BAB 1: Aturan yang Tak Boleh Dilanggar
Aku mengambil kunci rumah sewa itu dengan perasaan campur aduk. Harganya sangat murah, terlalu murah untuk ukuran bangunan yang cukup besar dan terawat di pinggiran kota. Pemiliknya, seorang pria tua yang jarang bicara, hanya menyodorkan selembar kertas kecil berisi aturan tertulis tangan sebelum aku pergi.
"Jangan pernah lupa ini," katanya pelan, matanya menatapku lekat-lekat seolah memperingatkan bahaya maut. "Pelanggaran sekecil apa pun bisa berakibat fatal."
Di atas kertas itu cuma ada tiga baris:
1. Jangan pernah membuka pintu kamar di lantai dua sebelah timur.
2. Kalau mendengar suara ketukan di pintu tengah malam, jangan menjawab atau melihat lewat lubang kunci.
3. Jangan pernah menerima barang apa pun yang diletakkan di depan pintu rumah.
Aku tertawa kecil saat membacanya. Pasti cuma cara pemilik lama menjaga agar rumahnya tidak rusak, pikirku. Hari itu aku pindah sendirian. Rumah itu berdiri di ujung gang yang ditumbuhi semak belukar tinggi, jauh dari rumah tetangga lain. Udara di sini terasa dingin meski matahari masih tinggi, dan ada bau apek samar yang tak hilang meski aku sudah menyemprot pengharum ruangan berkali-kali.
Malam pertama aku tidur nyenyak. Tapi saat bangun subuh, jantungku berdegup kencang tanpa alasan. Aku melirik ke arah pintu depan—dan darahku terasa berhenti mengalir. Di depan pintu, tepat di atas sepatu botku, ada sebuah boneka kain tua berwarna merah pudar. Matanya terbuat dari kancing hitam besar, menatap lurus ke arah kamar tidurku.
Rambutku berdiri tegak. Pintu rumah terkunci rapat dari dalam. Tidak ada orang yang punya kunci selain aku dan pemilik rumah. Aku segera mengambil sapu panjang, mendorong boneka itu ke luar pintu, lalu menyiramnya dengan air dan membuangnya ke tempat sampah di ujung gang. Sepanjang hari itu aku mencoba melupakan hal aneh itu, tapi perasaan gelisah tak hilang.
Malam kedua, hujan turun deras. Jam dinding menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Tiba-tiba terdengar suara ketukan: duk... duk... duk... pelan tapi jelas, dari arah pintu depan.
Aku teringat aturan kedua. Aku diam saja, berbaring erat di balik selimut, berharap orang di luar pergi. Tapi ketukan itu berulang, makin cepat, makin keras. Hingga akhirnya berhenti. Hening sejenak. Lalu terdengar suara bisikan pelan, persis di balik celah pintu:
"Tolong buka... aku lupa bawa kunci..."
Suaranya seperti anak kecil. Hati nuraniku bergejolak. Mungkin ada anak tersesat di tengah hujan deras ini? Tapi pesan pemilik rumah terngiang lagi di telingaku. Aku memilih tetap diam.
Keesokan paginya, aku melihat bekas lumpur di ambang pintu luar. Jejak kaki kecil—sangat kecil, seperti kaki anak balita—berjalan mondar-mandir di depan pintu, lalu berhenti tepat di tempat boneka itu kemarin. Dan yang lebih mengerikan: jejak itu tidak pergi ke mana-mana. Ia berhenti di depan pintu, lalu menghilang seketika, seolah orangnya naik ke atas tembok atau menghilang menembus tanah.
Hari ketiga, rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku naik ke lantai dua. Di ujung lorong, ada pintu kayu cokelat tua yang tertutup rapat, persis seperti yang dilarang dibuka. Gagangnya berkarat, dan di sekeliling bingkai pintu ada garis kapur putih yang sudah pudar.
Aku berdiri di sana cukup lama. Tiba-tiba aku mendengar suara tangisan halus dari dalam kamar itu. Suara perempuan yang sedih sekali, diselingi bisikan yang tak terbaca. Tanganku bergerak sendiri, memutar gagang pintu. Kunci itu ternyata tidak terkunci.
Pintu terbuka perlahan dengan bunyi decitan panjang yang mengerikan.
Di dalam kamar itu gelap gulita. Bau busuk dan bau kamper yang sangat kuat langsung menyergap hidung. Saat aku menyalakan senter, aku terbelalak kaget. Ruangan itu tidak kosong. Di sekeliling dinding, berjejer puluhan boneka kain persis seperti yang kubuang kemarin—berwarna merah pudar, bermata kancing hitam. Dan di tengah ruangan, ada sebuah cermin besar yang ditutup kain putih kotor.
Aku melangkah mendekat, hendak membuka kain penutup cermin itu. Tapi sebelum tanganku menyentuh kain, aku melihat pantulan di lantai kayu yang mengkilap. Di belakangku, berdiri sosok perempuan kecil bergaun merah lusuh. Rambutnya panjang menutupi seluruh wajahnya, dan tangannya kurus panjang sedang terulur hendak mencengkeram bahuku.
Aku berbalik secepat kilat. Tidak ada siapa-siapa di belakangku.
Napasku memburu. Aku berniat segera lari keluar ruangan itu. Tapi saat aku berbalik badan, aku melihat sesuatu di cermin yang belum tertutup kain sepenuhnya. Di pantulan itu, aku melihat diriku berdiri diam di tempat, sementara sosok bergaun merah itu sedang berdiri tepat di pundakku, menempel erat seperti bayangan.
Tiba-tiba pintu kamar di belakangku terbanting tertutup kuat. Lampu senterku mati seketika. Dan di kegelapan total, aku mendengar suara bisikan yang sama persis di telinga kananku:
"Kamu melanggar aturan pertama. Sekarang giliranmu yang tinggal di sini..."
Aku meraba-raba dinding hendak mencari jalan keluar, tapi tanganku menyentuh benda yang lembut dan basah. Saat itu juga cahaya kecil menyala di sudut ruangan. Aku melihat bahwa benda yang kuraibukan adalah tangan boneka—dan semua boneka di sekelilingku kini sudah berubah posisi, semuanya menatap lurus ke arahku dengan mulut terbuka lebar.
Sore itu aku berniat meninggalkan rumah ini secepat mungkin. Tapi saat aku mengambil tas di ruang tamu, mataku tertuju pada pantulan cermin lemari besar di sudut ruangan. Di sana, aku melihat diriku tersenyum lebar—senyum yang tak pernah aku buat dalam hidupku. Dan di belakang pantulanku, tertulis dengan darah merah di dinding:
"Kamu tidak menyimpan boneka itu. Jadi kamu yang akan menggantikannya."
Di luar, langit mendadak gelap total meski baru jam tiga sore. Dan aku mendengar suara ketukan lagi, kali ini dari arah dalam lemari.