Menikahlah saat kamu siap, bukan karena keinginan sesaat. Menikahlah dengan seseorang yang mencintai dan tidak meninggalkanmu saat dunia ingin menghancurkanmu.
"Kamu yakin mau nikah, Ayya?" sekali lagi pertanyaan itu Hanifa lontarkan pada adiknya.
"Yakin.. Ayya butuh sosok pengganti Papa, dan Ayya yakin dia bisa lindungin Ayya sama kaya Papa dulu.."
Keyakinan sang adik membuat Hanifa harus mengikhlaskannya. Walaupun jauh di lubuk hatinya, ia belum bisa melepaskan Kanaya. Sebab gadis itu belum pulih dari luka trauma kehilangan di masalalu.
Usia 20 tahun, Kanaya memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang baru ia kenal selama 7 bulan. Saat itu, yang ia pikirkan adalah bahwa saat ia telah menikah, maka hidupnya akan terasa jauh lebih aman dan nyaman.
"Aku janji, aku bakalan jagain kamu dan bakalan sayangi kamu dengan tulus."
Sebulan pertama, semuanya aman terkendali. Kehidupan rumah tangga Kanaya sungguh sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Hingga badai pertama itu datang, Kanaya tiba-tiba saja mengalami pendarahan hebat.
"Kamu kenapa?" tanya sang suami dan Kanaya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena ia sendiri pun tak tau apa yang terjadi.
Setelah menelepon Hanifa, Kanaya dan suami nya pun bergegas menuju Klinik Bidan terdekat. Dan Kanaya pun dinyatakan keguguran.
"Keguguran? Kamu hamil? Kamu gak tau kamu hamil?"
Rentetan pertanyaan itu membuat nafas Kanaya sesak, bagaimana bisa ia keguguran saat ia sendiri tidak tau jika dirinya hamil.
"Kok bisa kamu gak tau kalo kamu hamil?!" Hanifa masih tidak percaya.
Sakit. Luka kehilangan itu kembali, yang bahkan Kanaya tidak tau harus merasakan apa. Karena kehadiran calon bayinya itu bahkan tidak ia sadari.
"Maaf.." Hanya air mata yang bisa menjadi bukti, bahwa Kanaya sangat merasa bersalah.
"Udah gak apa-apa, belum rezeki kita." Ada satu kelegaan dalam diri Kanaya, yang penting suaminya ada disampingnya.
Sejak saat itu, Kanaya lebih aware pada dirinya sendiri. Ia mulai lebih memperhatikan siklus bulanannya. Walaupun tak jarang ia merasa lelah karena beban pekerjaan. Karena Kanaya bukan seorang Ibu rumah tangga saja, ia juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sang Mama usai ditinggal Papa dan Hanifa menikah.
Satu tahun berlalu, hari itu Kanaya merasa ada yang tidak beres. Tubuhnya sangat lemas, kepalanya terasa berputar dan perut bawahnya terasa sakit.
"Bulan ini, aku belum menstruasi!"
Lantas tak banyak berkata, ia ambil testpack yang sengaja ia simpan dirumah.
Mata Kanaya berkaca-kaca, garis dua itu terpampang sangat nyata.
"Mas, aku hamil!" Kanaya tidak menunda-nunda waktu untuk memberi tahu sang suami.
Namun rupanya, kabar bahagia itu tak berlangsung lama. Kanaya kehilangan kembali calon buah hatinya, setelah 3 bulan mengandungnya.
Kehilangan? Tentu saja! Kanaya terus menyalahkan dirinya sendiri, namun sekali lagi, ia tetap merasa lega karena suami nya masih mendampinginya.
Entah skenario apa yang Tuhan rancang untuk Kanaya, tepat tiga bulan setelah kehilangan, Tuhan berikan lagi Kanaya kebahagiaan.
"Selamat, Ibu dan Bapak akan segera menjadi orang tua."
Kata-kata dokter menjadi satu kebahagiaan sekaligus ketakutan bagi Kanaya. Ketiga kalinya ia mengandung, kini ia sangat menjaga segalanya. Minum vitamin tak pernah telat, makanan pun ia jaga sesuai arahan dokter.
"Alhamdulillah, satu minggu lagi adek 4 bulanan. Yang sehat ya, dek utun!"
Sebuah do'a yang diucapkan calon Ayah, berharap anaknya akan tumbuh dengan baik dalam rahim Ibunya. Namun Tuhan selalu memberikan kejutan yang tak terduga.
"Maaf, jamin nya tidak bisa dipertahankan."
Saat itu juga, dunia Kanaya runtuh. Tak ada lagi warna dalam hidupnya, kehilangan terus saja menghantuinya. Dan kali ini ia sendirian. Ya, sendirian!
Sang suami tak ada disampingnya, ia sibuk dengan duka nya sendiri. Tanpa menyadari jika luka Kanaya jauh lebih besar.
Sejak saat itu, rumah tangga Kanaya jauh lebih dingin. Mereka bukan lagi hidup bersama, tapi hanya tinggal bersama. Melakukan kewajiban suami istri sebagai mestinya saja. Entah rasa itu telah hilang, atau menumpuk begitu saja dan menjadi sampah batin.
Kanaya harus kembali berjuang sendiri melawan trauma kehilangan itu. Diam-diam ia pergi ke psikiater dan psikolog sendirian. Hingga akhirnya Hanifa mengetahui itu, rasanya begitu berkali-kali lipat menyakitkan.
Namun yang Hanifa tau, Kanaya kini jauh lebih kuat. Ia terlihat tegar, namun tak ada yang tau, jauh dalam lubuk hatinya, Kanaya sudah hancur lebur.
"Suami kamu kemana? Dia tau kamu berobat ke psikiater begini?" Hanifa bertanya, karena memang ia tak melihat sosok suami adiknya itu.
"Tau, tapi dia sibuk. Nggak bisa nemenin. Lagian aku bisa sendiri, Kak. Jangan khawatir.." Kanaya tersenyum seraya mengelus lembut lengan Hanifa.
"Sibuk? Apa kerjaan nya jauh lebih penting di banding kesehatan istrinya?" Hanifa tak habis pikir.
Kanaya tak lagi menjawab, rasanya ia tidak punya energi untuk menjawab semua rasa penasaran sang Kakak.
Pada akhirnya Kanaya memutuskan untuk berhenti menemui psikiater. Ia hanya mengikuti saran sang psikolog, untuk membuat jurnal harian saja. Agar tak terlalu banyak sampah batin yang menumpuk dalam hatinya.
Kanaya mulai memikirkan rumah tangga impiannya dulu. Ia tak menyesali pernikahan itu. Ia hanya menyesali waktu yang salah, waktu yang tidak tepat. Andai saja ia menikah saat usia nya cukup matang, mungkin saja semua itu tak akan pernah terjadi, pikir Kanaya.
"Aku sehat, aku kuat, aku bahagia.."
Affirmasi itu selalu ia berikan pada dirinya sendiri. Ia mulai menulis, satu kata, satu kalimat, satu bab, hingga satu buku dengan seratus halaman penuh.
Suatu hari Kanaya pergi bersama sahabatnya, ia melihat betapa bagusnya tulisan Kanaya dalam buku itu.
"Ayya, Lo punya bakat! Coba bikin novel, update aja di salah satu platform. Bukan nya jadi penulis itu cita-cita Lo sejak dulu?"
Ucapan sahabatnya itu membuat semangat Kanaya meningkat. Pelan tapi pasti, Kanaya membuat satu novel dengan cerita yang ia punya.
Siapa sangka, Novel yang Kanaya tulis cukup banyak peminat dan pembaca. Ia berinteraksi dengan banyak pembaca nya melalui komentar. Dan waktu yang salah itu kembali.
"Akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpi mu untuk jadi penulis ya, Ayya. Aku bangga ❤️"
Satu komentar itu membuat jantung Ayya berdegup kencang. Selain sahabatnya, ada satu orang yang mengetahui cita-cita Kanaya. Yaitu, cinta pertamanya.
* * *
Malam itu, Kanaya sudah menyiapkan makanan untuk suaminya. Kanaya masih melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Bahkan, saat sang suami tiba-tiba saja berhenti bekerja, Kanaya tidak mempermasalahkannya.
Dunia mereka kini terasa bersebrangan, tembok semakin tinggi menjulang diantara mereka. Dan.. satu pesan yang membuat Kanaya berpikir 'apakah aku harus mengakhirinya?'.
"Istri kamu itu sepertinya gak akan bisa punya anak, kamu harusnya nurut! Laki-laki bisa menikahi 4 wanita dan itu Sunnah Rasul!"
Sakit rasanya. Namun Kanaya berusaha untuk tidak menghiraukannya. Ia berpura-pura tidak membaca pesan itu.
"Hari ini, kita nginep dirumah Mama. Jingga mau aqiqah anaknya."
"Oke.. Aku siap-siap dulu.."
Adik ipar nya itu baru saja melahirkan, mau tak mau Kanaya harus datang walaupun enggan. Karena pasti akan banyak mulut yang mengomentari dan mengasihani dirinya.
"Udah di cek lagi belum? Minum vitamin penyubur kandungan coba! Atau suruh suami kamu nikah lagi.."
"Laki-laki itu, butuh penerus keluarga. Kasian kalo suami kamu itu gak punya anak!"
Dan banyak hal lagi yang membuat Kanaya cukup ke-trigger saat mendengarnya. Tangan Kanaya mulai gemetar hebat, airmata tak bisa lagi ia bendung.
"Kenapa, Ayya? Kenapa kamu nangis?" ternyata suaminya itu masih sedikit peduli padanya.
"Aku ikhlas kalo kamu nikah lagi. Kamu harus punya anak untuk meneruskan keluarga."
"Apaan sih?! Tiba-tiba nyuruh aku punya istri lagi, udah gak sayang kamu sama aku?"
"Justru karena aku sayang! Aku mau kamu punya anak, walaupun bukan dari aku.."
"Ngomong apa sih kamu?! Kita pulang aja! Gak enak malah ganggu acara orang!"
Sakit, sungguh sakit. Suaminya itu mengantarkan nya pulang kerumah, sedangkan ia kembali kerumah Ibu nya, karena Ibu nya terus saja menghubungi. Sedangkan Kanaya, menangis di ruangan gelap itu sendirian.
* * *
Aku kirim hadiah buat Ibu penulis, semoga suka hadiahnya ❤️ -FansAbadi
Sebuah laptop tiba-tiba saja sampai di tangan Kanaya. Bersamaan dengan sebuah surat yang di akhiri dengan tanda hati.
"Ini dari siapa, Risaaa?"
Sahabat baiknya itu hanya tersenyum,"Dari fans abadi nya Kanaya."
"Serius ya, Ris! Aku gak mau terima barang yang gak jelas asal usulnya itu" tolak Kanaya.
Akhirnya Risa pun mengatakannya, "Itu hadiah dari Sagara."
Adipati Sagara, cinta pertama Kanaya di masa sekolah. Jelas cinta yang belum usai, karena saat itu Sagara berpikir bahwa Kanaya akan melanjutkan pendidikannya. Karena ia pun menghilang begitu saja, untuk menjalani pendidikan di Akademi Militer.
Setelah lulus, Sagara mencari Kanaya. Namun saat mengetahui Kanaya sudah menikah, hati Sagara benar-benar patah. Dan Kanaya tidak mengetahuinya.
"Sejak kapan lo kontekan sama Sagara, Risa?"
"Dari dulu, Sagara cari Lo. Dan saat dia tau Lo udah nikah, dia ancur Ayya!"
"Dia yang ngilang, jangan salahin gue atas semuanya. Kalo aja dulu dia bilang, kalo aja dulu dia pamit, hidup gue juga ga akan sehancur ini Risa!"
Kanaya tau yang ia ucapkan itu salah. Karena semua murni keputusannya. Bukan karena Sagara, bukan karena Risa.
"Sampe kapan Ayya? Sampe kapan lo mau bertahan diatas luka-luka lo itu? Kalo lo udah gak sanggup, lepasin, Ayya.."
"Perceraian bukan hal mudah, Risa! Gue mau menikah sekali seumur hidup!"
"Terus lo mau bertahan sampe kapan? Sampe suami lo itu punya istri empat?!"
Lagi-lagi Kanaya mengutuki dirinya sendiri, tak seharusnya ia bercerita tentang rumah tangganya pada Risa, walaupun Risa adalah sahabat baiknya.
"Sagara masih nungguin lo, dia gak peduli apa status lo nantinya, dan dia cuman mau liat Lo bahagia, Kanaya.."
* * *
Sore hari itu cuaca sangat mendung, Kanaya lupa tidak membawa payung. Bis yang ia tunggu sudah datang, namun sayang nya cukup penuh dan saling berdesakan. Akhirnya Kanaya mengurungkan dirinya untuk naik, ia memutuskan akan naik bis berikutnya saja.
"Kanaya.."
Suara itu, Kanaya sangat mengenali nya, walaupun bertahun-tahun sudah berlalu.
"Sagara.."
Entah apa yang semesta inginkan, entah apa skenario yang Tuhan berikan. Kanaya harus bertemu secara langsung dengan Sagara.
"Apa kabar, Ayya?"
Air mata tiba-tiba lolos begitu saja, Kanaya menghapusnya perlahan. Sedangkan Sagara cukup terkejut, dan spontan menghampiri cinta pertamanya itu.
"Ayya, kamu kenapa? Are you oke?" Sagara menyodorkan sapu tangan yang selalu ada dalam saku celana nya.
Sapu tangan buatan Kanaya. Air mata Kanaya semakin deras, seperti air hujan yang turun sore itu. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Untung saja bis berikutnya sudah tiba.
"Maaf, Sagara.. Aku pulang duluan.. Terima kasih sapu tangannya.."
Sagara terdiam, saat Kanaya mengembalikan sapu tangan itu. Ia terlambat, sangat terlambat. Bis itu sudah melenggang pergi meninggalkannya.
"Aku masih sayang kamu, Kanaya.."
Sagara menyesal, waktu yang datang padanya tak ia gunakan dengan baik. Dan Sagara tau, semua ini salah. Ia tak boleh jatuh cinta pada istri orang, walaupun Kanaya adalah cinta pertamanya.
"Maafin aku, Sagara. Kamu datang di waktu yang salah. Aku berharap, kamu akan menemukan seseorang yang bisa bikin kamu bahagia.."
Kini Kanaya membuka satu cerita nyata, sebuah kisah cinta yang tak selaras.. Saling mencintai, saling menyayangi, namun semesta tak merestui.. Terkadang kita memang harus memikirkan dengan matang, sebelum membuat keputusan.
Kanaya tidak menyesali pilihannya, Kanaya tidak menyesali pernikahannya, Kanaya tidak menyesali hidupnya.. Satu yang Kanaya sesali adalah waktu, waktu yang salah..