Sekolah itu terasa berbeda.
Tidak ada lagi suara guru yang menjelaskan pelajaran, tidak ada lagi siswa yang sibuk mengerjakan tugas atau berlarian mengejar bel masuk. Setelah dinyatakan lulus, kami datang hanya untuk satu keperluan—latihan paduan suara yang akan ditampilkan saat wisuda nanti.
Aula sekolah dipenuhi suara nyanyian yang sesekali terdengar sumbang karena kami masih berusaha menyamakan nada.
"Yang sopran lebih keras sedikit, ya!" ujar guru musik dari depan.
Latihan berlangsung hampir dua jam. Setelah lagu terakhir selesai, kami mulai membubarkan diri.
"Capek juga, ya."
"Iya, tapi bentar lagi wisuda."
Satu per satu teman berpamitan. Ada yang dijemput orang tuanya, ada yang langsung pulang naik motor.
Sekitar pukul dua siang, yang masih bertahan hanya beberapa orang.
Ayla, Tika, Ifa, Afni, Azkia, Nayla, Khansa, Raka, Bagas, Ijal, dan seorang siswi dari kelas lain.
Mereka memilih duduk di depan aula sambil melihat adik kelas yang sedang berlatih untuk penampilan wisuda.
Tak lama kemudian, satu per satu kembali pulang.
"Guys... duluan ya."
"Hati-hati!"
Sekitar pukul tiga sore, Ijal dan Ista pun berpamitan.
Kini hanya tinggal tiga orang.
Ayla.
Tika.
Dan Raka.
Tika masih asyik mengobrol dengan salah seorang guru di dekat lapangan.
Sementara Ayla berdiri memperhatikan beberapa adik kelas yang sedang bermain bulutangkis.
Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
"Ay."
Ayla menoleh.
Raka berdiri sambil memegang raket.
"Mau main?"
Ayla sedikit terkejut.
"Main?"
"Iya. Mumpung ada raket."
Ia menatap lapangan sebentar, lalu mengangguk.
"Boleh."
Mereka meminjam raket dari adik kelas.
Pertandingan kecil itu pun dimulai.
Pukulan pertama Ayla langsung menyangkut di net.
Raka tertawa kecil.
"Itu belum dihitung."
"Ih, ulang."
"Oke, ulang."
Ayla mengambil shuttlecock lalu melakukan servis lagi.
Kali ini berhasil.
Mereka mulai saling mengembalikan kok.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
"Awas!"
"Eh!"
Shuttlecock jatuh tepat di depan kaki Ayla.
"Yah."
"Poinku."
"Gampang banget senyumnya."
"Soalnya nambah satu."
Ayla terkekeh.
"Belum selesai juga."
Permainan kembali berlanjut.
Sesekali mereka harus berlari mengejar shuttlecock yang terbawa angin.
Sesekali mereka sama-sama tertawa ketika pukulan meleset jauh.
Suasana sore itu terasa ringan.
Tanpa beban.
Tanpa canggung.
Setelah beberapa menit bermain, Raka berhenti sambil mengusap keringat di dahinya.
"Ay."
"Hm?"
"Kamu capek nggak?"
Ayla menggeleng.
"Nggak."
"Serius?"
"Iya."
"Yaudah."
Permainan kembali dimulai.
Beberapa menit kemudian justru Ayla yang bertanya.
"Emang kamu udah capek?"
Raka menggeleng.
"Belum sih."
"Kirain."
Mereka kembali tertawa.
Entah sudah berapa kali shuttlecock berpindah dari satu raket ke raket lainnya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Sampai akhirnya Raka menurunkan raketnya.
"Ay."
"Hm?"
"Aku udah capek."
Ayla tersenyum.
"Yaudah, kalau gitu udahan aja."
"Iya."
Mereka mengembalikan raket kepada adik kelas lalu berjalan menuju gedung kelas.
Tubuh Ayla terasa lengket oleh keringat. Hijab yang dikenakannya membuat hawa panas semakin terasa.
Begitu sampai di kelas, ia langsung masuk lebih dulu.
Ruangan itu kosong.
Ayla buru-buru membenarkan pakaiannya.
Baru beberapa detik kemudian terdengar suara pintu.
Ceklek.
Ia spontan menoleh.
"Eh... bentar, jangan masuk dulu."
Raka yang sudah setengah melangkah langsung berhenti.
"Hah?"
"Aku lagi benerin ini."
Raka langsung memalingkan wajah.
"Eh, maaf... maaf. Aku nggak tahu."
Ia kembali keluar sambil menunggu di depan pintu.
Beberapa saat kemudian terdengar suaranya dari luar.
"Udah belum, Ay?"
"Udah."
"Boleh masuk?"
"Iya."
Raka masuk sambil tersenyum kecil.
Ayla keluar sebentar mengambil ponselnya yang tertinggal di tas.
Ketika kembali ke kelas, Raka sudah duduk di dekat tembok sebelah kanan, tepat di bawah kipas angin.
Ayla memilih duduk di sisi kiri.
Jarak mereka cukup jauh.
Beberapa bangku kosong memisahkan keduanya.
Di luar kelas, suara Tika masih terdengar samar sedang berbincang dengan guru.
Tak lama kemudian, dua orang guru melirik ke arah dalam kelas.
Sekali.
Lalu dua kali.
Bahkan sempat berhenti di depan pintu.
Ayla tersenyum kecil.
Raka hanya menunduk sambil tersenyum canggung.
"Pak..." terdengar suara Tika sambil tertawa kecil.
"Aman kok. Mereka mah kalau ngobrol nyambung. Nggak bakal ngapa-ngapain juga."
Guru itu ikut tertawa sebelum akhirnya berjalan pergi.
Suasana kembali hening.
Hanya suara kipas angin yang terus berputar di langit-langit kelas.
Dari luar hanya terdengar suara adik kelas yang masih berlatih dan sesekali suara peluit guru olahraga. Angin dari kipas di langit-langit berembus pelan, cukup membuat hawa panas setelah bermain bulutangkis perlahan menghilang.
Ayla duduk sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Raka duduk beberapa bangku di belakangnya, tepat di sisi kanan kelas.
Mereka tidak saling berhadapan.
Tidak pula duduk berdekatan.
Hanya dua orang yang kebetulan sama-sama menikmati angin dari kipas.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.
Raka-lah yang akhirnya membuka suara.
"Ay..."
"Hm?"
"Kamu nanti jadi kuliah, kan?"
"Iya, insyaallah."
"Di kota sini?"
"Iya. Kalau semuanya lancar."
Raka mengangguk pelan.
"Bagus."
Ayla menoleh sedikit.
"Kalau kamu?"
Raka tersenyum tipis, lalu mengembuskan napas panjang.
"Itu dia yang lagi aku pikirin."
"Kenapa?"
"Aku bingung."
"Bingung milih kerja?"
"Iya."
"Emang ada pilihan apa aja?"
Raka mengangguk.
"Ada yang nyuruh aku masuk PT dulu."
"PT mana?"
"Belum tahu. Pokoknya kerja dulu."
"Terus?"
"Soalnya aku pengen ke Jepang."
Ayla menoleh penuh perhatian.
"Makanya kalau kerja di PT kan pulangnya tiap sore. Masih bisa belajar bahasa." Lanjutnya.
"Iya juga."
"Tapi..."
Raka mengusap tengkuknya.
"...ada juga tawaran kerja di kapal."
"Yang pulangnya lama itu?"
"Iya."
"Gajinya lumayan?"
"Jauh lebih besar."
"Terus kenapa masih bingung?"
"Soalnya kalau kerja di kapal, pulangnya bisa sebulan sekali. Bahkan dua bulan."
Ayla mengangguk pelan.
"Berarti susah belajar."
"Nah."
"Kalau menurutku..."
"Apa?"
"...balik lagi ke tujuan kamu."
"Tujuanku?"
"Iya. Kalau memang Jepang yang kamu kejar, mungkin pilih jalan yang bikin kamu lebih dekat ke sana."
Raka diam beberapa saat.
"Nah... itu."
"Itu apa?"
"Itu juga yang lagi aku pikirin."
Mereka kembali diam.
Suasana tidak terasa canggung.
Justru tenang.
Seolah mereka memang sedang bertukar pikiran, bukan sekadar mengobrol.
Beberapa detik kemudian Raka kembali berbicara.
"Jujur ya, Ay."
"Hm?"
"Aku tuh nggak betah di rumah."
Ayla tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Kalau cuma diem di rumah, aku malah gelisah."
"Gelisah gimana?"
"Kayak..."
Ia berpikir sebentar.
"...ngerasa semua orang lagi jalan, sementara aku diem di tempat."
Ayla mengangguk pelan.
"Aku ngerti."
"Makanya aku sering cari kegiatan."
"Pantes tadi kamu datang."
"Niatnya sih nyari-nyari info."
"Info apa?"
"Ya... kerja, kuliah, apa aja."
"Lah terus?"
Raka tertawa kecil.
"Malah keterusan ngobrol sama kamu."
Ayla ikut tersenyum.
"Gapapa."
"Habis ini kayaknya aku langsung pulang."
"Loh, nggak jadi nyari infonya?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Soalnya..."
Raka tersenyum sambil menatap keluar jendela.
"...udah ada teman buat diskusi."
Kalimat itu membuat Ayla hanya tersenyum kecil.
Ia tidak menyangka sore itu justru dirinya yang menjadi tempat Raka mencurahkan isi pikirannya.
"Kalau di rumah," lanjut Raka, "teman-temanku nggak ada yang suka bahas beginian."
"Beginian?"
"Iya."
"Maksudnya masa depan?"
"Iya."
"Kalau kumpul bahas apa?"
"Game, motor, dan lain-lain lah, banyak."
Ayla tertawa kecil.
"Udah?"
"Udah."
"Nggak pernah bahas kerja?"
"Jarang."
"Kuliah?"
"Apalagi."
Ayla mengangguk.
"Pantes kamu bilang bingung mau cerita ke siapa."
Raka tidak menjawab, hanya menatap.
"Kadang emang enak kalau ada teman yang bisa diajak tukar pikiran."
"Iya."
Untuk beberapa saat mereka kembali menikmati suara kipas yang berputar.
Sinar matahari mulai berubah menjadi lebih hangat.
Raka menundukkan kepalanya.
"Ay..."
"Hm?"
"Sebenarnya aku takut."
Ayla menoleh.
"Takut apa?"
"Aku takut nanti nggak jadi apa-apa."
Ruangan kembali hening.
"Aku takut nggak punya gelar."
Ia menarik napas.
"Aku juga takut nggak punya karier."
Ayla memandangnya beberapa detik sebelum menjawab pelan.
"Kalau boleh jujur..."
"Hm?"
"Aku juga pernah mikir begitu."
"Serius?"
"Iya."
"Takut kalau nanti ternyata hidup nggak sesuai sama yang kita rencanain."
"Iya..."
"Tapi kita kan belum tahu."
Raka mengangguk.
"Yang penting sekarang jangan berhenti berusaha."
"Iya."
"Kalau sekarang udah nyerah, nanti malah nggak akan tahu hasilnya."
Raka tersenyum tipis.
"Kamu kalau ngomong selalu tenang ya."
Ayla tertawa kecil.
"Padahal aku juga sering overthinking."
"Serius?"
"Iya."
"Kukira kamu santai aja."
"Nggak juga."
Raka mengangguk pelan.
Lalu ia memandang keluar jendela.
"Ay..."
"Hm?"
"Aku berharap nanti aku bisa sukses."
"Aamiin."
"Nggak aku doang."
Ia tersenyum.
"Tapi kita semua."
Ayla ikut tersenyum.
"Iya."
"Semoga nanti, apapun jalan yang kita pilih..."
"...kita sama-sama sampai."
Raka mengangguk pelan.
"Aamiin."
Tak terasa percakapan mereka terus mengalir.
Dari pekerjaan, kuliah, keluarga, teman-teman di rumah, sampai mimpi-mimpi yang belum tentu bisa mereka capai.
Mereka tidak sadar, waktu sudah hampir menunjukkan pukul lima sore.
Sore itu, tidak ada dua orang yang sedang saling menyatakan perasaan.
Yang ada hanyalah dua orang yang pernah lama tidak saling berbicara, lalu tanpa direncanakan kembali dipertemukan oleh sebuah percakapan yang sederhana.
Percakapan yang mungkin tidak akan pernah mereka ulang lagi.
~
Tanpa terasa cahaya matahari mulai berubah.
Sinar yang sejak tadi memenuhi lantai kelas perlahan bergeser, memanjang hingga menyentuh kaki meja dan kursi yang kosong.
Suara adik kelas di lapangan mulai berkurang.
Latihan mereka sepertinya juga hampir selesai.
Raka melirik jam di pergelangan tangannya.
"Eh..."
Ayla ikut melihat ke arahnya.
"Kenapa?"
"Udah jam segini aja."
Ayla mengambil ponselnya.
"Loh..."
Ia sedikit terkejut.
"Hampir jam lima."
Raka tertawa pelan.
Keduanya sama-sama tersenyum.
Percakapan yang sejak tadi begitu panjang akhirnya mulai mereda.
Bukan karena kehabisan bahan cerita.
Melainkan karena masing-masing sadar bahwa hari mulai sore.
Raka berdiri lebih dulu.
Sambil meraih tasnya, ia menepuk-nepuk celana yang sedikit berdebu.
Ayla juga berdiri.
Ia membenarkan letak hijabnya yang sedikit berantakan.
"Pulang dulu ya, Ay."
"Iya."
"Kamu juga hati-hati."
"Iya, kamu juga."
Sesederhana itu.
Tidak ada jabat tangan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada janji, "Nanti kita ketemu lagi."
Bahkan tidak ada ucapan perpisahan yang terdengar istimewa.
Raka melangkah lebih dulu menuju pintu kelas.
Sesaat sebelum keluar, ia menoleh sebentar.
"Duluan ya."
Ayla mengangguk kecil.
"Iya."
Lalu langkah itu benar-benar menjauh.
Suara sepatunya perlahan menghilang di lorong sekolah.
Ayla masih berdiri beberapa detik di dalam kelas yang kini kembali kosong.
Kipas angin masih berputar seperti sebelumnya.
Bangku-bangku masih tersusun rapi.
Seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Padahal, hampir dua jam telah berlalu bersama percakapan yang tak pernah mereka rencanakan.
Ayla kemudian mematikan kipas angin sebelum berjalan keluar kelas.
Lorong sekolah mulai lengang.
Matahari sudah turun lebih rendah dari biasanya.
Langit perlahan berubah jingga.
Di kejauhan, suara kendaraan mulai terdengar silih berganti.
Hari itu berakhir seperti hari-hari biasa.
Namun ada satu hal yang terasa berbeda.
Setelah sekian lama hanya saling mengenal dari kejauhan, sore itu mereka kembali menjadi dua orang yang benar-benar saling mendengarkan.
Bukan sebagai sepasang kekasih.
Bukan pula sebagai dua orang yang saling mengikat janji.
Hanya dua teman yang, di persimpangan setelah kelulusan, dipertemukan oleh waktu untuk saling bertukar cerita tentang mimpi, ketakutan, dan harapan.
Mungkin mereka akan menempuh jalan yang berbeda.
Mungkin kesibukan akan membuat mereka semakin jarang bertemu.
Mungkin suatu hari nanti, mereka hanya akan menjadi nama yang sesekali muncul dalam ingatan.
Namun sore itu akan tetap tinggal.
Sebagai sore ketika dua orang yang pernah lama menjadi asing kembali menemukan hangatnya percakapan.
Di sore yang indah itu, tak ada kata perpisahan yang benar-benar terucap.
Tak ada janji untuk saling menunggu.
Tak ada pula ikatan yang mengharuskan mereka berjalan berdampingan.
Yang ada hanyalah langkah-langkah kecil yang perlahan menjauh ke arah yang berbeda, membawa mimpi masing-masing menuju masa depan yang belum mereka kenal.
Dan mungkin, begitulah beberapa orang ditakdirkan hadir dalam hidup.
Bukan untuk dimiliki.
Bukan pula untuk menetap.
Melainkan untuk mengingatkan bahwa bahkan setelah sekian lama tak saling menyapa, satu sore yang hangat mampu meninggalkan kenangan yang bertahan jauh lebih lama daripada yang pernah mereka bayangkan.
Karena pada akhirnya, ada percakapan yang selesai ketika matahari tenggelam.
Namun kehangatannya tetap tinggal, diam-diam hidup di dalam ingatan, bahkan ketika kehidupan telah membawa mereka melangkah ke arah yang berbeda.