The world of Eryndraal
Lima ratus abad yang lalu, sebuah perang besar pecah dan berlangsung selama seratus tahun. Ras manusia dan ras elf saling mengangkat senjata demi memperebutkan warisan suci yang ditinggalkan oleh para dewa.
Perang itu menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia. Sihir yang tak terkendali, hujan panah, dan benturan pedang menghancurkan hampir setengah Benua Arcanis. Jutaan nyawa melayang. Mayat-mayat bergelimpangan di medan perang, sementara tanah yang dahulu hijau dan subur berubah menjadi lautan darah, menjadikan Arcanis layaknya sebuah pemakaman raksasa.
Namun, setelah seratus tahun pertumpahan darah, perang itu tidak melahirkan seorang pun pemenang. Baik manusia maupun elf sama-sama kehilangan pasukan, keluarga, dan tanah air mereka.
Murka para dewa pun akhirnya turun. Sebagai hukuman atas keserakahan kedua ras tersebut, para dewa membelah Arcanis menjadi dua wilayah besar agar manusia dan elf tidak lagi saling berperang.
Wilayah Barat dan Timur diserahkan kepada ras manusia, sedangkan wilayah Utara dan Selatan menjadi tanah kekuasaan ras elf.
Kedua wilayah ini kemudian di beri nama
wilayah manusia adalah Valorian.
Sementara wilayah elf adalah Sylvaris
Tak hanya itu, para dewa juga menarik kembali warisan yang dahulu mereka anugerahkan. Harta suci tersebut kemudian disegel di Aelwyn, benua para peri yang terletak paling jauh dari seluruh daratan di dunia. Terpisah oleh Laut Abadi yang dipenuhi badai dahsyat dan monster purba, Aelwyn menjadi tempat yang mustahil dijangkau oleh manusia maupun elf.
Sejak hari itu, keberadaan warisan para dewa berubah menjadi legenda. Sebagian menganggapnya hanya dongeng, sementara sebagian lainnya percaya bahwa siapa pun yang berhasil menemukannya akan memperoleh kekuatan yang mampu mengubah takdir dunia.
The Eryndraal of Callender
13,550
New Era
The World of Eryndraal
Tahun 63,550
Lima ratus abad telah berlalu sejak Perang Seratus Tahun antara ras manusia dan ras elf berakhir. Perang yang lahir dari perebutan warisan para dewa itu memicu murka langit hingga para dewa menghukum kedua ras dengan membelah Benua Arcanis menjadi empat wilayah, memisahkan manusia dan elf agar mereka tak lagi saling menumpahkan darah.
Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi.
Kebencian yang diwariskan dari generasi ke generasi tak pernah benar-benar padam. Meski dipisahkan oleh daratan, lautan, dan hutan purba, kedua ras selalu menemukan cara untuk kembali saling menghunus pedang.
Ras manusia, yang terkenal akan dendamnya, membangun sebuah jembatan raksasa yang menghubungkan wilayah mereka dengan tanah para elf. Jembatan itu bukan dibangun untuk perdamaian, melainkan sebagai jalan menuju peperangan.
Lima ratus abad setelah perang pertama berakhir, kobaran perang kembali mengguncang dunia Eryndraal.
Langit dipenuhi asap hitam, bumi bergetar oleh ledakan sihir, dan sungai-sungai kembali memerah oleh darah. Tanah yang baru saja pulih dari luka sejarah sekali lagi berubah menjadi pemakaman bagi para pejuang dan kuburan bagi ribuan senjata yang tak lagi bertuan, semua itu akan kembali terjadi.
Di garis depan pasukan manusia, Kaisar Aldric Valerian menghunus pedangnya ke arah wilayah elf.
"Hancurkan mereka. Jangan sisakan seorang pun yang bernapas. Biarkan penderitaan mereka terus hidup, bahkan setelah kematian menjemput."
Atas perintah sang kaisar, puluhan ribu prajurit manusia bergerak melintasi jembatan raksasa menuju hutan-hutan suci milik bangsa elf.
Namun, mereka lupa bahwa hutan itu bukan sekadar pepohonan.
Itu adalah benteng alami yang telah dijaga selama ribuan tahun.
Begitu pasukan manusia mencapai jantung hutan, ribuan anak panah es melesat dari balik pepohonan. Langit seolah berubah menjadi hujan kristal yang mematikan. Teriakan para prajurit menggema ketika satu per satu tubuh mereka roboh, tertembus panah yang dipenuhi mana.
Tak ingin kehilangan momentum, Kaisar Aldric Valerian segera mengangkat pedangnya dan melantunkan sihir tingkat tinggi. Dalam sekejap, ribuan bola api membelah langit sebelum menghujani hutan para elf.
Api melalap pepohonan kuno yang telah berdiri selama ribuan tahun. Kobaran merah membakar benteng alami bangsa elf, sementara para prajurit yang gagal melarikan diri gugur di tengah lautan api.
Mereka yang berhasil ditangkap tidak diberi belas kasihan. Sebagian dijadikan tawanan perang, sebagian lainnya disiksa untuk mematahkan semangat bangsa elf. Jeritan mereka bergema di medan perang, menjadi saksi bahwa kebencian yang diwariskan selama lima ratus abad belum pernah benar-benar berakhir.
Melihat pasukannya berguguran, Maharatu Elyndra Sylvaeris segera mengangkat kipas sucinya dan melantunkan mantra kuno. Tanah bergetar hebat. Bongkahan-bongkahan batu raksasa terangkat ke udara sebelum menyatu menjadi sebuah Golem Batu yang menjulang tinggi bagaikan gunung.
Dengan satu ayunan tangannya, Golem itu menghantam barisan pasukan manusia hingga berhamburan. Setiap langkahnya mengguncang bumi, menghancurkan puluhan prajurit yang tak sempat menghindar. Dalam sekejap, ribuan pasukan Kekaisaran Solmire gugur di bawah kekuatan makhluk raksasa tersebut.
Dari dua puluh ribu prajurit yang berangkat ke medan perang, hampir setengahnya tewas.
Menyaksikan kehancuran pasukannya, Kaisar Aldric Valerian mengangkat pedang yang diselimuti cahaya petir. Mana di sekelilingnya berputar dengan ganas, lalu berubah menjadi pusaran angin raksasa.
"Tornado Tempest!"
Badai dahsyat menjulang hingga menembus langit, mencabut pepohonan dari akarnya dan menyeret Golem Batu ke dalam pusaran. Tubuh raksasa itu terangkat ke udara sebelum hancur berkeping-keping saat menghantam tanah.
Pertempuran terus berlanjut. Sihir demi sihir saling bertabrakan, menghancurkan hutan, membelah bumi, dan menghanguskan langit. Hingga akhirnya, tak ada lagi prajurit yang mampu berdiri.
Yang tersisa di medan perang hanyalah dua penguasa dari ras terbesar di dunia.
Kaisar Aldric Valerian melesat maju sambil mengayunkan pedangnya. Bilah pedang yang dipenuhi mana petir melepaskan sambaran kilat yang mengaum ke arah Maharatu Elyndra Sylvaeris.
Namun, sang maharatu tetap tenang.
Dengan satu kibasan kipas sucinya, ia menciptakan Perisai Mutlak, sebuah penghalang mana yang mampu menahan serangan tersebut.
BOOOM!
Benturan dua kekuatan itu melahirkan gelombang kejut yang menyapu seluruh medan perang. Pepohonan tumbang, tanah terbelah, dan kobaran api membubung tinggi ke langit.
Tanpa memberi kesempatan kepada lawannya, Maharatu Elyndra kembali mengibaskan kipasnya. Angin sihir yang sangat tajam berubah menjadi ribuan bilah tak kasatmata yang menerjang Kaisar Aldric Valerian.
Serangan itu berhasil menembus pertahanannya dan meninggalkan luka panjang di dada sang kaisar. Darah mengalir perlahan membasahi zirah perangnya.
Meski terluka, Aldric tidak mundur.
Ia mengangkat pedangnya tinggi ke langit sambil melantunkan mantra kuno. Awan hitam berkumpul, menelan cahaya matahari. Lingkaran sihir raksasa perlahan terbuka di atas langit, memancarkan cahaya kebiruan.
Sesaat kemudian, jutaan anak panah petir tercipta dan melesat turun bagaikan hujan dari langit.
Maharatu Elyndra segera memperkuat Perisai Mutlaknya. Ribuan anak panah menghantam penghalang itu tanpa henti, memaksa seluruh konsentrasinya tercurah untuk bertahan.
Melihat celah tersebut, Kaisar Aldric Valerian langsung melesat ke depan.
Dalam sekejap, pedangnya menebas tubuh Maharatu Elyndra.
Sreett!
Tebasan petir itu mengoyak sisi kiri perut sang maharatu. Darah segar mengalir di atas pakaian kebesarannya, sementara tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya jatuh berlutut di atas tanah yang telah dipenuhi darah.
Namun, Maharatu Elyndra belum tumbang.
Dengan napas yang mulai melemah, ia mengulurkan tangannya ke arah luka di perutnya. Benang-benang mana berwarna hijau zamrud muncul dari ujung jarinya, lalu menjahit luka tersebut perlahan hingga menutup kembali.
Di tengah medan perang yang telah berubah menjadi lautan kehancuran, kedua pemimpin itu kembali saling menatap.
Pertempuran mereka masih belum berakhir.
Kaisar kembali melancarkan serangannya. Ia merapalkan sebuah mantra kuno terlarang milik ras manusia. Seketika, langit berubah menjadi merah gelap dan berputar membentuk pusaran raksasa. Dari dalam pusaran itu, perlahan muncul sebuah pedang iblis legendaris. Kehadirannya membuat arus udara menjadi kacau, sementara gravitasi di sekitarnya meningkat berkali-kali lipat hingga menekan segala sesuatu ke permukaan. Dari bilah pedang tersebut memancar kobaran aura api berwarna merah gelap yang menyelimuti langit.
Itulah serangan terakhir sang Kaisar.
Maharatu Elyndra Sylvaeris tidak tinggal diam. Dengan tatapan yang tetap tenang, ia merapalkan sebuah mantra legendaris. Tanah di bawahnya bergetar hebat sebelum akhirnya terbelah. Dari dalam retakan itu, seekor naga lava raksasa bangkit sambil mengaum mengguncang dunia. Kemunculannya mengubah daratan menjadi lautan lava, sementara gelombang panas membakar apa pun yang berada di sekitarnya.
Menyadari dahsyatnya kekuatan mantra tersebut, sang Kaisar segera menciptakan sebuah penghalang sihir untuk melindungi dirinya dari gelombang panas yang terus menyebar.
Saat pedang iblis legendaris dan naga lava raksasa saling bertabrakan, seluruh dunia Eryndraal kembali diguncang oleh ledakan yang seolah mampu merobek langit dan menghancurkan bumi.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Tanpa tanda apa pun, kedua serangan itu tiba-tiba lenyap begitu saja, seolah-olah ditelan oleh kehampaan yang tak terlihat.
Tiba-tiba, ruang di langit terbelah membentuk sebuah gerbang dimensi. Dari dalamnya melangkah seorang pria berambut hitam panjang dengan sepasang tanduk iblis yang menjulang di kepalanya. Aura kegelapan yang menyelimuti tubuhnya begitu pekat hingga membuat langit seketika berubah merah.
Dia adalah Overlord Azrael Noctis, penguasa Benua Nocthara sekaligus pemimpin Abyss Dominion, tanah kelahiran bangsa iblis.
Dengan senyum tipis yang dipenuhi kesombongan, Azrael menatap kedua pemimpin ras yang tengah bertarung.
"Menarik... Kalian bersenang-senang tanpa mengajakku?" ucap Azrael.
Maharatu Elyndra Sylvaeris mengangkat pandangannya dengan tatapan dingin.
"Datang tanpa diundang. Kau benar-benar tak tahu tempat."
Kaisar Aldric Valerian menggenggam pedangnya semakin erat.
"Tempatmu bukan di sini, iblis. Kembalilah ke Nocthara!"
Sesaat suasana menjadi sunyi.
Kemudian...
"Hahaha... Hahahaha!"
Tawa Azrael menggema ke seluruh penjuru medan perang.
"Memalukan... Sungguh memalukan. Aku adalah penguasa Abyss Dominion, namun kalian berani menganggapku tidak ada?"
Seketika, senyum di wajahnya menghilang.
Yang tersisa hanyalah amarah.
Azrael perlahan mengangkat sebelah tangannya ke arah langit.
Dalam sekejap, ruang angkasa terbelah. Dari balik celah dimensi muncul sebuah meteor raksasa yang diselimuti api iblis berwarna merah gelap. Ukurannya begitu besar hingga menutupi cahaya langit, sementara hawa panas yang dipancarkannya membuat udara bergetar hebat.
Meteor itu jatuh tepat ke arah Aldric dan Elyndra.
Menyadari dahsyatnya serangan tersebut, kedua pemimpin itu untuk pertama kalinya mengesampingkan permusuhan mereka.
Mereka berdiri berdampingan.
Mana petir milik Aldric berpadu dengan sihir alam milik Elyndra, menciptakan Perisai Mutlak, penghalang gabungan yang konon tak pernah berhasil ditembus oleh siapa pun.
BOOOOOOM!!
Meteor itu menghantam perisai dengan kekuatan yang mengguncang seluruh dunia.
Gelombang kejut menyapu daratan hingga pegunungan runtuh, hutan-hutan tercabut dari akarnya, dan lautan bergolak hebat. Langit seolah retak, sementara ruang di sekitarnya mulai mengalami distorsi akibat benturan tiga kekuatan terbesar di dunia.
Namun...
Azrael sama sekali belum menganggap pertarungan itu selesai.
Ia mengangkat tangan kirinya, lalu menciptakan sebuah bola api hitam raksasa yang dipenuhi energi iblis. Kehadirannya saja sudah cukup untuk mematikan seluruh tumbuhan di sekitarnya. Dimensi mulai retak, cuaca berubah kacau, dan suhu di medan perang meningkat hingga melampaui panas letusan gunung berapi. Burung-burung yang terbang di langit langsung jatuh menjadi abu sebelum sempat menyentuh tanah.
Tanpa ragu, Azrael melemparkan bola api itu.
DUAAARRR!!!
Ledakan yang tercipta menelan seluruh medan perang.
Perisai Mutlak akhirnya hancur.
Tubuh Aldric dan Elyndra lenyap ditelan kobaran api iblis, tak menyisakan sedikit pun jejak keberadaan mereka.
Azrael berdiri di tengah kehancuran dengan tatapan dingin.
"Aku bisa saja mengakhiri hidup kalian dalam sekejap..."
Ia menjentikkan jarinya.
Dengan sihir ruang dan jiwa yang terlarang, tubuh Aldric dan Elyndra kembali terbentuk dari serpihan mana. Namun, itu bukanlah belas kasihan.
Azrael membangkitkan mereka hanya untuk menyiksa keduanya berulang kali, hingga akhirnya membunuh mereka dengan tangannya sendiri.
Di hadapan penguasa Abyss Dominion, bahkan dua pemimpin terkuat dari ras manusia dan ras elf tidak lebih dari sekadar mainan.