A Girl named Summer:
Saat aku pertama kali bertemu dengannya, dan saat aku memiliki kesempatan untuk menatap matanya lebih jelas, aku melihat suatu hal yang membuatku teringat pada sesuatu. Saat aku melihat rambut pendek sebahunya tertiup oleh angin sepoi-sepoi, pemandangan itu bukanlah sesuatu yang asing bagiku. Aromanya, jika kuingat lagi, adalah suatu aroma yang paling tidak bisa aku lupakan. Saat aku pertama kali bertemu dengannya, senyumannya yang ragu-ragu, menghiasi lekuk bibir merah mudanya yang pudar. Saat aku berbicara pertama kali dengannya, suaranya bergema-gema bagaikan lonceng angin. Suaranya amatlah lembut, tetapi gemetar. Seperti angin sedang mencium sekumpulan ilalang yang kesepian. Aku bukanlah angin itu. Aku hanyalah seorang gadis yang merasa dirinya telah jatuh pada dunia seorang gadis lain. Ya, gadis berambut pendek itu. Gadis yang seperti ilalang rapuh yang tertekuk oleh badai itu.
Aku... melihat diriku di masa lalu saat aku melihatnya. Aku melihat diriku yang aku tak ingin ingat lagi. Jujur saja, pada awalnya, itu membuatku kesal. Tetapi, anehnya, gadis itu memiliki sesuatu yang diriku di masa lalu tak memilikinya. Aku tak terlalu akrab dengannya. Selama kelas satu, kami bahkan tak pernah sailing bicara. Orang-orang lain pun begitu. Dia hanyalah "murid biasa" yang bisa diandalkan ketika dibutuhkan. Mungkin, dia memang tak menonjol. Jika ada satu hal yang membuatku benar-benar tertarik padanya, itu adalah... matanya. Matanya yang jernih dan bersinar. Itu membuatku teringat pada pantai-pantai di Okinawa. Seiring waktu, pada akhirnya, tanpa sadar, aku sering menemukan diriku bertanya-tanya: apa yang dia miliki di kedalaman matanya yang bagai permata itu?
Interaksi pertama kami terjadi saat festival budaya di sekolah. Itu terjadi saat kelas dua. Kami ditugaskan dalam tim yang sama, untuk melayani tamu yang datang ke kelas kami yang menggelar kafe ala Prancis. Sepanjang waktu, akulah yang terus-terusan merasa canggung. Sementara dia, ya, dia hanya mengikuti arus yang ada. Dia tidak mencoba untuk berpura-pura dia seperti telah mengenalku sebelumnya. Pun, dia tidak menutup-nutupi bahwa dia juga tampak canggung dalam beberapa kesempatan bersamaku. Jika ada yang aku ingat dari saat itu adalah betapa seringnya dia tersenyum. Senyumnya itu... senyum
yang masih dia sering tunjukan di kemudian hari. Senyum yang ragu-ragu.
Aku berteman dengannya beberapa waktu kemudian. Bagiku, tak ada ruginya aku memiliki teman sepertinya. Saat aku mengajaknya untuk menjadi temanku, dia tertawa.
"Bukankah kita sudah menjadi teman?"
Tawanya itu sangatlah candu bagi telingaku. Tawanya sungguh-sungguh indah, sebuah resonansi surgawi yang membasuhi kedua gendang telingaku. Angin yang bertiup saat itu adalah angin yang lembut. Angin yang memelukku yang tanpa sadar tersenyum saat aku mendengar tawanya pertama kali.
Dia gadis yang menarik, batinku.
Lalu, aku mengetahui namanya.
Minggu-minggu yang kita lewati terasa seperti mimpi. Cahaya senja yang terlalu jingga melewati jendela ruang klub. Gorden putih menari-nari dengan lembut. Gadis itu memiliki ketertarikan pada benda-benda di angkasa. Dia adalah satu-satunya anggota Klub Astronomi di sekolah kami. Ya, satu-satunya, sampai aku memutuskan untuk ikut bergabung. Kami menempati sebuah ruangan tua di ujung gedung. Karena sekolah menolak untuk memberi dana klub pada kami karena kekurangan anggota, kami biasanya menggunakan uang kami sendiri untuk kegiatan klub. Sekolah hanya memberi ruangan dan beberapa fasilitas.
Satu-satunya alasan ikut bergabung adalah tentu saja karena dia. Aku mengikuti seluruh kegiatan yang kami berdua rencakan, lalu mendengarnya bicara soal planet selama berjam-jam. Ada suatu hal menarik yang aku perhatikan dari gadis itu dan astronomi: dirinya yang tampak rapuh seketika berpendar oleh cahaya saat kamu membiarkannya melihat langit malam dengan teleskop. Sesuatu yang besar, indah, aneh dan kuno menyentuh hatinya.
-----
Saat aku mengingatnya kembali, aku hampir melupakan kenyataan bahwa aku pernah membenci melihat diriku di masa lalu tampak hidup di gadis itu. Tapi, semakin aku mengenalnya, semakin aku tahu: dia bukanlah seorang pengecut sepertiku. Apa bedanya seorang gadis yang bahkan tidak bisa bermimpi dengan seorang gadis yang berjuang melawan takdir? Aku akan menyebutnya keras kepala, tapi di saat yang sama, aku akan menyebutnya seorang pemberani. Apa yang dia pikirkan saat dia masih bisa tersenyum, betapa pun gemetar senyum itu, sementara langkahnya suatu saat akan hilang? Apa yang dia pikirkan saat dia masihs bisa menatap bulan dan berkata "ayo kita lihat lagi tahun depan" sementara dia tahu tahun depan itu... tidak pernah akan dia capai? Apa yang dia pikirkan saat melihat bunga matahari yang layu dan memberinya harapan bahwa bunga matahari itu akan bersinar lagi "esok", sementara aku masih ingat: bunga matahari yang layu dan menunduk itu adalah bunga matahari yang kamu lihat terakhir kalinya.
Ruang klubmu perlahan-lahan penuh oleh debu. Aku bahkan tidak bisa memenuhi janji yang kuucapkan pada diriku sendiri untuk terus berada di sana bahkan saat kamu pergi. Aku membenci musim dingin sekali lagi, dan untuk alasan yang berbeda. Dulu, aku membencinya karena Santa selalu memberiku hadiah yang tak pernah kuinginkan. Aku membencinya karena aku sering sakit saat musim dingin ketika anak-anak lain membuat boneka salju. Sekarang, aku membencinya karena kamu... pergi saat salju pertama turun.
-----
Saat aku melihat matanya untuk pertama kali, aku teringat pada suatu hal yang aku cintai lebih daripada rapuhnya salju saat musim dingin. Saat matanya melirikku, aku bisa merasa diriku tenggelam di kedalaman mata gadis itu yang bak lautan. Lautan biru yang tenang. Angin sepoi-sepoi meniup rambut hitamnya. Aromanya, masih kuingat, adalah aroma musim panas, aroma rumput hijau dan laut. Suara tawanya bergema dengan lonceng angin dan burung camar. Jejak kakinya terhapus begitu cepat oleh deru ombak.
Aku melihatnya pertama kali sebagai seorang gadis abu-abu yang nyaris tanpa warna. Gadis yang tersenyum karena setidaknya dia memiliki sesuatu yang ingin dia lawan. Tetapi, saat ini, aku bisa melihat bahwa warna gadis itu bukanlah abu-abu. Dia memberi warnanya pada segala sesuatu yang dia cintai. Astronomi, musim panas, bintang, alam, bunga matahari, laut. Aku penasaran apakah aku adalah seseorang yang dia cintai. Saat dia menyentuh jari-jemariku, dia sangatlah hangat. Seperti sinar pagi yang menyinari rerumputan yang masih basah oleh embun. Sejujurnya, hatiku sudah setengah dingin sampai aku bertemu dengannya. Dia membuat es-es dalam hatiku mencair.
Aroma gadis itu adalah aroma musim panas. Aroma seribu musim panas. Aku akan terus bermimpi melihatnya berdiri di tepi dermaga. Aku akan terus bermimpi melihatnya menatap langit biru di tengah padang rumput dari botol Ramune-ku. Aku akan mengingatnya lagi dan lagi saat musim panas, saat tonggeret bernyanyi, saat lonceng angin bergema, saat jalan-jalan aspal tampak bagai ilusi.
Ya, aku bisa melihatnya sekarang. Warna gadis itu adalah... biru. Langit musim panas adalah dia. Langit musim panas yang begitu luas tanpa batas itu adalah dia. Aku bisa melihat jelas, dari keringatnya yang mengucur, gumpalan-gumpalan emosi dan mimpi yang dia miliki. Sungguh biru yang intens.
Saat aku mendengar namanya untuk pertama kali, aku berpikir bahwa takdir memiliki caranya sendiri untuk membuatku terus mengingatnya di masa depan. Nama gadis itu, yang elok bagai pemiliknya, tak mungkin bisa kuhapus. Tak mungkin akan kuhapus, dalam situasi apa pun.
Karena aku juga tidak bisa menghapus senyummu yang berkilau untuk pertama kali saat kamu memberitahuku kamu adalah... Summer. Si gadis musim panas.