Anjani membeli kutek baru dari toko online yang menjual pernak-pernik khusus Demon Aksesoris. Siapa sangka, kutek tersebut malah membawa petaka untuk dirinya.
#BarangDiSekitar
Selamat membaca :)
***
Bara menyipitkan matanya, kala melihat kuku Anjani, puterinya. Kuku Anjani terlihat sangat panjang di setiap jemarinya yang lentik. Setiap kuku Anjani memiliki warna yang indah, dan gambar-gambar yang terlihat lucu dan menarik setiap kukunya.
"Anjani, kuku milikmu terlalu panjang. Tolong, segera potong," tegur Bara pada Anjani yang sedang menjepit sendok untuk mengambil nasi masuk ke dalam mulutnya.
"Ini lagi trend, ayah. Mengapa harus potong? dengan kuku panjang, maka seni gambar kuku akan makin bagus terlihat."
"Potong! Ayah tidak ingin melihat kuku panjang. Kuku panjang, bisa membawa banyak kuman."
"Aku makan menggunakan sendok, bukan tangan." Anjani mengacungkan sendoknya ke udara.
Bara menghela napas, dan menaikkan suaranya, "Kuku panjang itu seperti kuku Iblis. Harus potong! aku tidak mau melihat puteriku seperti iblis."
"Aku tidak mau potong. Lebih baik, jadi iblis cantik dengan kuku panjang."
"Anjani. Jangan membatah! Ayah tidak suka!" tegur Ayahnya terdengar naik pitam.
Pletak! Anjani melepaskan sendok dan garpu di atas piringnya. Dia kehilangan nafsu makannya.
"Anjani!" sebut Bara dengan nada yang melengking. Kesal, karena anak remajanya terlihat suka membantah.
Anjani tidak peduli. Dia mendorong kursinya ke belakang, dan berkata, "Aku kenyang!"
"Anjani, mengapa kau berteriak di hadapan ayahmu?" suara wanita paruh baya keluar dari dapur, dengan sepasang tangan yang memegang telinga mangkok sup panas.
Anjani memainkan kukunya, dan bergindik dengan bibir yang dia cibirkan. Dia tidak menyukai kehadiran Sarah.
"Kau hanya ibu tiri. Tidak perlu ikut campur-"
Plak! Belum selesai kalimat Anjani. Satu tamparan telah melayang di udara,dan menyentuh pipinya dengan sangat keras. Terlihat jelas, lima jari membekas dengan warna merah. Pukulannya sangat pedas mengenai ulu hati Anjani.
"Ayah jahat, membela wanita itu dan menamparku!" Anjani murka. Kesal dan menangis kemudian.
Bara menatap telapak tangannya. Dia menyesal telah memukul Puteri semata wayangnya. Sedangkan, Sarah tertawa tanpa suara di belakang punggung Bara, dengan sengaja mengejek Anjani.
Anjani menggigit ujung bibirnya,air matanya tumpah membasahi kedua belah pipinya. Dia segera meninggalkan ruang makan. Naik ke tangga dengan berlari, menuju kamarnya.
Blam! Anjani menutup pintu dengan keras. Mengejutkan Bara yang sedang bersiap akan kembali menyatap makan malamnya, bersama Sarah yang terlihat memberi komentar.
"Anakmu, sangat tidak sopan. Akan jadi apa jika dia besar? pembunuh? Sangat kasar pada orang yang lebih tua."
"Dia puteriku. Sopan ataupun tidak sopan dirinya, karena ajaranku. Jangan mengkritik puteriku lagi," ujar Bara tidak senang akan umpatan Sarah.
Bara hanya menatap nanar akan pintu kamar Anjani di lantai 1, yang telah merapat pada kusennya. Perlahan, ritma jantung Bara terdengar melambat, dia berusaha menyabarkan dirinya sendiri melihat peringai puterinya, dan mulai menyalahkan dirinya sendiri, yang telah membuat Anjani memiliki karakter keras kepala seperti ini.
***
Anjani masuk ke dalam kamarnya. Mengatur napasnya, menghapus air matanya, karena rasa kesal pada ayah dan ibu tirinya. Lalu, dia duduk di meja riasnya. Awalnya, dia berniat memotong kukunya pada malam hari. Namun, dia mengurungkan niatnya. Kala, sepasang matanya mendapati cat kutek yang belum pernah dia gunakan.
Seminggu yang lalu, Anjani membeli dari sebuah toko online Demon Aksesoris, yang menjual semua produk dengan setengah harga. Sebelumnya, Anjani tidak pernah tertarik menggunakan Kutek tersebut. Karena warnanya hitam pekat.
Anjani mengambil botol kutek berisikan cairan hitam tersebut. Di belakangnya terdapat deskripsi kutek tersebut, diapun membacanya.
"Kutek yang mampu membuatmu terlihat mengerikan dan sangat kuat dalam satu malam. Jangan menggunakannya, jika kau tak ingin membahayakan siapapun."
Anjani merasa konyol akan deskripsi kutek tersebut.
"Deskripsi seperti ini hanya untuk menakuti pembelinya. Pantasan, tokonya sekarang sudah tutup."
Anjani merasa penasaran dengan deskripsi kutek, "Aku akan membuktikan bahwa deskripsi ini hanya omong kosong. Lalu, aku akan memberi komentar buruk, walau dia telah menutup akun. Dia menipu pembeli dengan menyebut kutek ini adalah Jimat."
Anjani mengambil penghapus kutek. Membersihkan warna cat kuku indahnya. Kini, dia tertarik menggunakan cat warna hitam dari kutek merk iblis tersebut.
Setelah itu, dia membuka kutek dengan merk iblis tersebut. Menghias setiap kukunya yang panjang dengan warna hitam pekat.
"Seperti kuku Iblis. Nanti, akan kutunjukan pada ayah." Anjani memberi tiupan pada setiap kukunya. Setelah kering, dia segera menjatuhkan dirinya ke kasur. Tidak membutuhkan waktu lama, dia terlelap dengan sangat cepat.
Tetapi, tepat pukul 23.00 wib.
Kala, bulan masih berada di tengah puncak cakrawala. Awan bergerak perlahan menutup bulan. Semesta menjadi gelap gulita.
Anjani yang terlelap. Tiba-tiba saja bergeliat dengan sepasang mata yang sulit dia buka. Matanya terkatup ketat. Tubuhnya bagai ditindih sesuatu yang sangat berat. Bibir merahnya terbuka dan mendesis kebencian.
"Aku benci ayah!" igau Anjani dengan raut wajah terlihat mengerutkan sepasang alisnya bertumpu di atas ujung hidungnya.
"Aku benci ibu tiriku! Aku membencinya, dan ingin membunuhnya," igau Anjani lagi.
Lalu, ketika awan mulai bergeser perlahan, tidak menutupi bulan. Lalu, cahaya bulan yang terlihat mengintip, dan menerobos kan cahaya kuningnya yang makin melebar, mengirimkan cahaya terangnya pada semesta. Di saat itulah, sosok dengan gaun hitam dengan dahi yang terukir tiga angka, 666. Terlihat hadir tanpa kaki yang menginjak lantai. Namun, auranya yang tak dapat di sentuh terlihat jelas dalam satu tampilan.
"Akulah iblis kutek itu." Dia berjalan menngambang di udara, dan mencapai di sisi tempat tidur Anjani. Wajahnya seputih kertas, tidak ada kehidupan dari setiap pupil matanya yang terlihat kosong.
Kukunya sangat panjang dan bewarna hitam. Ujung kukunya perlahan menyentuh wajah Anjani, menggoresnya dalam. Namun, seakan mati rasa, sedikitpun dia terlihat meringis sakit. Padahal bekas goresan kuku tersebut, mengeluarkan darah segar.
Darah yang segar, dan aroma yang menggoda sang iblis. Iblispun menjulurkan lidahnya. Menyesap darah muda tersebut, dengan ujung lidahnya. Sekejap, goresan itu seakan merapat kembali. Menjadi kulit baru, dan tidak meninggalkan bekas.
Lalu, sang Iblispun mendesis berbisik dengan sangat lembut, "Anjani, biarkan aku menguasai ragamu. Maka kau akan menjadi kuat, dan tidak ada seseorang pun yang akan berani memaki dan menampar wajahmu lagi."
Dalam alam bawah sadarnya, dengan raut wajah polos yang terlihat tertidur. Anjani, mampu mendengarkan bisikan seakan telah menghipnotis kehidupannya.
"...." Anjani menganggukan kepalanya tanpa sadar, memeberi persetujuan akan permintaan iblis tersebut.
"Kau bersedia menjual hidupmu untukku?"
Anjani menganggukan kepala lagi.
Anjani kembali terlihat terlelap sesaat. Namun, ketika sang iblis itu mulai berubah wujud menjadi sosok angin bewarna hitam. Anjani bergeliat kembali. Namun, sepasang matanya tetap sulit dia buka. Seluruh tubuhnya bagai terkunci, sulit di gerakkan.
Lalu ... swosh ... serasa sosok angin bewarna hitam yang membawa suhu yang sangat dingin, bahkan bisa meremukkan tulang, merasuk diri Anjani melalui hidung dan lubang telinga gadis itu.
Blep! Sang iblis masuk ke dalam raga Anjani. Iblis menguasai raga Anjani. Anjani memberotak, ketika perlahan sakit yang sangat kuat mulai menyerang seluruh sendi dan panca inderanya. Anjani menangis kesakitan. Sepasang matanya meneteskan air mata darah bewarna hitam. Peluh keringat pun membanjir dari kening dan punggungnya pun basah. Tetesan keringatpun bagai cairan darah hitam yang merembes dari seluruh pori-pori kulitnya.
"Arggggg ...," erang Anjani keras dan mengejutkan Bara dan istrinya yang sedang terlelap di dalam kamar mereka.
"Ayah, Anjani berteriak. Mari kita melihat."
Bara menaggukan kepala, menyibakkan selimutnya, mengambil alas tidur. Dia dan istrinya, segera berlari ke kamar Anjani.
"Arggg! sakit ..., to-long!" teriak Anjani lirih dan membawa rasa khawatir bercampur perih hati Bara yang mendengar dari luar.
Memegang kenop pintu, dan memutar kenop. Pintu tidak terbuka. Pintu kamar Anjani, terkunci.
"Sial," runtuk Bara.
Tok.Tok.Tok.
Bara mengetuk pintu dengan keras.
"Anjani buka pintunya!" teriak Bara.
Anjani yang terbaring, perlahan membuka matanya. Sepasang pupil terlihat akan keluar dari perumahan nya, dan kosong.
Penyatuan telah terjadi. Jiwa iblis telah berada dalam tubuh Anjani yang terlihat menyerap kekuatan yang bisa membakar siapapun. Kukunya tumbuh lebih panjang, dan mengerikan.
"Anjani!" teriak Bara, dan brakk! daun pintu terhempas menabrak dinding dengan keras.
Bara melotot, begitupula istrinya. Ketika, pintu terbuka lebar. Mereka yang berdiri di garis pintu, membeku tidak mampu berkata satu katapun. Lalu, rasa gemetar menguasai sepasang kaki mereka.
Tubuh Anjani mengambang di udara. Dia berdiri tanpa menginjak lantai, rambutnya berkibar-kibar. Sepasang matanya melotot kosong. Bibirnya menyeringai seakan haus darah. Lalu, seluruh isi kamarnya, perlahan mengambang ke udara.
Anjani menatap ibu tirinya, "Aku membencimu. Kau jahat dan menipu ayahku."
Sarah melotot mendapat tuduhan anak tirinya.
"Kapan aku menipu ayahmu?"
Anjani melotot dan tubuhnya melayang mendekati Sarah, ibu tirinya.
"Aku tahu kau berselingkuh dan mencurangi ayahku. Uang ayahku, kau habiskan untuk menghidupi kekasih mudamu."
Sarah terkejut. Tak lama, sepasang tangan Anjani menyentuh batang leher.
"Anjani, jangan!" cegah Bara menarik kuat sepasang tangan Anjani, sehingga terlepas dari leher Sarah, istrinya.
"Dia kesurupan!" seru Sarah Bara yang sangat ketakutan. Mendapat kesempatan, dia segera lari meninggalkan kamar Anjani. Segera keluar rumah, masuk ke dalam mobilnya, dan meninggalkan begitu saja.
Tersisa Bara dalam ruangan, menatap nanar puterinya. Sedikitpun, dia takut akan perubahan puterinya. Sepasang matanya terlihat berkaca-kaca.
"Anjani ...." Ayahnya membuka suara. Memberanikan diri, maju selangkah demi selangkah.
"Aku membencimu!" teriak Anjani.
"Tidak! ini ayah yang mengasihimu, nak ...," lirih Bara sedih, ketika sang puterinya mengutarakan kebencian.
"Ayah, aku membencimu, kau suka membela wanita itu, dan menelantarkanku, hiks ... hiks ..." seru Anjani. Kukunya tumbuh lebih panjang.
"Kau menamparku, hanya karena kuku. Lihatlah, kuku ini tumbuh lebih panjang dan akan membunuhmu," ancam Anjani.
"Jangan Anjani. Kau Puteri yang baik. Jangan melakukan hal yang jahat."
Anjani berjalan di udara, dengan wajah yang menyeringai, raut wajahnya terlihat sangat gelap. Sedikitpun, tidak menerbitkan rasa kasihan.
"Kini, aku adalah iblis berkuku panjang. Bukan puterimu lagi."
Bara memejamkan matanya. Manatap pasrahkan nyawanya.
Jleb! Kuku panjang Anjani menebus daging leher Bara. Menerobos masuk ke dalam daging yang dalam, menembus dalam tulang.
"Anjani, maafkan ayah ...," lirih Bara menyebut nama puterinya sebelum akhirnya dia meregangkan nyawanya, dan memejamkan matanya perlahan.
"Ha ... ha ... ha ...." Anjani terbahak keras tanpa ada penyesalan. Lalu, perlahan Anjani menarik kukunya yang panjang. Kuku panjang Anjani, menciptakan lubang tancapan kuku, yang menyemburkan darah segar bagai air keran yang mengalirkan air darah yang bercucuran membasahi lantai.
Tidak ada penyesalan di wajah Anjani. Dia hanya menatap dengan kosong. Sedetik selanjutnya, dia menghilang. Lenyap tanpa jejak.
Lalu, dia muncul. Duduk di kabin belakang mobil yang Sarah kemudikan.
Sarah terlihat di balik kemudi mobil,dengan penuh konsentrasi melihat jalan yang sangat gelap. sedikitpun dia tidak menyadari kehadiran Anjani dalam sosok gelap dengan jubah putihnya.
"Hi ... hi ... hi ...," kikik Anjani.
Mendengar suara tertawa hantu. Sarah terkejut, kala melihat kaca spion tengahnya. Tidak yakin akan bayangan cermin. Dia menoleh ke kabin belakang. Terlihat Anjani melepaskan kepalanya, berpisah dengan tubuhnya. Sarah membelalakkan matanya. Raganya menjadi sangat kaku, dan dia kehilangan kendali akan setirnya. Mobilnya oleng melewati batas jalur arus mobil yang berlawanan.
Sebuah truk datang dari arah berlawanan, dan menabrak mobil Sarah. Tidak bisa di hindari, Truk menghantam mobil Sarah. Mobil Sarah oleng, dan bergelinding dua kali, dan terbalik.
Lalu, dumm! mobil terbakar seketika.
Sedangkan mobil Truk terbalik ke samping kiri. Sopir truk terlihat tidak sadarkan diri, dengan kening yang terluka.
Lalu, sosok jubah putih terlihat berdiri di sisi jalan terjauh. Kuku panjangnya terlihat kembali ke ukuran semula. Sosok jiwa hitam, berhembus keluar dari punggung Anjani. Memisahkan raganya.
Anjani mengedipkan matanya, melihat kobaran api. Kakinya. seperti agar-agar, lunyut seketika menabrak tanah yang berbatuan.
"Ada apa ini?" Anjani terlihat bingung melihat mobil yang terlihat familiar di depan matanya, terbakar. Lalu, sebuah truk terbalik. Mengejutkan Anjani.
"Aku sudah membalasnya untukmu. Setiap orang yang kau benci telah menemui ajalnya. Ayahmu mati tertancap kuku panjangmu, ibu tiriku mati terbakar."
Anjani terkejut akan pengakuan tersebut. Ayahnya mati. Dia tidak menginginkan kematian ayahnya. Anjani memberanikan diri, menoleh ke asal suara.
"Kau siapa?" Anjani ketakutan. Sepasang matanya berkaca.
"Kau tidak perlu tahu. Kau hanya tahu, untuk menjaga kukumu. Jangan pernah melepas kuku panjang itu. Kuku panjang hitam, adalah simbolisme iblisku."
"Hah?" Anjani menatap kukunya. Perasaan ngeri dan takut menjalar ke seluruh raganya. Namun, sosok hitam itu menghilang dalam sekejap, dan hanya menyisakan suara yang menggelegar di udara kembali.
"Aku adalah iblis yang akan melindungmu. Siapapun yang jahat padamu, aku akan menghabisinya."
" Tidak! aku tidak mau seperti ini," teriak Anjani jatuh pingsan.
***
Anjani terbangun, bersamaan dengan gorden yang di tarik terbuka, dan sinar matahari yang baru saja muncul, menerobos masuk memberikan penerangan.
Anjani menatap kaku sesaat. Melihat Bara tampak nyata, di depan matanya.
"Ayah, kau masih hidup?" tanya Anjani seraya turun dari ranjangnya, memeluk ayahnya. Nyata. Ayahnya masih hidup.
"Kau pasti bermimpi buruk," tebak ayahnya.
Anjani menganggukan kepalanya. Lalu, menangis dalam pelukan ayahnya, dan dengan suara serak berkata, "Potong saja kuku ku ayah. Aku takut menjadi iblis yang akan membunuhmu. Hiks!"
Bara pun dengan senang hati mengeluarkan gunting kuku dari saku celananya.
"Ibu mana? Sarah?" Anjani terlihat mencari sosok ibu tirinya.
Bara mengeryitkan kening. Lalu, dia menghela napas panjang. Menunjukkan raut kesedihan.
"Sarah mengalami kecelakaan. Malam tadi mobilnya terbakar. Dia berselingkuh. Diam-diam mengkhianati ayah. Tuhan menghajarnya. Dia dan kekasih gelapnya, mati terbakar."
"Hah?" Anjani terkejut.
"Sekarang, mayat mereka masih di otopsi. Jadi, belum bisa di semayamkan. Semoga mereka di terima di sisi Tuhan. Ayah iklas memaafkan mereka."
Anjani memeluk ayahnya lebih ketat, dan menangis ketakutan. Mimpinya malam tadi. Terlihat setengah nyata. Setengahnya tidak. Anjani menatap kukunya yang panjang, bewarna hitam. Lalu, sepasang matanya menatap botol kutek iblis tersebut.
Apakah kau benar ada? Terimakasih, pesan Anjani dalam hatinya pada kutek iblis tersebut.
Tamat.
***
#BarangDisekitar