Suasana di ruang tengah rumah joglo itu tegang. Napas Mbah Sastro terdengar tersengal-sengal. Tangannya mencengkeram dada.
"Pak Darto! Cepat ke sini!" teriak Bu Lastri. Wajahnya pucat dan air matanya mulai jatuh.
Gilang berjongkok di samping Mbah. Ia meletakkan buku tua yang tadi ia temukan di loteng di sampingnya.
"Mbah, kuat ya Mbah," kata Gilang.
Suaranya berusaha setenang mungkin, padahal jantungnya masih berdegup kencang.
Sepuluh menit kemudian, Pak Darto datang dengan napas ngos-ngosan. Ia adalah dukun desa. Tubuhnya gemuk, berkeringat, dan membawa tas kain besar berisi botol-botol.
"Geser, geser," kata Pak Darto sambil menyingkirkan semua orang.
Ia memeriksa nadi Mbah Sastro lalu mengusap-usap punggungnya.
"Nggak apa-apa. Ini gula darahnya naik karena kepikiran," ujar Pak Darto.
Nadanya lega. "Istirahat aja, Mbah."
Setelah Mbah tertidur di kamarnya, suasana rumah baru tenang. Bu Lastri langsung sibuk membuatkan teh jahe. Dewi duduk diam di pojok, matanya tidak lepas dari buku yang ada di tangan Gilang.
Gilang menatap Pak Darto. Ia harus bertanya.
"Pak," panggil Gilang. Nada suaranya serius.
Pak Darto menoleh sambil menyeka keringat. "Kenapa, le?"
"Saya nemu buku ini di loteng," kata Gilang sambil mengangkat buku itu.
"Isinya tentang perjanjian tahun 1996."
Ekspresi Pak Darto langsung berubah. Senyumnya hilang. Ia menatap buku itu lama, lalu menatap Gilang.
"Dari mana kamu tahu soal itu?" tanya Pak Darto. Suaranya rendah.
"Saya baca, Pak. Di sini tertulis ada tumbal tiap 30 tahun. Dan tumbal berikutnya tahun ini," jawab Gilang.
Ia menahan emosinya. "Itu maksudnya apa?"
Pak Darto menghela napas panjang. Ia duduk di kursi dan menuang teh ke gelasnya, tapi tangannya gemetar sampai airnya tumpah.
"Le... buku itu harusnya sudah dibakar," kata Pak Darto.
"Itu bukan urusanmu."
"Bukan urusan saya? Di situ tertulis nama keluarga saya, Pak!" balas Gilang.
Ia mulai frustrasi. "Mbah sakit karena ini, kan?"
Pak Darto diam. Ia melirik ke arah kamar Mbah, lalu berbisik.
"Iya. Mbahmu kepikiran terus. 30 tahun lalu, beliau membuat perjanjian dengan Penunggu Alas Gendheng. Waktu itu Merapi mau erupsi besar. Desa ini bisa rata kalau nggak ada yang nolong."
"Terus?" desak Gilang.
"Imbalannya... satu nyawa dari keluarga Sastro," jawab Pak Darto pelan.
"Tumbal pertama itu ibumu, Sumi. Dia meninggal tenggelam di kali tahun 1996."
Gilang terdiam, dadanya terasa sesak. Jadi Bu Lastri bukan ibu kandungnya.
"Lalu sekarang giliran saya?" tanya Gilang dengan suara tercekat.
Pak Darto mengangguk pelan. "Jatuh temponya malam 1 Suro. Tujuh hari lagi, le."
Keheningan memenuhi ruangan. Hanya terdengar suara hujan yang mulai turun di luar.
Malam itu Gilang tidak bisa tidur. Ia membawa buku itu ke kamarnya dan membacanya berulang kali. Halaman demi halaman berisi tulisan tangan Mbah Sastro. Ada daftar sesajen, mantra, dan sketsa.
Di salah satu halaman ada gambar. Gambar seorang makhluk besar bertubuh seperti manusia, tapi penuh bulu hitam. Matanya merah. Di bawahnya tertulis: Kang Karto, Penunggu Alas Gendheng.
"Tok... tok..."
Pintu kamarnya diketuk pelan.
"Siapa?" tanya Gilang.
"Aku, Mas," jawab suara Dewi dari luar.
Gilang membuka pintu. Dewi berdiri di sana dengan membawa selimut dan bantal. Wajahnya terlihat pucat.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Gilang.
"Aku takut tidur sendirian," jawab Dewi.
Ia masuk dan duduk di lantai. "Mas, kamu udah baca bukunya ya?"
Gilang mengangguk.
"Dheweke udah datang," bisik Dewi.
Matanya menerawang ke arah jendela.
"Siapa?"
"Kang Karto," jawab Dewi.
"Aku lihat dia berdiri di bawah pohon beringin. Dia nungguin kamu."
Gilang merinding. Ia mengikuti arah pandangan Dewi. Di luar gelap dan hanya ada rintik hujan.
"Kamu bisa lihat dia?" tanya Gilang.
Dewi mengangguk. "Sejak kecil. Tapi dia nggak jahat, Mas. Dia... marah karena merasa dibohongi."
Keesokan paginya, Gilang memutuskan untuk menemui Sari. Sari adalah teman masa kecilnya dan sekarang bekerja sebagai bidan di puskesmas desa. Mungkin Sari bisa membantunya berpikir jernih.
Rumah Sari sederhana, catnya biru muda. Saat Gilang datang, Sari sedang menyiram tanaman.
"Gilang?" Sari terkejut.
"Kamu kapan pulang?"
"Kemarin sore," jawab Gilang.
"Bisa ngobrol sebentar?"
Sari mengangguk dan mempersilakannya masuk.
Di ruang tamu, Gilang menceritakan semuanya. Tentang buku itu, tentang perjanjian dan tentang tumbal.
Sari mendengarkan dengan serius, alisnya berkerut.
"Kamu yakin ini bukan cuma cerita orang tua, Gil?" tanya Sari.
"Aku nggak tahu, Sar. Tapi semalam aku lihat pocong di sumur. Dan Mbah sakit setelah aku baca buku ini," jawab Gilang.
Sari menggigit bibirnya. Ia berpikir sejenak.
"Oke. Kalau gitu kita harus cari tahu lebih banyak. Kita temui Pak Darto lagi. Tanya detail perjanjiannya. Pasti ada celah."
"Buat apa?" tanya Gilang.
"Buat mutusin perjanjian itu," jawab Sari mantap.
"Masa kita harus pasrah."
Malam berikutnya sesuai rencana, Gilang, Sari, dan Pak Darto berkumpul di pendopo. Hujan turun rintik-rintik.
"Kita harus ke Alas Gendheng malam ini," kata Pak Darto.
"Harus bicara langsung sama Kang Karto."
"Berbahaya, Pak," kata Sari.
"Memang berbahaya," sahut Pak Darto.
"Tapi kalau nggak sekarang, kapan lagi? Tinggal 6 hari menuju 1 Suro."
Mereka bertiga berjalan melewati jalan setapak. Hanya berbekal senter dan kemenyan. Kabut mulai turun dan menutupi jalan.
Sesampainya di depan pohon beringin besar, Pak Darto berhenti. Ia menyalakan kemenyan. Asapnya mengepul ke atas.
"Kang Karto... Kang Karto..." panggil Pak Darto.
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun.
Tiba-tiba, dari atas pohon terdengar suara berat seperti orang menggeram.
"Sapa sing ngganggu aku?"
Dari balik kabut, muncul sesosok. Tingginya sekitar 3 meter, tubuhnya besar dan dipenuhi bulu hitam lebat. Matanya menyala merah. Di lehernya tergantung kalung dari tulang-tulang kecil.
Kang Karto.
Sari langsung mundur selangkah, wajahnya tegang. Pak Darto menelan ludah. Hanya Gilang yang tetap berdiri, walau kakinya gemetar.
"Kulo Gilang, putunipun Mbah Sastro," kata Gilang dengan suara lantang.
"Kulo badhe ngomong bab perjanjian."
Kang Karto tertawa. Suaranya menggelegar dan membuat tanah bergetar.
"Perjanjian wis sah. Tumbal kudu dibayar. Kowe."
"Kalo kami nggak mau?" tanya Gilang memberanikan diri.
Kang Karto menunduk, wajahnya mendekati wajah Gilang. Bau anyir dan tanah basah menyengat.
"Nek kowe nglanggar... sak desa iki sing bakal nanggung akibat e. Banjir lahar, Longsor."
Gilang mengepalkan tangannya. Ia tidak mau desa ini hancur karena dirinya.
Tiba-tiba Dewi yang sejak tadi bersembunyi di belakang Sari maju ke depan.
"Pak!" teriak Dewi.
"Dia bilang ada cara lain!"
Kang Karto menoleh ke Dewi. "Cara liyane... kowe kudu nyerahke 'kenangan paling larang' sing kowe duwe."
Sebelum ada yang bisa menjawab, dari balik pepohonan muncul puluhan bayangan putih. Mereka berjalan sempoyongan.
Pocong, puluhan pocong mengepung mereka.
"Lari!" teriak Pak Darto panik.
Bersambung...