Kita kembali ke masa itu,saat aku masih berusia 15 tahun tepatnya aku masih kelas 3 SMP.
Aku bersekolah dimana Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama,juga Sekolah Menengah Atas berada dalam satu yayasan.
Yah..sekolah Terpadu ini menjadi sebuah awal kebahagiaan aku di masa itu.
Setiap berangkat sekolah aku selalu mengikuti kakak-kakak yang sebenarnya adalah tetanggaku,panggil saja kak "Cecil" anak tunggal yang sekarang kelas 2 SMA,juga ada kak Cindy yang saat ini kelas 1 SMA. Dan ini adalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja terjadi, Namaku juga Berawal dari huruf "C" yang sama dengan mereka, Perkenalan namaku Celine.
Aku tidak mengerti semua berawal darimana,aku juga sudah lupa kejadiannya seperti apa tiba-tiba saja kami bertiga menjadi sangat akrab dan memiliki julukan "Triple C", bukan karena aku tidak peduli pertemanan tapi memang aku sudah lupa karena aku hanya sekedar ikut-ikutan kakak tetangga ini.
Setiap hari kita berangkat bersama saling menunggu, sepertinya kita tak akan berangkat jika personil kita tidak lengkap.
Kau tau? Kita memilih satu "Crush" yang sama,haha aku juga sudah lupa awalnya darimana karena aku hanya "Anak kecil" yang sedang ikut-ikutan kakak tetangganya yang sedang menyukai pria tampan di sekolahnya.
Yaah,aku akui Kakak OSIS itu sangat tampan. Dia memiliki alis yang tebal,hidung mancung,sangat tinggi dan sangat tampan. Yah,Aku rasa aku sudah benar menjabarkan pria itu,jadi bukan hal yang aneh kalau dia menjadi pria favorit di sekolahnya.
Setiap hari Selasa dan Kamis kakak OSIS tampan itu selalu menjaga gerbang sekolah,aku tau itu karena kakak-kakak tetangga ini selalu nyiapin surat cinta setiap hari itu.
Aku selalu memperhatikan kakak Cecil yang setiap hari itu selalu excited menulis surat cinta untuk kakak OSIS tampan itu.
Sesekali aku juga ikut berkumpul dirumah kak Cecil, memperhatikan mereka menulis sebuah kata romantis atau sebuah kata-kata curhatan cinta yang diam diam untuk kakak OSIS tampan itu, dan juga kak Cindy menulis kata-kata yang sama sebagai pengagum rahasia kak OSIS tampan itu, bagaimana bisa mereka menyukai pria yang sama?
"Apa boleh kakak menyukai pria yang sama?"tanyaku sebagai pertanyaan polos yang saat itu aku belum mengerti. Eh bukan maksud tidak mengerti, sebenarnya aku juga memiliki Crush,sama seperti kakak-kakak yang kecintaan ini. Aku menyukai teman sekelas kak Cindy,dia pria tampan yang pandai memainkan gitar. Hanya saja dia pria playboy yang menerima semua wanita cantik yang mendekatinya,namun aku lebih fokus ke kedua kakak-kakak tetangga ini yang sedang memiliki Crush yang sama.
"Kak,apa boleh aku juga menyukai kak Yuji?"(Kak Yuji adalah nama dari kak OSIS tampan itu). Dan Yap! Mereka berdua mengangguk dengan semangat seakan sangat setuju dengan omongan asal yang sebenarnya tidak pernah serius saat aku katakan.
"Kamu bisa aja menyukai Yuji, Yuji adalah milik kita bersama" kata kak Cecil sambil meremas buku hariannya. Dia tersenyum seperti sangat bahagia karena dia berhasil merekrut satu orang lagi untuk menyukai Yuji.
"Kak Cindy setuju?"tanyaku setelah melihat ekspresi kak Cindy yang jelas terlihat tidak setuju,tapi entah mengapa dia malah menjawab kata "terserah kamu aja"dengan sinis. Aku tau sebenernya dia tidak suka,aku pun sebenarnya hanya iseng mengikuti apa yang mereka lakukan,anggap saja aku anak kecil yang ikutan fomo menyukai seseorang. Bahkan saat aku menyukai Ivan(temen sekelas kak Cindy) aku tak pernah seperti ini.
Semenjak itu, Aku mulia mengikuti jejak kak Cecil dan juga kak Cindy. Aku menulis kata-kata mengagumi pria yang tidak bisa aku dapatkan,semua itu terinspirasi dari beberapa tulisan kak Cecil di bukunya. Aku lupa tahun berapa kejadian ini yang pasti saat itu sedang buming lagu "hapus aku-Nidji". Aku juga menulis lagu BCL yang judulnya "sunny" "kirim aku malaikatmu", juga lagi "Republik-hanya ingin kau tau". Yah..lagu itu adalah lagu kebangsaan kita yang diam-diam menyukai seorang Yuji. Aku yang awalnya hanya ikutan lama-lama aku jadi ikutan berdebar saat bertemu kak Yuji.
Selasa itu kulihat kak Yuji berdiri di gerbang sekolah, dia berdiri menunggu murid yang berpakaian tidak lengkap dan melanggar beberapa aturan di sekolah.
"Cakep banget" kata kak Cecil yang emang sangat kelihatan kalau dia menyukai kak Yuji.Kak Cecil sering menaruh surat cinta di bangku kak Yuji. Aku tidak pernah tau tingkat keberhasilannya,tapi selama kak Cecil menulis surat itu aku belum pernah mendengar ada balasan atau reaksi apapun dari kak Yuji, yah mungkin sebenarnya hanya sia-sia belaka menyukai pria tampan spek Yuji.
Setelah melihat kak Cecil dan kak Cindy masuk ke sekolah mereka,aku berjalan sendirian melewati sekolah mereka sambil melihat kak Yuji yang hanya berdiri seperti sebuah patung pahatan yang sangat indah, bagaimana Mereka tak menyukai Yuji? Jika kak Yuji sangat tampan dilihat dari segi manapun. Aku berjalan sendirian menuju sekolahku yang tepat berada di sebelah gedung sekolah mereka.
Sampai di kelas aku duduk sambil meletakan kepalaku di bangku,aku masih merasa aneh karena tiba-tiba aku juga ikutan berdebar saat melihat kak Yuji.
Mana mungkin bisa aku yang hanya sekedar ikut-ikutan menulis kata-kata cinta untuk Yuji malah menjadi ikutan berdebar saat melihat kak Yuji.
"Ohayooooo Celine"sapa teman sebangku, namanya Selfi.
"Ohayo"jawabku lemas
"Mana buku Gerimis nya?"tanyanya,karena memang hanya dia satu-satunya pembaca buku yang ditulis untuk Yuji. Aku membuat cover sendiri buku itu,kutulis "Gerimis" di sampul depan karena memang aku memilih nama samaran gerimis untuk mengagumi seorang Yuji.
"Kenapa cuman nulis lagu doang, kata-katanya mana?"tanya selfie
"Aku sudah tak punya energi untuk menulis kata-kata, melihat kak Yuji aja aku sudah degdegan ga karuan kayak gini"jawabku frustasi. Aku kaget dengan kondisiku yang tiba-tiba seperti ini setelah melihat kak Yuji.
"Celine, saranku kamu bilang aja kalo kamu suka kak Yuji"kata Selfi dengan polosnya.
"Kau pikir gampang? saingan aku banyak,mending aku diem aja sambil melihat kakak Cecil atau kak Cindy yang akan berhasil mendapatkan kak Yuji"jawabku.
"Emang kamu gamau kak Yuji tau perasaan kamu?"tanya selfie lagi
"Meskipun kak Yuji tau dia gabakal mau sama aku,mungkin nanti kalau aku sudah SMA aku bakalan bilang ke dia"kataku berkhayal,padahal aku yakin aku ga mungkin bilang sampai aku mati. Rencanaku memang ga perlu kukasih tau kalau aku suka kak Yuji,cukup menjadi pengagum rahasia saja itu sudah cukup.
"Kak Yuji bentar lagi udh lulus,kita masuk SMA kak Yuji sudah ga sekolah disini lagi"tambah Selfi lagi. Yah,itu benar.. memang kak Yuji sudah lulus jika aku masuk sekolah SMA nanti.
"Ya gapapa, bersyukur kan kalo kak Yuji tetep gatau"jawabku enteng,karena memang dalam lubuk hati yang terdalam aku ga mau kak Yuji tau.
Sebenarnya setiap pulang sekolah aku sering melihat kak Yuji,yang kadang terlihat memakai baju olahraga,kadang dengan seragam lengkap OSIS. Bahkan diam-diam seperti ini sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai bagiku,jam pulang sekolah yang berbeda menjadi keuntungan tersendiri buatku,aku bisa menikmati ketampanan kak Yuji dari jarak jauh setiap pulang sekolah.
Semakin lama semakin menggebu perasaan ini,entah kenapa tanpa sadar aku terus menanti hari esok untuk berangkat sekolah. Jejak kak Cecil dan kak Cindy kini kulakukan juga,aku merasa sangat bahagia hanya sekedar melihat bayangan kak Yuji. Aku jadi tidak mengerti dengan yang aku rasakan, bahkan hal sepele seperti ini sudah membuat aku kegirangan merasa sangat bahagia.
Hingga akhirnya kabar buruk datang,kita semua menjadi patah hati karena mendengar kalau kak Yuji punya pacar yang bernama "Astrid".
"Tuhkan, kamu sih gamau bilang langsung aja sama Yuji"kata kak Cindy yang mendukung kak Cecil, sebenarnya mereka sama-sama menyukai kak Yuji sih.. anehnya mereka saling mendukung seperti ini.
"Kamu juga,cuman nulis aja tapi ga kamu kasih ke kak Yuji"kata kak Cecil sambil menangis, aku tau kak Cecil yang amat sangat menggilai kak Yuji,karena dia sudah beberapa kali meletakkan surat di meja kak Yuji.
"Kenapa sih malah sama Astrid?"kata kak Cindy merasa ga terima.
"Ya wajarlah..kan Astrid pinter,cantik juga"jawab kak Cecil masih dengan tangisannya.
"Kamu ga liat sifatnya? Sombong banget dia"kata kak Cindy
"Ya wajarlah dia sombong,kan Astrid pinter"kata kak Cecil yang mulai menyerah.
"Tapi dia pemilih soal berteman,dia cuman nyari temen yang selevel dengan dirinya sendiri"tambah kak Cindy lagi dengan amat sangat kesal.
"Bisa jadi cuman gosip kak"jawabku mencoba menenangkan mereka,dan sepertinya kak Cindy setuju dengan ucapanku.
"Bener juga tuh,kita belum pernah melihat mereka berdua jalan atau makan bareng di sekolah"kak Cindy dengan mata berbinar.
"Kamu pernah ketemu mereka di ruang OSIS ga?"tanya kak Cecil yang kini sudah memeluk bantal boneka pisang miliknya. Dan kali ini sudah cukup meyakinkan bahwa sebenarnya kak Cecil sudah menjadi saksi mata hubungan mereka.
"Emang kamu liat?"tanya kak Cindy yang semakin penasaran.
Lalu kak Cecil bercerita tentang dia yang tidak sengaja melihat kak Astrid sedang memeluk kak Yuji dari belakang. Yah,aku juga merasakan sakit yang mereka rasakan, mungkin kami akan menyerah untuk mendapatkan seorang Yuji.
Hari-hari berikutnya, kami tetap melakukan hal sama di setiap hari Selasa dan kamis,seakan tak merubah apapun setelah mendengar hubungan rahasia kak Yuji dan kak Astrid. Kak Cecil yang kini sudah berhenti menulis surat untuk kak Yuji,namun tetap menyukainya dalam diam. Dan kak Cindy yang kini hanya bisa menulis semua kata patah hatinya di buku harian miliknya,sungguh setahun yang yang sangat menyedihkan.
Kami bertiga menjadi grup patah hati, menyaksikan kemesraan kak Yuji langsung tanpa adanya hubungan rahasia lagi.
Hari-hari yang kujalani sudah tak menarik lagi,aku hanya bisa menceritakan rasa bahagiaku hanya saat melihat kak Yuji dari jauh,Selfi yang setia mendengarkan dan tetap excited dengan segala hal random yang aku ceritakan.
Dikelas,aku membuka buku harianku. Kubaca ulang kata-kata yang aku tulis hanya untuk mengenang perasaan suka aku untuk kak Yuji.
Aku tertawa kecil saat membaca ulang lirik lagu yang kutils di buku itu, beberapa lirik ku ganti dengan nama Yuji di lirik lagu "Sunny" milik BCL.
Yuji..Yuji.. jantungku berdebar tiap kuingat padamu..
Yuji..Yuji..mengapa ada yang kurang saat kau tak ada
Yuji..yuji..melihatmu, menyentuhmu itu yang kumau
Kau tak sempat tanyakan aku cintakah aku padamu?
Tiap kali aku berlutut,aku berdoa suatu saat kau bisa cinta padaku.
Tiap kali aku memanggil di dalam hati..
Mana Yuji.. mana Yujiku...
________________
"Hah..sejauh itu aku menyukai pria itu"kataku sambil tersenyum,entah merasa sakit atau malah sudah menyerah..atau bahkan merasa bahagia karena telah menyukai Yuji.
"Brakk!!"suara benda jatuh mengagetkanku. Kulihat Raisa memungut beberapa buku paket yang dibawanya,yah suara itu dari buku-buku yang Raisa jatuhkan.
"Ngangetin aja kamu ini"kataku sambil bangun dan mencoba untuk membantunya,alih-alih membantu aku malah menjatuhkan buku-buku di mejaku sendiri.
"Brakk!!"
"Yahh.."kataku yang sebenarnya lagi males banget ngapa-ngapain.
"Haha..dah beresin buku masing-masing"kata Raisa sambil tertawa,dan entah sejak kapan buku harianku tiba-tiba sudah berada di tangan Raisa.
"Buku apa ini?"tanya raisa yang sudah membuka beberapa halaman.
"Balikin,itu buku privasiku"kataku sambil mencoba mengambil dari tangan Raisa,dan parahnya Raisa bisa menghindari tanganku,
"Bentar...ini buku untuk kak Yuji? Kak Yuji OSIS SMA itu kan"katanya sambil berjalan menjauhiku.
"Balikin gak"teriakku sambil berusaha merampas nya lagi.
"Haha..jadi selama ini kamu suka kak Yuji?"ejeknya lagi sambil berlarian keluar dari kelas.
"Raisa..pliss itu buku harianku,itu privasi..kamu gaboleh sembarangan baca buku harian orang seperti itu."kataku..tidak,lebih tepatnya aku memohon agar ia tidak membocorkan kepada siapapun,hanya Selfi yang tau kalau aku suka kak Yuji dan jikalau Raisa juga harus tau habislah aku..
"Celine..aku bawa buku kamu yak"teriaknya dari ambang pintu dan lalu berlari entah kemana,aku berusaha mengejarnya tapi entah kenapa aku harus bertemu selfi yang sedang membawa buku tugas dengan sangat kewalahan.
"Bantuin aku Celine"pintanya yang otomatis gabisa aku tolak.
"Kamu ngapain sih lari-larian disana?"tanya raisa setelah memberikan beberapa buku untuk kubawa juga.
"Buku harianku dibawa lari sama Raisa"jawabku kesal"gimana kalo dia kasih tau kesemua anak kelas kalo aku naksir kak Yuji?"tambahku lagi.
"Ya gapapa,kan semua tau kalo kak Yuji banyak yang suka"jawab Selfi dengan tenangnya
"Hei.. bagaimana kalau buku itu di sebarin? Malu aku astaga.."
"Hahaha ya lagian bisa-bisanya kamu teledor gitu"
"Mana kutahu, tiba-tiba banget buku itu sudah ada di tangan dia,kalau bukan karena aku pengen bantuin Raisa mungkin aku ga akan jatuhin tumpukan buku aku"kataku sambil menaruh buku-buku di meja guru.
"Ga ada yang baik-baik saja kalau berurusan sama Raisa"kataku sendiri,karena memang aku tau Raisa cewek ekstrovert yang kemana-mana energi nya ga pernah habis.
Jam terakhir sekolah aku mencoba mendekati Raisa yang sudah duduk santai di bangkunya.
"Balikin buku aku plis.."mohonku,tapi raisa malah tersenyum sumringah dihadapanku.
"Bukunya sudah ga ada,udah kukasih ke kak Yuji"
"Deg." Jawaban santai Raisa seketika membuat jantungku berhenti berdetak.
"Kamu jangan ngawur deh,balikin sekarang"kataku yang kali ini sudah mulai kesal.
"Udah aku bilang bukunya udah aku kasihin ke kak Yuji"katanya lagi bersemangat.
Aku tiba-tiba merasa pusing dan lemas, rasanya aku mengambang tak ada energi sama sekali.
Ya Tuhan..plis semoga ini hanya candaan dia belaka.
"Kamu jahat Raisa"kataku lemas yang sudah duduk meringkuk di lantai.
"Harusnya bilang makasih dong sama aku,cinta kamu akan terbalas kalau kak Yuji baca buku harian kamu"jawab nya santai sambil memainkan kuku-kuku lentiknya.
Engga..aku gamau kak Yuji tau,aku seperti ini sudah cukup,kak Yuji ga perlu tau kalau aku suka dia.
Dengan lemas aku berjalan menuju bangkuku, sepanjang pelajaran terkahir aku tidak konsentrasi sama sekali,aku melewati jam terkahir dengan pikiran kosong.
Sepulang sekolah aku berjalan dengan Selfi melewati sekolah kak Yuji,aku melihat buku yang kucover dengan tulisan tanganku sendiri dengan nama "Gerimis" itu sedang di tangan kak Yuji,dia membaca sangat fokus hingga aku merasa ingin menghilang dari dunia ini sekarang juga.
"Wah..kak Yuji baca buku kamu"kata selfi yang terdengar sangat mengejek.
"Dahlah..diem aja..aku sudah ga ada energi,lemes banget rasanya"jawabku sambil lari menghindari kak Yuji yg ku khawatirkan menyadari diriku.
Beberapa hari berlalu mungkin sudah lewat sepuluh hari dari kejadian buku itu,Aku tidak berani bercerita kepada kak Cecil juga Kak Cindy. Entah kenapa aku merasa kalau aku sudah mengkhianati mereka berdua.
Waktu semakin lama berlalu,dan ternyata tidak terjadi apapun setelah buku aku berhasil berada di tangan kak Yuji langsung.
Bahkan aku tidak mengharap apapun dari kak Yuji,karena aku sadar bukan hanya aku yang menyukai kak Yuji,bahkan ribuan siswa di yayasan ini mungkin 80 persen menyukai kak Yuji.
Hingga sampai pada akhirnya waktu perpisahan,aku di nyatakan lulus dari sekolah SMP dan kak Yuji juga sudah lulus lebih awal dariku.
Kupikir ceritaku akan berakhir saat aku lulus,dan ternyata itu tidak benar adanya. Tiba-tiba Raisa datang menemuiku yang sudah bersiap untuk pulang dari sekolah.
"Celiiiiiiiiiinee...!!"teriaknya sambil berlarian kearahku.
Aku yang kaget benar-benar tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Kak yujiiii...kak Yuji pengen ketemu kamu sekarang juga.!!!"teriaknya sambil loncat-loncat kegirangan, kedua tanganku di angkat dan ditarik paksa olehnya yang sangat kegirangan.Tapi tunggu.. Apa? Aku shock karena dia bilang kak Yuji pengen ketemu aku.
"Gamauuu...aku gamau ketemu kak yujii..!!"teriakku sambil menarik tanganku kembali dan berlari menjauhi Raisa.
Mustahil aku ketemu kak Yuji,tidak lebih tepatnya aku gamau ketemu kak Yuji,aku ga siap.. aku begini..ga pantas bertemu kak Yuji.
Tapi bukan Raisa kalau semangat nya tidak menggebu-gebu.
Entah sejak kapan dia sudah menarik paksa aku dan membawaku lari menuju sekolah kak Yuji.
Adegan tarik menarik menjadi pusat perhatian,hingga pada akhirnya sampai di sekolah kak Yuji,dan sampai disana kita tak menemukan kak Yuji,disana kami hanya bertemu dengan satu orang yang mungkin adalah teman kak Yuji.
"OH..ini Gerimis?" Katanya sambil melihatku yang sudah berdiri dengan lusuh bersama Raisa.
"Mana kak Yuji?"tanya raisa yang jelas tidak menjawab pertanyaan teman kak Yuji.
"Hemm..Yuji cuman titip ini doang," pria itu memberikan sebuah kertas untuk Raisa.
"Ini untuk gerimis"tambah pria itu lagi,dengan girang Raisa memberikannya padaku.
"Yaudh kak.. makasih ya"kata Raisa sambil menarikku lagi dan membawaku duduk di sebuah taman sekolah.
"Cepet buka, baca"katanya yang jelas seakan lebih tidak sabar dariku.
Tanganku sudah berkeringat dingin,aku gemetaran karena semua ini sangat dadakan,belum ada persiapan sama sekali.
Aku membuka kertas itu dan ternyata itu sebuah surat yang ditulis oleh kak Yuji langsung.
"Hai gerimis..namamu indah hingga aku tak bisa mengenalimu.
Terimakasih karena mengagumiku, terimakasih karena aku menjadi penyemangat hari-harimu,
Aku tidak tau keberadaanku sangat di nantikan dan di sukai beberapa orang.
Aku bahkan tidak tau kalau aku adalah orang yang sangat diinginkan oleh orang lain.
Satu hal yang pasti,aku tidak suka orang yang naif.. aku tidak suka orang yang bertopeng.
Jika kamu mau,kamu boleh menunjukkan siapa dirimu dan berhenti menggunakan topeng mu"
Yuji_
Entah kenapa aku merasa sedikit tersinggung,aku bahkan hanya sekedar mengagumi dirinya,bukan berarti aku berpura-pura untuk tidak menjadi diriku sendiri.
Raisa mengambil surat dari kak Yuji lalu membacanya.
"Hah? Cuman gini doang?"tanyanya yang juga merasa tidak puas.
Aku tertawa tipis karena merasa kalau aku sudah salah menyukainya.
"Yah dia ingin aku menemuinya langsung"kataku.
"Ya itu harus, kamu harus ketemu kak Yuji"jawab Raisa semangat.
"Tapi kak Yuji bakalan kuliah di luar kota,kita harus cari tau kapan kak Yuji berangkat"tambahnya dengan semangat.
Entah aku tidak bersemangat sama sekali,aku malah takut kalau aku di benci kedua kakak tetanggaku.
"Sepertinya cukup sampai disini saja"kataku yang memang benar-benar tak ingin mendapatkan balasan perasaan dari kak Yuji
"Aku sudah bantuin kamu sejauh ini loh,emang kamu ga kasian sama aku?"tanya raisa yang sedih karena aku tidak semangat sama sekali.
"Aku kan ga minta kamu kek gini,kamu sendiri yang tiba-tiba ngasih buku harianku ke kak Yuji, sebenarnya meskipun selamanya kak Yuji gatau aku ga masalah"jawabku tegas,karena memang aku ga butuh balasan sama sekali.
"Berarti kamu pura-pura sama perasaan kamu sendiri"katanya sambil beranjak berdiri pergi meninggalkanku sendirian.
Entah kenapa ada rasa nyeri di dadaku,dalam hati aku tidak terima karena dianggap pura-pura menyukai kak Yuji.
"Bahkan kamu tidak tau rasanya jadi aku yang seperti orang gila karena sangat menyukai kak Yuji"kataku lirih,aku menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan keras.
Selesai sudah..aku tidak akan melanjutkan semua ini,kak Yuji tau semuanya sudah lebih dari cukup,aku tidak mau melanjutkan nya lagi.
Waktu berlalu begitu cepat,aku sudah menjadi murid SMA kelas 1 entah kenapa aku merasa lebih percaya diri dari sebelumnya.
Sebenarnya dari kejadian surat itu,kak Cecil dan kak Cindy mulai menjauhiku, apalagi kita sudah menjadi murid di SMA yang sama.
Kabar aku mendapatkan surat dari kak Yuji menjadi bahan obrolan hangat di sekolah dan aku baru tau itu setelah dijauhi oleh kakak tetangga aku.
Apakah aku bersalah? Bahkan dulu kita terang-terangan mengatakan menyukai pria yang sama,bahkan mereka tidak masalah.
Okelah mungkin karena hanya aku yang di notice sedangkan mereka tidak sama sekali. Tapi aku tidak tau kalau kejadiannya malah akan seperti ini.
Dan jadilah siswi baru ini di jauhi beberapa kakak kelas,padahal kejadian itu bukan aku yang mau.
Setelah kak Yuji pergi semua terasa hambar dan tidak bergairah,mana mungkin masa remaja yang ku nantikan akan seperti ini?
Sebulan berlalu begitu cepat,aku bahkan sudah mulai berdamai dengan perasaanku,aku menjadi semakin akrab dengan Raisa dan selfi.
"Mau nyoba kabur sebelum jam terakhir?"tanya raisa yang merasa bosan karena full seharian tidak ada pelajaran.
"Lewat mana kalo mau kabur?"tanyaku penasaran.
"Aku punya gerbang rahasia,badan kecil kita bakalan masuk kalau lewat sana,aku pernah liat kak Rendy sama Dika lewat sana pas bolos"jawab Raisa bersemangat.
"Yakin ga ketahuan?"tanya selfi
"Aman..bawa tas kita biar langsung pulang"kata Raisa.
Ini adalah pertama kali kita bolos sekolah,karena beberapa kali melihat kakak-kakak bolos sekolah membuat kita sedikit penasaran dengan bolos sekolah,jadi kelakuan tidak baik kakak kelas sudah mencemari otak kami yang polos.
Setelah jam istirahat terakhir kami benar-benar membawa tas kami keluar, Raisa memimpin kami menuju jalan rahasia,dan benar saja kami menemukan semua gerbang yang sudah banyak rumput namun jika kita tarik gebangnya akan menunjukkan celah masuk untuk orang-orang kurus seperti kita.
Pertama Raisa menjadi tutor yang baik,dia memasukkan kaki kanan ke gembok yang di rantai, tugasku dan selfi menarik gerbang agar bisa membuat celah yang sedikit lebih lebar agar kami bisa masuk tanpa harus terjepit.
Dan Yap..Raisa berhasil masuk,lalu Selfi juga dengan lincah masuk kecelah kecil itu,kulihat mereka berdua menunduk.
"Woy..giliran aku.. tarik gerbang nya"kataku, ekspresi mereka sedikit tidak nyaman saat menarik kedua gerbang itu agar membuat celah sedikit lebar, setelah sedikit usaha aku berhasil keluar dari gerbang itu dan Yap.. seorang pria tinggi dengan alis tebal,wajah yang sangat tidak asing sudah berdiri disana sambil menatap kami bertiga dengan tajam.
Kau tau siapa dia bukan? Tentu saja pria itu adalah pria yang sangat aku dambakan,entah kenapa tiba-tiba dia memakai seragam OSIS lagi bersama satu orang yang aku ingat dia sekelas dengan kak Cecil dan mungkin dia juga OSIS.
Reflek aku menunduk meremas tangan Raisa dengan kuat.
"Mana aman yang kamu bilang tadi?"bisikku pada Raisa.
"Kenapa harus ada kak Yuji disinii"tambahku lagi lirih nyaris tak terdengar.
"Haha..tepat sekali feelingku, tempat ini bakalan jadi jalan untuk membolos"kata kak Yuji sambil tertawa.
"Iya kak.. terimakasih sudah mengajakku kesini"jawab pria disebelah nya yang sekarang sedang di latih oleh kak Yuji,
"Kumpul disana dengan yang lain"kata kak Yuji yang menunjukkan beberapa orang yang membolos melewati celah gerbang kecil disana.
"Kamu itu emang bener-bener yak, pertama kali ngajak bolos malah ketahuan"kata Selfi yang kini sudah mulai kesal.
"Ya mana aku tau kalau gerbangnya di jaga, perasaan kulihat mereka aman aja pas bolos"jawab Raisa merasa bersalah.
"Emang sanglek kamu tuh yak.. semenjak aku temenan sama kamu udah agak abnormal kebiasaanku"kataku yang kini sudah berkumpul dengan teman-teman yang lainnya.
"Sebutin nama dan kelas kalian"kata kak Yuji yang sudah berdiri tegap di depan.
Ada 9 orang yang bolos dan itu termasuk aku di dalamnya.
"Raisa,aku tau kedua temenmu dijebak oleh mu kan"kata kak Yuji yang jelas aku dan selfi mengangguk setuju.
"Ya lagian mereka mau aja kak"jawab Raisa santai.
Tiba-tiba saja mata kami bertemu,aku reflek menunduk dengan tatapan tak sengaja dari kak Yuji.
"Sebutin nama dan kelas"katanya yang kini sudah berada tepat di hadapanku.
Jantungku berdegup kencang dan berkeringat dingin,aku tidak bisa fokus karena bisa sedekat ini dengan kak Yuji,dan ini adalah pertemuan pertama kami sejak kejadian itu,Bahkan aku ragu kalau kak Yuji tau bahwa akulah yang menulis buku itu.
Aku hanya fokus pada wangi parfum kak Yuji,aku bisa merasakan suhu tubuh kak Yuji yang membuat aku semakin berkeringat dingin.
"Celine kak"Jawab Raisa yang sepertinya menyadari bahwa aku sedang dalam kondisi membeku.
Kak Yuji menulis namaku disana,dan akhirnya kami semua berakhir di lapangan untuk mendapatkan hukuman.
Semua ini karena Raisa.
Setelah pertemuan itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan kak Yuji.
Mungkin karena dia sudah sibuk dengan tugas kuliah,tapi kudengar sesekali kak Yuji datang ke sekolah karena di panggil oleh guru, wajarlah dia adalah pria yang penuh prestasi dan bakat, tenaganya masih sering di butuhkan setiap ada acara di sekolah.
Dan akhirnya masa SMA aku berlalu begitu saja tanpa ada kak Yuji di dalamnya.
____________
Aku merapikan botol-botol minuman agar sesuai dengan varian rasa dan merk nya,aku bekerja di sebuah toserba yang dekat dengan rumahku, setelah lulus SMA kehidupanku amat sangat berat.
Kelas 3 SMA ibuku meninggal karena penyakit kanker hati stadium 4,lalu aku memilih untuk bekerja karena ayahku juga sedang sakit paru-paru yang sudah tidak berfungsi lagi sebelahnya,kali ini hidupku berbeda dari teman-teman seangkatanku.
Sesekali kak Cecil datang ke toserba yang aku jaga,kak Cindy,Raisa dan Selfi juga sering mengunjungi aku di toserba, Bahkan kami menjadi sangat akrab akrab setelah ibuku meninggal.
Aku sudah 2tahun bekerja disini,gajinya lumayan cukup untuk menghidupi aku dan ayahku.
Setidaknya aku bekerja diruangan yang ber AC,jadi aku tidak takut kepanasan.
Suara pintu toserba terbuka tanda pelanggan sedang masuk,kulihat dia seorang pria yang memakai topi menuju lemari pendingin minuman.
Setelah lama memilih dia datang kekasir dan meletakkan beberapa makanan ringan di meja kasir.
"Rokok Marlboro putih satu"katanya tanpa melihatku.
Sekilas aku sedikit mengenali pria itu,alis tebal khasnya membuat aku sedikit tegang.
"Ini kak,"tunjukku dan di sambut anggukan darinya,lalu ke cek semuanya dan totol harganya, kumasukkan satu-satu ke kantong plastik,setelah memberikan kembalian saat itulah mata kamu bertemu,tanpa berani menatap aku langsung menunduk dan mengucapkan terimakasih. Namun yang mengejutkan aku adalah panggilan dia yang di ucapkan kepadaku.
"Gerimis?"
Deg.
Sial,kenapa malah bertemu dia disini,malah dia panggil aku gerimis.
Aku bingung, kelabakan karena ini sangat dadakan.
"Kamu inget aku?"tanya pria itu yang jelas satu-satunya pria yang tidak mungkin bisa aku lupakan.
Aku hanya menunduk malu,bahkan ketika mendengar dia mengatakan nama Gerimis saja sudah membuat aku panik.
"Kamu pulang jam berapa?"tanya kak Yuji tanpa basa-basi.
Kulihat jam memang sebentar lagi sudah pergantian shift.
"Sebentar lagi temenku datang kak"jawabku yang seakan sudah di setujui oleh alam,teman pergantian shiftku sudah membuka pintu toserba.
"Celine.. waktunya anda pulang"katanya tanpa menyadari kecanggungan ini.
"Aku tunggu kamu di luar"kata kak Yuji yang langsung keluar dari toserba tanpa menerima kembalian yang aku berikan tadi.
Setelah mengganti baju aku keluar dari toserba,kulihat kak Yuji sudah menungguku di luar sana.
"Kamu apakabar?"tanya kak Yuji yang kini sudah duduk di sebelahku.
"Aku baik kak, ngomong-ngomong kenapa kak Yuji manggil aku gerimis?"tanyaku untuk memastikan bahwa kak Yuji salah orang,bahkan aku berharap kak Yuji tidak tau bahwa aku pengagum rahasianya selama ini.
"Haha,sudah lewat bertahun-tahun lamanya kamu masih tidak mengakui?"kata kak Yuji yg terkesan sangat kecewa.
"Hehe apaan sih kak,itu juga udah lama banget bikin aku malu aja"kataku berusaha agar kak Yuji tidak membahas masalalu lagi.
"Aku kaget saat Raisa berlari memberikan buku itu padaku, ternyata aku semenarik itu"katanya sambil menatap keatas langit sore itu,entah kenapa seakan berat banget.
"Kesel sih sama Raisa yang lancang sekali membawa kabur buku curhatan aku"kataku mencoba kembali mengingat kejadian itu.
"Kenapa kamu tidak mencariku setelah kukirim surat itu?"tanya kak Yuji.
"Haha itu ga penting kak,lagian kak Yuji udah punya pacar makanya aku gamau ngapa-ngapain"jawabku tenang meskipun sebenarnya jantungku rasanya sudah mau meledak.
Sudah bertahun-tahun lamanya dan tiba-tiba aku bertemu kembali dengan pria yang satu-satunya aku sukai sampai detik ini.
"Astrid itu pernah jadi pacarku,dan setelah mendapat buku itu aku jadi tidak tertarik padanya lagi,haha kalau diingat-ingat kembali aku lebih tertarik dengan orang yang menulis buku ini"katanya sambil mengeluarkan buku "Gerimis"milikku,dia masih menyimpan buku memalukan ini.
"Kak..kok masih ada buku itu? Sini balikin kak"pintaku yang langsung merampas buku itu dari tangan kak Yuji.
Kak Yuji tersenyum melihatku,aku langsung membuka buku itu dan membaca kembali kenangan lama itu.
Semua seperti kembali terputar bagaikan sebuah film, rasanya aku melihat diriku yang sangat menyukai orang di sebelahku ini,hingga rasanya sangat sesak.
"Kok aku jadi pengen nangis"kataku sendiri yang entah sejak kapan airmataku sudah mengalir tanpa aba-aba.
Aku menangis bukan karena aku bisa bertemu kembali kak Yuji atau isi dari tulisanku itu,aku menangis karena aku merasakan kebahagiaan yang dulu aku rasakan, semangatku waktu muda dulu,ambisiku yang masih menggebu, impianku tentang masa depan yang indah semua itu terputar kembali.
Aku sudah menangis tersedu-sedu hingga pada akhirnya aku sudah berada dalam pelukan kak Yuji.
Masa mudah yang indah,aku bahkan sudah tak tau kejadian-kejadian setelah lulus dari SMA itu, semuanya kujalani mengikuti arusnya saja tidak ada excited saat masih ada kak Yuji.
"Kenapa kakak masih menyimpan buku ini? Aku jadi malu"kataku setelah selesai dengan tangisanku.
"Haha suka saja ada seseorang yang menyukaiku seperti itu"jawab kak Yuji tenang.
"Sebenarnya kak Cecil dan kak Cindy juga menulis kata cinta untuk kak Yuji"kataku mencoba memberi tahu bahwa bukan hanya aku yang seperti itu.
"Oh kalau itu aku juga sudah tau,banyak yang seperti mereka di kelasku,itu tidak membuatku tertarik"jawabnya dengan tenangnya.
"Oh ya? Kak Yuji sudah tau dari kapan?"tanyaku penasaran.
"Hahaha ya aku tau sejak ada beberapa surat di mejaku,mereka bukan orang pertama yg menulis surat, memberikan cokelat di mejaku"jawabnya lagi.
Jadi selama ini kak Yuji sudah tau kalau kak Cecil dan kak Cindy menyukainya.
"Trus kalau aku?"tanyaku penasaran.
Tiba-tiba kak Yuji menatapku,lalu meraih tanganku.
"Kenapa kamu tidak melakukan apapun setelah aku mengirim surat? Bukankah seharusnya kamu membalas surat itu?"
Pertanyaan kak Yuji membuatku terdiam, sebenarnya aku memang tak punya ide untuk membalas surat itu,karena memang aku lebih memilih diam saja tak perlu mengungkapkan semua isi hatiku agar kak Yuji menyukaiku kembali.Aku lebih memilih tetap mengagumi kak Yuji seperti biasanya.
"Kau tau aku menunggu balasan surat itu.."katanya lirih
Dan aku merasa sangat kaget karena seorang kak Yuji menunggu balasan dariku.
"Haha,apalah kak Yuji ini..aku masih SMP saat itu mana mungkin aku mau balas surat kak Yuji yang seperti itu"kataku mencoba untuk tenang.
"Kamu tidak tau aku mencari tau tentang dirimu,bahkan Raisa pun sudah beberapa kali menyuruh aku untuk mendekatimu,tapi aku melihat kamu seperti tidak menyukaiku sama sekali hingga membuatku menyerah,haha kau ingat kejadian di belakang sekolah? Itu rencanaku dengan Raisa agar aku bisa mengobrol denganmu,dan lagi-lagi aku tidak menemukan rasa suka di matamu"katanya.
Hah..mana mungkin aku tidak terlihat menyukainya? Aku sudah berusaha keras agar tidak berlebihan saat menyukai seseorang.
"Celine.. apakah kamu masih menyukai aku seperti dulu? Atau mungkin sudah ada orang yang merubah perasaanmu?"
Deg!
Pertanyaan tiba-tiba ini membuat aku tak bisa bergerak sedikitpun.
Kalau boleh jujur..detik ini pun aku masih menyukai pria ini,tapi..apa aku pantas untuk kebahagiaan yang sangat tiba-tiba ini?
"Jawab aku Celine.. sejak menerima buku itu aku tidak pernah berhenti memikirkan dirimu"
Huaah..tolong,boleh aku melayang sekarang? Apakah ini jawaban dari segala penantian panjangku?
"Celine..jawab aku"
Kak Yuji mengelus pipiku lembut,entah kenapa dia terlihat sangat bersungguh-sungguh.. apa benar perasaan kak Yuji ini? Atau malah aku nanti yang merasa sangat gede rasa setelah pertemuan tiba-tiba ini.
"Emang aku masih pantas untuk seorang kak Yuji?"tanyaku lirih.
Dan tiba-tiba saja kak Yuji sudah memelukku dengan sangat lama hingga aku bisa merasakan suhu tubuhnya yang hangat, samar-samar wangi parfum kak Yuji masuk kerongga penciumanku.
Hangat..aku bahkan belum pernah merasakan kehangatan ini sebelumnya, kehidupan aku yang biasa-biasa saja akhirnya ending nya sangat bahagia.
"Kak..aku masih menyukaimu"kataku lirih didalam pelukannya,kak Yuji semakin mengeratkan pelukannya.
"Kali ini..jangan menghindariku lagi"katanya lagi yang sesekali mencium keningku dengan lembut di sela-sela pelukannya.