Dunia Bawah tidak memiliki langit.
Yang dimiliki Abyssal hanyalah kubah obsidian yang membentang abadi, tanpa bintang, tanpa matahari, dan tanpa perubahan. Di sana, waktu tidak berjalan, ia hanya membusuk.
Di atas Singgasana Duri Hitam, Kaeltharion duduk dengan keheningan yang mencekam. Ia adalah Demon Darah Murni dari klan Nocturne, berusia empat abad lebih. Wajahnya tampan dengan cara yang tidak manusiawi, rambut sehitam tinta, dan mata merah darah yang selalu datar. Di bawah singgasananya, para demon rendahan saling mengoyak demi memperebutkan remah-remah jiwa manusia yang jatuh. Pemandangan yang sama selama 412 tahun.
Kebosanan adalah siksaan yang lebih kejam daripada api neraka itu sendiri.
"Betapa berisiknya," gumam Kael pelan, sangat pelan dan malas.
Dengan satu lambaian tangan, seluruh aula menjadi sunyi. Tidak ada yang berani menatapnya.
Malam itu, tanpa meminta izin pada Dewan Tetua, Kael berjalan menuju jantung Abyssal, tempat Gerbang Cermin berada. Gerbang yang dilarang untuk dibuka karena menghubungkan keabadian dengan kefanaan. Ia tidak menginginkan jiwa. Ia hanya menginginkan sesuatu yang bisa berakhir. Sesuatu yang tidak abadi.
"Biarkan aku melihat apa yang membuat manusia begitu takut kehilangan," ucapnya.
Ia melangkah masuk ke dalam cahaya.
Dunia manusia menyambutnya dengan aroma yang asing. Hujan, tanah basah, kertas tua, dan angin yang dingin. Kota tempatnya tiba bernama Evershade, sebuah kota kecil yang selalu diselimuti kabut tipis.
Untuk berbaur, ia mengambil wujud manusia dan nama yang lebih pendek: Kael. Ia menyewa sebuah apartemen kecil di atas perpustakaan kota yang sepi. Dan dari jendela apartemen itulah, ia pertama kali melihatnya.
Gadis itu datang setiap sore, tepat pukul empat.
Namanya Aurelia Liora. Usianya dua puluh dua tahun. Rambutnya panjang berwarna cokelat gelap, kulitnya putih porselen, dan matanya berwarna hazel yang indah. Namun, ada yang salah. Bibirnya terlalu pucat, langkahnya terlalu pelan, dan dari tubuhnya, Kael dapat mencium aroma yang sangat samar, aroma jiwa yang retak dan perlahan layu. Aroma kematian yang manis. Kael merasa ada yang berbeda! Jelas gadis itu menarik.
Aurelia selalu duduk di sudut yang sama, dekat jendela besar. Ia membaca buku-buku tentang astronomi, tentang langit dan bintang-bintang. Kadang ia terbatuk, batuk yang dalam dan menyakitkan hingga bahunya bergetar hebat.
Rasa penasaran yang telah mati selama berabad-abad dalam diri Kael, tiba-tiba terusik.
Suatu sore yang hujan, Kael akhirnya turun ke perpustakaan. Aurelia sedang berusaha meraih buku di rak tertinggi, namun tubuhnya terhuyung. Kael dengan sigap menahan rak tersebut sebelum buku-buku itu jatuh menimpanya.
"Kau harus lebih berhati-hati, Nona," ucap Kael dengan suara datar dan dingin.
Aurelia mendongak, sedikit terkejut. Ia tidak takut pada sorot mata dingin Kael. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang terlihat lelah.
"Terima kasih banyak, Tuan. Maafkan kecerobohan saya. Perkenalkan nama Saya Aurelia. Aurelia Liora."
"Kael," jawabnya singkat.
Sejak pertemuan itu, kehadiran Kael menjadi sebuah rutinitas yang tidak terucapkan.
Kael tidak pernah menjadi pria yang hangat. Ia tetap dingin, dengan kata-kata yang singkat dan wajah yang hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi. Namun, perhatiannya kepada Aurelia selalu hadir dengan cara yang berbeda, cara yang canggung dan tidak manusiawi, namun tulus.
Ketika Aurelia lupa membawa payung, Kael tidak pernah menawarkan payungnya. Ia hanya berjalan di samping Aurelia dalam diam. Anehnya, rintik hujan seolah enggan menyentuh Aurelia. Tetesan air itu membelok dengan sendirinya sebelum mengenai dirinya.
"Payung Tuan sepertinya tidak cukup untuk dua orang. Terima kasih," kata Aurelia suatu hari, menyadari bahwa hanya dirinyalah yang tidak basah.
"Payung saya memang rusak, Nona Liora. Jadi jangan terlalu berharap," jawab Kael datar, sambil tetap menatap lurus ke depan. Padahal payung itu adalah payung biasa yang ia buat kedap air dengan sihirnya.
Ketika musim gugur tiba dan perpustakaan menjadi sangat dingin karena pemanasnya rusak, Kael hanya berkata, "Tempat ini tidak efisien."
Keesokan harinya, seorang teknisi datang dan mengganti seluruh sistem pemanas perpustakaan dengan yang baru, atas nama donatur anonim. Sejak itu, sudut tempat Aurelia biasa duduk selalu menjadi tempat terhangat.
Ketika jantung Aurelia berdebar terlalu kencang setelah menaiki tangga, Kael akan selalu berjalan tepat di belakangnya dengan langkah yang sangat pelan, menjaga jarak agar gadis itu tidak merasa diawasi, namun cukup dekat untuk menangkapnya jika ia jatuh.
"Apakah Tuan Kael selalu berjalan sepelan ini?" tanya Aurelia sambil tersenyum, napasnya masih sedikit terengah.
"Saya menyesuaikan dengan orang yang berjalan di depan saya. Karena orang tersebut berjalan sangat lambat seperti siput," jawab Kael dengan nada dingin yang sama.
Aurelia tidak tersinggung. Ia justru tertawa kecil. Tawa yang jernih, yang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, terdengar bahagia.
Hari-hari Aurelia yang sebelumnya hanya diisi dengan obat-obatan, kunjungan rumah sakit, dan kesepian yang panjang, kini terisi dengan kehadiran pria dingin itu. Kael yang tidak pernah mengenal kasih sayang, mulai menghafal hal-hal fana yang tidak pernah ia anggap penting: Aurelia selalu memesan teh chamomile tanpa gula, ia selalu mengikat rambutnya ke samping ketika sedang berkonsentrasi, dan ia selalu menatap langit senja dengan tatapan rindu yang mendalam.
Suatu senja, mereka duduk berdua di bangku taman belakang perpustakaan. Langit berwarna jingga keemasan, sangat indah.
"Tuan Kael," panggil Aurelia pelan. "Apakah Tuan pernah merasa takut?"
Kael menatap langit. "Saya tidak mengenal rasa takut, Nona Liora."
"Saya takut," lanjut Aurelia dengan suara yang sangat tenang. "Dokter mengatakan bahwa jantung saya mengalami kelainan langka sejak lahir. Mereka memvonis bahwa umur saya tidak akan berjalan lama. Mungkin saya tidak akan bisa melihat musim dingin tahun ini. Saya takut, bukan karena saya akan mati. Saya takut karena saya belum sempat benar-benar hidup."
Kael terdiam. Kata-kata itu menusuk ke dalam rongga dadanya yang kosong. Rasa sakit yang aneh dan tidak ia kenali menjalari dirinya. Ia ingin mengatakan bahwa ia bisa melakukan sesuatu, bahwa ia bisa menghancurkan takdir itu. Namun ia tahu, bahkan kekuatan demon pun tidak bisa memperbaiki jiwa yang memang dilahirkan untuk kembali lebih cepat.
Untuk pertama kalinya, Kael melakukan sesuatu yang sangat manusiawi. Ia melepaskan syal wol hitam yang ia kenakan dan melingkarkannya dengan hati-hati di leher Aurelia.
"Kalau begitu, jangan menatap langit dengan rasa takut. Tataplah dengan rasa syukur karena hari ini kau masih bisa melihatnya," ucap Kael, suaranya masih dingin, namun jauh lebih pelan dan lembut dari biasanya.
Aurelia menatap Kael dengan mata yang berkaca-kaca, lalu mengangguk. "Terima kasih, Tuan Kael."
Memasuki awal musim dingin, kondisi Aurelia menurun dengan sangat cepat. Wajahnya semakin pucat, tubuhnya semakin lemah, dan ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di perpustakaan.
Kael selalu ada. Ia duduk di kursi tunggu rumah sakit selama berjam-jam tanpa bergerak, hanya untuk memastikan bahwa Aurelia baik-baik saja. Ia membawakan buku-buku baru yang belum pernah Aurelia baca, ia membawakan bunga lili putih yang merupakan kesukaan Aurelia, meskipun ia selalu berkata, "Bunga ini ditinggalkan seseorang di depan perpustakaan, jadi saya bawakan untukmu."
Pada suatu malam yang sangat dingin, Aurelia mengalami serangan jantung yang hebat di kamarnya. Kael yang merasakan ada sesuatu yang salah melalui ikatan samar yang tidak ia sadari, mendobrak pintu apartemennya.
Aurelia tergeletak di lantai, napasnya terengah-engah, wajahnya pucat pasi.
"Tuan Kael..." panggilnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Kael segera mengangkat tubuh Aurelia yang terasa sangat ringan dan rapuh ke dalam pelukannya. Tubuh abadi yang tidak pernah merasakan dingin, kini merasa kedinginan yang menusuk karena takut kehilangan.
"Bertahanlah, Aurelia. Kumohon, bertahanlah," bisik Kael, suaranya akhirnya pecah, tidak lagi datar dan dingin.
Aurelia dengan sisa tenaganya mengangkat tangannya yang dingin dan menyentuh pipi Kael yang selalu datar itu.
"Tuan Kael... jangan memasang wajah seperti itu... wajah tampan tuan terlihat sangat sedih... Itu sangat tidak cocok loh" ucapnya dengan senyum yang sangat lemah.
Saat itulah, keajaiban yang terlambat itu terjadi.
Ketika kulit mereka bersentuhan, sebuah tanda kuno yang rumit dan indah, berwarna perak kehitaman, menyala terang di pergelangan tangan Kael. Pada saat yang bersamaan, tanda yang sama persis menyala di bawah tulang selangka Aurelia, di dekat jantungnya yang lemah.
Kael membeku. Matanya membelalak. Seluruh pengetahuan yang ia miliki selama 412 tahun berteriak di dalam kepalanya.
Tanda Mate. Tanda belahan jiwa yang ditakdirkan untuk para Demon Darah Murni. Tanda yang hanya akan muncul sekali dalam keabadian, ketika seorang demon bertemu dengan satu-satunya jiwa yang diciptakan untuk melengkapi kekosongan abadinya. Jiwa yang akan membuat jantung abadi yang tidak pernah berdetak, akhirnya belajar untuk berdetak.
Jantung Kael yang telah mati selama empat abad lebih, berdetak untuk pertama kalinya. Satu detakan yang sangat keras, menyakitkan, dan penuh penyesalan.
Aurelia adalah mate-nya. Gadis manusia yang rapuh, yang ia temani setiap hari, yang diam-diam ia jaga, adalah takdirnya.
Dan ia baru menyadarinya sekarang, di detik-detik terakhir hidup gadis itu. Mengapa tanda itu baru muncul sekarang?
"Tidak... tidak mungkin..." gumam Kael dengan suara yang bergetar hebat. "Aurelia... kau... kau adalah mate-ku..."
Aurelia menatap tanda yang menyala di dadanya, lalu tersenyum. Senyum yang paling indah dan paling menyedihkan yang pernah Kael lihat.
"Pantas saja... setiap kali Tuan Kael berada di dekat saya... jantung saya yang sakit ini terasa hangat... tidak sakit lagi... Jadi... Tuan Kael adalah rumah saya ya..."
Air mata mengalir dari mata hazel-nya.
"Tuan kael... maafkan saya... sepertinya saya harus pergi lebih dulu..."
"Tidak! Jangan pergi! Aku tidak mengizinkanmu pergi!" Kael memeluk Aurelia dengan sangat erat, seolah ingin menyatukan jiwa mereka dengan paksa. Kekuatan kegelapannya meledak, membuat lampu di seluruh gedung berkedip. "Aku akan mengambil jiwamu! Aku akan melanggar hukum Abyssal! Kau akan tetap hidup! Hidup bersamaku! "
Aurelia menggeleng dengan lemah. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Kael yang memeluknya.
"Jangan, Tuan Kael... biarkan saya pergi dengan utuh... sebagai Aurelia... yang pernah dicintai oleh Tuan Kael... dengan caranya yang berbeda... itu sudah lebih dari cukup bagi saya... Maafkan sa..ya..tuan kael..saya..ha..rap...di kehidupan....selanjutnya....saya.....bi..sa...bertemu..anda..dan..menyatakan cinta..yang sesungguh......nya"
Setelah mengatakan itu, tangan Aurelia perlahan terkulai jatuh. Napasnya berhenti. Tanda mate di dadanya perlahan meredup dan menghilang bersama dengan jiwa yang pergi. Detak jantung yang baru saja Kael dapatkan, kini terasa hancur berkeping-keping.
Aurelia telah pergi.
_____________________________________
Tiga hari kemudian.
Di sebuah pemakaman kecil di atas bukit Evershade, langit sangat cerah. Biru, luas, dan kejam. Langit yang sama persis seperti yang selalu dirindukan Aurelia.
Di depan sebuah nisan batu putih yang masih baru, yang bertuliskan AURELIA LIORA - 200×-20××, berdirilah seorang pria.
Kaeltharion. Ia mengenakan setelan hitam yang rapi. Wajahnya kembali datar. Sangat datar, tanpa ekspresi apa pun. Dingin seperti patung es. Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria tampan itu adalah seorang demon yang baru saja kehilangan seluruh alam semestanya.
Ia menatap nisan itu untuk waktu yang sangat lama.
"Cuaca hari ini sangat cerah, Nona Liora," ucapnya dengan suara yang formal, sopan, dan sangat pelan, seolah ia masih berbicara dengan gadis itu di perpustakaan. "Langitnya sangat biru. Seperti yang selalu Nona sukai. Saya sudah membawakan teh chamomile tanpa gula untuk Nona."
Tidak ada jawaban. Hanya desir angin yang membawa kelopak bunga lili putih yang ia letakkan di depan nisan.
Kael mendongak. Ia menatap langit-langit biru yang luas di atasnya. Langit yang tidak akan pernah lagi dilihat oleh mate-nya.
Rasa luka yang amat dalam, yang jauh lebih menyakitkan daripada ribuan tahun siksaan di Abyssal, merobek seluruh keberadaannya. Kekosongan yang selama ini ia anggap sebagai kebosanan, kini ia sadari adalah penantian panjang untuk Aurelia. Dan ia telah terlambat menemukan mate nya.
Tanpa sadar, sesuatu yang panas mengalir di pipinya.
Setetes air mata. Air mata pertama seorang Demon Darah Murni dalam 412 tahun. Air mata berwarna keperakan yang berkilau di bawah sinar matahari, menetes dan jatuh ke tanah makam.
Pada detik air mata itu menyentuh tanah, langit yang tadinya sangat cerah seketika mendung.
Awan hitam dan kelabu berkumpul dengan sangat cepat tepat di atas pemakaman itu, seolah langit itu sendiri merasakan duka yang tak terhingga dari sang demon. Angin bertiup kencang, membawa hawa dingin yang menusuk.
Kemudian, hujan turun dengan sangat deras. Hanya di atas bukit itu. Seolah seluruh langit runtuh dan menangis bersama dengannya.
Dan Kael tetap berdiri di sana, di depan makam mate-nya, dengan wajah datar yang basah oleh air hujan dan air mata, menatap langit yang menangis untuk gadis yang telah ia cintai dengan cara yang paling terlambat. " Maaf... Mate... Sungguh.. Sungguh maafkan aku" Gumam kael lirih dan terluka.