33
Aku tersenyum miris, sebuah senyuman sedih yang membuat pertahanan mentalku sedikit retak.
"Kau ingat malam di St. Petersburg empat tahun lalu, Viktor?" tanyaku pelan, suaraku mengalun menembus deru angin laut. "Saat geng Chechen menyergap kita di gang buntu. Aku kehabisan peluru. Kau melemparkan tubuhmu ke arahku, menerima dua timah panas di bahu kanan dan tulang rusukmu demi melindungiku."
Aku menatap tepat ke dasar matanya. "Saat aku mencoba membalut lukamu, kau menahan tanganku dan berkata... 'Nyawaku adalah milikmu, Malaikat Kegelapan. Jangan menangis untuk darah yang memang kutujukan untukmu.' Tidak ada seorang pun yang tahu kalimat itu selain kau dan aku, Viktor."
Suasana di gudang itu berubah menjadi hening yang mematikan.
Pistol Desert Eagle yang berada di tangan Viktor terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai beton dengan suara dentingan yang nyaring.
Pria bertubuh raksasa itu terhuyung mundur seolah baru saja dipukul oleh palu godam tak kasat mata. Napasnya terengah-engah. Matanya yang memerah menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala, meneliti setiap gerak-gerikku, mencari kebohongan yang tak akan pernah ia temukan. Jiwaku memancar keluar dari cangkang Erena yang lemah, menampar logikanya.
"H-Hana...?" bisiknya parau, suaranya pecah berkeping-keping. Air mata lolos dari sepasang mata serigala itu, menetes membasahi rahangnya yang kasar.
Ia tidak memedulikan logika. Ia tidak memedulikan sains. Bagi Viktor, esensi dari wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, kini berdiri tegak di hadapannya.
"Ya, ini aku, Viktor. Bajingan itu menjebakku, dan aku terbangun di tubuh yang hancur ini," jawabku, suaraku ikut bergetar. Kesedihan yang mendalam kembali meremas hatiku melihat pengorbanan pria ini.
Tanpa aba-aba, Viktor berlari menghampiriku. Ia menjatuhkan dirinya, berlutut tepat di depan ujung sepatuku. Pria mematikan yang ditakuti separuh dunia bawah tanah itu kini merengkuh pinggangku, menenggelamkan wajahnya di perutku, menangis terisak seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Ya Tuhan... Malaikatku... kau kembali..." isak Viktor dengan bahasa Rusia yang kental, meremas mantelku dengan putus asa. "Aku nyaris gila, Hana. Aku bersumpah akan membunuh semua orang, aku akan membakar kota ini... kau kembali padaku..."
Tanganku terangkat, ragu-ragu di udara. Memori masa lalu, cinta yang pernah singgah, dan kesetiaan mutlak pria ini membuat pertahananku runtuh. Perlahan, aku membelai rambut cokelat kasarnya, memberikan ketenangan yang ia butuhkan.
Ini adalah sebuah reuni yang luar biasa emosional dan menyayat hati. Reuni antara seorang ratu dan ksatria paling setianya yang terpisahkan oleh kematian palsu.
Namun, aku melupakan satu hal. Aku tidak datang sendirian ke tempat ini.
Udara di sekeliling kami mendadak berubah menjadi sangat dingin, diwarnai oleh hawa membunuh yang jauh lebih pekat dan mematikan daripada yang dibawa oleh belasan anggota Bratva tadi. Atmosfer seakan membeku.
Srett.
Sebuah lengan yang kokoh melingkar di pinggangku dengan tarikan yang sangat kasar dan tak terbantahkan.
Dalam sekejap mata, tubuhku disentak ke belakang, dipaksa menjauh dari pelukan Viktor. Punggungku langsung menabrak dada bidang yang keras bagai batu marmer. Aroma wiski dan pinus yang gelap dan penuh amarah seketika mengurungku.
Adrian Vance menahanku di dadanya. Tangan kanannya yang berbalut sarung tangan kulit mencengkeram pinggangku dengan kekuatan posesif yang luar biasa gila, nyaris menyakiti tulang rusukku. Mata obsidiannya menatap Viktor yang masih berlutut di lantai dengan sorot yang bisa membakar pria itu menjadi abu di tempat.
Viktor, yang tiba-tiba kehilangan dekapanku, mendongak. Kesedihannya seketika menguap, digantikan oleh insting membunuh seorang Enforcer. Ia bangkit berdiri dengan cepat, mencabut belati lipat dari balik jasnya.
"Lepaskan tangan kotormu dari wanita-ku, keparat!" raung Viktor, otot-ototnya menegang, bersiap menerkam Adrian.
"Wanita-mu?" suara bariton Adrian mengalun luar biasa rendah, sebuah geraman maut yang bergetar di seluruh sudut gudang.
Sang CEO berdarah dingin itu tidak mundur satu inci pun. Ia justru menarikku semakin rapat ke tubuhnya, mengangkat wajahku dengan tangannya yang bebas agar semua orang di ruangan itu bisa melihat leherku—di mana kalung berlian dan sebuah tanda merah samar bekas gigitan dari ciuman brutal kami semalam masih tertinggal.
"Buka matamu lebar-lebar, anjing jalanan," desis Adrian, setiap suku katanya meneteskan racun arogansi yang mutlak. "Wanita yang kau tangisi ini mungkin adalah ratu di masa lalumu. Tapi di dunia nyata, secara hukum dan di atas ranjang... dia adalah Erena Vance. Dia adalah milikku."
Ketegangan di udara meledak seketika.
Belasan moncong senjata dari anak buah Viktor serentak terangkat, membidik Adrian. Di saat yang sama, puluhan titik laser merah dari penembak jitu rahasia Adrian tiba-tiba muncul dari kegelapan, mengunci dada dan kepala Viktor beserta seluruh anak buahnya.
Perang bisa pecah hanya dengan satu kedipan mata. Dua alpha dominan dari dua dunia yang berbeda kini saling menatap, memperebutkan satu jiwa di tengah gudang yang sunyi.
Jantungku berpacu gila-gilaan. Cengkeraman Adrian di pinggangku terasa panas dan luar biasa posesif, sebuah klaim yang menggelitik sisi gelap di hatiku. Di sisi lain, Viktor menatapku dengan sorot terluka yang teramat dalam, merasa dikhianati oleh kenyataan bahwa sang Malaikat Kegelapan kini berada dalam pelukan pria lain.
"Hentikan!" bentakku keras, suaraku menggelegar menghentikan waktu.
Aku memutar tubuhku, memaksakan diri keluar dari dekapan Adrian meski pria itu mengerang protes. Aku berdiri di antara mereka berdua, menatap Viktor dengan tajam, lalu menoleh menatap mata kelam Adrian yang terbakar oleh api cemburu yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Turunkan senjatamu, Viktor," perintahku dingin, mengembalikan otoritas sang Capo.
Viktor menelan ludah, rahangnya mengeras. "Hana, dia—"
"Aku bilang, turunkan!" teriakku.
Dengan enggan, dan dengan tatapan penuh kebencian ke arah Adrian, Viktor memberi isyarat tangan. Anak buahnya serentak menurunkan senjata mereka.
Aku kembali menatap Adrian. Pria itu masih berdiri tegak dengan dada naik-turun menahan emosi. Ego dan fobianya sedang berperang beringas di dalam kepalanya, dipicu oleh kecemburuan buta saat melihat pria lain menyentuh dan memelukku.
Aku mendekat, mengabaikan tatapan semua orang, lalu meletakkan tanganku di dada bidang Adrian.
"Tenanglah," bisikku padanya, menyalurkan dominasiku untuk meredam iblis di dalam dirinya. Mataku melembut sejenak, mengunci manik kelamnya. "Kau yang membawaku ke sini. Jangan merusak rencanaku."
Adrian menatapku lama, rahangnya berkedut. Perlahan, ia mengangkat tangannya, merangkum tanganku yang berada di dadanya, mengabaikan fobianya demi memberikan pernyataan tanpa kata kepada Viktor.
"Dia menyentuhmu, Hana," geram Adrian sangat pelan, nada suaranya bergetar oleh keputusasaan dan posesivitas yang menyayat hati. "Aku bahkan nyaris mati setiap kali mencoba memelukmu, dan pria itu... ia memelukmu dengan begitu mudah."
Kata-kata Adrian adalah sebuah pengakuan yang paling rapuh dari seorang dewa yang angkuh, memukul telak tepat di ulu hatiku. Rasa pedih yang aneh kembali meremas dadaku. Romansa gelap di antara kami benar-benar perlahan membunuh kewarasan kami berdua.
Aku menoleh kembali ke arah Viktor yang berdiri menegang.
"Dmitri telah mengambil alih kekuasaanku," ucapku, mengubah topik dengan cepat sebelum darah benar-benar tumpah. "Berapa banyak distrik yang masih berada di bawah kendalimu, Viktor?"
Viktor menatap tanganku yang masih berada dalam genggaman Adrian dengan sorot terluka, namun ia memaksa dirinya untuk menjawab. "Tiga distrik di selatan. Sisanya... mereka termakan kebohongan Dmitri. Dia bilang keluarga musuh yang membunuhmu, dan dia memimpin serangan balasan untuk 'membersihkan' jejak aslinya."
"Maka kita akan mengambil kembali semuanya," balasku dingin. Sebuah seringai iblis kembali menghiasi bibirku. "Bawa orang-orangmu yang masih setia. Kita butuh markas baru yang tak tersentuh oleh intelijen Dmitri."
"Kalian tidak perlu mencari," sela Adrian tiba-tiba. Suaranya kembali mendapatkan arogansi absolutnya, meski tangannya masih enggan melepaskan genggamanku. Sang CEO menatap Viktor dengan senyum merendahkan. "Gunakan properti Vance Corporation. Distrik Selatan akan berada di bawah naungan logistik perusahaan kami."
Viktor menatap tajam. "Bratva tidak bekerja di bawah perintah pria berjas sepertimu."
"Kau tidak bekerja untukku. Kau bekerja untuk istriku," balas Adrian telak, menekankan kata 'istriku' layaknya belati yang ditancapkan perlahan ke dada Viktor. "Dan selama istriku membutuhkan pasukan untuk merebut kembali takhtanya, aku akan mendanai setiap peluru yang kalian butuhkan. Dengan satu syarat."
Aku menatap Adrian, sedikit terkejut. "Syarat apa?"
Adrian menundukkan wajahnya ke arahku, menyeringai dengan pesona iblis yang memabukkan. "Saat Dmitri tertangkap nanti... aku ingin menjadi orang pertama yang mematahkan leher bajingan itu, karena telah berani mengirim istriku ke dalam tubuh yang penuh luka ini."
Viktor hanya bisa menggeram tertahan, menyadari bahwa di medan perang yang baru ini, ia bukan lagi satu-satunya pria yang siap mati demi Hana Rose. Sebuah aliansi mematikan telah terbentuk dari kecemburuan, keputusasaan, dan dendam berdarah. Permainan memperebutkan takhta dan hati sang Ratu Kegelapan baru saja mencapai level neraka yang sesungguhnya.