Matahari terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta, memantulkan warna keemasan pada dinding kaca penthouse mewah milik keluarga Adiwangsa. Di dalam kamar bernuansa pastel yang luas, Clarissa—yang akrab dipanggil Gadis—menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya cantik, kulitnya seputih pualam, dan pakaian yang dikenakannya berasal dari rumah mode ternama di Paris.
Secara materi, Gadis memiliki segalanya. Ayahnya, Baskoro Adiwangsa, adalah seorang konglomerat properti disegani yang kekayaannya tak habis tujuh turunan. Namun, di balik kemewahan itu, hati Gadis selalu merasa kosong. Ibunya telah lama meninggal, dan dunia sosialitas yang mengelilinginya terasa begitu palsu.
Lebih dari itu, kutukan terbesar dalam hidup Gadis adalah asmara. Setiap kali ia mencoba membuka hati, pria-pria yang datang selalu memiliki motif yang sama: uang, status, dan kekuasaan Baskoro. Terakhir kali, seorang pria bernama Rian yang mengaku sangat mencintainya, tertangkap basah sedang bermesraan dengan wanita lain di sebuah kelab malam, setelah sebelumnya meminta modal usaha sebesar lima miliar rupiah kepada Baskoro. Gadis patah hati, lagi dan lagi. Pria-pria playboy itu memperlakukannya seperti piala, bukan manusia.
Namun, di tengah kehampaan hidup Gadis, ada satu lentera yang meneranginya dalam setahun terakhir. Namanya Luna.
Luna adalah seorang wanita anggun, berpendidikan tinggi, dan memiliki kekayaan mandiri dari bisnis perhiasan internasional. Ia dinikahi oleh Baskoro setahun yang lalu. Bagi Gadis, kehadiran Luna adalah mukjizat. Luna tidak pernah memandang Gadis sebagai anak tiri; ia mencintai Gadis dengan ketulusan seorang ibu kandung.
Bagi Luna sendiri, menyayangi Gadis adalah obat penawar bagi trauma masa lalunya yang teramat kelam. Suami pertama Luna, Hendrik, adalah seorang pengusaha sukses yang tewas mengenaskan lima tahun lalu. Hendrik dirampok dan dibunuh secara brutal di pinggir jalan pinggiran Jakarta. Pelakunya tidak pernah tertangkap, dan kasus itu menguap begitu saja. Kematian Hendrik meninggalkan lubang hitam yang besar di hati Luna, memicu depresi berat yang berlangsung bertahun-tahun.
Ketika Baskoro hadir dalam hidupnya dengan sikap yang begitu protektif, hangat, dan penuh kasih, Luna merasa hidupnya diselamatkan. Terlebih ketika ia bertemu Gadis. Kedekatan emosional antara Luna dan Gadis begitu kuat, seolah-olah mereka ditakdirkan untuk saling menyembuhkan.
"Kamu adalah anugerah terbesar dalam hidup Mama, Gadis," ujar Luna malam itu, masuk ke kamar Gadis sambil membawa secangkir teh chamomile hangat. Ia mengelus rambut panjang Gadis dengan lembut. "Jangan menangis lagi karena pria bodoh seperti Rian. Kamu terlalu berharga."
Gadis tersenyum, memeluk Luna erat. "Terima kasih, Ma. Kalau tidak ada Mama, Gadis mungkin sudah gila."
Di luar kamar, di balik pintu yang sedikit terbuka, Baskoro berdiri menatap mereka. Senyum tipis terkembang di wajah pria paruh baya yang masih tampak gagah itu. Baskoro memang sangat mencintai Luna. Keanggunan, kelembutan, dan status Luna membuatnya merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
Namun, ada sebuah rahasia besar yang dipendam Baskoro dalam-dalam di dasar jiwanya. Sebuah rahasia berdarah yang jika terungkap, akan menghancurkan seluruh jagat raya yang telah ia bangun.
Hendrik, suami pertama Luna yang tewas lima tahun lalu, tidak dibunuh oleh perampok jalanan. Baskorolah yang membunuhnya.
Lima tahun lalu, Hendrik adalah saingan bisnis terbesar Baskoro dalam memperebutkan proyek lahan di Jakarta Pusat. Persaingan yang sengit membuat Baskoro gelap mata. Menggunakan koneksinya di dunia bawah tanah, Baskoro merencanakan pembunuhan yang rapi, membuatnya tampak seperti perampokan acak. Hendrik tewas, proyek jatuh ke tangan Baskoro, dan kekayaannya melonjak drastis.
Niat awal Baskoro mendekati Luna sebenarnya adalah untuk memastikan bahwa wanita itu tidak memegang bukti apa pun yang ditinggalkan Hendrik. Namun, seiring berjalannya waktu, Baskoro justru benar-benar jatuh cinta pada pesona dan ketulusan Luna. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta yang bercampur dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Baskoro bertekad akan membahagiakan Luna dan Gadis seumur hidupnya sebagai penebusan dosa.
Namun, manusia adalah makhluk yang penuh dengan kelemahan. Dan kelemahan Baskoro kali ini bernama Mely.
Mely adalah sekretaris pribadi Baskoro yang baru bekerja selama enam bulan. Sebelum bertransformasi menjadi wanita karier berpakaian formal dan elegan, Mely adalah seorang Lady Companion (LC) di sebuah karaoke eksekutif langganan para pejabat dan pengusaha. Mely tahu persis cara membaca pria. Ia tahu bagaimana cara menatap, cara berbicara dengan nada manja yang tersamarkan, dan kapan harus menyentuh lengan Baskoro "secara tidak sengaja."
Baskoro yang mulai merasa jenuh dengan rutinitas rumah tangga dan sikap Luna yang selalu anggun serta religius, perlahan-lahan mulai goyah. Mely menawarkan sesuatu yang berbeda: keliaran, ego yang dipuja-puja, dan rasa muda kembali.
Di ruang kerja kantor pusat Adiwangsa Group, Mely sedang merapikan beberapa berkas di meja Baskoro. Pakaian kerjanya sengaja dipilih yang agak ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya.
"Pak Baskoro, jadwal makan malam dengan investor malam ini dibatalkan," kata Mely dengan suara berbisik yang menggoda, berjalan mendekati kursi kebesaran Baskoro. "Bagaimana kalau kita... mencari tempat lain untuk makan malam? Saya tahu tempat baru yang sangat privat."
Baskoro menatap Mely, matanya menggelap oleh gairah. Rasa bersalahnya pada Luna mendadak menguap, tergantikan oleh ego seorang pria berkuasa yang merasa bisa memiliki apa saja. Baskoro menarik pinggang Mely, membuat wanita itu terduduk di pangkuannya.
"Kamu selalu tahu apa yang saya butuhkan, Mely," bisik Baskoro, lalu mencium bibir sekretarisnya itu.
Mely tersenyum penuh kemenangan di sela ciuman mereka. Di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana besar. Ia tidak sudi hanya menjadi simpanan. Ia ingin menjadi nyonya di rumah mewah Adiwangsa. Mely mulai mencari-cari celah untuk menjatuhkan posisi Luna, tanpa tahu bahwa ia sedang bermain-main dengan seorang pembunuh dingin.
Sementara badai perselingkuhan mulai membayangi rumah tangganya, Gadis memilih untuk keluar dari rumah demi mencari ketenangan. Malam itu, ia menolak diantar oleh sopir pribadi. Dengan pakaian kasual—hanya jins dan kaos putih longgar—ia menyusuri kawasan Kota Tua Jakarta yang ramai. Ia ingin merasakan menjadi orang biasa, jauh dari kepalsuan dunianya.
Bau harum ketan terbakar, telur, dan serundeng gurih menusuk hidungnya. Di pojok jalan dekat sebuah bangunan tua kolonial, seorang pemuda sedang sibuk mengipas tungku arang tempat memasak kerak telor. Penjual itu mengenakan kaos oblong hitam, handuk kecil melingkar di lehernya, dan wajahnya sedikit terkena jelaga arang. Namun, struktur wajahnya tegas, matanya tajam namun memancarkan keteduhan.
Entah mengapa, langkah kaki Gadis terhenti di depan gerobak tersebut.
"Kerak telornya, Neng? Spesial telor bebek apa telor ayam?" tanya pemuda itu dengan senyuman ramah yang tulus—jenis senyuman yang sudah lama tidak dilihat Gadis dari pria-pria di sekelilingnya.
"Telor bebek satu, Mas. Nggak pakai pedas ya," jawab Gadis, duduk di bangku plastik kecil yang disediakan di samping gerobak.
"Siap, ditunggu ya, Neng." Pemuda itu dengan cekatan mulai mengolah bahan-bahan. "Kenalin, nama saya Arya."
"Gadis," jawabnya singkat.
Sembari menunggu makanan matang, Arya mengajak Gadis mengobrol. Tidak seperti pria-pria perlente yang biasanya langsung memamerkan mobil atau bisnis mereka, Arya bercerita tentang keindahan malam di Jakarta, tentang sejarah bangunan di Kota Tua, dan filosofi kesabaran dalam membuat kerak telor. Suaranya yang berat dan pembawaannya yang tenang membuat Gadis merasa sangat nyaman.
Ketika kerak telor disajikan, Gadis memakannya dengan lahap. "Enak banget, Arya! Ini kerak telor paling enak yang pernah aku makan."
Arya tertawa renyah. "Alhamdulillah. Resep rahasia dari almarhum Ayah saya, Neng."
Malam itu menjadi awal dari sesuatu yang baru. Gadis yang biasanya pulang ke rumah dengan hati yang berat, kali ini pulang dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Ia sengaja menyimpan nomor telepon Arya, berpura-pura agar bisa memesan kerak telor dalam jumlah banyak untuk acara rumah kelak.
Pertemuan malam itu berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan berikutnya. Gadis sering mengunjungi Arya di sela-sela waktu senggangnya. Di depan Arya, Gadis tidak pernah mengaku sebagai anak konglomerat Baskoro Adiwangsa; ia hanya mengaku sebagai seorang pekerja kantoran biasa. Ia takut jika Arya tahu identitas aslinya, ketulusan pemuda itu akan berubah menjadi pamrih seperti pria-pria lainnya.
Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk menyingkap tabir rahasia.
Arya sebenarnya bukanlah pemuda biasa tanpa latar belakang. Nama lengkapnya adalah Arya Dirgantara. Ia adalah anak kandung dari Hendrik—suami pertama Luna yang dibunuh lima tahun lalu.
Sebelum menikahi Luna, Hendrik pernah menikah secara siri dengan seorang wanita sederhana bernama Sarinah. Dari pernikahan siri yang dirahasiakan dari publik itulah Arya lahir. Ketika Hendrik meninggal secara mendadak, Sarinah dan Arya tidak mendapatkan bagian sepeser pun dari harta warisan Hendrik karena status pernikahan mereka yang tidak tercatat resmi secara hukum negara. Ditambah lagi, seluruh aset Hendrik otomatis jatuh ke tangan Luna sebagai istri sah.
Ibunya, Sarinah, jatuh sakit karena syok atas kematian Hendrik dan akhirnya meninggal dua tahun kemudian, meninggalkan Arya sebatang kara. Arya terpaksa putus kuliah dan bertahan hidup di kerasnya Jakarta dengan berjualan kerak telor, modal resep yang dulu pernah diajarkan ibunya.
Selama lima tahun ini, Arya tidak pernah berhenti mencari tahu tentang siapa sebenarnya pembunuh ayahnya. Ia tahu polisi telah menutup kasus itu, namun Arya yakin ada konspirasi besar di balik kematian Hendrik. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah bahwa sebelum ayahnya dibunuh, sang ayah sedang terlibat konflik bisnis besar dengan seorang pengusaha bernama Baskoro Adiwangsa.
Di tempat lain, perselingkuhan Baskoro dan Mely semakin menjadi-jadi. Mely yang licik mulai berani menyelinap ke ruang kerja pribadi Baskoro di rumah mewah mereka saat Luna dan Gadis sedang pergi. Mely mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai jaminan agar Baskoro tidak bisa mendepaknya begitu saja.
Saat menggeledah laci rahasia di balik lukisan besar di ruang kerja Baskoro, jemari Mely menemukan sebuah kotak hitam kecil. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mewah merek Patek Philippe yang jendelanya retak dan memiliki bercak darah kering yang sudah menghitam. Di balik jam tangan itu, ada grafir nama: Hendrik Dirgantara.
Mely terkesiap. Sebagai mantan wanita malam yang memiliki banyak kenalan di dunia hitam, ia segera menghubungkan titik-titik informasi. Ia tahu cerita tentang kematian mantan suami Luna, dan ia tahu jam tangan ini adalah milik korban. Mengapa jam tangan korban pembunuhan ada di laci rahasia Baskoro?
"Jadi... Bos besar ini adalah seorang pembunuh," bisik Mely dengan seringai mengerikan di wajahnya. "Ini tiket emasku untuk menjadi nyonya Adiwangsa."
Mely segera menyimpan jam tangan itu di dalam tasnya dan keluar dari ruangan sebelum ada yang melihatnya.
Malam minggu berikutnya, Gadis mengajak Luna untuk keluar makan malam di kawasan Kota Tua. Gadis ingin mengenalkan "teman spesialnya" kepada Luna, wanita yang paling ia percayai. Luna dengan senang hati menyetujui, senang melihat anak tirinya kembali ceria dan tidak lagi meratapi para playboy yang menyakitinya.
Mereka tiba di pojok jalan tempat Arya biasa berjualan. Suasana malam itu cukup ramai. Arya sedang sibuk melayani pelanggan ketika ia melihat Gadis datang bersama seorang wanita paruh baya yang sangat anggun dan cantik.
"Arya!" panggil Gadis sambil melambaikan tangan dengan riang.
Arya menoleh dan tersenyum. Namun, ketika matanya beralih ke wanita yang berjalan di samping Gadis, senyum Arya mendadak membeku. Wajah wanita itu sangat familiar. Arya pernah melihat fotonya di dompet almarhum ayahnya, Hendrik. Wanita itu adalah Luna, istri sah ayahnya yang menguasai seluruh harta peninggalan Hendrik.
Luna pun menatap Arya. Langkah kakinya terhenti. Tatapan mata Arya, bentuk rahangnya, dan cara pemuda itu berdiri... sangat mirip dengan Hendrik sewaktu muda.
"Hendrik...?" bisik Luna spontan, tangannya gemetar menutupi mulutnya.
"Ma, ada apa?" tanya Gadis bingung melihat reaksi ibunya.
Arya menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dadanya. "Anda... Tante Luna, bukan? Istri dari almarhum Hendrik Dirgantara?"
Luna mengangguk perlahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Siapa... siapa kamu?"
"Saya Arya. Anak dari Sarinah," kata Arya dengan nada suara yang bergetar namun tegas. "Anak kandung Hendrik yang sengaja kalian lupakan setelah Ayah meninggal."
Gadis terbelalak. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. "Arya... apa maksudnya ini? Kamu kenal dengan Mama Luna? Dan... siapa Hendrik?"
"Gadis," Luna menyela dengan suara parau, air matanya menetes. "Hendrik adalah suami pertama Mama... yang dibunuh lima tahun lalu." Luna kemudian menatap Arya dengan tatapan penuh rasa bersalah dan kesedihan. "Arya... Mama tidak pernah tahu kalau Hendrik punya anak dengan Sarinah. Hendrik tidak pernah cerita... Mama bersumpah."
Arya tersenyum sinis, luka lama di hatinya kembali berdarah. "Tentu saja dia tidak cerita. Tapi sudahlah, saya tidak peduli dengan harta itu lagi. Yang saya pedulikan adalah keadilan untuk Ayah saya." Arya kemudian menatap Gadis dengan pandangan yang penuh rasa sakit. "Dan kamu, Gadis... jadi kamu adalah anak dari Baskoro Adiwangsa? Pria yang merebut seluruh proyek Ayah saya tepat setelah Ayah saya tewas?"
Gadis menggelengkan kepalanya, air mata mulai membasahi pipinya. "Arya, aku nggak tahu apa-apa... Aku nggak tahu tentang masa lalu ini..."
Sebelum percakapan emosional itu berlanjut, ponsel Luna berdering nyaring. Itu adalah panggilan video dari nomor Baskoro. Luna yang masih syok menekan tombol terima dengan tangan gemetar.
Namun, layar ponsel tidak menampilkan wajah Baskoro. Layar itu menampilkan wajah Mely dengan senyuman kemenangan yang culas, berlatar belakang ruang keluarga rumah mewah mereka. Di belakang Mely, tampak Baskoro duduk terikat di kursi dengan wajah lebam, di bawah ancaman dua pria berbadan besar yang disewa Mely.
"Halo, Nyonya Luna yang terhormat," suara Mely terdengar melengking melalui pelantang ponsel. "Dan halo juga untuk Gadis tersayang."
"Mely?! Apa-apaan ini?! Apa yang kamu lakukan pada suamiku?!" teriak Luna, histeris. Gadis dan Arya langsung mendekat untuk melihat layar ponsel.
"Ah, suamimu? Maksudmu si pembunuh ini?" Mely tertawa terbahak-bahak, lalu mengarahkan kamera ponselnya ke sebuah jam tangan mewah yang bernoda darah di atas meja. "Tebak aku menemukan apa di laci rahasia Baskoro? Jam tangan milik Hendrik Dirgantara! Suamimu yang sekarang, Luna, adalah orang yang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi suamimu yang dulu!"
DEG.
Jantung Gadis seolah berhenti berdetak. Ia menatap layar ponsel, lalu menatap Luna yang langsung terkulai lemas di aspal, beruntung Arya dengan sigap menangkap tubuh wanita itu.
"Ayah... pembunuh?" bisik Gadis, suaranya nyaris tak terdengar. Seluruh dunianya runtuh berkeping-keping dalam satu detik. Pria yang selama ini menyayanginya, yang ia anggap sebagai pahlawan, ternyata adalah monster yang bertanggung jawab atas penderitaan Luna dan Arya.
"Kalau kalian ingin pembunuh ini tetap bernapas, bawa sertifikat rumah, seluruh perhiasan berharga, dan surat pengalihan aset Adiwangsa Group ke rumah sekarang juga! Jangan panggil polisi, atau aku akan menyuruh orang-orang ini memotong leher Baskoro!" ancam Mely sebelum memutus panggilan secara sepihak.
Suasana di pojok Kota Tua itu mendadak mencekam. Luna menangis histeris di pelukan Arya, sementara Gadis berdiri mematung dengan air mata yang terus mengalir deras.
Arya menatap Gadis. Di dalam hatinya terjadi pergulatan batin yang hebat. Gadis adalah anak dari pria yang membunuh ayahnya. Namun, melihat kehancuran di mata Gadis, Arya tahu bahwa Gadis benar-benar tidak bersalah. Gadis hanyalah korban dari ketamakan ayahnya sendiri. Rasa cinta yang tumbuh di antara mereka selama beberapa bulan terakhir ini terlalu nyata untuk diabaikan.
"Tante Luna, Gadis... kita harus pulang sekarang," kata Arya dengan tegas, melepaskan dendam pribadinya demi keselamatan manusia. "Kita tidak bisa membiarkan wanita itu menguasai segalanya, tapi kita juga harus menyelesaikan ini."
"Arya... Ayahku... Ayahku seorang pembunuh..." tangis Gadis pecah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Arya mendekati Gadis, memegang kedua pundaknya dengan lembut namun kuat. "Gadis, tatap aku. Kamu bukan ayahmu. Dosanya bukan dosamu. Sekarang, kita harus menyelamatkan nyawa mereka dan menegakkan keadilan yang tertunda selama lima tahun."
Kata-kata Arya memberikan secercah kekuatan pada Gadis. Mereka bertiga segera masuk ke dalam taksi dan meluncur menuju penthouse Adiwangsa. Sepanjang perjalanan, Arya diam-diam mengirimkan pesan singkat dan lokasi rumah kepada seorang temannya yang merupakan seorang perwira polisi, meminta bantuan tim buser untuk mengepung rumah tanpa sirine.
Satu jam kemudian, pintu utama rumah mewah Adiwangsa terbuka. Mely berdiri di ruang tengah, memegang segelas anggur dengan angkuh. Dua preman sewaannya berdiri di samping Baskoro yang terkulai lemas di kursi dengan mulut dilakban.
Luna, Gadis, dan Arya melangkah masuk. Luna membawa sebuah tas kecil berisi berkas-berkas yang diminta Mely.
"Bagus. Tepat waktu," ujar Mely dengan senyum kemenangan. "Sini, serahkan tas itu padaku, Luna. Dan setelah ini, bawa anak tiri dan suami pembunuhmu itu pergi dari sini. Rumah ini dan perusahaan ini akan menjadi milikku."
Gadis menatap ayahnya. Baskoro membuka matanya yang lebam, menatap Gadis dan Luna dengan pandangan penuh penyesalan dan air mata. Ketika mata Baskoro beralih ke Arya, ia tertegun. Wajah Arya terlalu mirip dengan Hendrik. Di ambang kematiannya, Baskoro tahu bahwa hari penghakiman telah tiba.
Luna melemparkan tas berkas itu ke lantai di depan kaki Mely. "Ini yang kamu mau, Mely? Silakan ambil. Harta ini sudah dikotori oleh darah suamiku yang dulu. Aku tidak menginginkannya lagi."
Mely membungkuk dengan gembira untuk mengambil tas itu. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh tali tas, Arya melangkah maju dengan cepat, menendang tas itu menjauh.
"Hei! Apa yang kamu lakukan, Tukang Sampah?!" teriak Mely berang. Dua preman sewaannya langsung bergerak maju untuk menyerang Arya.
Arya, yang sejak remaja terbiasa hidup keras di jalanan Jakarta, tidak gentar. Ketika preman pertama melayangkan pukulan, Arya merunduk dengan cepat, lalu membalas dengan pukulan lurus yang telak ke arah rahang preman tersebut hingga terjungkal. Preman kedua mencoba menusuk Arya dengan pisau lipat, namun Arya berhasil menangkap pergelangan tangannya, memutarnya hingga pisau itu terjatuh, dan membanting tubuh preman itu ke lantai marmer dengan keras.
"Polisi! Jangan bergerak!"
Tiba-tiba, pintu kaca balkon dan pintu depan didobrak dari luar. Belasan anggota polisi bersenjata lengkap masuk ke dalam ruangan, langsung menodongkan senjata ke arah Mely dan dua premannya. Mely menjerit histeris saat tangannya diborgol ke belakang.
"Kalian tidak bisa menangkapku! Baskoro yang pembunuh! Dia yang membunuh Hendrik! Jam tangannya ada di tas saya!" teriak Mely frustrasi, menunjuk ke arah tas kerjanya yang tergeletak di meja.
Seorang perwira polisi mengambil jam tangan tersebut sebagai barang bukti, lalu berjalan ke arah Baskoro dan membuka lakban di mulutnya.
Baskoro tidak mencoba membela diri lagi. Tubuhnya gemetar, kekuatannya telah habis. Ia menatap Luna, lalu menatap Gadis yang berdiri di samping Arya.
"Luna... Gadis... maafkan aku," bisik Baskoro dengan suara serak, air mata mengalir membasahi pipinya yang terluka. "Semua yang dikatakan Mely... benar. Aku yang merencanakan pembunuhan Hendrik lima tahun lalu. Aku serakah... aku buta karena kekuasaan."
Baskoro kemudian memandang Arya. "Kamu... anak Hendrik, kan? Wajahmu... sangat mirip dengannya. Aku minta maaf, Nak. Aku siap menerima hukuman apa pun. Penjara, atau hukuman mati sekalipun... ini adalah tebusan untuk dosaku."
Gadis menangis tersedu-sedu, bersandar pada bahu Arya. Arya tidak mengatakan apa-apa, namun tangannya menggenggam erat tangan Gadis, memberikan kekuatan yang tak terucapkan. Luna mendekati Baskoro, menatap pria yang telah menemaninya selama setahun terakhir ini dengan pandangan yang campur aduk antara rasa benci, kecewa, namun juga sisa-sisa rasa cinta.
"Kamu menyelamatkan hidupku dari depresi, Baskoro," kata Luna dengan suara bergetar. "Tapi kamu juga yang menghancurkan hidupku lima tahun lalu. Biarlah hukum dunia dan hukum Tuhan yang mengadili dirimu."
Polisi kemudian membawa Baskoro, Mely, dan kedua preman itu keluar dari rumah. Malam itu, kemegahan dinasti Adiwangsa runtuh, menyisakan puing-puing kebenaran yang menyakitkan.
Enam bulan berlalu sejak malam yang mengubah segalanya. Kasus pembunuhan Hendrik akhirnya terungkap sepenuhnya di pengadilan. Baskoro dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas tindakan pembunuhan berencana dan korupsi. Mely dan komplotannya juga mendekam di balik jeruji besi atas tindakan pemerasan dan penganiayaan.
Seluruh harta Adiwangsa Group yang terbukti didapatkan dari cara yang ilegal disita oleh negara, namun sisa harta kekayaan mandiri Luna dan sebagian aset sah Baskoro dialihkan secara sukarela oleh Luna dan Gadis kepada Arya sebagai bentuk ganti rugi dan hak waris yang tertunda. Arya kini menjadi salah satu pemegang saham utama di perusahaan properti yang sah.
Namun, kekayaan tidak mengubah Arya.
Malam itu, di pojok jalan Kota Tua yang sama, gerobak kerak telor itu masih berdiri kokoh. Asap tipis berbau gurih mengepul ke udara. Arya, yang kini mengenakan pakaian yang lebih rapi namun tetap sederhana, sedang mengipas tungku arang dengan senyuman yang sama.
Di sampingnya, duduk seorang gadis cantik berkaos putih dan celana jins. Gadis tidak lagi memakai perhiasan mewah dari Paris, namun wajahnya memancarkan kebahagiaan sejati yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Di bangku plastik sebelah mereka, Luna duduk sambil meminum es teh manis, mengobrol akrab dengan para pelanggan lain. Luna telah menemukan kedamaiannya kembali, merawat Gadis dan Arya seperti anak-anak kandungnya sendiri.
"Kerak telor spesial telor bebeknya sudah matang, Neng Gadis," ujar Arya sambil menyajikan sepiring kerak telor hangat di depan Gadis.
Gadis tersenyum manis, matanya berbinar menatap Arya. "Terima kasih, Mas Arya."
Gadis mengambil satu suapan, meresapi rasa gurih yang akrab di lidahnya. Setelah melewati badai pengkhianatan dari para pria playboy, misteri berdarah keluarganya, dan runtuhnya takhta kekayaan yang semu, Gadis akhirnya menyadari satu hal.
Cinta sejati tidak ditemukan di dalam pesta-pesta mewah atau mobil-mobil sport mahal. Cinta sejati ada di sini, di pojok jalan Kota Tua yang bersahaja, di balik asap tungku arang, dan di dalam hati seorang tukang kerak telor yang tulus menerima dirinya apa adanya.