Malam selalu menjadi waktu paling sibuk untuk Raka.
Sebagai mahasiswa semester akhir, ia memilih bekerja paruh waktu menjaga minimarket yang buka dua puluh empat jam. Gajinya memang tidak besar, tetapi cukup untuk membayar kos dan membantu ibunya di kampung.
Shift malam sebenarnya tidak terlalu buruk. Pelanggan hanya datang sesekali. Selebihnya, ia hanya perlu merapikan rak, mengecek stok barang, lalu duduk di belakang kasir sambil mengerjakan skripsi.
Malam itu hujan turun sejak pukul sebelas.
Butiran air menghantam kaca minimarket tanpa henti. Jalan raya yang biasanya dipenuhi kendaraan kini kosong. Lampu jalan berkedip redup, sementara suara petir sesekali mengguncang langit.
Raka melirik jam digital di atas kasir.
02.47.
Pintu otomatis berbunyi.
"Ting."
Seorang perempuan masuk.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambutnya basah kuyup, bajunya lusuh, dan wajahnya terlihat sangat pucat. Ia tidak membawa payung.
Raka langsung berdiri.
"Selamat malam, Bu."
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya berjalan pelan ke arah rak makanan instan.
Raka menganggap mungkin perempuan itu sedang lelah.
Ia kembali duduk.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Perempuan itu masih berdiri di depan rak yang sama.
Tidak mengambil barang.
Tidak bergerak.
Hanya menatap deretan mi instan.
Raka mulai merasa aneh.
Dengan sopan ia menghampiri.
"Maaf, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan itu perlahan menoleh.
Matanya sembap.
Seperti orang yang baru saja menangis berjam-jam.
Dengan suara pelan ia bertanya,
"...Nak, kamu lihat anak perempuan saya?"
Raka menggeleng.
"Maaf, Bu. Saya nggak tahu."
"Dia pakai jaket kuning."
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Katanya cuma mau beli susu."
Raka merasa tidak enak.
"Mungkin Ibu bisa coba telepon."
Perempuan itu mengangguk pelan.
"Lupa..."
"Lupa kalau dia sudah nggak bisa ditelepon."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Raka berdiri.
Sebelum sempat bertanya, perempuan itu sudah berjalan keluar.
Pintu otomatis kembali berbunyi.
"Ting."
Raka mengembuskan napas panjang.
"Mungkin lagi stres..."
gumamnya.
Pukul tiga lewat sedikit.
Seorang sopir ojek online datang membeli kopi.
Saat Raka sedang menghitung uang kembalian, ia iseng bertanya.
"Mas, tadi lihat ibu-ibu keluar nggak?"
"Siapa?"
"Itu... bajunya abu-abu, rambut pendek."
Sopir itu mengernyit.
"Dari tadi saya di depan, Mas."
"Nggak ada siapa-siapa keluar."
Raka tertawa kecil.
"Mungkin saya salah lihat."
Namun, dadanya mulai terasa tidak nyaman.
Sekitar pukul tiga tiga puluh.
Raka berniat mengepel lantai.
Saat ember didorong menuju rak makanan instan, ia melihat sesuatu.
Lantai di depan rak penuh bekas jejak kaki.
Jejak air.
Seolah seseorang berdiri di sana cukup lama.
Yang membuat napasnya tercekat...
Jejak itu hanya ada di satu tempat.
Tidak ada jejak masuk.
Tidak ada jejak keluar.
Hanya jejak kaki yang berhenti tepat di depan rak mi instan.
Raka mencoba berpikir logis.
"Mungkin tadi belum sempat kering..."
Namun ia tahu.
Lantai tadi sudah kering sebelum perempuan itu datang.
Pagi harinya, saat pegawai shift pagi datang, Raka menceritakan kejadian semalam.
Temannya malah langsung diam.
"Kamu lihat perempuan itu?"
"Iya."
"Pakai jaket abu-abu?"
"Iya."
Temannya menarik napas panjang.
"Dua tahun lalu ada kecelakaan di depan minimarket ini."
Raka mengernyit.
"Seorang ibu sama anaknya naik motor."
"Anaknya masuk ke sini beli susu."
"Si ibunya nunggu di luar."
"Belum sempat anaknya keluar..."
"...sebuah truk rem blong."
Raka langsung membeku.
"Anaknya selamat?"
Temannya menggeleng.
"Nggak."
"Ibunya juga?"
"Selamat."
"Tapi setelah itu katanya beliau sering keliling nyari anaknya."
"Setahun kemudian..."
"...beliau meninggal karena sakit."
Raka terdiam cukup lama.
"Terus... kenapa dia ada di sini?"
Temannya mengangkat bahu.
"Nggak tahu."
"Tapi beberapa pegawai malam pernah bilang mereka sering lihat ibu itu berdiri di rak susu atau mi instan."
"Katanya masih nunggu anaknya pulang."
Raka berusaha melupakan cerita itu.
Ia meyakinkan dirinya kalau semua itu hanya kebetulan.
Sampai tiga minggu kemudian.
Shift malam lagi.
Jam menunjukkan pukul 02.47.
Pintu otomatis berbunyi.
"Ting."
Kali ini yang masuk...
Seorang anak perempuan.
Usianya sekitar tujuh tahun.
Memakai jaket kuning.
Ia berjalan ke rak susu, mengambil satu kotak susu cokelat, lalu membawanya ke kasir.
Raka tersenyum gugup.
"Sendirian, Dek?"
Anak itu mengangguk.
"Iya."
"Ibu di mana?"
"Di luar."
Raka melirik pintu kaca.
Hujan turun deras.
Tidak ada siapa-siapa.
Saat ia kembali melihat ke depan...
Anak itu sedang tersenyum.
"Om..."
"Iya?"
"Ibu masih nyari aku ya?"
Raka membeku.
Anak itu menaruh uang di meja kasir.
"Lain kali..."
"...kalau Ibu datang lagi..."
"...tolong bilang aku udah nggak kedinginan."
"...aku juga udah nggak lapar."
"...jadi Ibu boleh pulang."
Air mata Raka hampir jatuh.
Ia membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.
Beberapa detik kemudian...
Pintu otomatis berbunyi sendiri.
"Ting."
Angin dingin masuk dari luar.
Lampu minimarket berkedip sebentar.
Saat Raka menoleh kembali ke arah kasir...
Anak itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanyalah...
Satu kotak susu cokelat.
Dan selembar uang lima ribu rupiah yang sudah kusam, dengan tahun cetak yang bahkan sudah lama tidak beredar.
Seminggu setelah kejadian itu, Raka memutuskan berhenti bekerja.
Bukan karena takut.
Melainkan karena setiap malam, tepat pukul 02.47, pintu minimarket selalu berbunyi.
"Ting."
Kadang tidak ada siapa-siapa.
Kadang terdengar langkah kaki kecil menuju rak susu.
Kadang aroma hujan memenuhi ruangan meski cuaca di luar cerah.
Pegawai lain menganggap sensor pintunya rusak.
Teknisi sudah datang berkali-kali.
Tidak pernah menemukan kerusakan apa pun.
Beberapa bulan kemudian, minimarket itu direnovasi. Tata letak rak diubah, kasir dipindahkan, bahkan pintu otomatis diganti dengan yang baru.
Anehya, bunyi "ting" pada pukul 02.47 tetap terdengar.
Seolah ada seseorang yang masih datang setiap malam.
Bukan untuk menakut-nakuti siapa pun.
Melainkan karena masih menunggu satu kalimat sederhana yang tak pernah sempat diucapkan saat hidup.
"Bu... aku sudah pulang."