Bagian 1: Logam dan Lembaran di Balik Dinding
Malam belum sepenuhnya runtuh di kawasan perbukitan eksklusif Bukit Nirwana, namun ketegangan di dalam rumah bergaya minimalis tropis itu sudah memuncak hingga ke titik didih. Di lantai dua, tepat di balik panel kayu jati yang menyamarkan sebuah ruang rahasia, terdengar bunyi klik besi yang berat.
Fahri Ardiansyah, Direktur Penyidikan Khusus pada Lembaga Reksa Hukum—sebuah institusi penegak hukum paling ditakuti di negeri ini—berdiri dengan napas yang tertahan. Di hadapannya, tiga pria berjaket taktis hitam dengan lambang Korps Intelijen Hukum Kepolisian (KIHK) sedang mengeluarkan koper-koper besar dari dalam dinding.
"Total tujuh koper, Komandan," bisik salah satu petugas kepada kombes yang memimpin penggeledahan. "Isinya sesuai dengan informasi informan. Emas batangan murni berstempel negara tetangga, pecahan dolar Amerika, dan dolar Singapura."
Fahri tidak bergerak. Setelan kemeja linennya yang biasa rapi kini tampak kusut. Di sudut ruangan, seorang wanita muda dengan gaun satin berwarna hijau zamrud duduk di sofa kulit dengan wajah pucat pasi. Namanya Diandra Renata, seorang kurator seni sekaligus pemilik Galeri de’Amour di kawasan bisnis Jakarta Selatan. Keberadaan Diandra di rumah itu pada jam dua dini hari bukan lagi sekadar urusan profesional. Ia adalah poros dari pusaran angin yang malam ini meruntuhkan takhta tak resmi yang dipegang Fahri selama lima tahun terakhir.
"Kau tahu ini tidak akan berhenti di sini, kan, Fahri?" suara kombes itu memecah keheningan, dingin tanpa simpati. "Kau terlalu lama menari di atas kepala orang lain. Sekarang giliran mereka yang memutar musiknya."
Fahri tersenyum tipis, sebuah seringai getir dari seorang pria yang tahu betul bagaimana sistem ini bekerja. Selama bertahun-tahun, dialah sang 'Pembersih'. Di tangannya, kasus-kasus mega-korupsi komoditas tambang dan energi disetir. Ada yang ditenggelamkan, ada yang diapungkan demi kepentingan politik tertentu. Namun malam ini, sang Pembersih justru sedang disapu dari lantai kekuasaan.
Bagian 2: Jaring Konspirasi Tiga Menara
Dua belas jam sebelum penggeledahan di Bukit Nirwana, sebuah pertemuan rahasia digelar di lantai paling atas sebuah hotel bintang lima yang menghadap langsung ke istana negara. Tiga orang duduk mengelilingi meja bundar. Atmosfer di dalam ruangan itu begitu berat, dipenuhi oleh aroma cerutu mahal dan kepentingan yang saling berbenturan.
Di satu sisi meja duduk Jenderal Baskoro, Kepala KIHK. Di sisi lain adalah Aditama, Wakil Jaksa Agung, pria paruh baya berambut perak dengan ambisi yang tidak pernah disembunyikannya untuk menduduki kursi nomor satu di Lembaga Reksa Hukum. Orang ketiga adalah seorang pengusaha batu bara raksasa bernama Dharmawan, pria yang selama ini menjadi mesin uang bagi berbagai faksi politik.
"Fahri sudah melangkah terlalu jauh," ujar Dharmawan sambil mengetukkan jemarinya di atas meja. "Dia menggunakan berkas penyidikan PT Krakatau Mineral untuk memeras konsorsium kami. Dia meminta saham kosong atas nama yayasan yang dikelola oleh Diandra. Jika ini dibiarkan, proyek strategis nasional di sektor hilirisasi batubara bisa macet total."
Jenderal Baskoro menghirup cerutunya dalam-dalam. "Mengamankan Fahri tidak mudah. Dia punya jaringan pengikut setia di dalam Reksa Hukum. Kalau kita bergerak tanpa bukti yang menghancurkan reputasinya secara total, institusinya akan membela. Ini bisa memicu perang terbuka antarlembaga seperti sepuluh tahun lalu."
"Itulah gunanya saya di sini," sela Aditama dengan senyum penuh arti. "Saya sudah menyiapkan skenario internal. Begitu KIHK bergerak melakukan penggeledahan berdasarkan informasi aliran dana dari money changer milik Diandra, saya akan mendesak Jaksa Agung untuk segera menonaktifkan Fahri. Kita buat dia mundur dini hari nanti demi 'menjaga kehormatan institusi'. Begitu dia mundur, perlindungannya hilang. Kalian bisa langsung menetapkannya sebagai tersangka."
Konspirasi tingkat tinggi ini bukan sekadar tentang penegakan hukum. Ini adalah operasi pembersihan. Fahri telah mengumpulkan terlalu banyak 'kartu truf' milik para petinggi negara dari kasus-kasus yang ditanganinya. Ketika seorang penegak hukum menjadi terlalu kuat hingga mampu mengancam stabilitas para pemegang modal dan pemangku takhta, maka dia harus dihancurkan menggunakan sistem yang sama yang membesarkannya.
Bagian 3: Harta, Takhta, dan Wanita
Bagaimana seorang Fahri Ardiansyah, yang dikenal cerdas dan taktis, bisa terjebak dalam lubang yang begitu dangkal? Jawabannya ada pada tiga kata purba: harta, takhta, dan wanita.
Sebagai Direktur Penyidikan Khusus, takhta Fahri hampir mutlak. Di koridor Reksa Hukum, titahnya adalah undang-undang. Namun, takhta yang tinggi membutuhkan fondasi yang mahal. Untuk mempertahankan posisinya dari faksi-faksi saingan yang ingin mendepaknya, Fahri membutuhkan logistik yang tidak sedikit. Di sinilah harta mulai mengambil peran. Nilai korupsi yang dituduhkan kepadanya bukan lagi puluhan miliar, melainkan ratusan miliar rupiah—akumulasi dari 'biaya pengamanan' perkara batubara dan pengadaan aset-aset sitaan negara yang dilelang di bawah harga pasar kepada kelompok Dharmawan.
Namun, benteng pertahanan Fahri yang sesungguhnya runtuh karena Diandra. Wanita itu bukan sekadar hiasan. Diandra adalah arsitek keuangan rahasia Fahri. Melalui jaringan koin money changer di Jakarta Selatan dan pembelian aset-aset seni serta properti mewah, Diandra menyamarkan miliaran rupiah yang masuk setiap bulannya.
Dua hari sebelum penangkapan, di sebuah kafe mewah de’Amour yang sengaja dikosongkan untuk mereka, Diandra sempat memperingatkan Fahri.
"Ada yang tidak beres dengan audit internal di kantor pos penukaran kita, Fahri," kata Diandra sambil menatap cangkir kopinya dengan cemas. "Seseorang dari intelijen kepolisian mulai bertanya-tanya tentang transaksi tunai dalam bentuk dolar Singapura yang kita lakukan minggu lalu."
Fahri saat itu hanya tertawa kecil, menggenggam tangan Diandra dengan penuh percaya diri. "Jangan khawatir, Sayang. Baskoro tidak akan berani menyentuhku. Aku memegang berkas kasus suap tambang miliknya di Kalimantan. Sekali dia bergerak, kita hancur bersama."
Fahri keliru. Dalam permainan kekuasaan di tingkat tertinggi, tidak ada aliansi yang abadi. Baskoro ternyata memilih untuk mengambil risiko menghancurkan dirinya sendiri sebagian, ketimbang membiarkan Fahri memegang kendali atas seluruh masa depannya. Terlebih lagi, Aditama telah menjamin bahwa semua berkas yang dipegang Fahri di dalam brankas Reksa Hukum akan 'dilenyapkan' begitu Fahri lengser.
Bagian 4: Pengunduran Diri di Ujung Tombak
11 Juli, Jam 01.00 Dini Hari.
Gedung Utama Lembaga Reksa Hukum tampak sunyi, namun lampu di ruang kerja Wakil Jaksa Agung Aditama masih menyala terang. Fahri dipanggil menghadap secara mendadak. Di dalam ruangan, sudah ada surat pernyataan di atas meja yang menunggu tanda tangannya.
"Ini demi kebaikanmu, Fahri. Dan demi institusi kita," kata Aditama tanpa basa-basi. "Tim dari KIHK sudah mengepung rumahmu di Sentul. Diandra juga ada di sana saat ini. Jika kau menandatangani surat pengunduran diri ini sekarang, kita bisa mengatur agar narasi di media besok pagi adalah kau mundur secara ksatria untuk menjalani proses hukum."
Fahri menatap seniornya itu dengan pandangan menghina. "Kau menginginkan kursiku, Mas Adit? Kau bisa mengambilnya dengan cara yang lebih terhormat, bukan dengan menjadi pesuruh Dharmawan dan Baskoro."
"Ini bukan sekadar soal kursiku atau kursimu, Fahri!" suara Aditama meninggi, menunjukkan retakan dalam ketenangannya. "Kau sudah menjadi terlalu serakah. Kau mengambil jatah yang bukan milikmu dari proyek batu bara. Kau pikir para dewa di atas sana akan diam saja melihatmu menimbun emas murni di rumahmu sementara mereka harus menghadapi krisis politik?"
Fahri menarik napas dalam. Dia tahu dia telah kalah telak. Kartu truf yang dibanggakannya telah dikunci oleh Aditama di dalam sistem internal. Dengan tangan agak bergetar, dia mengambil pena dan membubuhkan tanda tangan.
Tepat pukul 02.00 dini hari, siaran pers mendadak dikeluarkan: Fahri Ardiansyah Resmi Mengundurkan Diri dari Jabatannya.
Bagian 5: Tim Sembilan dan Akhir dari Sebuah Skenario
Matahari terbit di Jakarta dengan membawa berita yang mengguncang jagat politik. Penangkapan seorang mantan petinggi Reksa Hukum dengan barang bukti 74 kilogram emas dan uang tunai ratusan miliar rupiah menjadi tajuk utama di setiap media. Reksa Hukum, yang selama ini dianggap sebagai institusi suci pemburu koruptor, kini harus menghadapi kenyataan bahwa monster yang mereka buru selama ini bersarang di jantung mereka sendiri.
Untuk meredam kemarahan publik dan menghindari tuduhan bahwa kepolisian sedang melakukan balas dendam institusional, sebuah keputusan kompromi diambil di tingkat tertinggi pemerintahan. Penanganan perkara Fahri yang awalnya dipegang penuh oleh KIHK Polri, dilimpahkan kembali berkasnya ke Lembaga Reksa Hukum untuk proses penuntutan.
Namun, agar proses ini dianggap kredibel, Reksa Hukum membentuk "Tim Sembilan"—sebuah tim penyidik independen yang terdiri dari para mantan jaksa berintegritas tinggi dan auditor kawakan yang telah pensiun.
Di dalam ruang interogasi Tim Sembilan, Fahri duduk menghadapi para juniornya yang dulu sangat menghormatinya. Di sampingnya, seorang pengacara senior mendampingi.
"Kami tidak hanya mengejar emas 74 kilo itu, Pak Fahri," kata ketua Tim Sembilan, seorang wanita paruh baya bermata tajam yang terkenal tak bisa disuap. "Kami tahu tentang aliran dana ke yayasan milik Diandra, dan kami tahu tentang keterlibatan konsorsium Dharmawan. Pertanyaannya adalah, apakah Anda akan memikul semua dosa ini sendirian, atau Anda ingin membuka pintu ke menara-menara lain?"
Fahri terdiam lama. Dia melihat bayangan dirinya di kaca satu arah ruang interogasi. Di luar sana, Aditama mungkin sedang mempersiapkan pidato pelantikannya sebagai pejabat baru. Di luar sana, Jenderal Baskoro sedang menikmati cerutunya, yakin bahwa ancaman terhadap dirinya telah sirna. Dan Dharmawan, sang pengusaha, pasti sedang menandatangani kontrak baru penambangan batu bara tanpa ada lagi gangguan.
Fahri mendekatkan wajahnya ke meja, menatap langsung ke mata sang penyidik.
"Sediakan saya kertas dan pena yang banyak," bisik Fahri, suaranya terdengar seperti desis ular yang terluka. "Kita akan menulis sebuah cerita yang sangat panjang. Cerita tentang bagaimana negeri ini sebenarnya dikelola."
Di luar gedung, angin kencang berembus, membawa mendung hitam yang menandakan bahwa badai di beranda Reksa Hukum barulah sebuah permulaan dari perang yang sesungguhnya.