Terrence Merrick Louis, atau bisa disebut Terry, berdiri sendirian di antara banyaknya kuburan dan guyuran hujan deras sejak 2 jam yang lalu. Di hadapannya terdapat kuburan baru yang hanya diberi taburan bunga. Berbeda dengan kuburan baru lainnya yang memiliki banyak karangan bunga atau tenda yang sengaja terpasang agar orang lain bisa bergantian mendatangi mendiang yang baru dikuburkan, kuburan itu begitu sederhana dan bongkahan nisan yang lebih kecil di pemakaman ini.
Terry sedikit meringis mengetahui fakta itu. Ia merasa hal ini tidak layak. Tangan kanannya yang diperban mengelus pelan nisan itu dan berusaha membaca nama itu meski terhalang oleh hujan.
Sylvia Agnes Dorian
Seketika kepalanya menunduk, air matanya menetes dan tidak ingin di lihat oleh siapapun, juga dunia ini. Terry mengerti dunia ini hanya wadah fana yang membuat dirinya terpisah oleh Sylvia. Ia tidak terima dengan keadaan ini. Dirinya yakin bahwa perasaannya abadi bisa membawa wanita itu kembali. Hari-hari terbuang begitu saja memendam perasaan kepadanya, ia harus tuntaskan hari ini.
Terry tahu bahwa Sylvia mengetahui perasaan. Setiap kali mata mereka bertemu, disitu lah ia yakin perasaannya tidak salah. Ia bingung sebutan yang cocok untuknya pengagum rahasia atau penguntit menjijikan, karena setiap hari ia terus memuja dan berkhayal dari jauh kepada wanita tersebut. Ia harus membawa Sylvia malam ini dari tempat itu.
Semuanya di mulai dari 17 tahun lalu, Terry di bawa oleh ayahnya yang merupakan kepala pelayan ke sebuah mansion tersembunyi. Awalnya ia sedikit takut mengingat tempat kerja ayahnya melewati jalanan khusus dan akses satu-satunya adalah sebuah jalan menuju bukit. Aksesnya pun dijaga ketat oleh dua satpam. Rumah besar itu begitu tua tetapi rapi.
Alasan Terry ke sana karena ayahnya tidak bisa menjaga penuh dirinya selama libur musim panas. Bisa dibilang liburan musim panasnya dihabiskan di sana. Sendirian dan hanya melihat pembantu dan penjaga rumah lalu lalang. Alasan cukup aneh baginya tapi di sana pertemuannya dengan Sylvia berasal.
Terry tidak sengaja melihat seorang gadis sangat kurus nan pucat terjatuh ke dalam kolam ikan penuh lumut dan tumbuhan merambat. Ia sebenarnya ragu untuk menolong karena tidak bisa berenang. Namun, paras gadis itu membutakannya. Keberanian entah dari mana membawanya ikut menolong sebelum akhirnya ayahnya dan pembantu lain berkumpul. Kejadian itu membuat semua yang ada di sana harus tinggal menjaga gadis itu.
Sylvia bagai boneka porselen, cantik tetapi kaku. Kehidupannya begitu sunyi dan rutinitas membosankan Terry saksikan diam-diam. Rumahnya hanya kedatangan tamu sekali setahun, yaitu keluarga besar yang merayakan ulang tahunnya. Hanya hitungan jari gadis itu keluar untuk urusan bisnis.
Semakin Terry melihatnya dari jauh, semakin ia ingin melindunginya. Persembunyiannya lama-lama terlihat oleh Sylvia dan bisa di bilang ia adalah satu-satunya temannya di rumah besar itu. Kebaikan yang gadis itu berikan membuatnya lebih dekat dan menumbuhkan sesuatu hal yang terasa manis tapi berbahaya. Panggilan sayang ibunda kepada Sylvia bahkan adalah Belladonna, sama seperti tanaman beracun di belakang taman. Ia tidak merasa wanita itu tidak pantas dipanggil begitu.
Akan tetapi, saat Terry memanggilnya Belladonna, senyuman bak makhluk suci yang tidak pantas menapaki bumi yang kotor ini mekar tak terbendung.
Terry ingin memiliki Sylvia sepenuhnya, ingin memberikan apapun agar gadis itu terus melihatnya, serta ia ingin menyentuhnya lebih lama, bukan hanya sentuhan pendek dari setiap kali ia melayaninya seperti pelayan lainnya. Ia terus menahan bagai siksaan memabukkan selama bertahun-tahun, sampai di mana kabar menyebar bahwa Sylvia akan dijodohkan oleh orang lain 3 bulan lagi.
"Kau Tuan Louis?" suara serak dari pria tua dengan senter menyadarkan pikiran Terry yang berkelana. Namanya Marcus Craig, dia adalah penjaga makam elit tempat Sylvia dikuburkan. Malam berawan dengan dingin menusuk tidak membuatnya mengelak untuk rencananya mengembalikan Sylvia.
"Betul, apa kau hanya memberikanku akses atau–"
"Kita bicarakan di dalam," bisik Marcus merangkul Terry masuk ke kawasan pemakaman. Mereka berdua berjalan menapaki rumput basah dan menyinari jalan yang sangat gelap dengan senter. Tangan mereka yang lain memegang sebuah cangkul yang sebelumnya Marcus berikan.
Mereka akhirnya sampai di tempat peristirahatan Sylvia. Sebelum Terry mencangkul, pria tua itu menahannya. Dia berkata, "Apa kau yakin ingin mengembalikan nyawanya? Rencana ini tidak akan sepenuhnya berhasil jika roh wanita itu sudah tenang."
"Sangat yakin! Sylvia menungguku dan nyawanya tidak akan semudah itu tenang. Aku mengenalnya lebih dari siapa pun di dunia ini. Biarkan penyesalanku ini berakhir malam ini," ucap Terry dengan suara sangat dalam dan serius.
Pria tua itu pun ikut serta menggali kuburan Sylvia sambil berkata, "Baiklah kalau begitu, semoga ritual ini berhasil."
Selama Terry menggali tanah merah nan lengket itu, memori tragedi malam itu kembali. 3 hari yang lalu ia mendapati Sylvia terjatuh dari lantai atas kamarnya ke taman. Bau anyir dan sisa-sisa bau tanah basah sehabis hujan menguasai indranya. Pertama kalinya ia histeris melihat sosok idamannya tergeletak tidak berdaya. Air matanya terus membasahi wajah pucat Sylvia setengah sadar.
"Terry... Hah... Aku gak mau... H-hahhh... Hidup seperti... I-ini... Aku... Mau... Kamu..."
"Kamu jangan tidur! Aku mohon tunggu sebentar! Ya, Sylvia? Paramedis akan datang sedikit lagi!" Frustasi Terry yang berusaha menyumpal darah di kepala Sylvia dengan tangannya.
"Ba-bangunkan... ak-aku... y-ya..."
"Tuan Louis? Tuan Louis? Kau baik-baik saja?"
Terry menarik napasnya dalam-dalam. Keringat sebutir jagung membasahi keningnya. Marcus menepuk pundaknya, menenangkannya sambil memperhatikannya. Pria tua itu berbisik, "Selamat... kau lolos melewati kenangan terakhir wanita itu... Sekali lagi, apa kau sepenuh hati ingin membawa Sylvia hidup kembali?"
Terry memberikan tatapan pasrah dan penuh pengharapan. "Ya, demi hidup dan matiku..."
Kejadian malam itu berjalan cepat, hari berganti bulan, keajaiban yang ditunggu oleh pria itu akhirnya datang. Kehidupan dan penantian yang diharapkan Terry seumur hidupnya terbayar tuntas. Ia merasa dirinya adalah manusia paling beruntung di dunia. Awan gelap yang menutupi segala relung di hati dan jiwanya hilang. Tujuan hidupnya hanya untuk Sylvia, impiannya tercapai. Wanita itu selamanya menjadi miliknya, bukan hanya perasaannya, tapi tubuhnya.
****************
Di sebuah mansion milik Sylvia, suara tamparan bergema di setiap sudut lorong gelap. Cahaya masuk dari seluk beluk gorden tebal berdebu menyinari Sylvia dan Marcus. Pipi pria tua itu setengah merah dan napas wanita itu tersengal. Mereka berdua berada di ruang penuh akan alat-alat sihir dan terdapat ranjang di belakang mereka.
"Kau membuang puluhan tahunku hanya untuk kegagalan! Terry harus hidup bagaimana pun caranya!" Suara meninggi dari Sylvia berbanding terbalik dengan raut mukanya yang begitu datar bagai tembok.
"Maaf, nona. Sekali lagi ini semua gagal karena Terry mati dengan tenang, bukan jiwa yang urusannya belum tuntas," Marcus menjelaskan dengan pelan dan sabar. Dia begitu hormat kepada Sylvia hingga tidak bisa menatap matanya.
"Kenapa ini harus gagal sedangkan dia berhasil membangkitkanku? Rencana utama adalah aku bisa bertukar emosi dengannya. Kau malah melayani perasaan dan mimpinya yang sia-sia."
Marcus berdeham, "Orang biasa sepertiku tahu bahwa Terry mencintai nona mati-matian"
"Tapi aku tidak bisa merasakan apapun," Tegas Sylvia sambil berjalan mendekati tubuh Terry di atas ranjang. "Semua hanya tiruan emosi orang-orang di mansion ini. Andai dia tidak melewati batas itu..."
"Batas apa, nona?"
"Dia ingin memilikiku sepenuhnya. Aku bersumpah tidak ada yang bisa memilikiku. Dia selalu mengintaiku tapi tidak tahu apa-apa." Mata Sylvia melirik kearah Marcus sebentar.
"Pokoknya kau harus mencari celah agar jiwa Terry bisa kembali. Bahkan jika tubuhnya harusnya tercabik-cabik penuh nanah, lakukan! Tubuhnya adalah milikku sepenuhnya..."
Marcus pun pergi dari sana dalam diam. Sylvia kembali menyentuh wajah pucat nan dingin tubuh Terry. Seringai kaku wanita itu muncul. "Terry, apa kau yakin tidak ingin bangun..."
"... Belladonna-mu memanggilmu..."