapa menit kemudian pesan baru muncul lagi.
VALEN
Alamat rumah lo dimana?
Nia langsung menatap layar lama.
Jantungnya berdetak sedikit aneh.
Biasanya tidak ada orang yang benar-benar berusaha mendekatinya sejauh ini.
Namun Valen berbeda.
Cowok itu selalu datang tanpa takut dengan sifat dingin dan tsundere miliknya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nia mengetik alamat rumahnya singkat.
NIA
jl.sehati no 04 rt 09 rw 27 perumahan blok 26 rumah paling ujung cat warna monochrom gerbang item
Tak lama muncul balasan lagi.
VALEN
Oke. Jangan kesiangan bad girl favoritku.
NIA
Cerewet.
Nia spontan memonyongkan bibir kesal.
Namun setelah chat itu selesai, tanpa sadar Nia tersenyum kecil sendirian di kamarnya.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Langit sore mulai berubah jingga ketika suara motor sport terdengar berhenti di depan rumah Nia.
Valen melepas helmnya sambil melihat sekitar rumah yang cukup sepi.
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka.
Nia keluar dengan hoodie hitam favoritnya dan tas camping kecil di punggungnya. Rambut wolfcutnya sedikit tertiup angin sore.
Valen sempat terpaku beberapa detik.
“Ngapain diem?” tanya Nia datar.
Valen tersadar lalu tersenyum kecil.
“Lo keren.”
“Norak.”
Meski menjawab cuek, ujung telinga Nia sedikit memerah.
Perjalanan menuju pantai dimulai.
Di atas motor sport itu, Nia lebih banyak diam sambil memegang ujung jaket Valen pelan. Angin sore menerbangkan rambutnya sementara jalanan kota perlahan mulai berganti dengan jalur pesisir.
Valen beberapa kali mencoba membuka obrolan, tapi Nia hanya menjawab singkat.
Sampai akhirnya Valen menghentikan motor di depan minimarket kecil.
“Kenapa berhenti?” tanya Nia.
“Tunggu bentar.”
Valen masuk ke dalam minimarket lalu keluar membawa dua minuman dingin dan beberapa snack.
“Nih.”
Nia menerimanya pelan.
“…makasih.”
Valen langsung tersenyum puas.
Karena ucapan terima kasih dari Nia termasuk sesuatu yang langka.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Kali ini suasana mulai sedikit mencair.
Valen mulai bercerita tentang kegiatan dance di sekolah, teman-temannya yang konyol, sampai pengalamannya berbicara bahasa Inggris dengan turis asing yang tersesat di kota.
Nia awalnya hanya mendengarkan.
Namun lama-lama ia mulai menjawab.
Meski singkat.
Meski malu-malu.
Valen tersenyum kecil ketika sadar Nia mulai nyaman dengannya.
“Nia.”
“Hm?”
“Sebenernya gue suka sama lo.”
Kalimat itu membuat tangan Nia sedikit menegang di belakang jaket Valen.
Namun wajahnya tetap datar seperti biasa.
“…oh.”
Cuma itu jawabannya.
Valen tertawa kecil.
“Dingin banget.”
Nia memalingkan wajah supaya Valen tidak melihat pipinya yang mulai panas.
Padahal di dalam hati, gadis itu sedang merasa sangat bahagia.
Karena ternyata perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.
Tanpa Valen tahu, sejak lama Nia juga diam-diam memperhatikan dirinya.
Cowok cool yang humble, pintar bahasa Inggris, dan selalu terlihat santai itu perlahan membuat dunia Nia yang sunyi menjadi lebih hangat.
Namun Nia terlalu gengsi untuk mengatakannya.
Beberapa saat kemudian, Valen mulai melontarkan candaan-candaan random selama perjalanan.
Sampai akhirnya—
“Hahaha!”
Nia tiba-tiba tertawa lepas.
Valen langsung refleks menoleh kaget.
Motor bahkan sedikit melambat karena dirinya terlalu terkejut.
Itu pertama kalinya ia melihat Nia tertawa sebebas itu.
Wajah dingin yang biasanya sulit ditebak kini terlihat hidup di bawah cahaya matahari sore.
Nia langsung sadar dan buru-buru memasang wajah datarnya lagi.
“Apa liat-liat?”
Valen malah tersenyum lebar.
“Ternyata lo bisa ketawa juga.”
“Bawel.”
“Tapi lucu.”
“Valen, fokus nyetir.”
Valen tertawa kecil sambil kembali menatap jalanan depan.
Tak terasa langit mulai gelap.
Suara ombak perlahan terdengar semakin jelas.
Lampu-lampu tenda dari area camping mulai terlihat di kejauhan.
Dan beberapa menit kemudian…
Valen dan Nia akhirnya sampai di pantai.
Malam itu, tanpa mereka sadari, perjalanan sederhana itu menjadi awal dari sesuatu yang perlahan tumbuh di antara keduanya.